Harem Suamiku

Harem Suamiku
sempit ih...


__ADS_3

hari makin malam, tapi tuan Wicaksono masih membaca beberapa buku, itu yang membuat Ndoro japar heran dengan mertuanya itu.


"biasanya, orang seusia ayah akan bercanda tawa dengan istrinya saat malam hari, tapi ayah selalu pegang buku,apa tak takut tua sendirian?" tanya Ndoro.


"kaku ingat mertua ku ini akan selamanya kuda, tentu saja tidak, aku memang sudah tua nak, pagi pula aku memang menyukai buku ini, dan untuk pertanyaan mu itu aku tak tertarik menikah dan menduakan istriku yang sudah tenang di surga, dan kemana istrimu?"


"ah adek sudah tidur, dia bilang tadi mengantuk, karena aku tak bisa tidur jadi aku keluar malah ketemu ayah,"


"ha-ha-ha ya kita sebagai pria memang begitu, tapi jika kamu bisa setiap hari setidaknya luangkan waktu ku sedikit saja untuk membaca, karena itu bisa menambah ilmu mu," kata tuan Wicaksono.


"iya ayah,aku sedang menyukai beberapa buku di perpustakaan milik Romo, ya meski buku itu berbahasa Belanda, setidaknya aku paham dan mengerti," jawab Ndoro Japar.


tuan Wicaksono pun tau jika menantunya itu memang bukan pria sembarangan.


"apa tadi istrimu membuat masalah, lebih tepatnya kalian jadi omongan warga tadi," kata pria itu.


"semoga omongan yang baik ya, karena kami pertama kali keluar dengan pakaian seperti orang barat," katanya malu.


"tenang saja, di sini kami terbiasa melihatnya, meski mungkin terlihat aneh jika di desa mu, tapi ya omongan yang ayah dengar sangat baik, banyak yang bilang jika menantuku ini sangat baik hingga nau menolong penjual kue,"


"ah itu ya ayah, itu karena istriku minta kue yang habis jadi saat pedagang itu pulang. mengambil bahan aku membantu sedikit,"


tuan Wicaksono tak mengira jika menantunya itu akan begitu merakyat seperti ini


"tak masalah kalau begitu, oh ya apa kalian menginginkan sesuatu untuk besok pagi, atau punya rencana?" tanya tuan Wicaksono.


"sepertinya tidak ayah,memang ada apa? Sepertinya ada yang penting?" tanya Ndoro Japar.


"aku sedang merindukan istriku, jika tak keberatan ikutlah dengan ku menemuinya,"


"tentu, aku juga harus menyapa ibu mertua ku," kata Ndoro Japar.


Setelah puas berbincang, keduanya berpisah dan masuk ke kamar masing-masing


Ndoro Japar masuk dan melihat istrinya tidur, terlihat wanita itu menguasai kasur.


dengan secepat kilat, Ndoro Japar meringkus istrinya dan memeluknya agar tak melakukan gerakan yang berbahaya saat tidur.


"sempit ... Lepaskan.." lirih Nyai Wulan yang merasa gerah.


"sudah tidur saja sayang .." bisik pria itu memeluk istrinya.

__ADS_1


Mereka akhirnya tidur dengan nyaman, dan saat malam hujan turun dan sedikit membuat suasana menjadi sejuk.


Nyai Wulan terbangun pukul empat pagi dan melihat suaminya tak mengenakan baju bagian atas saat tidur.


dia pun memberikan tanda merah di dada suaminya, kemudian dia bangun karena ingin ke kamar mandi.


Tapi saat keluar kamar, dia mendengar ada suara yang sedikit menganggunya, yaitu suara orang yang sedang melakukan aktifitas panas.


"aduh ... Aku kebelet, tapi sudahlah itu urusan pribadi masing-masing," kata wanita itu yang langsung ke kamar mandi yang memang di luar.


Saat dia selesai, dia kaget saat keluar karena melihat ayahnya seperti orang habis olahraga.


"ayah habis apa, kenapa berkeringat seperti itu,dan kenapa wajah ayah juga merah begitu, ayah sakit?" tanya Nyai Wulan memberondong ayahnya itu.


tuan Wicaksono hanya memijat kepalanya, mendengar pertanyaan yang terlontar dari putrinya itu.


"nanti ayah jawab, tapi ayah mau ke kamar mandi, boleh?"


"oke aku tunggu,ayah mau di buatkan apa?" tanya Nyai Wulan.


