Harem Suamiku

Harem Suamiku
tatapan dingin


__ADS_3

Rombongan perampok itu merasa senang karena itu adalah arahan yang baru saja mereka terima dari pimpinan.


"malam ini kita satroni rumah yang sudah di tunjuk, apa siap?"


"tapi bukankah rumah itu sangat ketat penjagaannya," tanya salah satu perampok itu.


"tentu saja kita bisa menghadapi semuanya, dan jangan patah semangat sebelum kita benar-benar tak bisa melawan lagi, dan lagi yang aku dengar, pemilik rumah itu hanya seorang janda yang baru saja di tinggal mati suaminya," kata wakil ketua kelompok perampok itu.


"baiklah kami berangkat!!" teriak semuanya siap


Mereka pun bersiap untuk rencana nanti malam, tentu saja semuanya harus benar-benar tak boleh ada masalah sedikitpun.


di rumah Romo Heru, ternyata Arumi dan Romo Heru sudah selesai memilih semua kain.


"ingat ya, jangan pernah kalian membuat ku kecewa, karena aku tak akan segan-segan membuat kalian tau apa hukuman bagi orang yang berani menghianati Romo Heru,"


"tentu Romo, kami mengerti," jawab keduanya.


Mereka pun pamit, dan yang membuat mereka kaget adalah ekspresi dari putra mereka.


"kamu kenapa Alex," tanya pak Warno.


"aku baru melihat sesuatu yang mengerikan, bagaimana bisa seorang anak seusiaku bisa melawan pria yang bertubuh besar di sana," tanya Alex yang masih merinding membayangkan bagaimana tadi Japar berlatih.


rombongan perampok itu sampai di rumah yang sudah di incar, mereka mengawasi sekeliling rumah.


Ternyata memang benar, rumah itu punya banyak penjaga, tapi mereka juga bukan orang bodoh.


Mereka melumpuhkan para penjaga dengan racun yang sudah di buat secara khusus.


setelah semua aman, kesepuluh orang itu langsung masuk menyerang kedalam rumah, dan mulai menguras semua harta


wakil ketua perampok itu melihat kamar utama, ternyata wanita itu sangat cantik dan anaknya masih balita dan sedang menyusu.


melihat pemandangan itu, dia pun tergoda dan langsung membekap mulut wanita itu dan menyeretnya pergi.

__ADS_1


Dan saat semua anak buahnya menggasak uang dan seluruh harta berharga lainnya, dia menikmati tubuh pemilik rumah.


Begitupun dengan anak buahnya yang ternyata juga bermain dengan para pelayan wanita di rumah itu.


setelah merasa puas, mereka semua pergi dan saat ada yang ingin berteriak, mereka tak segan memenggal kepalanya begitu saja.


Dan malam itu seperti musibah besar yang menghancurkan keluarga itu, karena semuanya sudah musnah.


Keesokan harinya, Japar sudah di antar ke sekolah dua centeng yang kini bertugas menjadi pengawalnya.


Sedang di rumah semua orang sedang sibuk untuk mempersiapkan acara tujuh bulanan dari Arumi, "jika kalian menunggu terlalu lama, bisa pulang dulu," kata Japar.


"tidak usah Ndoro, kami akan menunggu Ndoro sampai bubaran sekolah," Jawab keduanya


"baiklah terserah kalian saja," jawab Japar yang langsung masuk kedalam sekolah.


Sedangkan di desa, tak terasa sudah berbulan-bulan Sukma dan Ndoro Sodiq ini bersama untuk mengajar di tempat sekolah rakyat.


Keduanya juga semakin dekat satu sama lain, bahkan tanpa terasa kini mereka sudah saling menumbuhkan rasa cinta di hati masing-masing.


seperti hari ini, mereka baru selesai memberikan pelajaran di sekolah rakyat yang memang belajar setengah hati karena mereka berdua harus menghadiri acara yang siang nanti di adakan oleh keluarga Romo Heru.


"aku tak tau mau mengunakan apa karena kebaya ku semuanya sedikit sesak, sebenarnya siang ini ingin beli tapi sepertinya akan sulit menemukan toko yang pas," kata Sukma.


