Harem Suamiku

Harem Suamiku
penolakan


__ADS_3

"tunggu sebentar, Kenapa kamu menghilang dan kemudian berubah pikiran, bukankah kemarin lalu kamu sudah setuju untuk melakukan pernikahan dengan ku, tapi kenapa?" teriak Casandra yang mulai tak bisa mengendalikan diri dan emosinya.


"karena aku sudah sadar, jika itu salah dan yang seharusnya adalah aku tetap bersama keluarga ku, dan tak mengizinkan orang luar masuk dan merusaknya, jadi kamu pergi dari sini," usir Romo Heru.


"tidak mau, aku ingin tetap di sini dan aku tak percaya dengan mu, karena kamu sendiri yang bilang ingin melakukan kerja sama ekspor impor, dan kakak ku bisa membantu mu tapi syaratnya kamu harus mau menikah dengan ku," kata wanita itu mulai emosional.


"kamu gila, aku tak mungkin menikah dengan mu karena aku tak menyukaimu," kata Romo Heru yang merangkul pundak istrinya.


Sedang japar merasa geli melihat tingkah Casandra yang terus menerus menggila karena ingin menjadi istri dari bapaknya.


"pak no, seret mereka semua keluar dari rumah ini dan pastikan tidak akan bisa masuk lagi dan membuka mulut, itu membuat ku pusing," kesal japar yang mengeluarkan perintah yang paling di takuti oleh semua orang.


Bahkan Geno saja sebenarnya takut jika Japar sudah mengeluarkan perintah itu, karena itu berarti kematian.


"baik Ndoro," kata Geno


akhirnya mereka bertiga di seret keluar, japar langsung menuju ke arah kamarnya dan segera mengirimkan perintah pada orang kepercayaannya.


Dia ingin menunjukkan jika di desa ini tak boleh ada yang berani meninggikan suara kepada keluarga Hadikusumo.


Terlebih orang-orang berani mengangkatnya wajahnya menantang dirinya.


Joe tak mengira jika dia di permalukan seperti oleh seorang anak kecil yang begitu angkuh dan sombong.


"ini keluarga yang kamu sukai, aku bahkan sangat membencinya," kata Joe tak habis pikir dengan adiknya itu.


Dia akui jika Romo Heru memang pria tampan dari apa yang dia kira, tapi kekejamannya itu di atas manusia normal.


"sudah kak kita pergi dulu, karena di sini banyak orang dari Romo Heru, dan tolong jangan menghinanya lagi,"


"terserah kamu saja," kata Joe yang tak ingin berdebat dengan pria itu.


Tiba-tiba sebuah kereta kuda datang, dan saat turun ternyata itu adalah Wulan yang datang bersama seorang pelayan.


Dia membawa buah tangan karena hati ini ada acara rumah Romo Heru yaitu acara tidak sinten yang akan di adakan malam nanti.


"selamat pagi ibu dan Romo, saya datang ingin mengantarkan hadiah untuk Dika," kata Wulan dengan sopan.


"iya nak, ayo masuk dan ibu terima hadiah mu," kata Arumi yang mengambil dengan senang hati.


Dia tak mengira jika gadis yang di pilih oleh putranya ini semakin hati semakin baik dan sopan santunnya sangat baik.


"mau bertemu Japar nduk?" tawar Romo Heru.

__ADS_1


"tidak Romo, saya tak ingin menganggu Ndoro jika memang sibuk," kata Wulan malu.


"kalau begitu ikut ibu dulu yuk, ibu mau menunjukkan sesuatu untuk mu," kata Arumi yang senang karena seperti dia punya anak perempuan.


Japar yang sibuk di dalam kamar tak sadar jika gadis yang dia inginkan sudah ada di rumahnya.


Sedang Sari yang mendapatkan kabar tentang kedatangan keponakannya pun segera mencarinya.


Saat dia mengetuk pintu kamar arumi untuk mendapatkan izin masuk.


Dia terkejut saat melihat keponakannya itu sedang di minta memilih perhiasan.


"maaf Nyai jika saya menganggu anda, karena saya ingin bertemu Wulan," kata Sari.


"tidak masalah, masuk saja dan kebetulan kamu juga di sini, kamu bisa tolong bantu aku untuk memilihkan perhiasan yang bisa di kenakan oleh Wulan tanpa membuatnya menjadi berlebihan," kata Arumi yang memang belum tau sepenuhnya selera calon menantunya itu.


"itu Nyai, Wulan menyukai sesuatu yang sederhana, jadi perhiasan kecil dan tak mencolok akan sangat pas dengannya," kata Sari yang memberikan saran.


"baiklah kalau begitu, bagaimana dengan ini, aku membelinya saat di kita, dan sepertinya akan manis saat kamu yang memakainya," kata Arumi memakaikan perhiasan emas itu.


Dan benar saja, Wulan tampak berbeda, dan akhirnya arumi memberikan perhiasan satu set itu.


