Harem Suamiku

Harem Suamiku
ngidam ini aneh


__ADS_3

Romo Heru sedang duduk di ruang kerjanya sambil menyaksikan suasana malam hari yang cukup indah malam ini.


Bagaimana tidak, setelah beberapa hari yang terus menerus hujan itu sangat merusak bagi orang yang punya lahan pertanian yang banyak seperti dirinya.


Arumi datang dan memeluk suaminya itu dari belakang, "ada apa sayang," kata Romo Heru yang langsung mematikan rokok yang tadi dia pegang.


"aku sedang ingin memeluk mu seperti ini, dan..." kata Arumi yang mencubit pu***g suaminya dengan gemas.


"sakit sayang, kamu nakal ya," kata Romo Heru yang berbalik dan melihat istrinya itu.


Arumi hanya tersenyum saja melihat suaminya yang begitu lucu, ya mau bagaimana pun dia sangat menyukai aroma tubuh suaminya itu.


"kamu ini kenapa sih,kamu terus menerus seperti ini saat malam hari,memang suka aroma tubuh ku?"


"tentu saja kang mas, bagiku aroma tubuh Romo ini seperti candi, dan nanti kalau sampai anak kita lahir mukanya full wajah Romo, aku tak terima," kata Arumi yang melepaskan pelukannya.


"kenapa tak terima sayang, kan aku ini bapaknya,"


"tapi aku yang membawanya sembilan bulan di dalam perut, bisa-bisanya dia cuma numpang doang," kata Arumi yang membuat Romo Heru tersenyum.


"baiklah, biar aku yang bicara padanya, nak... Nanti kalau keluar permisi dulu ya, dan semoga Romo mu ini bisa membujuk ibu mu agar tak marah saat wajah kita bak pinang di belah dua,"


"kang mas..."


Romo Heru hanya tersenyum dan mengecup kening istrinya, dan kemudian mengendong Arumi menuju ke kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Arumi sudah merebahkan diri dan terlelap dalam dekapan hangat suaminya.


Setelah memastikan Arumi sudah tertidur lelap, Romo Heru bangun perlahan.


Pria itu keluar dari kamar dan menuju ke dapur, dan hal itu mengejutkan para mbok mban dan para centeng yang sedang membakar singkong di Pawon.


"kalian sedang apa?" tanya Romo Heru.


"ah Romo Ageng, kami sedang membakar singkong dan jagung,"


"boleh aku minta singkong bakarnya," mohon Romo Heru.


Geno memberikan singkong yang baru matang dan mengupaskan sekalian.


Tapi tanpa terduga pria itu malah tampak begitu lahap memakannya, ya para pelayan dan centengnya sedikit terkejut dengan apa yang mereka saksikan.


"ada apa, kenapa menatap ku seperti itu," tanya Romo Heru.

__ADS_1


"tidak Romo, kami hanya tak menyangka akan melihat Tomo begitu menikmati camilan sederhana itu, dan makin enak kalau di kasih cocolan garam sama cabe Romo," kata Idan malu.


Dengan senang hati, Romo Heru menikmati hal itu. Dan ternyata apa yang di katakan oleh Idan benar.


Tapi itu menjadi kelengahan semua orang yang tinggal di rumah Romo Heru.


Pasalnya seseorang sedang berjalan di ruang tengah dan berniat untuk menghabisi nyawa Arumi.


Karena baginya, Arumi adalah penghalang terbesar untuknya bisa mendekati Romo Heru.


Dia tak ingin jadi pajangan saja di rumah itu, karena baginya menjadi istri utama di rumah itu dan bisa melahirkan seorang anak adalah impiannya.


Karena jika dia berhasil melahirkan anak pertama yang akan jadi pewaris di rumah ini.


Dia dan keluarganya akan di manjakan dengan semua harta yang mungkin tak ada habisnya.


Jadi dia memutuskan untuk memilih jalan ini, dan dia akan lebih mudah membunuh aruminyang saat ini memang sedang sangat lemah.


Dia sudah sampai di depan kamar dari wanita itu, dan kamar itu terlihat terbuka sedikit, dia pun segera masuk kedalam kamar dan menutupnya.


Arumi mencium aroma yang tak dia sukai, yaitu aroma bunga pecah piring.


Dia pun pura-pura tidur untuk tau apa yang akan di lakukan oleh wanita itu di dalam kamarnya.


