
Setelah berhenti sebentar, Japar langsung pamit karena dia harus ke beberapa tempat sebelum nanti dia telat pulang.
Ryan Wicaksono dan Wulan melihat mobil yang di tumpangi oleh Japar meninggalkan halaman rumahnya.
"apa itu benar bocah yang mengancam keluarga ini, kenapa sekarang makin kesini dia semakin manusiawi dan terlihat makin tampan," kata tuan Wicaksono.
"bapak... Dia itu sebenarnya baik, tapi memang dia kejam saat seseorang mengusik semua orang yang dia sayangi," kata Wulan dengan senyum malu-malu.
"benarkah, berarti saat dia marah dan memotong tangan seorang pria yang ingin menyentuh ku itu, berarti kamu juga berharga untuknya," kata tuan Wicaksono yang bisa melihat putrinya malu.
Wulan sudah menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "ih bapak.."
"tak masalah nduk, setidaknya bapak bisa tenang karena pria yang akan menjadi suamimu di masa depan ini, sangat menjaga dirimu itu cukup untuk bapak," kata tuan Wicaksono yang memeluk putrinya itu.
Sedang mobil itu sampai di hutan terlarang, dan di sana Japar turun dan keluar dari mobil.
tentu dia membawa pisau di balik bajunya dan juga beberapa senjata lainnya.
"biar saya kawal Ndoro," kata Idan yang tak ingin terjadi sesuatu pada bocah itu.
Karena jika sampai Japar terluka, bisa di pastikan kepalanya yang akan menjadi bayarannya.
"tidak usah pak lek, aku akan pergi sendiri, tenang saja karena aku bisa menjaga diriku sendiri, jadi tenang oke," kata Japar yang mulai masuk kedalam hutan terlarang itu.
Dan dalam beberapa langkah, bocah itu sudah tak terlihat karena kabur yang tiba-tiba turun.
Melihat suasana sekitar yang mulai berkabut, dia memilih menunggu di dalam mobil karena tak ingin merasakan hawa yang tak enak itu
jalar sudah masuk kedalam hutan terlarang itu, bocah itu tak kesulitan mencari jalan karena besar di tempat seperti itu.
Dia bahkan dengan mudah menemukan lima pondok yang di gunakan oleh para perampok yang selama ini menjadi momok yang di takuti oleh semua warga desa.
Japar melemparkan lima batu ke arah semua pintu tempat tinggal para perampok itu.
Para pria itu keluar dari dalam rumah, setidaknya dari satu rumah keluar dia orang.
Dan dia juga melihat bogang yang keluar dengan baju yang masih berantakan.
"brengsek bocah gila mana yang berani mengusik ketenangan kami!" marah salah satu anak buah bogang.
Pria itu bahkan mengambil golok miliknya dan segera mendekati bocah yang sedang duduk santai sambil memainkan tongkat kayu di tangannya.
"aku akan membunuh mu!" marah pria itu yang ingin membacokkan goloknya pada Japar.
__ADS_1
Tapi bocah itu langsung menghajarnya dengan tongkat yang dia bawa, dan bahkan bisa melumpuhkan pria itu hanya dengan beberapa kali pukulan.
"boang aku mengirimkan burung pembawa pesan, kenapa kamu tak menjawabnya, apa kalian terlena karena aku mengizinkan kalian punya wanita," kata Japar dengan tatapan tajam dan kaki bocah itu menginjak kepala pria yang sudah terkapar di tanah tak berdaya itu.
mendengar itu bogang merasa bersalah dan langsung berlutut di depan Japar.
Dan semua anak buahnya juga melakukan hal itu juga, karena mereka juga tak menyangka jika bos mereka ini adalah seorang bocah.
Tapi bukan bocah bisa, "maafkan saya bos, saya yang lengah, tapi kalau boleh tau apa yang anda perintahkan untuk kami," tanya bogang dengan sopan.
"kalian harus melakukan pekerjaan kali ini,bukan hanya merampok tapi kalian harus membereskan semuanya,termasuk dengan para orangnya, tapi jangan tinggalkan begitu saja, buat pertunjukkan sedikit untuk para warga," kata Japar yang tersenyum menyeringai.
Ke sembilan pria dewasa itu terkejut bukan main, bagaimana bisa seorang bocah memiliki senyum yang begitu menakutkan.
"bawa dia masuk dan obati dengan ini, ini untuk pelajaran kalian juga, jangan melihat musuh dengan mudah, hanya karena dia berbadan kecil, karena semut juga kecil saat membuat gajah kesakitan," kata Japar yang pergi dari tempat itu.
"baik bos besar!" jawab semua orang.
