Harem Suamiku

Harem Suamiku
para mbok mban mencari cinta


__ADS_3

Joko dan Kasyo sedang memecah kayu, tapi malah membuat beberapa mbok mban tidak fokus bekerja.


Bagaimana tidak, tubuh Kasyo yang terkena sinar matahari dan berkeringat, membuatnya semakin seksi karena tubuh pria itu termasuk jajaran paling bagus di antara para centeng lainnya.


"ah beruntung sekali mbak sari punya suami mas Kasyo, itu badannya bikin pingin bikin anak," kata mbok sami.


"sudahlah jangan terus di pandangi begitu, ayo.lanjut kerjanya," kata mbok tum.


Mereka pun akhirnya mulai kembali bekerja, setelah semua kayu terpecah, mbok Darmi membawakan air minum dan juga pisang.


"Monggo di minum?"


"terima kasih mbok, tapi ini kenapa kok sepi banget ya, dan tumben nih Ndoro kok kerasan sekali di luar rumah," kata Kasyo.


"ya mungkin sedang ada yang penting, atau sedang ada di rumah non Wulan, ya bagaimana pun mereka harus sering bersama," kata mbok Darmi.


"iya ya, Ndoro masih kecil sudah punya calon istri, sedang aku udah tua gini malah belum pernah nikah, kasihan banget aku," kata Joko yang merasa tak berguna.


"kamu saja yang terlalu pemilih mungkin," kata Kasyo


"bener tuh, masak kakuntak melihat banyak mbok mban yang bekerja di sini yang cantik ko, tuh buktinya cak Geno dan cak Idan menikah dengan teman seperjuangan di sini," kata mbok Darmi.


"ya gak begitu Darmi, dia kan memang udah bersama dari lama, lagi pula aku sudah punya cem-ceman cuma dia sadis karena tak mau menerima ku," mata Joko yang tampak sedih.


"sudah jangan nyerah gitu dong, kalau bisa Pepet terus dan tunjukkan jika kamu ini perkasa dan bisa membahagiakan dirinya," kata Kasyo.


"seperti itu ya, tapi berkat bantuan mas Kasyo, sekarang tubuhku sudah mulai berbentuk meski belum terlalu besar,"


"itu bagus dan pertahankan, dan nanti ku beritahu agar kamu bisa di sukai banyak wanita," kata Kasyo yang memberikan sebuah ramuan pada Joko.


dengan senang hati Joko menerima ramuan itu dan menyimpannya, tak lama mobil yang membawa Japar pulang.


Keduanya pun segera bangkit menyambut kedatangan Ndoro Japar yang tampaknya baru membuat gebrakan lagi.


"selamat datang Ndoro,"


"Oya pak lek, baru datang apa ada masalah?" tanya Japar yang tau jika sari sudah hamil besar.


"tidak Ndoro, hanya saja tadi istri saya ngidam dan membuat saya kesiangan," kata pria itu.


"baiklah, aku akan ada di kamar ku untuk mengerjakan sesuatu, dan jika ada tamu bisa panggil aku, dan tolong jangan memanggilku mengerti," pesan Japar.


"baik Ndoro," jawab Kasyo


Setelah melihat bocah itu masuk kedalam rumah, kini dia berkumpul dengan tiga orang yang datang bersama Japar.


"jadi kenapa lagi, sepertinya kalian baru menyelesaikan tugas berat ya?" tanya Joko.

__ADS_1


"bukan lagi, hari ini pak men hancur karena mencoba menghasut semua orang di pabrik untuk berkhianat, tapi nyatanya dia yang sekarang hancur, bagaimana tidak Ndoro Japar meminta kami menjual keluarga pris itu untuk melunasi hutang, dan mengambil rumah dan tanahnya juga," kata Idan.


"ya itu pantas karena pria itu tak tau terima kasih," kata Kasyo yang setuju dengan apa yang di lakukan oleh pemuda itu.


"tapi menurut ku, meski Romo Heru ini terkenal dengan sebutan pria tanpa ampun, tapi nyatanya Ndoro lebih kejam, dia bahkan tak pernah berpikir ulang untuk melakukan apapun, bahkan dengan tangannya sendiri dia tak segan menghukum mati orang yang menghianatinya," kata Pardi.


"bukankah itu bagus, karena keluarga Hadikusumo ini kan terkenal dengan keluarga yang tidak bisa mengampuni siapapun," kata Joko.


"ya sudah jangan bahas lagi, ini tak ada yang ngirim camilan apa gimana gitu, mbok nem tolong ubi gorengnya yang tadi aku bawakan susah apa belum," tanya Joko yang memang tadi membawa singkong satu karung hasil panen dari kebun belakang rumahnya.


"iya ini loh, uh.. dasar manja," gemes mbok nem yang menjewer pria itu.


Siang itu mereka tak ada pekerjaan karena tak ada kunjungan atau panen yang harus di awasi.


Sedikit lebih siang lagi, beberapa centeng lain pulang dan bergabung untuk berjaga di rumah setelah menyelesaikan tugas mereka masing-masing.


Mbok ni sudah membawa makan siang untuk Japar, dan setelah menaruhnya di kamar, dia langsung makan dengan cepat karena terlihat begitu sibuk.