"sepertinya semua orang memberikan aku kesempatan untuk membunuh mu malam ini," gumamnya dengan suara lirih.


wanita itu mengambil bantal yang ada di samping Arumi dan langsung membekapnya dengan kuat.


Arumi tak mengira jika wanita bodoh ini berani mencoba membunuhnya dengan cara seperti ini.


Dia mengambil belati yang ada di balik bantalnya, dan langsung menusuk perut wanita itu dan merobeknya dengan arah melintang.


Wanita itu pun kaget dan kemudian muntah darah, bahkan kini semua isi perutnya keluar karena luka tusukan itu sangat dalam.


Arumi mengambil bantal di wajahnya dan melihat siapa yang ingin membunuhnya.


Dan dia melihat wanita itu sedang meregang nyawa dengan pisau yang masih menancap di perutnya.


"kau kira aku akan lengah meski tertidur, dasar wanita bodoh beraninya kamu ingin membunuh ku dan calon pewaris keluarga Hadikusumo," kata Arumi yang turun dari ranjangnya.


dia bahkan menginjak darah yang mengenang di lantai kamarnya itu, "karena dirimu, aku harus mengotori kamar ini lagi dengan darah," kata Arumi dengan santai.


Dia mengambil pisau miliknya itu dan berjalan keluar dari kamarnya, dan membiarkan tubuh dari lestari berada di kamarnya dengan keadaan tewas mengenaskan.

__ADS_1


Arumi memilih duduk di kursi goyang sambil membawa pisau miliknya.


Romo Heru yang sudah selesai menikmati camilan malamnya, memilih kembali ke dalam kamar.


tapi dia kaget melihat tubuh lestari yang sudah tewas dengan sangat mengerikan, tapi Arumi tak ada di kamarnya.


"Wayah wengi udan grimis ra uwis-uwis


Banyu kang tumetes dadi saksi nggonku nangis


Wong sing tak tresnani tego ninggalake aku


Suwung jroning uripku yen ora ono sliramu


Sumilire angin tansah ndudut kalbu


Roso kang tak empet agawe loro dodoku


Liwat tembang kangen mugo biso dadi tombo


Tombo kangen iki nandang wuyung rino wengi,"


Romo Heru pun mencari asal suara itu dan kaget melihat sosok Arumi yang ada di ruang tengah sambil duduk di kursi goyang sambil membawa pisau.


"ada apa Arumi, kenapa lestari bisa mati dengan kondisi yang begitu mengenaskan," tanya pria itu.


"seharusnya aku membiarkan dia membunuh ku, tentu saja aku tak mau konyol jadi aku buat dia yang mati duluan," jawab Arumi.


para centeng dan mbok mban yang mendengar suara Romo Heru sedikit berteriak berbondong-bondong datang ke asal suara.


"Nyai Lestari!!" Tapi mbok sami kaget melihat tubuh wanita itu sudah tergletak di lantai penuh darah.


Semua orang pun menoleh dan kaget melihatnya, tapi yang makin membuat kaget adalah Arumi yang saat ini menempelkan pisau miliknya di leher suaminya.


Melihat itu Geno segera mendekat agar Romo Heru tak terluka, tapi gerakan tangan Romo Heru menghentikan langkahnya.


"apa kamu tau kang mas, aku selalu diam selama ini saat mereka menginjak ku,tapi kenapa saat aku menginjak mereka, seakan kamu tak menerimanya,apa kedudukan ku sebenarnya, aku lelah jika harus jadi wanita yang hanya jadi mesin pencetak anak untuk mu, tapi kamu tak pernah melihat ku sedikit pun," tanya Arumi yang mulai berkaca-kaca.


"aku adalah suamimu, dan kamu tau benar jika aku memperlakukan mu lebih di bandingkan dengan yang lain," jawab Romo Heru.


Arumi tersenyum dan setelah itu dia langsung jatuh pingsan di pelukan suaminya.


"semuanya bereskan mayat wanita itu, dan pastikan tak ada yang membicarakan kejadian hari ini," kata Romo Heru dingin.

__ADS_1


"baik Romo," jawab semua orang yang akan menutup mulut mereka rapat-rapat.


Bahkan tanpa mereka sadari, jika ada satu orang yang menyaksikan semuanya, dan sekarang wanita itu sedang ketakutan karena melihat sosok Arumi yang begitu kejam.


__ADS_2