Harem Suamiku

Harem Suamiku
kita harus menunggu


__ADS_3

Ki Ageng hanya tersenyum, dia tak mengira jika Arumi bisa senekat ini ikut ke tempatnya.


"kalian mau bertemu japar?" tanya Ki Ageng.


"iya Romo, karena semalam dia pergi dengan buru-buru dan tanpa pemberitahuan sedikitpun," kata Romo Heru.


Sedang Arumi masih mencoba membuat dirinya sendiri tak menangis mengingat putranya itu masih kecil.


"dia sudah melakukan tapa Brata, dan setidaknya butuh waktu sepuluh tahun untuknya agar bisa kembali, dan dia menitipkan permintaan maaf pada semua orang, terutama pada mu nduk, karena dia tak bisa berpamitan," kata Ki Ageng


"tapi kenapa Romo?" tanya Arumi yang tak sanggup lagi menahan pertanyaan di hatinya.


"karena dia istimewa, kalian tenang saja, putra kalian akdn kembali, dan aku titip hadiah untuk calon istri yang sudah di pilih oleh Japar, dan bilang pada gadis itu untuk menjaga kesuciannya sampai dia pulang," kata Ki Ageng.


"baiklah Romo, tapi kalau boleh tau dimana dia tapa Brata, setidaknya aku harus melihatnya dan memasukan tempat itu aman," kata Arumi yang mengejutkan Romo Heru.


"tentu saja, jika kamu bisa mengikuti langkah ku, aku akan menunjukkan dimana tempat itu," kata ki Ageng.


Akhirnya mereka segera pergi menuju ke arah air terjun, dan tanpa peduli kakinya terluka, Arumi terus berlari untuk mengejar langkah kaki dari Ki Ageng.


Saat sampai di depan air terjun itu, Arumi tak percaya dengan apa yang dia lihat, tapi setidaknya dia tenang karena putranya akan terhindar dari hewan buas.


"kamu sudah tau kan sayang, sebaiknya kita pulang karena Dika menunggu kita di rumah," kata Romo Heru yang kasihan karena istrinya begitu tampak kelelahan.


"itu benar nduk, dan ini pakaikan pada putra mu," kata Ki Ageng.


"baik Romo," jawab Arumi yang kini berjalan pergi.


Dan bekas langkah kaki dari Arumi yang berlumuran darah itu, munculah bunga yang nantinya akan menjaga Japar selama di dalam gua itu.


Dan saat sampai di rumah,Arumi pingsan karena terlalu banyak menangis dan kelelahan.


jadi pesta pernikahan antara Joko dan mbok ni tidak bisa di saksikan oleh wanita itu.


tapi untungnya semua berjalan baik, bahkan kelahiran dari dua anak juga sudah tergaris.


keesokan harinya ada pernikahan antara Ndoro Sodik dan Nyai Sukma yang di rayakan oleh banyak orang.

__ADS_1


Arumi pun memaksakan diri untuk datang agar tak menjadi gunjingan orang jika dia dan Sukma tidak dalam keadaan yang rukun.


Saat Romo Heru datang bersama nyai Arumi, semua orang menyapanya.


Tapi saat kedua calon pengantin ini menyapa, mereka mencari sosok dari bocah tampan yang selalu ada di sekitar ibunya.


"loh kok kalian cuma bertiga, mana anak ganteng ku kok tidak kelihatan?" tanya nyai Sukma mencari Japar.


"dia sedang pergi ke rumah kakeknya, maaf ya dia tak bisa ikut hadir," kata Romo Heru.


"ya sudah tidak apa-apa, tapi kenapa wajah Nyai y ini begitu terlihat murung, nanti kalau kamu seperti ini takutnya suamimu akan di ambil wanita lain," kata Nyai Sukma bercanda.


"itu tidak mungkin," kata Arumi yang tersenyum.


Wulan yang melihat kedua orang tua dari Japar pun mendekat untuk menyapanya.


Tapi dia tak menemukan bocah itu dimana pun, "maaf apa Ndoro Japar tidak ikut?" tanya gadis cantik itu.