Sedang para centeng di istana Bangura ini akan pergi ke dapur dan makan siang di sana.


Sedang di kota, Geno dan Ipul juga sedang makan siang bersama Arumi di sebuah rumah makan.


karena Arumi tak sanggup menunggu suaminya yang masih rapat.


"Nyai biar saya gendong Ndoro Dika, saya sudah selesai," kata Geno yang sudah cuci tangan begitupun Ipul.


Setelah makan, mereka kini jalan-jalan di pasar yang menjual semua jenis barang.


Arumi membeli beberapa kuali yang menurutnya sering terpakai jika masak besar, ya beberapa kali desa terkena musibah, itu akdn sangat membantu.


Romo Heru menghampiri istrinya dan juga para pengawalnya, "maaf kan aku ya, ternyata pertemuan ini sangat lama, apa sudah makan siang?" tanya Romo Heru.


"aku sebenarnya sudah tadi karena merasa lapar, tapi karena kang mas bilang lagi, boleh kita makan karena aku lapar lagi setelah menyusui putra mu," kata Arumi yang tak akan membiarkan suaminya itu makan sendirian


"baiklah sayang, Geno dan Ipul titip Dika ya, jika rewel nanti antar ke dalam ya," kata Romo Heru.


"baik Romo," jawab keduanya yang tidak keberatan di titipi Dika yang nyatanya malah lelap di gendongan Geno.


Setelah itu, mereka lanjut membeli beberapa barang lain, dan baru pulang saat sore hari.


Romo Heru tak khawatir di rumah karena putranya ini sangat mandiri jadi aman meninggalkan Japar.


terlebih semua centeng yang memiliki kemampuan bagus dalam bertarung selain dua yang dia bawa ada di rumah.


pukul delapan malam, mereka sampai di rumah, beberapa orang masih di sana untuk berjaga dan tampak mengobrol bersama Japar.


"selamat datang ibu dan bapak," sapa Japar pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"iya nak, kamu tak membuat masalah kan?" tanya Arumi pada putranya sedikit.


"tidak ibu, dan bagaimana perjalanan kalian, apa menyenangkan," tanya Japar dengan senang.


"semuanya menyenangkan, tapi sekarang ibu mau bersih-bersih dulu," pamit Arumi yang di iyakan oleh bocah itu.


Romo Heru sudah dapat laporan dari Idan, dan hanya mengeleng pelan karena putranya benar-benar tak bisa di bandingkan dengan dirinya dalam hal kekejaman.


Sedang di tempat lain, beberapa mbok mban ini sekarang memiliki kabar khusus di belakang istana Bangura yang seperti rumah sederhana.


Dan lagi mereka jadi tak perlu seperti dulu berbagi kamar, dan sekarang bisa bebas mau melakukan apapun di kamar miliknya masing-masing.


Mbok ni baru selesai bekerja dan memutuskan untuk mandi dan setelah itu beristirahat.


Tapi tanpa di duga, Joko ini dengan lancang masuk ke dalam kamar milik wanita itu.


Dia sedang dalam keadaan tak baik karena dia baru saja minum ramuan yang di berikan oleh Kasyo.


Dia tak menyangka efek sampingnya seperti dia mengunakan obat dan kata Kasyo jika tidak di keluarkan.


Adik kecilnya bisa mati selamanya dan itu tak ingin dia rasakan,jadi malam ini dia akan melakukan hal buruk dan besok dia rela menerima konsekuensinya.


Mbok ni yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan kemben kaget saat dia di peluk dan di bekap mulutnya oleh seseorang


akhirnya wanita itu pingsan karena kekurangan oksigen, melihat wanita itu sudah tak berdaya Joko pun langsung menidurkannya di ranjang.


Malam itu kamar milik mbok ni ini menjadi saksi bagaimana kegilaan Joko yang sedang melakukan olahraga panas paksa.


Mbok ni tersadar dan kaget saat tubuhnya terguncang, dia membuka matanya dan kaget melihat Joko sudah ada di atas tubuhnya


Dia ingin teriak tapi tak bisa, dan tangannya Juga terikat kuat, "maafkan aku ya cantik, kamu terus menolak jadi aku melakukannya saat kamu pingsan, karena jika tidak, aku bisa jadi pria tak berguna," kata Joko yang akhirnya selesai.


setelah itu dia tidur begitu saja membiarkan wanita itu tetap begitu semalaman.


Keesokan harinya,mbok ni pun hanya bisa pasrah kembali di nikmati oleh Joko,karena pria itu seperti tak ada matinya.


Setelah puas,mbok ni menampar pipi Joko dengan keras, dia tak menyangka akan di lecehkan seperti ini.


"kamu bangsat Joko!!" marah mbok ni yang langsung ke kamar mandi.


Sedang Joko pun mengambil bajunya dan segera pergi, dia juga sudah pamit pada Geno tak bisa datang karena sakit.


Begitu pun dengan mbok ni yang sudah menitipkan secarik kertas pada mbok Jum selaku ketua pelayan di istana Bangura.


Dia izin untuk tidak kerja karena merasa badannya tak sehat, atau lebih tepatnya lelah.


Tapi saat dia ada di rumah , malah terus terbayang goyangan maut dari Joko.

__ADS_1


"ah sialan juga nih Joko!!" marah mbok ni.


__ADS_2