
Tuan Wicaksono dan Sari serta putranya yang baru pulang dari luar pun kaget melihat hal itu, bagaimana tidak gadis itu berlumuran darah.
"Wulan kamu kenapa membunuhnya?" tanya tuan Wicaksono yang memang selalu mempercayai pria yang sudah sepuluh tahun ikut dengannya itu.
"kenapa? bapak bertanya padaku, kalau begitu apa yang harus aku lakukan setelah dia berusaha memperkosaku?" ujar Wulan dengan tatapan penuh kemarahan.
bagaimana tidak, pria itu tadi ingin melecehkan Wulan, tapi untungnya gadis itu bukan gadis lemah.
"sepertinya mas Wicaksono harus cari orang lebih teliti, lagi pula dari beberapa mayat di sini semuanya adalah murid-murid dari padepokan Semar Adji, yang terkenal dengan menghasilkan pada perampok dan pembunuh bayaran," kata Kasyo yang melihat para mayat itu.
"benarkah, tapi kenapa padepokan itu ingin mengincar ku, aku bahkan bukan orang berpengaruh," kata tuan Wicaksono.
"tentu saja bukan mas yang mereka incar, tapi Wulan yang semua orang tau dia gadis pilihan dari Romo muda sendiri, dan di setujui oleh Romo sepuh, di tambah dia sudah di pastikan akan memiliki sebagian besar harta suaminya jika mereka menikah," kata Kasyo dengan santai.
"aku tak ingin harta, tapi sudah sepuluh tahun dia pergi, aku sudah menjaga diriku selama ini, apa aku perlu menunjukkan jika aku bukan wanita buruk rupa dan bodoh," kata Wulan dengan sedih, setelah mendengar kenyataan dari Kasyo.
__ADS_1
"kenapa kamu harus melakukan itu, padahal sudah selama ini, tunggu saja sebentar lagi dia juga pulang," kata Kasyo.
Akhirnya malam itu, anak buah Kasyo membantu membersihkan rumah.
karena barang berserakan belum lagi cipratan darah kemana-mana dan takut yang meninggalkan bekas.
Wulan duduk di depan kaca, dia pun melepaskan luka palsu yang selama ini menutupi wajah cantiknya.
Tapi kemudian tanpa terduga, dia malah terisak lirih, "kenapa Ndoro belum pulang, padahal aku ingin menunjukkan wajah ku yang pertama pada mu," lirih Wulan menangis.
para centeng yang berjaga pun bingung, "kenapa kamu harus memberikan bunga ini pada Nyai Arumi?" tanya salah satu centeng.
"berikan saja, nanti beliau juga akan tau, katanya penantiannya sudah selesai, kalau begitu saya pergi dulu," pamit wanita itu yang berjalan perlahan menuju ke desa
Akhirnya tanpa rasa curiga, Paimin membawa bunga yang ada di pot itu ke depan pendopo.
__ADS_1
Pasalnya keluarga Romo Heru sedang duduk menyaksikan dua anaknya yang sedang melatih beberapa keterampilan.
"ngapunten Nyai dan Romo, saya ingin menyampaikan pesan dari seseorang yang menitipkan ini tadi, mengatakan jika ada yang memberikan ini, dengan pesan penantian Nyai tak lama lagi," kata Paimin.
"dari siapa, dan bunga ini tidak tumbuh di sekitar sini bukan," kata Nyai Arumi yang mendekat dan mengambil vas Bunga itu.
Saat sudah melihat bunga itu, Nyai Arumi terkejut, pasalnya itu adalah bunga yang pernah di kirimkan oleh ku Ageng.
Dan dulu beliau pernah bilang jika dia akan mengirimkan sebuah pesan saat putranya selesai bertapa.
"kang mas..." kata nyai Arumi menangis sambil menunjukkan bunga yang membuat Romo Heru bangkit dari kursinya.
"akhirnya ya sayang..."kata Romo Heru yang mendekati istrinya.
Sedang dua anak mereka ini bingung kenapa orang tua mereka begitu sedih dan senang.
__ADS_1