Harem Suamiku

Harem Suamiku
siapa bocah itu


__ADS_3

Joe tak bisa bilang apapun, sudah dua hari ini, dia mencoba membujuk adiknya tapi tak berhasil.


Pasalnya Casandra tetap pada pendiriannya yaitu ingin menjadikan Romo Heru suaminya.


Joe tak bisa lagi berpikir bagaimana dia harus merubah pemikiran adiknya itu.


"sudah tuan, jangan terlalu memikirkannya, lebih baik kita cari tau dulu siapa sebenarnya pria itu hingga bisa membuat adik anda begitu tergila-gila seperti ini," usul Udin.


"ya kamu benar, aku selalu melihat ketakutan di mata siapa pun yang menyebut nama pria itu, memang seberapa berpengaruhnya pria itu," kata Joe yang bangkit dari kursinya dan segera pergi ke area pasar karena semua informasi dapat di ketahui dari sana.


Saat sampai di pasar, dia melihat tempat itu begitu ramai, tapi saat sedang melihat-lihat sekeliling.


tiba-tiba ada yang berteriak keras, "jambret!!" tanpa di duga, Joe terkejut saat melihat seorang bocah laki-laki melemparkan batu bata ke arah maling itu.


"jadi kamu bertingkah!!" teriaknya dengan menonjok wajah pria itu yang langsung pingsan.


Dan bocah itu mengembalikan kantung wanita itu, Joe tak menyangka akan melihat seseorang dengan keahlian bertarung sekejam ini.


Dan di tambah bocah itu mungkin baru berusia tak sampai sepuluh tahun.


"terima kasih Ndoro," kata wanita yang menerima kantong uang miliknya.


"seharusnya ibu harus berhati-hati ya, ibu apa belanjanya sudah," tanya japar yang menghampiri ibunya itu.


"tentu nak, sekarang kita pulang, pasti bapak mu akan marah jika kita lebih lama lagi," kata arumi tersenyum ramah dan merangkul putranya itu pergi.


Joe terdiam, dia tak menyangka akan melihat senyuman indah dari wanita itu.


Bagaimana tidak, senyumannya saja membuat dadanya gemetar dan seperti jantungnya berdetak kencang.


"tuan.." panggil Udin yang heran melihat pria itu.

__ADS_1


"siapa mereka?" tanya Joe yang membuat Udin kaget.


"ibu dan andk itu, mereka itu istri dan putra pertama Romo Heru, pria yang di inginkan oleh nona Casandra," jawab pria itu.


"apa!"


Joe tak menyangka wanita muda dan tanah itu istri dari pria kejam yang tak segan membunuh orang.


Tapi jika melihat bagaimana cara Japar membuat pria tadi pingsan dia percaya, "kenapa bisa," gumam Joe.


"ya mungkin sudah jodoh tuan," jawab Udin sekenanya.


Joe masih tak percaya, dia pun segera mengajak Udin untuk menemui orang yang mungkin bisa memberinya informasi yang cukup banyak.


mereka sampai di rumah salah satu warga, mereka tak mengira jika akan di sambut oleh tiga pria berbadan kekar seperti ini, di tambah muka sangar.


"jadi kenapa kdlian ingin tau keluarga Romo Heru, bukankah kalian tau jika mencari tau tentang keluarga Romo Heru seperti ini, kalian sudah melanggar batas privasi dari keluarga Hadikusumo, dan tentu kamu tau Udin konsekuensinya," kata salah satu pria.


"ya aku mengerti pak, itulah kenapa dku ingin bertanya pada kalian di banding kami mencari tau pada orang lain dan akan simpang siur nantinya," kata Udin yang berusaha tenang.


"berapa usia dari Romo Heru, apa dia masih senang menikah berkali-kali?" tanya Joe dengan datar.


"hei!! Jaga bicaramu, yang sopan," kata pria itu tak suka sampai mengental meja.


"beliau sudah setia dengan satu istrinya, dan sekarang usianya sekitar lima puluh tahunan," jawab pria itu.


Joe makin penasaran dengan sosok pria yang di gilai oleh adiknya itu,karena jika drngdn usia setua itu, harusnya pria itu sudah tak menarik lagi.


"apa aku bisa bertemu dengan pria itu?"


"bisa saja jika pas ada acara, karena Romo Heru ini jarang keluar rumah," kata pria berperawakan hitam besar.

__ADS_1


tapi Joe bisa menemui pria itu tanpa harus berusaha payah, jadi dia meminta Casandra untuk membawanya bertemu dengan pria yang di cintainya itu.


Casandra menjemput kakaknya di pasar bersama Udin, dan kemudian mereka pun berangkat menuju ke rumah keluarga Hadikusumo.


Ternyata saat sampai mereka juga di persilahkan masuk oleh para centeng, dan terlihat di pendopo rumah itu sedang ada kegiatan bersama warga.


Ketiganya turun dan melihat sosok Nyai Arumi dan japar yang berdiri berdampingan.


"selamat datang di kediaman keluarga Hadikusumo, kalau boleh tau anda semua ini siapa dan ada keperluan apa?" tanya wanita itu drngdn sopan.


"kamu datang ingin bertemu Romo Heru, karena dia punya janji dengan ku dan sekarang dku ingin menagihnya, dan aus kabar Japar, bagaimana perasaan mu setelah membuat ku di keluarkan oleh sekolah itu," kata Casandra yang tetap di tanggapi dingin oleh Japar.


"bukankah itu benar, bukankah anda terlalu vulgar untuk jadi seorang guru, bahkan pakaian yang anda kenakan saja tak menunjukkan wanita yang memiliki kehormatan," kata japar dingin.


Joe tak menyangka bocah itu berani mengkritik orang yang lebih tua darinya.


"jaga bicaramu bocah," marah Udin.


"siapa anda berani membentak putra pertama keluarga Hadikusumo, jangan kira aku dari tadi bersikap sopan dan diam bisa kalian injak, tolong jaga sopan santun mu," kata Arumi yang mulai menunjukkan sosoknya yang lain.


Casandra dan Joe kaget melihat sosok wanita itu, "dan kamu, bukankah suamiku sudah bilang untuk tidak menganggu keluarga kami, tapi kamu ternyata masih tak mendengarnya ya, baiklah jika itu mau ku, aku akan membuat mu sadar siapa aku,"


tanpa terduga Arumi mengambil hiasan pedang di dinding rumah, dan melemparkan sarung pedang kepada Japar.


Dan tanpa terduga pedang itu sudah berada di depan leher Casandra, "aku juga bisa membunuh orang tanpa berkedip, jadi aku tak akan segan-segan lagi,"


"tunggu dulu, aku dan adikku datang kesini baik-baik tapi kenapa respon kalian seperti ini, bukankah ini sama saja kalian mengajak kami bermusuhan, dan apa anda tak takut bermusuhan dengan kami, karena kami keluarga berkuasa di Eropa," kata Joe.


"jika memang benar, seharusnya kamu tak ada di desa ini, dan membiarkan adik mu di sini sebagai wanita pengganggu, karena aku sudah banyak menerima laporan tenangnya," kata Romo Heru yang keluar dari dalam rumah


Joe terperangah, bagaimana bisa, pria yang usianya lima puluh tahun tepi masih terlihat begitu kuat dan tampan.

__ADS_1


bahkan wajah pria itu tak menunjukkan tanda-tanda penuaan sedikitpun.


Romo Heru berdiri berdampingan dengan istri dan putranya, dan kini Casandra merasa benar-benar kesal karena Romo Heru tak menggubrisnya sama sekali.


__ADS_2