
Saat sampai di pulau Sumatra, Yanti tampak murung tak bahagia, tapi mau bagaimana lagi, dia baru saja mendapatkan kenyataan yang begitu menyakitkan.
Bahwa suaminya itu tak menginginkan dirinya, dan hanya menginginkan istrinya yang saat ini ada di rumah.
"kita akan tinggal di rumah teman ku, dan selama di sana tolong bersikaplah kita sebagai pasangan yang bahagia, apa kamu bisa Yanti?"
"tentu kang mas, sesuai permintaan anda," kata wanita itu yang hanya bisa menuruti keinginan suaminya itu saja.
Mereka berdua pun mengendarai kereta yang membawa mereka ke rumah keluarga besar di kota itu.
Ya mereka harus datang ke kota itu karena ada pekerjaan besar yang menunggu Romo Heru.
Yanti dan Romo Heru sampai di kediaman yang bergaya khas Minangkabau.
Dia di sambut cukup baik karena memang stata sosial dari Romo Heru ini juga bukan orang sembarangan.
"bagaimana perjalanan mu Uda, apa sangat melelahkan?" tanya Ramli.
"kamu tau jika aku harus meninggalkan rumah ku dan kemari tentu saja melelahkan, tapi aku penasaran dengan apa yang kamu tawarkan pada ku melalui surat mu, itulah aku datang mengajak istriku sekalian kami ingin jalan-jalan di kota ini,"
"itu bagus Uda, nanti aku akan menunjukkan beberapa tempat yang bagus," kata Ramli.
"tunggu dulu, tapi sebelum itu biarkan tamu kita ini untuk istirahat," tegur istri Ramli pada suaminya yang kadang lupa waktu.
Romo Heru dan Yanti di persilahkan menempati kamar yang yang sudah di siapkan.
ternyata kamar itu cukup besar, meski hanya memiliki satu ranjang, nanti dia dan Yanti bisa berbagi ranjang.
"kamu mandilah dulu, karena aku harus membicarakan sesuatu dengan para centeng," kata Romo Heru.
"baik Romo," jawab Yanti.
pria itu keluar kamar dan bergegas ke depan rumah, dan melihat dua pengawalnya.
"Kipli dan Kasyo, pastikan kalian istirahat karena besok kegiatan kita tak akan sedikit, dan lagi apapun yang terjadi di sini, jangan sampai Nyai Arumi mendengarnya dari kalian,"
"kami mengerti Romo Heru," jawab dua itu.
Romo Heru menatap langit malam hari, "ah aku baru sampai di sini, dan sudah merindukan istriku, ah aku selalu teringat senyumannya," kata Romo Heru.
"lah si Romo lucu, itu istri di ajak kok masih rindu," kata Kipli yang ingin melawak.
"kamu kok bodoh sih,maksud Romo itu Nyai Arumi," kata Kasyo menyahut dan memukul kepala pria itu kesal.
"sudahlah jangan menyebut nama Arumi untuk sebulan kedepan, jika tidak itu bisa mengingatkan ku padanya," kata Romo Heru.
__ADS_1
"baik Romo," jawab keduanya.
Sedang di desa, sudah satu hari satu malam ini hujan tak kunjung reda, bahkan beberapa sungai mulai meluap.
"cak Geno tolong persiapkan semuanya, aku takut jika hujan tak berhenti dkan ada banjir besar," kata Arumi yang melihat air yang mulai mengenang.
"tentu Nyai," jawab pria itu.
Dia ingat warga desa pasti tak akan bisa keluar mencari bahan makanan.
Tapi dia juga tak mungkin keluar dalam keadaan seperti ini, karena dia juga tak bisa sembarangan pergi karena keadaannya.
sore ini juga hujan sangat deras, "semoga kang mas yang sedang jauh di sana akan baik-baik saja," gumam Arumi.
Malam pun masih hujan deras ddn terasa begitu dingin, dan Arumi sangat merindukan suaminya.
Tapi dia tdk boleh lemah, karena dia itu wanita kuat, bahkan dia tak boleh sedih meski harus melewati semua yang terjadi.
Esok paginya, para mbok mban panik karena air mulai naik, dan itu adalah kali pertama desa kebanjiran.
