
Mendengar ucapan dari Sukma, membuat Sodik tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"baiklah Nyai, maafkan saya yang telah menganggu, nanti jika aku bertemu dengan Romo Heru saya akan coba meminta izin," jawab Shodik dengan sopan.
"Ndoro kita harus pergi," kata mang Paijo
"baiklah Nyai saya pamit undur diri terlebih dahulu, mati," kata pria itu yang bergegas pergi.
tapi tanpa dia kira ternyata sosok Sodik ini sedikit membuat dimana tertarik.
"mbok sami, apa aku akan mati jika mencinta seseorang," tanya Sukma dengan lirih.
"ya Gusti, ileng nyai, anda masih punya suami," kata mbok sami panik.
"suami yang bahkan tak menganggap diriku," jawab Sukma yang mencoba tersenyum.
Dia mulai berjalan lagi, tapi dia menoleh ke arah Sodik dan ternyata pria itu juga menoleh ke arahnya dan tersenyum sopan.
Sukma membuang muka dan bergegas pulang sambil memegangi dadanya yang terasa begitu sesak.
"apa dosa jika aku mencintai... Aku juga ingin di perlakukan layaknya seorang wanita, seperti kang mas memperlakukan Arumi," batin Sukma yang memilih pulang dan kemudian mengunci pintu.
Sedang di istana Harem, ada beberapa warga yang datang untuk meminta bantuan tentang pembangunan sekolah rakyat itu.
Romo Heru pun memerintah Idan dan Kasyo untuk membeli beberapa bahan dan juga mengawasi pembangunan.
Arumi tiba-tiba berdiri dan bersiap untuk masuk kedalam rumah, Romo Heru yang melihat hal itu ingin bangun.
Tapi dia ingat dengan pesan Arumi agar tak membuat dua istrinya yang lain cemburu karena terlalu mengutamakan dirinya.
__ADS_1
Romo Heru pun memilih untuk tetap duduk, ternyata Arumi merasa mual dan dia memuntahkan semua isi perutnya.
"Nyai apa tidak nyaman," tanya mbok minten.
"tidak mbok,hanya tiba-tiba mual saja, apa ini normal pada Wanita hamil?" tanya Arumi sedikit lemas
"tentu saja normal Nyai, dan saya akan membuatkan teh pahit untuk Nyai,"
"jangan mbok, tolong buatkan aku air asam Jawa saja itu lebih segar dan tolong ambilkan jambu biji di belakang yang sudah matang boleh," mohon Arumi.
Sedang di luar rumah, Romo Heru yang sedang bekerja sambil mengawasi dua istrinya itu.
Tiba-tiba ingin makan kedondong matang, tapi dia tau jika itu pasti sulit di cari.
"Geno kemarilah," panggil Romo Heru yang tak tahan lagi.
Mendengar itu dia hanya tersenyum ddn langsung undur diri untuk mencari apa yang di inginkan oleh Romo Heru.
"ada apa Romo, sepertinya cak Geno di suruh untuk mencari sesuatu yang sangat penting?"
"tidak ada, aku hanya ingat ada pekerjaan penting, jadi tak usah pikirkan lagi,dan lanjutkan kegiatan kalian berdua."
"inggeh kang mas,"
Geno sudah sampai di kebun karet milik sang juragan, ternyata dia sedang di liputi keberuntungan.
sebab di atas sana pohon kedondong itu, dia pun segera memanjat pohon itu dan tak lupa membawa tempat juga.
Dia tak hanya mengambil ke dondong yang matang, melainkan juga mengambil kedondong yang masih muda.
__ADS_1
Dia tak ingin jika Arumi mengidam dan harus di suruh manjat pohon kedondong yang tinggi itu malam-malam.
jadi dia memilih untuk mengambilnya, dan setelah selesai, dia turun dan saat akan pergi dari kebun itu.
Dia malah menemukan pohon anggur hutan, dan ternyata ada yang matang jadi dia mengambilnya juga.
Karena setidaknya ada tiga gerombol besar,dan itu bisa di nikmati dengan orang-orang dapur nanti.
terlebih mbok Jum kekasihnya itu sangat menyukai buah itu, karena termasuk buah yang sangat sulit di temukan.
Setelah itu dia bergegas pulang, tapi di jalan tak sengaja dia bertemu dengan biawak yang sedang bersiap menyerangnya.
Tanpa basa-basi dia pun langsung memotong binatang itu saat menyerangnya,dan kemudian membawanya pulang dengan santai.
Saat dia memasuki gerbang utama tempat itu semua kaget, karena Geno ini pergi pamit mengambil apa malah dapat apa.
Romo Heru bangkit dan menghampiri centeng setianya itu, dan mengambil dua kedondong matang itu dari keranjang yang di bawa Geno
Setelah mencucinya dia langsung menikmatinya dengan sangat cepat, bahkan membuat lestari dan Yanti merasa bingung.
Karena buah kedondong itu terkenal begitu asam, tapi kenapa suami mereka ini tampak sangat menikmatinya.
"mbok aku bawa biawak, tolong masak nanti malam kita makan ini," kata Geno masuk dapur dan kaget melihat sosok Arumi sedang berjongkok di depan tungku tanah liat yang sedang menyala sambil menikmati sedang asam Jawa.
"ih itu kok bawa kadal sih,"
"itu biawak Nyai bukan kadal, jika ada kadal sebesar itu bisa lari itu mbok ni, dan tolong menyingkir dari sana, ya Gusti kami tak bisa masuk karena ulah ku," kata mbok Jum tak menyangka jika kelakuan Arumi makin aneh setelah hamil.
"baiklah..."
__ADS_1