
mbok ni sudah pergi ke dapur di ikuti oleh Geno, pria itu duduk santai di meja sambil melihat wanita itu masak.
dan tak lama mbok Jum juga ke dapur dan meraup muka Geno begitu saja, "ki nopo deh wong wadon siji kue?" kesal Geno.
"mandangnya begitu banget Sampek netes tuh iler," saut mbok Jum yang membuat teh poci pesanan Romo Heru.
"kumat kamu, apa cemburu aku yang di sirih sama Romo nemenin mbok ni," kata ria itu merasa senang.
"gak ngaruh lagi pula aku juga bisa cari yang lain,kan lumayan Sardi juga badannya gede, gak rugi tuh sama dia juga, dan yang terpenting gak banyak omong."
"apa!! kamu mau tak idek ate kakean model," kata Geno kepanasan mendengar jawaban itu.
"memang kamu tak takut sama Romo hingga berani ingin menginjak ku, dasar egois," kesal mbok Jum yang pergi begitu saja.
Geno ingin sekali mengejar wanita itu, tapi dia tak bisa pergi karena harus menjaga mbok ni yang masih menata semua makanan di nampan.
Geno mencelupkan sebuah jarum di masing-masing makanan dan untungnya saat hal itu di lakukan makanan itu aman.
"kalian bisa mengantar setiap makanan pada semua Nyai, dan pastikan mereka makan dan tak ada yang boleh menganggu Romo Heru," kata Geno pada semua mbok mban yang ada di luar dapur.
"baik kami mengerti cak Geno," kata semua pelayan.
mereka semua pun langsung mengambil semua makanan sesuai porsi untuk para Nyai.
setelah itu mengantar ke kamar masing-masing, pertama ke kamar Bu Yayuk yang terdengar sangat marah saat ini.
bagaimana tidak,dia merasa sudah dibuang oleh suaminya itu karena pria itu sangat fokus dengan satu istrinya saja.
sedang di kamar milik Yanti, wanita itu tengah mencoba semua perhiasan yang di sediakan di dalam kamarnya.
dan wanita itu sangat menyukai hal yang berhubungan dengan harta seperti ini.
"Nyai Yanti Monggo makan malamnya," kata salah satu mbok mban.
__ADS_1
"taruh di sana saja, dan kamu bantu aku untuk mengenakan ini, karena ini akan bagus jika aku menyanggul rambut ku bukan," kata Yanti yang menunjukkan tusuk konde emas dengan hiasan bunga cukup besar.
"baik Nyai," jawab mbok mban.
di kamar lain, Lestari sedang membaca buku dan kaget saat beberapa pelayan masuk membawa makanan.
"ada apa ini? kenapa kalian membawa itu ke kamar ku?" tanyanya heran karena tak mungkin rumah ini mengabaikan aturan tentang makan di dalam kamar.
"ini perintah Romo Nyai, semua di minta makan karena tadi tak ada yang makan, jadi tolong nikmati makanan anda," kata mbok mban itu.
"apa Romo sudah makan, sepertinya dia begitu khawatir dengan kondisi mbak Arumi," kata Lestari juga khawatir tapi dia tak di izinkan untuk mendekat ke kamar Arumi.
"Semuanya baik-baik saja, dan Romo sudah makan malam bersama Nyai Arumi," jawab mbok mban sopan.
"baiklah kalau begitu," jawab lestari yang duduk dan menikmati makanannya.
sedang di kamar Arumi, kedua orang itu sedang menikmati makan malam bersama, bahkan Romo Heru tak segan menyuapi istrinya itu.
sedang di rumah pengasingan, hidup Sukma benar benar sangat bebas dan nyaman.
dan yang terpenting dia tak harus menghadapi Bu Yayuk, yang punya dua wajah dan itu yang sangat menyebalkan baginya.
"punya kabar apa mbok?" tanya Sukma yang sedang menikmati waktu santainya dengan membatik kain.