"Nyai tolong tetap di rumah ya, karena kondisi di desa sangat buruk, Geno sedang melihat keadaan warga," kata mbok Jum.
"apa kenapa bisa banjir seperti ini, padahal kemarin belum,"
"sepertinya ini banjir kiriman nyai, karena ada sungai yang jebol di hulu dan itu membuat semua air menuju ke desa," jawab Idan.
"baik Nyai," jawab Idan mengarahkan semua bawahannya.
Arumi pun memerintahkan semua mbok mban untuk saling membantu, dan mereka akan memasak besar.
Arumi tak peduli entah berapa uang yang dia keluarkan, karena dia tak ingin melihat warga desa kelaparan.
Geno baru datang setelah melihat semua kondisi warga desa. Arumi bangkit dan mendekati pria itu.
"bagaimana kondisi warga cak?"
"buruk nyai, beberapa keluarga tidak bisa makan dan banyak anak-anak yang sakit," kata pria itu yang tampak kelelahan karena berjuang berjalan di derasnya air banjir.
"kita buka istana Harem untuk warga yang sakit, dan minta mantri datang untuk mengobati semua orang, utamakan anak-anak dan para orang tua," kata Arumi.
"tapi Nyai,"
"tidak ada waktu untuk menundanya lagi, sebelum banyak orang yang meninggal dunia lagi,"
"baik Nyai!!" jawab Geno yang langsung mengajak lima orang anak buahnya untuk mengungsikan orang-orang yang sakit.
__ADS_1
Karena istana Harem yang begitu luas,bahkan pendopo yang ada di depan rumah bisa di gunakan untuk warga istirahat.
tempat itu sudah di tutup sedemikian rupa agar tak terlalu terkena angin saat hujan lebat datang.
semua masakan juga selesai, meski hanya Nasi dan lauk pauk seadanya, bahkan sayur juga tak ada karena terendam banjir.
ternyata hampir semua adalah anak-anak, Arumi tak peduli dia membantu untuk mengompres beberapa anak yang sedang sakit.
Bahkan terlihat Ndoro Sodik dan juga Sukma membantu para warga desa datang.
Sukma tak menyangka jika Arumi memiliki jiwa sosial setinggi ini, padahal istana Harem tak pernah terbuka untuk warga seperti ini
"tolong ambilkan makanan, pastikan semua orang makan dulu," kata Arumi yang begitu khawatir.
"nyai tolong jaga kondisi mu juga,"kata mbok Minten khawatir karena Arumi terus bergerak kesana-kemari.
"tenang mbok, aku tau batas tubuh ku, dan aku akan berhenti saat sudah tak sanggup," kata Arumi tersenyum saja.
Akhirnya semua warga makan bersama di rumah Romo Heru, dan beruntung berkat kebaikan Arumi.
Seluruh orang tak kelaparan lagi, dan lucunya, Ndoro Sodik menjaring ikan di samping istana Harem.
"apa yang sedang kamu lakukan Sodik, kamu gila!" kata Sukma.
"aku hanya berusaha untuk menguji keberuntungan ku, lagi pula kita butuh lauk untuk makan selanjutnya," kata Ndoro Sodik.
Mendengar itu, Sukma pun mencoba mengingat perkebunan yang ada di sekitar rumah itu.
"bagi bapak-bapak yang sehat,bantu kami mencari sayur atau ikan untuk lauk," kata Sukma.
"baik Nyai!" jawab semua orang.
Seorang wanita hamil di gendong oleh Geno, ternyata wanita itu itu ingin melahirkan.
Mbok Minten pun segera membantu wanita itu, dan beruntung wanita itu dan bayinya bisa lahir dengan selamat.
"selamat, anaknya perempuan," kata mbok Minten.
"terima kasih mbok," jawab wanita itu yang masih begitu lemah.
beruntung Ndoro Sodik ini bisa mendapatkan lele cukup banyak, karena banyak kolam ikan yang hancur.
Terlihat banyak warga yang berbondong-bondong datang membantu para mbok mban.
Arumi sudah merasa lelah dan memutuskan untuk duduk di salah satu sudut rumah, mbok Jum yang melihat pun datang dengan membawa makanan.
__ADS_1
"nyai dari tadi sibuk, tolong makan dulu ya,"
"baiklah mbok, terima kasih ya," kata Arumi yang tersenyum manis.