
"tanya saja sendiri, tuh orangnya masih hidup kok, bikin malu!!" kata Japar dengan muka kesal.
Sedang Kasyo terdiam dengan wajah ketakutan, pasalnya sudah bisa di pastikan jika dia akan habis hari ini.
"jadi Kasyo ada apa? kenapa kamu membuat bocah ini kesal begini?" tanya Romo Heru.
"maaf Romo, saya melakukan kesalahan yang tak bisa di maafkan, karena ternyata adik dari tuan Wicaksono ini ternyata gadis yang pernah saya cintai, dan dia tak menikah karena kami dulu melakukan hal besar yang membuat kehormatannya hilang," jelas Kasyo dengan bersujud
Romo Heru menghela nafas berat, bagaimana tidak dia harus menanggung malu saat ini karena ulah centengnya di masa lalu.
Romo Heru melihat jika putranya itu benar-benar marah, "Japar, itu memang kesalahan dari Kasyo,"
"aku tau itu bapak, tapi aku ingin melakukan sesuatu untuk keluarga itu, apa aku boleh melakukannya?" tawar Japar pada Romo Heru.
"terserah padamu, tapi tolong jangan melakukan sesuatu yang buruk, mengerti," kata Romo Heru yang tak bisa membaca pikiran putranya itu.
Tak butuh waktu lama, tiba-tiba Japar mengambil tali tambang dan meminta Idan dan Kipli mengikat Kasyo dengan tali itu
"tunggu Ndoro, apa yang anda lakukan," kata Kasyo terkejut.
"tenang saja, aku akan melakukan apa yang aku inginkan, setidaknya aku akan berterima kasih dengan mu jika rencana ini berhasil," kata Japar.
Japar menyuruh para centeng itu membawa Kasyo pergi untuk di kurung di ruang hukuman untuk beberapa hari.
dan dia menuliskan sesuatu untuk di kirimkan kepada keluarga Wicaksono.
Sedang Romo Heru hanya tersenyum saja melihat putranya itu senang, sepertinya dia ingin bermain kali ini dengan cukup menegangkan.
Karena jika di perhitungkan, akan sangat membahayakan, bagaimana tidak jika keluarga Wicaksono melakukan pemberontakan maka dia akan malu.
Sedang jika mereka diam, adik pria itu tak akan pernah menikah selamanya.
__ADS_1
sedang Arumi yang keluar membawa Dika melihat putra pertamanya sedang tertawa senang.
"ada apa nak, kenapa muka mu penuh kesenangan begitu, coba ibu tebak kamu pasti sedang melakukan sesuatu," kata wanita itu.
"kenapa ibu selalu bisa menebak isi hati ku, tolong diam ya karena aku ingin mengikat seseorang sebelum nanti aku kehilangannya, karena apa yang aku inginkan harus jadi milik ku, tak peduli itu barang maupun seseorang," kata Japar yang membuat Romo Heru kaget.
"jangan bilang kamu ingin memiliki putri dari Wicaksono?"
"memang tak boleh pak?"
"tentu saja boleh, jadi lakukan saja apa yang akan kamu inginkan, Romo akan percaya dengan apa yang kamu pilih," kata Romo Heru yang memang punya sifat yang sama seperti putranya.
"tolong jangan membuat gadis itu menjadi terkena masalah ya le, ibu percaya padamu," kata Arumi yang tau jika putranya itu bisa melalui hal yang tak terduga.
"baiklah aku mengerti ibu, tenang saja," kata Japar yang tersenyum ramah.
Geno yang di minta untuk mengantarkan surat itu ke rumah keluarga tuan Wicaksono.
Kenapa bisa keputusan yang seperti itu di ambil, itu membuatnya dalam masalah besar karena keluarganya terancam.
"Japar sialan!!" maki pria itu karena dia tak menyangka jika permintaan bocah itu adalah Wulan sebagai istrinya di masa depan.
Dia tak bisa mengiyakan karena dia tak bisa memaksa putrinya itu untuk melakukan pernikahan yang tanpa keinginan dan cinta
Wulan melihat semua yang di alami oleh ayahnya, dia merasa kasihan jadi dia mendekati ayahnya.
"ada apa pak?" tanya Wulan yang duduk di lantai dan menaruh kepalanya di paha tuan Wicaksono.
"tidak apa-apa nduk, bapak hanya sedang lelah," jawab pria itu.
Tanpa di duga Sari keluar dari kamarnya dengan gemetaran, dia mendapatkan sebuah surat dan juga darah di dalamnya dan ada sebuah potongan tangan juga.
__ADS_1
"mas aku mohon, setujui permintaan Ndoro Japar, aku tak mau kehilangan mas Karto lagi," mohon wanita itu.
Tanpa di duga tuan Wicaksono marah dan mengebrak meja di depannya hingga kacanys hancur.
"apa kamu ingin menukar pria sialan itu dengan keponakan mu, karena itu syaratnya!!" bentak Romo Heru.
mendengar ucapan pria itu membuat Wulan dan sari kaget, kenapa harus ada pertukaran seperti ini.
Terlebih Wulan ini adalah putri kesayangan dari ayahnya, mana mungkin pria itu mau menukar putrinya seperti ini, terlebih bagi tuan Wicaksono, Kasyo sudah sangat membuat malu keluarganya.
Wulan pun tak mengira jika Japar benar-benar begitu menginginkannya, setelah melukainya, tapi dia juga sebenarnya menaruh perhatian pada pria yang sudah sangat membuatnya terpesona saat dia menari bersama kapan hari.
"aku setuju dengan pertukaran itu, tolong jawab untuk kebahagiaan bulek pak," kata Wulan yang mengejutkan tuan Wicaksono dan Sari.
"tapi nduk, itu bisa melukai mu, karena kita semua tau bagaimana perangai dari keluarga itu, dan bapak tidak mau kamu masuk kedalamnya dan bisa melukai mu nantinya,"
"tenang saja bapak, tolong percaya padaku, aku bisa mengatasi semuanya, karena aku yakin jika Ndoro Japar tak akan pernah melukai ku bapak," bujuk Wulan yang akhirnya meluluhkan hati tuan Wicaksono dan Sari tak menyangka jika keponakannya itu akan berkorban untuk dirinya seperti ini.
Sedang di istana Bangura, rombongan dari keluarga tuan Kalis datang dengan membawa semua buah tangan.
Mereka di sambut hangat oleh Romo Heru dan juga Nyai Arumi, mereka pun dengan senang hati menyambutnya.
"selamat datang tamu jauh,"
"salam Romo Heru, bagaimana kabarnya, maaf kami datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu," kata tuan Kalis.
"tak masalah, aku senang melihat anda mau datang kesini, dan kamu sedang mencari siapa ayu?" tanya Romo Heru melihat bocah cantik itu.
"aku mencari Japar Romo, apa dia tak ada di rumah," jawab bocah cantik itu dengan wajah tersenyum manis.
"ah dia sedang menjaga adiknya di kamar, mungkin ketiduran, jadi maklum ya nduk," kata Arumi yang merasa tak enak.
__ADS_1