"tolong buatkan mie goreng dan teh hangat saja,"


Nyai Wulan pun langsung ke dapur bersih untuk membuatkan apa yang di minta ayahnya.


Dia membuat dua mie nyemek dengan telur dan sayur, dan tak lupa teh hangat.


Saat melihat sajian itu, tuan Wicaksono tersenyum, "mau ayah suapi?"


Dengan cepat putrinya itu mengangguk, dia tau meski putrinya itu sudah menjadi istri orang lain, tapi baginya Wulan tetap putri tercinta untuknya.


"kamu mau bertanya apa?" tanya tuan Wicaksono yang menyuapi putrinya itu.


"tadi ayah wajar tercium aroma darah, ayah baru selesai melakukan apa?" tanya Nyai Wulan.


"seperti suamimu, ayah juga bukan orang bersih nak, aku menyelesaikan semuanya sendiri,"


"aku tau, maaf aku tadi kaget, karena aku sempat mendengar suara orang yang sedang melakukan ya ayah Taulah itu," kata nyai Wulan.


"nak di rumah ini banyak orang dan mereka juga bukan anak kecil, jadi seperti ya kamu tau sendiri, mungkin di antara mereka sedang saling membantu,"


"kalau ayah tak ingin," tanya nyai Wulan yang merasa kasihan pada ayahnya itu.

__ADS_1


Tuan Wicaksono menyuapi putrinya lagi, "bukan tidak mau, tapi tak minat, dan lagi tak ada satu pun wanita yang bisa menggantikan posisi ibu mu di hati ayah,"


"aduh beratnya," kata nyai Wulan yang membuat ayahnya itu tersenyum.


Di kamar, Ndoro Japar terbangun tapi tak mendapati istrinya di sisinya, dia bangun dan mencarinya di luar.


Ternyata dia melihat istrinya sedang tidur di pelukan ayahnya, mungkin itu terlihat sedikit kurang pantas.


Tapi bagi Ndoro Japar tak masalah seorang anak perempuan seperti itu pada ayah kandung, karena bagi seorang ayah, anak perempuan tetap jadi putri kecilnya.


Dia memilih ke kamar mandi dan setelah itu dia memilih latihan ringan sebelum nanti pergi dengan perjalanan yang cukup jauh.


dia melatih otot tubuhnya, agar tak kehilangan banyak stamina terlebih beberapa hari ini dia mulai malas berolahraga.


Setelah merasa cukup, dia pun langsung bergegas masuk dan ternyata istrinya sudah cemberut di dalam kamar.


Dia pun mengecup kening dan bibir istrinya itu, "kenapa sayang, kamu cemberut gitu sih?"


"mas dari mana kok gak ngajak-ngajak sih,"


"aku dari depan, lari pagi keliling rumah, dan melakukan olahraga sederhana, kamu masih tidur dan kamu tak boleh olahraga dulu sampai dia benar-benar kuat baru bisa," kata Ndoro Japar


"tapi lain kali jangan begitu, ayo bersiap ayah meminta kita ikut ke tempat yang menjadi peristirahatan terakhir ibu,"


"baiklah sayang, nanti kita beli bunga juga, ibu mertua suka bunga apa setidaknya aku harus memastikan dia menyukai menantunya ini," kata Ndoro Japar.


"tentu saja ibu suka bunga anggrek dan juga mawar merah," jawab Nyai Wulan yang membuat suaminya itu diam.


Ndoro Japar hanya tak menyangka bunga kesukaan ibu mertuanya itu sama dengan bunga kesukaan ibunya.


Setelah mereka bersiap dengan baju santai, mereka pun naik mobil menuju ke tempat pemakaman ekslusif.


Ya di tempat itu banyak malam dari orang-orang asing keturunan asli eropa.


Mereka menuju ke sebuah pojok area itu, dan terlihat sebuah bangunan berbentuk lingkaran dengan tempat yang terawat.


bahkan mereka harus melepaskan alas kaki saat masuk, dan ternyata itu adalah makan ibu dari istrinya.


Wanita itu bernama Karina, dan ada foto juga yang ternyata mirip sekali dengan istrinya hanya berbeda warna rambut dan warna mata.


"hai sayang, aku datang bersama putri kura dan menantu kita, dia pria yang baik dan bisa menjaga Wulan, apa kamu bahagia di sana, karena kami di sini juga sudah bahagia dengan cara masing-masing," kata tuan Wicaksono.

__ADS_1


__ADS_2