
"loh mbok Jum,kenapa masih bekerja, bukankah kamu harusnya sudah cuti," tanya Arumi melihat sosok orang kepercayaannya itu.
"iya Nyai, saya seharusnya mulai cuti hari ini, tapi berhubung mendadak mbok ni libur dan saya tak bisa mempercayai mbok mban lain, jadi saya putuskan dkan mulai cuti besok saja," kata mbok Jum.
"baiklah terserah saja, tapi jangan lelah terlebih perut mu sudah besar begitu," kata Arumi yang tak ingin terjadi sesuatu pada orang kepercayaannya.
Siang itu Dika sudah tidur, dan Japar juga masih di sekolah. Dan Arumi masih memeriksa beberapa laporan pekerjaan.
Tanpa di duga, Romo Heru sudah pulang dari luar, dan langsung masuk kedalam rumah
"loh kang mas sudah selesai meninjau semuanya?" tanya Arumi yang kaget melihat suaminya itu.
"iya dek, aku tadi juga baru tau jika pabrik yang ada di pinggiran desa itu, sepertinya butuh mesin batu untuk menambah kecepatan dalam produksi, mengingat permintaan kain dari luar pulau juga sangat tinggi," kata Romo Heru
"baiklah kang mas, kita bisa mencarinya di kota, sekarang aku ambilkan minum dulu ya," kata Arumi yang bangkit dari kursinya ingin ke dapur.
Tapi tiba-tiba Romo Heru menarik tangannya hingga terjatuh kepangkuan pria itu.
"tidak perlu repot sayang, aku cuma butuh dirimu, boleh aku memintanya, sudah terlalu lama kamu tak mau di sentuh sayang," bisik Romo Heru yang begitu memohon.
"tapi nanti Dika bisa bangun dan iy repot," kata Nyai Arumi.
"minta seseorang menjaganya, dan kita akan bekerja di ruang kerja milik ku," kata Romo Heru yang langsung meninggalkan istrinya itu.
Arumi pun tak bisa menolak, jadi dia memanggil mbok nem untuk menjaga putranya yang sedang tidur di kamar.
Sedang dirinya langsung membereskan semua berkas dan membawanya ke ruang kerja milik suaminya.
Baru masuk kedalam ruangan itu, dia merapikan dokumen tapi Romo Heru langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar yang ada di sebelah ruangan itu.
"jangan menyia-nyiakan waktu, sebelum bocah itu bangun dan bocah satunya pulang dan menganggu kita," kata Romo Heru yang tanpa basa-basi langsung menyerang istrinya itu.
Bahkan kipas angin yang ada di ruangan itu sepertinya tak berguna sedikitpun untuk mengurangi hawa panas di kamar itu.
Japar setelah pulang sekolah tak langsung pulang, dia memutuskan untuk mendatangi sekolah tempat Wulan belajar.
Ternyata sekolah itu sedang mempersiapkan pernikahan dari Ndoro Sodik dan juga Nyai Sukma.
Terlihat semua orang sibuk dengan berbagai hal, bahkan mereka semua terlihat saling membantu.
Siang itu kebetulan Japar tidak memakai baju resmi seperti biasa, dia hanya mengenakan celana kain dan kemeja.
__ADS_1
Bahkan penampilan pria itu sudah seperti orang asing sekarang, "selamat siang semuanya, aku membeli es untuk semuanya, siapa yang mau boleh ambil," kata Japar yang tersenyum ramah.
Semua murid pun berlari ke arah penjual es itu, sedang Wulan hanya melihat Japar tanpa bergerak
Dia seperti terpaku melihat kedatangan bocah tampan itu, dan Japar dengan lembut mengulurkan tangannya
"ayo beli es,kenapa kamu malah diam seperti itu, apa kamu tak menyukainya," kata Japar.
"tentu saja tidak," jawab Wulan yang berjalan berdampingan dengan Japar
Dan Idan sudah mendapatkan dua es untuk kedua bocah itu, dan Japar juga memberikan kue yang tadi dia beli sebelum meninggalkan sekolah.
"kalian membuat persiapan seperti ini, apa ibu besar tau?"
"tentu saja tau, karena ini juga atas izin beliau kami membuat semua persiapan untuk pernikahan,"
"benarkah, wah... Beruntungnya ibu besar punya anak didik seperti kalian ini," kata Japar yang melihat Wulan dengan tatapan yang ramah
Wulan terkejut karena baru kali ini melihat tatapan lembut dari pria itu, dan tak lama mereka tertawa bersama.
Setelah selesai minum es, keduanya pun melanjutkan untuk membuat dekorasi di sekolah rakyat.
sedangkan Romo Heru sudah keluar dan duduk di meja kerjanya, ternyata semua dokumen sudah di bereskan oleh anak dan istrinya.