"saya tadi dapat informasi jika nyai Arumi di culik dan hampir di lecehkan,bahkan Jum juga hampir tak bisa melindungi Nyai Arumi, tapi yang saya dengar Nyai, jika ternyata Nyai Arumi ini berani melawan para pria itu, padahal semua orang yang mengepung mereka ini mantan anak buah Romo,"
"pasti Gono dan anak buahnya, karena hanya mereka yang bermasalah dari awal,dan tentu saja wanita siluman itu memanfaaatkan semuanya untuk bertindak, jadi apa tindakan Romo atau seperti biasanya,memaafkan dan membiarkan begitu saja," tanya Sukma yang tau tentang tingkah suaminya itu.
"Nyai benar, bahkan sekarang berita itu tampak menguap begitu saja," jawab mbok tum.
"seandainya bisa aku ingin menemui Arumi dan memberinya semangat, tapi aku tak di izinkan masuk kedalam istana Harem karena wanita ular itu,"kesal Sukma
"tapi besok anda bisa bertemu dengan Romo di acara desa, karena anda juga menjadi tamu kehormatan," kata mbok tum.
__ADS_1
"ya kamu benar,besok kita buat Romo Heru mau tak mau membawa ku masuk kedalam rumah rumah untuk menemui Arumi, aduh kasihan sekali adikku itu, baru menjadi istri sudah di madu dan di ancam dengan nyawa,"
setelah memastikan Arumi terlelap dalam tidurnya, Romo Heru meminta dua mbok mban untuk menjaga wanita itu.
karena dia harus pergi dengan Geno ke sebuah tempat terlebih dahulu, mereka pergi dengan kuda yang sudah di siapkan.
keduanya menembus hutan belantara untuk bertemu seseorang yang tinggal di dalam hutan tersebut.
tapi sayangnya kuda yang mereka tunggangi berontak saat hampir memasuki area hutan gelap itu.
bahkan terpaksa Romo Heru dan Geno turun dan meninggalkan kuda mereka di sana dan melanjutkan dengan berjalan kaki karena medan terjal dan sulit.
"ya Gusti nu agung, ini kenapa kita tak menunggu sampai besok pagi saja sih Romo," kata Geno yang tau benar mereka akan menemui orang paling menyebalkan baginya.
"kenapa kamu begitu cerewet,bukankah kamu punya ilmu kenal juga pemberian beliau," kesal Romo Heru.
"habis jalan ke gua Ki Ageng ini terlalu menyulitkan,belum lagi gelap begini,"
"sudah berhentilah mengeluh, dan jika kamu tak mau menemani aku tak masalah, karena aku bisa pergi sendiri," kesal Romo Heru mendengar ocehan dari anak buahnya itu.
"maafkan saya Romo, jangan ngambek begitu dong," kata Geno yang mengejar langkah dari Romo Heru.
akhirnya mereka sampai di sebuah gua yang ada di tengah hutan, dan tak ada yang pernah berani datang ke gua itu apalagi di malam hari.
Romo Heru menaruh obor yang tadi dia gunakan sebagai penerangan jalan.
kemudian Geno berjaga di luar gua, dan Tomo Heru masuk kedalam gua itu sambil membawa sebuah kendi yang berisikan sesuatu.
kendi itu terbungkus kain putih dan terlihat jika kain itu cukup kusam, tapi entah benda apa itu.
setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pria itu keluar dari dalam gua, dan Geno tersenyum melihat sosok Romo Heru yang kini tampak lebih muda.
"sukses Romo?"
__ADS_1
"selalu dan ini titipan untuk mu, dan sebaiknya kita pulang karena aku tak mau membuat istriku itu menunggu ku lebih lama lagi," gumamnya yang mengajak Geno pergi.
Geno tak penasaran apa yang di lakukan oleh Romo Heru,karena rasa penasaran itu bisa membunuhnya suatu saat nanti.