Romo Heru menoleh ke arah istrinya dan kemudian memberikan Dika pada Romo Heru, "Wulan bicara dengan ibu sebentar ya nduk,"


Keduanya pun mencari tempat jauh untuk bicara, Wulan merasa ada yang aneh melihat gelagat dari calon ibu mertuanya itu.


"begini nduk, Japar harus melakukan tapa karena dia keturunan pertama keluarga Hadikusumo, dia menitipkan kalung ini padamu, dan berharap kamu mau menunggunya kembali," kata Nyai Arumi dengan pelan.


"butuh berapa lama ibu?"


"ya kami juga tidak tau nduk, tapi mungkin akan butuh waktu lama belasan tahun," kata Nyai Arumi.


mendengar itu, Wulan pun memakai kalung itu dan akan menunggu pria itu,karna mereka sudah punya janji pernikahan.


"saya akan setia menunggu kepulangannya ibu, dan tolong beritahu dirimu saat dia pulang ibu," kata Wulan.


"iya nduk," jawab Nyai Arumi.


Hari berganti hari,semua berjalan normal meski di dalam hati kedua wanita itu kehilangan sosok Japar.


Nyai Arumi menyibukkan diri dengan semua kegiatan di rumah dan di luar sebagai istri pembesar di desa.

__ADS_1


Sedang Wulan sekarang mengubah penampilannya, gadis cantik itu selalu memakai topeng untuk menyembunyikan wajahnya.


bahkan dia belajar secara khusus pada Sari, karena dia tak mau ada orang yang tertarik padanya selama Japar tidak ada.


tak terasa beberapa tahun terlewati dengan baik, kini Dika sudah bersekolah di sekolah dasar bersama dengan teman-teman yang berasal dari kalangan biasa.


Bahkan dia tak di ajarkan untuk punya rasa sombong karena sekarang Romo Heru mengubah seluruh peraturan rumahnya.


"ibu, kenapa kursi itu selalu kosong, bukankah seharusnya aku duduk di sana sebagai putra tertua di rumah," protes Dika yang sedang sarapan bersama Romo Heru dan adik perempuannya.


"tidak boleh, itu kursi milik kakak mu, dia sedang merantau jauh, jadi tak ada yang boleh duduk di sana, mengerti Dika," kata Arumi tegas.


"iya Bu, kenapa ibu selalu begitu emosional saat membicarakan mas ku itu, bahkan tidak hanya ibu,bahkan ibu guru juga selalu tampak sedih saat mendengar nama mas Japar," kata Dika yang sudah berusia sebelas tahun


"memang kalian tidak tau ya, kemarin malam mas Japar pulang loh," kata Nala.


"apa dek,kdmu mimpi mungkin, memang kamu tau wajah mas japar, kan lukisan keluarga saja mas Japar masih kecil," banyak Dika yang tak terima


"kalau tak percaya ya sudah, tapi semalam Nala ketemu tau, ble..." kata gadis kecil itu.


Arumi tiba-tiba menangis dan memilih masuk kedalam kamar tidurnya, karena dia merasa sakit karena rindu yang sudah bertahun-tahun dia pendam seperti ini.


"kenapa kamu belum kembali bak, padahal ibu sudah sangat merindukan mu..." lirih Arumi mencium pisau yang selalu di bawa putranya itu.


Romo Heru pun menghampiri istrinya itu dan memeluknya, dia tak menyangka jika arumi begitu merindukan sosok putra pertama mereka yang mungkin sekarang sudah dewasa dan entah bagaimana rupanya.


Apa masih mirip dengan Romo Heru yang dulu sering di sebut pinang di belah dua.


"tenangkan dirimu, mungkin putra kita belum mendapatkan restu Romo, jadi sabar ya dek,"


"aku selalu sabar kang mas, tapi akhir-akhir ini aku sangat merindukan putra ku itu," kata Nyai Arumi.


"aku juga merindukannya," bisik Romo Heru yang memeluk istrinya itu.


🍀🍀🍀🍀🍀


Tunggu season 2 ya geng ya....

__ADS_1


Mulai besok up-nya


__ADS_2