Sedang di sisi lain,nyai Sukma tak menyangka akhirnya orang tua kekasihnya itu menyetujui keinginan mereka untuk menikah, meski dia harus menerima jika nantinya mereka harus mandiri.
Toh selama ini mereka di luar keluarga masing-masing jadi tak perlu takut.
Japar akhirnya sampai di rumah dan segera mencuci tangan sebelum masuk rumah, dan sebelum itu dia juga memilih mandi agar tak membawa penyakit untuk adiknya.
Saat keluar kamar, ternyata dia melihat duka sudah mandi dan sedang bermain bersama mbok nem.
"ibu kemana?" tanya Japar yang duduk membantu menjaga adiknya.
"Nyai sedang di ruang kerja milik Romo, sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang penting," kata wanita itu.
mendengar itu Japar tak terkejut karena sudah mengerti karena ada pelajaran di sekolah.
Sedang di ruang kerja Romo, Arumi sudah mandi dan berganti pakaian,dia bahkan tak bisa menolak saat suaminya itu minta ronde kedua, jadilah dia hanya pasrah saja melayaninya.
Dan sekarang dia harus melihat putra-putranya, ternyata Japar sedang menjaga adiknya itu.
__ADS_1
"kalian sedang apa?"
"sedang main dan belajar ibu, spa urusan pribadinya selesai?" tanya Japar tersenyum dan membuat Arumi ini malu sejadi-jadinya
Bagaimana tidak, Japar seperti mengerti apa yang mereka lakukan, tapi dia tak bisa menjawabnya sembarangan.
"iya sudah selesai, bagaimana sekolah mu nak?"
"tidak ada yang menarik, tapi mereka semua heran saat melihat ku mengunakan baju seperti tadi, mereka mengira jika putra dari Romo Heru harus selalu memakai beskap dan jarik, tapi nyatanya aku bisa mengunakan semua baju yang aku inginkan," jawab Japar.
"itu memang benar, bapak tak sekolot itu sampai harus memaksakan putranya harus seperti ku," kata Romo Heru
"tentu bapak, oh ya aku tadi ke rumah ibu besar, lebih tepatnya ke sekolah sih mau bertemu Wulan, tapi ternyata di sana semua sedang sibuk mempersiapkan acara untuk pernikahan ibu besar, apa bapak dan ibu sudah menyiapkan hadiah?" tanya Japar.
"hadiah ya, sepertinya ibu sudah entah kalau bapak ku, seharusnya hadiahnya sangat besar bukan," kata Arumi melihat ke arah suaminya itu.
"tentu saja tidak, karena aku sudah memberinya harta pembagian yang sesuai jadi untuk apa aku harus memberinya hadiah lagi, tidak membunuh keluarganya setelah semua yang terjadi, itu sudah hadiah yang besar bukan," kata Romo Heru yang membuat Arumi tak habis pikir.
sedang japar tertawa, itulah Romo Heru yang tak bisa basa-basi barang sedikit saja.
Tapi itu memang benar bahwa semua tak akan sama jika Romo Heru tak memaafkan Sukma dulu.
di rumah salah satu centeng, pria itu terkejut saat nrkugat seorang wanita berdiri di depannya.
Joko di dorong masuk kedalam rumah dan wanita itu menguncinya dari dalam,"apa yang kdmu inginkan mbok ni, aku akan melakukan pengajuan iada Tomo, tolong pergilah, dan maafkan aku," Hata pria itu.
"kaku ingin mengaku, dan membuat mu di hukum oleh Romo, tentu tidak aku izinkan karena yang boleh menghukum mu hanyalah aku, yang jadi korban di sini," kata mbok ni.
Wanita itu pun tiba-tiba mencium bibir dari Joko dan dia langsung meremas adik kecil pria itu.
Joko menolak tapi tatapan mata sayu wanita itu membuatnya goyah dan langsung menerkam wanita itu.
Keduanya pun kembali menikmati siang menjelang sore itu, bahkan mbok ni terus mengeluarkan suara yang begitu menggoda.
tanpa mereka sadari, Kasyo datang ke rumah Joko untuk melihat kondisi pria itu.
Tapi saat di depan pintu dia malah mendengarkan suara yang tak asing, karena penasaran dia mengintip dari jendela yang kebetulan tirainya tersingkap sedikit.
dia kaget dengan apa yang dia saksikan, bagaimana bisa dua insan yang belum menikah itu berbuat hubungan seperti ini.
Tdpi dia juga senang akhirnya Joko berhasil membuat mbok ni bertekuk lutut padanya.
__ADS_1
Dia pun mengurungkan niatnya dan bergegas pergi dan segera kembali dan sebelum itu dia harus sebisa mungkin menenangkan diri agar tak di goda oleh semua orang yang ada di rumah Romo Heru.
terlebih Geno dan Idan ini sudah paham betul dirinya, dia takutnya malah membuatnya malu.