Harem Suamiku

Harem Suamiku
sedikit lebih berisi


__ADS_3

mobil yang tadi di bawa oleh Romo Heru dan Arumi akhirnya sampai di istana Harem.


dan terlihat dua orang sudah menanti kedatangan mereka, dan saat Romo Heru turun dia tak lupa membantu Arumi.


"selamat datang kang mas," sapa Yanti dan Lestari.


"ya," jawab Romo Heru sekilas.


"aku mau istirahat kang mas,anda bisa menghabiskan waktu dengan dua istrimu yang lain ya," kata Arumi yang tampak begitu lemas memang.


"ya sudah istirahat saja, aku harus melakukan sesuatu juga sore ini,"jawab Romo Heru.


Yanti dan Lestari masuk juga kedalam rumah dan ternyata Arumi benar-benar masuk kedalam kamarnya.


Jadi Yanti dan Lestari juga melakukan hal yang sama, ya karena mereka tak ada kegiatan sore itu selain menunggu makan malam.


Sedang Romo Heru mendatangi Bu Yayuk yang sudah dua hari ini di hukum tak boleh keluar, terlebih wanita itu juga masih dalam masa penyembuhan.


"bagaimana kondisinya mbok Jum?" tanya Romo Heru.


"Semuanya baik Romo, emosi dari Nyai Yayuk juga sudah sedikit stabil, tapi kejutan anda kemarin sangat mengejutkan,"


"itu memang sengaja, karena dia yang terlebih dahulu memulainya terlebih dahulu."


setelah mengatakan itu, Romo Heru langsung menuju kearah ruang kerjanya untuk menemui seseorang atau lebih tepatnya ingin menemui lukisan yang ada di ruangannya itu.

__ADS_1


Romo Heru mendorong tak buku di ruangan itu dan di belakang tak itu terdapat sebuah lukisan seorang wanita yang begitu anggun.


Wanita itu mengenakan kebaya merah dengan selendang putih ditangannya, dan tentu saja jajaran mawar di selipan sanggulnya membuat wanita itu begitu cantik.


bahkan kain batik parang itu menyempurnakan penampilannya, "apa kabar mu Lastri, apa kamu sudah tak dingin lagi di dalam sana," gumam Romo Heru yang tersenyum menyentuh lukisan itu.


itulah kenapa tidak ada yang boleh mengunakan riasan itu di istana Harem, karena bagi Romo Heru hanya wanita cantik yang ada di lukisan itu yang boleh.


Tok .. Tok..


"siapa?" tanya Romo Heru yang tak suka di ganggu sebenarnya.


"ini aku kang mas, boleh aku masuk?"


Romo Heru bergegas menutup lukisan itu dengan rak buku miliknya, dan bersiap untuk membuka pintu ruang kerjanya.


"kamu kenapa berpenampilan seperti ini?" tanya Romo Heru yang terkejut.


"karena aku sedang tak ingin mengenakan kain jarik kang mas, itu merepotkan untuk kali ini saja," mohon Arumi yang duduk di kursi ruang kerja.


"kamu tau sayang, kamu itu akan jadi panutan jadi lain kali jangan ya, tapi kebepa sore-sore begini kamu mau makan mangga,nanti sakit perut," kata Romo Heru.


"tidak masalah aku sedang ingin, dan boleh tolong di kupasin dong kang mas," kata Arumi dengan nada manja.


Romo Heru hanya tersenyum dan kemudian duduk di samping istrinya itu.

__ADS_1


"siapa kamu berani menyuruh Romo Heru untuk mengupaskan kulit mangga untuk mu," tanya Romo Heru dengan dingin.


Sedang Arumi juga tak kalah dingin menanggapi suaminya itu, "kalau begitu jangan menyentuhku satu tahun ke depan," ketus Arumi yang bangkit dan ingin pergi.


Tapi tangannya di tahan oleh Romo Heru, "apa kamu ingin membuat ku nayi kering karena kurang sentuhan, dan apa kah kamu bisa bertahan juga tanpa sentuhan ku?" tanya Romo Heru.


"aku tak peduli," jawab Arumi.


karena kesal Romo Heru menarik Arumi ke pelukannya, tapi karena hal itu.


Pisau yang di bawa Arumi malah melukai Romo Heru, "kang mas.." kaget Arumi yang melihat tangan suaminya terluka dan berdarah.


"cuma luka kecil," kata Romo Heru yang tak menduga akan melihat Arumi yang menghisap darah yang ada di tangannya.


"hentikan sayang, kamu membuat ku ..." kata Romo Heru yang langsung mengendong Arumi ke ruangan khusus di kamar itu.


Dan keduanya malah bercumbu di dalam sana, dan meninggalkan mangga itu yang tergeletak di lantai begitu saja.


Arumi tak menyangka jika sentuhan dari suaminya itu membuatnya sangat sensitif sekarang.


Bahkan Romo Heru juga tak mengira akan melihat sosok istrinya yang kelihatan lebih berisi dari pertama mereka menikah.


terlebih bagian tubuh atas Arumi yang makin besar, keduanya pun akhirnya saling berpelukan setelah puas melakukannya.


"jadi masih mau makan mangga mengkal itu?"

__ADS_1


"sudah tak minat lagi, karena kang mas..." jawab Arumi menyembunyikan wajahnya di dada suaminya


__ADS_2