
Ndoro Japar dan Romo Heru sampai di pelabuhan hampir bersamaan malam itu.
angin malam berhembus cukup kencang menerpa keduanya setra beberapa pengawal yang mengantar mereka.
"Ndoro kapal milik anda ada di sebelah kapal milik Romo Ageng," kata Gono.
"aku tau itu, tolong minta semua awak kapal membawa contoh barang yang berdua dapatkan dalam perjalanan kali ini," kata pria muda itu.
Dia tau jika anak buahnya tak mungkin mengecewakan, begitupun Romo Heru yang sudah bekerja seperti ini cukup lama.
Dan ternyata hebat beberapa barang di dapatkan, tapi yang membuat terkejut adalah kapal milik putranya itu.
turun beberapa wanita yang bisa di bilang cukup cantik untuk ukuran seorang pelayan atau budak.
"kalian mendapatkan budak?"
"ya dari negara asia timur, dan bagaimana menurut ayah, apa mau mencobanya, tentu aku akan diam dan tak akan memberitahu ibu," kata Ndoro Japar.
Ya dia sedang membuat sebuah tempat hiburan dan perjudian yang cukup besar di kota.
dan para wanita ini yang akan bekerja sebagai pelayan di tempat itu, "Ndoro, Samsul sudah datang," kata Agung menghadap pria itu
"halo Samsul, ini barang baru, tentu kamu tau harus berbuat apa, ingat jangan membuat ku kecewa karena sudah mengeluarkan uang yang banyak," kata Ndoro Japar.
"baik Ndoro, bawa mereka masuk ke mobil milikku," kata pria itu yang langsung menuju ke mobil membawa sekitar lima belas wanita itu.
Setelah itu, mereka pun menurunkan banyak bahan lainnya, dan kini Ndoro Japar dan Romo Heru baru mulai berbisnis.
Esok hari mereka akan membuka harga untuk semua rempah dan obat-obatan herbal bahkan banyak lagi yang lainnya.
Di desa, pagi itu Nyai Wulan sedang jalan santai di temani oleh mbok Yem.
Keduanya tak mengenakan baju resmi tapi hanya mengenakan baju santai seperti dulu.
Mereka datang ke pasar untuk membeli beberapa camilan karena nyai Wulan sedang ingin.
Terlebih sebelum suaminya pulang, dia ingin menikmati hari-hari kebebasannya yang selama ini di larang jajan sembarangan.
Sesampainya di pasar, mereka langsung membeli Klanting, ada kue basah berbagai macam dan juga ada beberapa lauk pauk matang juga.
beberapa preman melihat sosok nyai Wulan itu seperti mangsa empuk karena mereka tidak pernah melihat ada orang yang semudah itu membeli berbagai macam barang.
Terlihat seperti orang kaya yang boros, "sepertinya, dia akan menjadi mangsa kita yang sangat empuk,"
"apa kamu yakin itu aman bang, karena sepertinya dia bukan orang yang sembarangan," kata anak buah pria itu
"memang siapa sih, selama bukan keluarga Ndoro Japar kita aman," kata pria itu yang langsung bangkit dan bergegas menghampiri nyai Wulan dan mbok Yem.
tapi tanpa terduga, leher mereka sudah di kalungi clurit oleh para pengawal wanita itu.
"kalian mau apa, tak tau jika itu Nyai Wulan istri dari Ndoro Japar?" tanya para centeng yang membuat para preman itu ketakutan.
"maafkan kami, saya ak tau itu." kata mereka yang di seret pergi.
Saat sedang lengah itulah, seorang pria yang memakai penutup kepala datang.
Dia pun meminta belas kasihan dari Nyai muda itu, "sedekahnya nyai, saya belum makan..." lirihnya dengan kondisi yang sangat lusuh.
"hei beraninya kamu kesini, kamu pengemis bau," kata mbok Yem yang tak ingin Nyai mudanya itu tak nyaman.
"tenang mbok, duduklah ini untuk mu, makan dengan perlahan," kata wanita itu dengan lembut.
pria itu tersenyum dan langsung menikmati nadi bungkus daun jati itu dengan lahap, bahkan sampai habis dua bungkus.
Dia pun juga di berikan teh dan juga kue, dia tak menyangka jika wanita itu sangat cantik dari dekat.
Kenapa dia baru tau ada wanita yang sehebat ini, kadang bisa hafi pembunuh tanpa ampun tapi juga punya sifat yang sangat baik.