Japar pun kini menuju ke gua milik Ki Ageng, orang yang sudah membesarkannya selama ini.
Saat akan masuk kedalam gua, tak lupa dia membunyikan batu sebagai tanda darinya.
Setelah itu dia berjalan masuk kedalam gua tanpa mengunakan alas kaki.
"maaf saya menganggu tapa kakek, saya ingin bertanya apa kakek bisa membantu ku untuk menyingkirkan satu orang, dia membuat ku kesal karena dia terus menempel pada ku," kata Japar yang tak suka terlalu di Pepet.
"itu adalah jalan milik mu nak, memang apa salah gadis itu, bukankah dia juga tak melukai mu," kata Ki ageng.
"tapi aku tak menyukainya, dan sudah berkali-kali aku mengusirnya dan berbuat jahat agar dia lari, tapi nyatanya dia tak terpengaruh sedikitpun," kata Japar sudah lelah.
bahkan bocah itu duduk sambil menyandarkan punggungnya di sebuah bayi yang dulu sering menjadi sandarannya untuk tidur.
"sudah tertulis di dalam takdir setiap garis keturunan Hadikusumo, jika selalu ada beberapa wanita yang akan jadi kekuatan dan juga kehancuran ku, jadi kamu harus merasakannya juga,"kata Ki Ageng.
"bukankah itu menyebalkan sekali bukan,aku tak suka jika harus seperti Romo yang banyak di kelilingi wanita, eh semuanya bangsat ya," kata Japar.
Tiba-tiba sebuah pukulan melayang ke kepalanya, "dasar bocah sialan, ingat jaga bicara mu, kamu itu seorang anak dari keluarga terhormat," kata pria sepuh itu.
"ya iya kakek, itu aku selalu mencoba menjadi putra yang pantas untuk menjadi pria keluarga Hadikusumo,"
"dasar kamu dan Heru itu sama, kamu tau kamu itu, lebih buruk kamu di banding Heru yang dulu begitu begitu penakut saat seusia mu, tapi kenapa kamu begitu kejam di usia ini," kata Ki Ageng.
"karena aku bukan bapak, kakek ku yang terhormat dan tersayang," kata Japar dengan santai.
__ADS_1
"apa kamu mau punya ajian jaran goyang, ya bisa di gunakan untuk menarik lawan jenis," kata Ki Ageng.
"aku tak butuh kakek,karena aku sudah di sukai para wanita meski tanpa ajian menyedihkan itu, tapi yang aku heran kenapa aku selalu tak berdaya saat berhadapan dengan seorang gadis cantik, yang akan jadi istriku nanti," kata Heru dengan wajah yang begitu senang.
"ya mungkin itu adalah jodoh ku karena kamu yang bisa merasakan itu, sebab para pria keluarga kita punya insting untuk mengenali pasangannya,"
"baiklah kakek," kata Heru yang tersenyum saja.
Dia memilih untuk menutup mata sebentar, sebelum pulang karena dia rindu tempat yang dulu menjadi tempat tinggalnya.
Idan ketiduran karena terlalu lama menunggu Ndoro-nya yang belum kembali.
tanpa terduga, saat Japar sampai di mobil, dia melihat Idan masih terlelap tidur di dalam mobil.
Dia tak membangunkan pria itu, hanya membuka pintu dan langsung masuk kedalam mobil.
Dia dengan santai menikmati beberapa buah yang tadi dia ambil, seperti rambusa hutan, dan juga anggur hutan yang kebetulan dia temui saat dalam perjalanan pulang.
Idan meregangkan otot tubuhnya karena merasa pegal, "ya dewa, dimana ndoro kok belum kembali, padahal kita bisa telat jika tak segera pulang," kata Idan yang tak tau jika bocah itu sudah di dalam mobil.
"aku dari tadi di sini pak lek, sebaiknya kita pulang," kata Japar menepuk bahu Idan.
"AAA," teriak pria itu kaget
"tolong jangan berteriak itu menyebalkan," kesal Japar.
"maafkan aku Ndoro, kita segera pulang," kata pria itu segera menjalankan mobilnya menuju ke kediaman keluarga Hadikusumo.
di perjalan, dengan santai Japar menikmati buah yang tadi dia ambil, bahkan sampai Idan juga melirik beberapa kali.
"mau pak lek?"
"boleh jika di kasih Ndoro, tapi yang merah kecil-kecil itu apa?" tanya Idan yang jarang melihat buah seperti itu.
"ini namanya anggur hutan dan sangat sulit di cari karena masa tumbuh dan matangnya juga sangat lama." jawab japar.
Rambusa hutan
Anggur hutan
__ADS_1