
Pukul tiga sore semua murid sudah keluar dari kelas, semua sedang menunggu jemputan.
tanpa terduga, saat sebuah mobil memasuki area sekolah semua murid merasa terpukau.
orang kaya macam apa yang sudah menjemput anaknya dengan mobil seperti itu di tahun itu.
"apa itu mobil milik keluarga mu William, bukankah keluarga ku orang paling kaya di sini, dan lihatlah dua pengawal itu juga tampak begitu terhormat." kata Niko.
"memang siapa seharusnya," kata William dengan sombong.
Dia juga kita begitu, karena ibunya berjanji akan mengirimkan kendaraan untuk menjemputnya.
kedua pengawal itu menundukkan kepala saat melihat sosok Japar keluar dari kelas dengan santai.
"kalian menghalangi jalan, dan jangan jadi kampungan dan norak karena tidak pernah melihat mobil," kata Japar yang melewati ketiga orang itu begitu saja.
"Ndoro..."
"kita pulang mang,"
"tebtu Ndoro," jawab kedua pengawal itu.
mobil itu pun langsung pergi meninggalkan tempat itu, dan para orang terkejut karena di tahun itu masih banyak yang mengunakan delman.
Tapi bagaimana bisa keluarga Hadikusumo sudah memiliki kendaraan yang begitu mewah untuk ukuran seorang keluarga Jawa.
Mobil yang membawa Japar sampai di rumah, terlihat Arumi sudah menunggu kepulangan putranya itu dengan senang hati.
"ibu!!" teriak Japar yang langsung memeluk ibunya itu dengan sangat senang.
"aduh putra ku yang tampan, bagaimana sekolahnya sayang,apa disana kamu tak mengalami masalah?" tanya Arumi.
"tentu saja tidak ibu, semuanya bersikap biasa karena takut dengan nama belakang ku, di tambah mereka semua tentu bukan tandingannya jika berurusan dengan keluarga Hadikusumo, dan lagi aku hampir lupa ibu, mungkin sore atau petang nanti akan ada yang datang untuk menunjukkan kain pada kita, dia orang tua teman ku, karena dia sedang kesulitan, jadi aku memintanya untuk mengunjungi ibu untuk menunjukkan produk buatan mereka yang dia akui mempunyai nilai yang bagus," kata Japar.
Arumi hanya tersenyum mendengarnya, dia tak mengira jika putranya akan mengatakan hdl sebanyak itu untuk temannya.
"baiklah, ibu tak sabar untuk melihatnya, dan sekarang kamu makan dulu ya nak,"
"iya Bu, tapi aku mau tanya, di mana bapak, karena tumben aku tak melihatnya di rumah?"
__ADS_1
"bapak mu sedang ada di pabriknya, dan ada beberapa hal yang harus di urus," jawab Arumi.
"kalau boleh ibu, karena sekolahku hanya empat hari, aku bisa membantu bapak di pabrik tapi tolong ajari aku dulu ibu," kata Japar.
"baiklah nak, tapi sebelum itu ayo kamu mandi baru makan dulu,"
"baik ibu," jawab Japar yang selalu mengikuti perintah dari Arumi
Tapi bocah itu tak langsung mandi malah lari ke dapur dan mengejutkan semua mbok mban yang sedang sibuk.
"mbok ni aku mau makan," kata Japar yang langsung duduk di tangga menuju dapur
"ya dewa Ndoro mengejutkan saya, Ndoro tunggu di depan ya, biarkan saya menyiapkan semuanya ya," kata mbok ni.
"tidak usah, aku mau makan nasi dan ikan pindang goreng itu saja, dan biarkan sambal terasi dan daun ubi jalar itu,"
"baiklah biar aku buatkan sebentar," kata mbok ni.
Sedang Arumi mengacak-acak rambut putranya itu karena gemas, boleh ibu minta di suapi oleh mu le,"
"tentu saja, Mbah Minten apa ini tak akan menganggu adik ku yang ada di perut ibu,"
"oke," jawab bocah itu.