"bagaimana jika aku antar ke kota, mari kita berangkat agar siang nanti tak telat, di tambah aku belum pernah membelikan anda hadiah padahal sudah sangat membantuku,"


"tapi itu merepotkan, dan aku takut jika anda akan kesulitan nantinya, sudah tidak usah," kata Sukma yang merasa tak enak.


"tak masalah, ayo kita berangkat beli, dan Anda bisa memilih semua kebaya yang anda inginkan, mang Paijo tolong Siapkan delmannya," kata pria itu yang langsung menuruti perintah sang majikan


Sukma pun naik dengan di bantu oleh Ndoro Sodik, keduanya duduk saling berhadapan dan selama dalam perjalanan pun.


Mbok Sumi tak menyangka jika kedua orang ini begitu pendiam, "apa kalian berdua merasa tak nyaman ada saya di sini?" tanya wanita itu.


"tidak mbok, kenapa bisa bilang begitu?"

__ADS_1


"ya karena kalian begitu Dian, padahal biasanya bisa bercanda dan mengobrol dengan adik, seharusnya saya di depan menemani mang Paijo," kata mbok Sumi.


"mbok ini ngomong apa, bukan berarti kamu tak nyaman hanya karna mbok orang batu yang ikut aku," kata Sukma meyakinkan pelayannya itu.


"sebenarnya saya sedang bingung mau mengajak bicara nyai Sukma, di tambah saya langsung menatap wajahnya yang cantik, hati ku jadi bimbang, apa salah mencintai wanita yang masih memiliki suami seperti nyai Sukma," jujur Ndoro Sodik.


"apa... Apa maksudnya?"


"iya Nyai, maafkan aku yang mengatakannya, sejujurnya saya sangat menyukai anda, dan perasaan itu semakin besar dan yakin saat kita yang selalu menghabiskan waktu berdua, sekarang saya merasa jika saya benar-benar jatuh cinta pada anda," kata Ndoro Sodik yang mengakui perasaannya.


"sebenarnya saya juga mas, tapi saya menahannya sendiri karena takut jika anda akan merasa terluka atau bahkan bisa membenciku, tapi mendengar mu menyatakan perasaan seperti ini, saya merasa sangat bahagia, tapi..."


"Tapi apa nyai, ah iya aku lupa jika Romo Heru tak akan menceraikan istrinya,"


"bukan masalah itu mas, aku ini sudah kesulitan untuk punya anak, dan kemungkinan jika kita menikah kita tak akan memiliki anak," kata Sukma dengan takut.


"aku tak peduli dengan itu, bagiku bersama dengan wanita yang aku cintai itu cukup, aku tak butuh orang lain lagi," jawab pria itu.


"kalau begitu yakin, lusa kita harus menghadap Romo Heru untuk menjelaskan semuanya, dan dia akan putuskan untuk menceraikan ku atau tidak, dan itu syaratnya,"


"baiklah, tapi sebelum itu kita harus pilih kebaya yang pantas untuk menghadiri acara besar yang di adakan itu," kata Ndoro Sodik


Keduanya masuk kedalam rumah penjahit dan untungnya ada sebuah kebaya berwarna biru yang pas dengan ukuran Sukma.


Akhirnya Ndoro Sodik membelikan kebaya itu untuk Sukma, dan siang nanti mereka akan kompak dengan mengunakan kebaya warna itu.


Romo Heru yang berada di ruang kerjanya mendapatkan laporan tentang sebuah perampokan lagi.


Dan kali ini menimpa janda dari Van Dijk, yang meninggal dunia beberapa bulan lalu.


"berapa banyak korbannya dan berapa harga yang hilang," tanya Romo Heru.


"uang dan perhiasan, dan kelima centeng mati karena racun dan yang paling kejam, semua wanita di rumah itu di lecehkan dengan kejam, bahkan sekarang pemilik rumah itu menjadi gila karena hal itu," lapor Geno.


"kenapa tak di bereskan saja, kenapa malah membuat pekerjaan bertambah, dasar perampok sialan," gumamnya kesal

__ADS_1


"bagaimana jika kita buang para wanita yang bisa membuat kekacauan itu ke hutan, dan biarkan saja di nikmati oleh para perampok itu jika memang benar pos mereka di hutan gelap,"


"baiklah, buat para wanita yang menganggu di desa itu, aku tak mau mengurusi masalah seperti itu, karena sangat menyebalkan," kata Romo Heru.


__ADS_2