"terima kasih nyai sudah memberikan saya makan," kata pria itu dengan senang.
"iya sama-sama," jawab nyai muda pergi bersama pelayannya.
__ADS_1
Tiba-tiba pria itu di tarik pergi oleh pria lain, "apa kamu gila, kamu bisa fo bunuh seperti empat preman kampung goblok itu," kata temannya itu menunjuk keempat mayat di perkebunan singkong itu
"aku tak melakukan apapun, lagi pula aku tak bisa di kenali," jawab pria itu yang kemudian menghilang begitu saja.
Nyai Wulan dan mbok Yem sampai di rumah dan terlihat, tuan Wicaksono sedang santai di teras rumah menikmati waktu santainya.
"ayah tidak pergi ke ladang atau ke perkebunan?" tanya Nyai Wulan yang duduk di pangkuan ayahnya.
"tidak nak, selama kamu di sini, ayah tak bekerja," kata pria itu tersenyum melihat putrinya
Tiba-tiba dari dalam rumah dari keluar dengan wajah jengkel melihat tingkah keponakannya itu.
"hei Nyai kamu itu sudah besar dan dewasa, kenapa masih bersikap seperti anak-anak begini, kamu tak takut jadi gunjingan para warga," kata Sari.
"sejak kapan bulek ini begitu cerewet, itu membuatnya ku kesal," kata nyai Wulan.
"dasar kamu ini, sudah turunlah karena bobot mu sekarang sendkin berat, ayah tak sanggup lagi, dan kalian dari mana?" tanya tuan Wicaksono yang menikmati kopi buatan adiknya itu.
"aku dari luar karena ingin main saja, tadi kami ke pasar untuk menikmati jajanan pasar, dan lihat aku baik-baik saja, dan di larang protes," kata Nyai Wulan pada buleknya itu.
Pasalnya dia di minta Kasyo menjaga Wulan karena pria itu harus fokus menjaga istana Bangura yang di tinggalkan oleh Romo Heru untuk pekerja.
Di istana itu sendiri,nyai Arumi sedang membatik di temani oleh para mbok mban.
Ya mau apa lagi, dia pagi ini tak ada jadwal ke pabrik untuk melihat apa yang terjadi.
sedang untuk kedua anaknya juga sedang sekolah, jadi dia mencari kegiatan yang bisa di lakukan sambil bersantai.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang nembang jawa, ternyata itu nyai Arumi yang tak pernah orang tau jika wanita itu bisa nembang.
"Lumayua lan arimu dipun enggal,
sang retna anahuri,
bibi emah-eman,
kembange akeh megar,
lag ngarah apa,
ni randha duk miarsi.
Kontrangkantring saking marase kalintang,
dhuh aduh anak mami,
age lumayua,
yata kang kawuwusa,
wonten gegaman geng prapti,
jawing taman,
ingkang hadarbebaris,
Nateng Siyem kalawan nateng Manila,
prapta tunggiling kardi,
harsa amisesa,
marang randha Dhadhapan,
yata risang sarpa uning,
yen praptanira,
rising narpati kalih.
Minger medah Sang Retna Galuh tinilar,
__ADS_1
sang naga prapteng jawi,
sedya ananggulang,
praptane kang gegaman,
laju sumebut dhatengi,
krura angakak,
gora reh gigirisi,
Wadya bala Siyem kalawan Manila,
kagyatira tan sipi,
mundur tur uninga,
marang narendranira,
yen wonten sarpa gang prapti,
saking jro taman,
galak anerak baris.
Rajeng Siyem Manila angatag wadya,
kinen angrubut jurit,
pinrih patinira,
nyana sarpa wantahan,
punggawa kinen mangarsi,
kang prawireng prang,
keh sikep gada bindi.
Risang sarpa uninga pinagut yuda,
sumebut andhatengi,
sumembur wisanya,
kadya riris sumebar,
wadya bala anadhahi,
surak gumerah,
lan tengara tinitir.
Gumarudug anawat sela lir udan,
tanapi gada bindi,
kunta myang senjata,
tibeng angganing sarpa,
datan mantra anedhasi,
sangsaya krura,
molah amuter pethit...."
"wah nyai Ageng suaranya bagus saat nembang," Kata mbok Jum yang baru pertama kali mendengar wanita itu seperti ini.
"saya dulu belajar, tapi karena kurang buaya, jadi tak meneruskan mbok," jawab Nyai Arumi malu.
__ADS_1