Akhirnya Arumi di suapi oleh Japar, dan setelah mandi, dia membawakan semua camilan untuk ibunya yang akan mengajarinya untuk mengelola perusahaan.
"ibu ini camilannya, dan bisa kita mulai,"
"tentu saja le," jawab Arumi itu.
Mereka berdua tampak begitu semangat, dan japar selalu mengikuti dan mendengarkan penjelasan Arumi.
Romo Heru pulang ke istana Bangura tapi tak mendapati siapapun.
Dia merasa aneh dengan tanpa adanya sambutan dari istri dan putranya.
tapi hanya ada para mbok mban yang menyambutnya, "kemana Nyai dan Ndoro japar?" tanya Romo Heru yang mencuci tangan dan kakinya.
"menjawab Romo, Nyai dan Ndoro kecil sedang di ruang kerja Romo untuk belajar tentang pengelolaan pabrik, karena Ndoro japar ingin bisa menjadi orang yang bisa membantu anda mengurus pabrik selama Nyai fokus dengan kehamilannya," kata mbok Jum.
__ADS_1
"bocah ini, dia terlalu khawatir dengan kondisi Romo-nya," kata Romo Heru yang tersenyum senang.
Dia segera masuk ke dalam ruangan kerja miliknya perlahan, ternyata Arumi sudah tertidur sambil duduk.
Dan Japar tampak serius membaca tumpukan dokumen dan juga buku di depannya.
Romo Heru duduk dan mengusap kepala putranya itu, dan memberikan kode untuk diam.
"kamu sedang apa le?"
"aku sedang belajar dengan ibu, tapi ibu kelelahan mungkin jadi ibu tidur seperti itu," kata Japar ramah.
"Bagus karena kamu adalah penerus keluarga ini bersama adik mu kelak, dan bagaimana sekolah mu nak?"
"semuanya baik bapak, tapi aku tak suka dengan beberapa orang yang selalu melihat kita sebagai keturunan Jawa asli sebagai orang rendah,bukankah mereka yang keturunan tidak asli itu seharusnya di usir tanah Jawa ini, aku benci sikap sombong mereka,aku ingin rasanya mematahkan leher mereka langsung," kata Japar yang selalu jujur di depan Romo-nya itu.
"tenangkan dirimu nak,kamu selama ini selalu terlihat sabar tenang dan tidak terpengaruh, tapi kenapa sekarang malah terpancing, siapa Nama bocah itu," tanya Romo Heru yang tak suka melihat putranya di hina.
Terlebih-lebih orang yang bukan dari strata sosial yang sama dengannya, karena dia merasa begitu menyayangi putranya itu.
bahkan dia memiliki perasaan seperti saat dia melihat tatapan amarah dari Lastri istri pertamanya.
setelah selesai membaca semua dokumen yang ada, Japar duduk sambil memijat kaki Arumi dan tak lupa merendamnya dengan. Air hangat.
Sedang Romo Heru yang sedang bekerja di mejanya tersenyum melihat hal itu.
Karena dia tak menyangka, bocah yang begitu tajam dan berani,bisa memperlakukan Arumi begitu penuh kasih sayang.
Bahkan sering dia melihat jika Japar ingin melakukan hal besar, dia akan mencium kaki Arumi untuk meminta doa dan kesuksesan.
Arumi pun terbangun karena merasa sangat nyaman, dia melihat putranya itu sedang memijat kakinya.
"ya Gusti le, kamu sedang apa, kenapa melakukan ini semua, le hentikan kamu pasti juga lelah," kata Arumi yang merasa tak enak.
"kenapa ibu mengatakan hal itu, karena bagi seorang putra ibu adalah segalanya, begitupun dengan bapak," kata Japar yang membuat Arumi begitu senang.
Dia tak menyangka jika akan memiliki putra sebaik ini,bahkan Japar telah menunjukkan sebuah cinta seorang anak laki-laki pada ibunya.
melihat itu, Romo Heru memanggil Geno, pria itu mengajak seorang anak kecil yang mungkin berusia di bawah Japar.
__ADS_1
"siapa dia?" tanya Japar.