
Arumi yang sekarang sedang duduk dan makan, membuat semua mbok mban tersentuh.
Karena wanita itu mengutamakan semua orang dan rela makan seadanya demi para warga bisa mendapatkan makanan yang layak.
Geno yang juga melihat tak menyangka jika istri dari Romo Heru satu itu berhasil membuatnya tersentuh.
"dengarkan aku semua andk buah ku, kita harus menambah dan memperbaiki sungai yang rusak, agar banjir ini bisa mereda, siapa yang mau ikut!" teriak Geno.
"kami siap!!" jawab semua orang.
Pria itu memimpin banyak orang pergi, mereka menghentikan air dengan pasir yang di masukkan kedalam karung.
Dan juga dengan mengunakan batang pisang yang sudah di Patek dan di rapatkan.
Meski awalnya seperti tak berguna, tapi perlahan semua tampak menunjukkan hasilnya.
Sedang Arumi yang sudah selesai beristirahat, mulai membantu mengobati semua orang yang terluka dan sakit.
Bahkan dia memberikan selimut untuk semua orang, Sukma tak menyangka akan melihat hal seperti ini.
Saat malam hari pun, Arumi tidur bersama para mbok mban agar bisa bangun saat ada yang butuh bantuan.
Saat semua kelelahan, Arumi terbangun karena mendengar suara tangisan, ternyata ada seorang anak yang baru datang ke tempatnya sendiri.
Dia segera bergegas menghampirinya, "kenapa nak?"
aku tidak bisa menemukan Mak dan bapak ku," jawab bocah itu.
"baiklah, besok biar di bantu warga ya, sekarang mau istirahat di sini bersama ku," tanya Arumi mengulurkan tangannya.
"terima kasih mbak, dan bolehkah aku minta makan?" tanya bocah itu.
"tentu saja, dan hangatkan tubuh mu ya," kata Arumi yang memberikan selimut miliknya.
Dan dia mengambil makanan untuk bocah kecil itu, dan kemudian dengan telaten Arumi menyuapi bocah itu dengan tangannya.
Setelah selesai, Arumi memilih untuk menemani bocah itu tidur, saat pagi hari semua orang sudah melihat air sudah surut.
Dan semua sedang sarapan, Arumi juga sudah sibuk membantu membagikan makanan untuk semua orang.
Dan bocah yang semalam dia tolong tampak meringkuk ketakutan di pojok yang cukup sepi.
__ADS_1
"nak kenapa tak berkumpul dengan yang lain, kamu bisa bertanya ibu dan ibu mu di mana?" kata Arumi.
"tidak ada yang menyukai ku mbak, karena aku cacat," kata bocah itu.
tanpa bicara, Arumi mengandeng bocah itu, dan ikut duduk bersama semua orang.
beberapa warga kaget melihat bocah yang tak tau datang dari mana itu, bisa bersama dengan nyai Arumi.
"Nyai, kenapa bocah aneh ini bisa bersama anda, dia itu adalah bocah yang berbahaya," kata salah satu warga.
"kenapa kalian bisa mengatakan itu, padahal dia hanya anak kecil," kata Arumi kaget.
"dia itu putra dari Ki Joko Sembodo, dia di kenal sebagai dukun kuat yang sering mengirimkan santet, dan dia di bakar hidup-hidup oleh warga, dan bocah ini serta ibunya di usir warga ke hutan, tapi kenapa bisa di sini," kata warga itu
"ibu ku pergi, aku mencarinya dan melihat tempat ini, karena aku lapar jadi aku meminta tolong," kata bocah itu ketakutan.
"sudah pak, saya mohon jangan siksa bocah sekecil ini untuk kesalahan orang tuanya, dia bahkan tak berdosa kenapa harus ikut menanggung semuanya," kata Arumi.
"tapi dia itu bahaya Nyai,"
"kalau kalian tak bisa menerimanya,biarkan aku yang membesarkannya di sini, dan para mbok mban tolong urus semua warga dengan baik," kata Arumi yang pergi dengan mengandeng bocah itu.
Dan dia juga mengobati seluruh luka di tubuh bocah itu, untungnya, perlahan banjir mulai surut.
setelah semua warga pergi, akhirnya semua orang bisa membersihkan istana Harem yang sedikit berantakan di bagian luar itu.
Tapi saat Arumi membantu para pelayan bersih-bersih, dia melihat bocah yang dia tolong sedang berdiri di depan patung yang ada di tengah kolam.
"apa kamu menyukai patung itu?" tanya Nyai Arumi.
"tidak, aku membencinya, karena dia lebih dengan dendam," jawab bocah itu.
Arumi Dian,meski dia tak mengerti, tapi nenang aura patung ini tak seperti patung lain yang ada di tempat itu.
"ih ya nak,kamu belum bilang siapa nama mu?"
"namaku Japar Nyai," kata bocah itu
"jangan panggil Nyai, panggil aku ibu, itu lebih mudah ya," kata Arumi dengan ramah.
Sedang di tempat lain, Romo Heru ternyata benar-benar dengan mudah menyelesaikannya.
__ADS_1
Dan hari ini dia bersiap pulang tak peduli meski baru dua Minggu, "kenapa begitu ingin pulang, kalian bisa liburan di sini dulu,"
"maaf aku tak bisa melakukan itu karena di desa aku baru tau jika terjadi masalah banjir,"
"apa!! Wah bahaya itu, baiklah jika anda ingin pulang dan tolong bawa oleh-oleh itu untuk istrimu yang satu lagi ya Romo," kata Ramli tersenyum.
Akhirnya Romo Heru dan Yanti serta para pengawal dan mbok mban pun siap pulang.
Tak butuh waktu lama, rombongan itu sudah baik kapal yang akan membawa mereka ke pulau Jawa.
Di rumah, Arumi ini sedang istirahat karena hampir semingguan mereka sangat sibuk.
siang ini dia ingin jalan-jalan ke pasar karena suasana di desa itu sudah membaik
"Japar mau ikut tidak kita pergi jalan-jalan naik delman," panggil Arumi pada bocah tampan itu.
"inggeh Bu," jawab bocah itu yang sekarang menjadi anak asuh nyai Arumi.
Tapi sering menghabiskan waktu bersama dengan Geno untuk belajar beladiri.
Saat di jalan desa, semua orang tampak menyambut dan menyapa wanita itu saat lewat.
Bagaimana tidak,berkat bantuan dari Nyai Arumi, korban meninggal dunia yang di akibatkan oleh banjir itu tak semakin banyak.
Dan para warga yang meninggal dunia karena banjir di putuskan untuk di kuburkan dalam satu liang lahat saat banjir surut.
"cak Geno tolong ke pasar hewan ya, aku ingin membeli angsa untuk di buat masak rica-rica,"
"baik Nyai," jawab Geno yang langsung menuju ke pasar yang di maksud.
Sesampainya di sana, ternyata tempat itu sangat ramai, Arumi ingin turun, tapi di tahan oleh Japar kecil.
"tidak usah nyai, biarkan aku yang membelinya, ayo pak Idan,"
"hati-hati Japar," kata Arumi yang tak mau melihat bocah itu terluka lagi.
"iya Bu," jawab Japar bersama dengan Idan yang bergerak menuju ke dalam pasar.
Kedua pria itu masuk kedalam pasar, dan mulai mencari hewan yang di inginkan oleh Arumi.
Setelah itu, mereka membeli dan membawanya ke kereta, dan tak lupa tadi Japar kecil untuk membeli beberapa jajanan.
__ADS_1
"sudah nak, kita bisa pulang," tanya Arumi.
"tentu bisa Bu," jawab Bocah itu senyum