Setelah itu, mereka bertiga duduk di pendopo bersama para wanita, dan Wulan tampak duduk menjaga bayi Dika.


karena tadi suratnya tidak mendapatkan balasan, "ibu... Saya ingin pamit keluar sebentar bersama mang Idan, dan sebisa mungkin saya usahakan untuk kembali sebelum acara di mulai," kata Japar yang belum sadar akan kedatangan dari Wulan.


Ya bocah pria itu masih sibuk dengan jam tangan miliknya, "baiklah nak, tapi setidaknya sapa dulu Wulan yang sudah datang dari tadi,"


"apa!" kaget Japar yang langsung melihat ibunya yang duduk bersebelahan dengan Wulan.


Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dan tanpa terduga wajah sangar Japar tiba-tiba tersenyum merekah melihat gadis itu.


Persis seperti Romo Heru yang melihat Nyai Arumi setelah dalam kemarahan besar.


"kenapa tak bilang, aku bisa meminta seseorang menjemput mu," kata Japar yang kemudian merubah ekspresi wajahnya kembali datar.


"tidak apa-apa Ndoro, karena saya datang untuk mengantarkan hadiah, setelah ini saya akan pulang untuk membantu bapak bersiap, dan nanti malam akan datang lagi," kata Wulan yang memang ingin pamit.


"baiklah kalau begitu, aku akan mengantar mu," kata Japar mengulurkan tangannya pada gadis cantik bermata indah itu.


dengan lembut,Wulan menerima uluran tangan dari Japar dengan senyum malu yang membuat semua orang tersentuh.


"apa memang keluarga Hadikusumo ini yang laki-laki begitu romantis, bahkan saat masih kecil saja sudah seperti ini," kata Arumi saat tak sengaja melihat suaminya.

__ADS_1


Sedang Romo Heru yang mendengar pun hanya tersenyum, karena tingkah japar ini persis seperti dirinya saat bersama Lastri dulu.


Ya mereka bertunangan dari kecil dan akhirnya menikah saat Romo Heru di angkat menjadi kepala keluarga Hadikusumo.


"ya begitulah sayang, Japar tolong hati-hati dalam mengantar gadis cantik ini,"


"baik bapak, kami pamit dulu," kata Japar yang sudah berjalan beriringan dengan Wulan yang juga sudah berpamitan dengan kedua orang tua di rumah itu.


Sari tak menyangka ketakutan kakaknya untuk masa depan putrinya.


Sepertinya tidak akan terjadi karena Japar begitu baik dan lembut memperlakukan Wulan.


"saya juga permisi ya Nyai, untuk melanjutkan pekerjaan di dapur," pamit sari.


"baiklah dari, dan tolong kamu dan Mbok Jum untuk menjaga kondisi, ingat kalian ini sedang hamil, dan aku tak ingin ada masalah nantinya," kata Arumi mengingatkan.


"baik Nyai," jawab Sari yang segera masuk kedalam.


Rumah sudah di hias, dan disana juga tertata berbagai bunga yang sudah di pesan dari jauh-jauh hari.


Sedang Romo Heru mengendong putranya yang sudah semakin menggemaskan, dia tak percaya dengan pertumbuhan Dika yang cukup bagus.


Selama di dalam mobil, Wulan dan japar sama-sama diam, kedua bocah itu bingung mau mengatakan apa, terlebih Wulan terlalu malu untuk memulai pembicaraan.


"bagaimana sekolah mu, apa semuanya baik?" tanya Japar tanpa melihat Wulan.


"iya Ndoro, semuanya baik dan sekarang saya sudah bisa menguasai bahasa asing seperti permintaan anda," kata Wulan sopan


"itu bagus, karena aku tak mau punya calon istri yang tak mengerti apapun, dan kamu juga harus mengetahui lebih dalam tentang bisnis dan pabrik, ini kebetulan aku punya beberapa buku yang selama ini aku pelajari, karena jika kita menikah nanti, kamu harus membantuku untuk mengembangkan semua usaha milik keluarga, kamu mengerti," kata Japar.


"tentu Ndoro, dan saya akan berusaha keras menjadi istri yang sempurna,"


"itu bagus, dan tolong selalu jaga penampilan mu seperti itu, karena dku suka kamu yang tertutup," kata Japar yang merasa Wulan lebih cantik saat ada selendang yang menutupi kepalanya.


Saat sampai di rumah keluarga Wicaksono, dia turun terlebih dahulu dan kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Wulan.


Setelah itu keduanya berjalan bersama, dan Japar menyempatkan diri untuk menyapa calon ayah mertuanya.


"selamat siang pak Wicaksono, saya datang ingin mengantarkan Wulan, dan kebetulan saya juga membawa sedikit oleh-oleh dari kota, ya semoga bisa membantu bapak menjaga kesehatan," kata Japar memberikan bingkisan yang dia bawa.


tuan Wicaksono tak menyangka jika pemuda yang begitu arogan itu, bisa begitu sopan dengan dirinya.


Ya mau bagaimana pun dia adalah calon ayah mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2