Harem Suamiku

Harem Suamiku
menginap


__ADS_3

Mbok Yem sudah mempersiapkan semua barang milik Ndoro Japar dan Nyai Wulan di kamar yang lain.


Ya tuan Wicaksono tak mungkin membiarkan anak dan menantunya itu tidur di kamar lama milik putrinya.


Bukan karena apa, hanya saja tak lucu jika pria yang terkenal garang itu tidur di kamar serba feminim.


"loh mbok, kenapa kamu di bawa ke kamar tamu?" tanya Nyai Wulan.


"bukan itu kamar ku, ayah yang memindahkan semuanya karena di kamar mu itu terlalu kecil untuk ukuran pasangan, jadi ayah inisiatif ingin menukarnya,"


"owh... Baiklah," jawab wanita itu yang langsung masuk kedalam kamar itu.


Dan ternyata kamar itu bernuansa putih dan merah maroon, dan tidak ada sentuhan merah muda sedikit pun.


Ndoro Japar merasa lelah dan memilih merebahkan dirinya di ranjang.


Sedang istrinya sudah berganti baju dengan gaun yang punya lengan pendek dan juga rok di bawa lutut.


"kang mas aku mau ke depan ya," pamit wanita itu tampak cantik dengan menguncir rambutnya Hafi satu.


"kamu mau kemana dengan baju seperti itu?" tanya Ndoro Japar heran.


"mau ke depan,ayolah mas aku tak nyaman dengan jarik dan kebaya yang ketat, takutnya anaknya ke pencet di dalam," kata Nyai Wulan


"baiklah, tunggu sebentar, aku juga akan ganti baju dulu," kata pria itu yang mengganti baju dengan celana di bawah lutut dan juga mengenakan kemeja berlengan pendek.


mereka pun akan berjalan-jalan keluar rumah dengan itu, ternyata keluarga tuan Wicaksono lebih nyaman seperti itu.


"kalian mau kemana, ini sudah sore, jangan keluyuran," tegurnya.


"aku mau membeli kue rangin di depan, sebentar saja,sekalian mau jalan santai dengan suamiku," izin nyai Wulan yang kini seperti gadis remaja.


sedang menantunya itu, seperti pria dewasa tapi dengan wajah tampan yang awet muda.


"baiklah, tapi jangan lama-lama, ingat jangan sampai petang, tak baik," kata tuan Wicaksono.


"baik ayah," jawab Ndoro Japar yang mengandeng istrinya itu.


Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, bahkan beberapa orang tampak terkejut melihat sosok pria yang selalu memakai baju beskap lengkap , kini malah sangat santai.


Tentu saja mereka tetap menyapa formal pada Ndoro Japar,"Sugeng sonten,"

__ADS_1


"iya pak, kenapa berhenti, lanjutkan pekerjaan kalian,aku cuma lewat saja," kata Ndoro Japar yang membuat istrinya tersenyum.


Pasalnya baru kali ini dia melihat sosok suaminya yang begitu lembut,"sudah ayo cari kue yang kamu inginkan," ajak pria itu.


Akhirnya mereka sampai di tempat penjual kue, "maaf apa masih ada?" tanya Nyai Wulan sopan.


"astaga, Ndoro Japar dan Nyai..." salam mereka semua.


"iya pak, sudah sudah bangun, istriku bertanya apa kuenya ada?" tanya Ndoro Japar kembali mengulang pertanyaan istrinya.


"masih Ndoro, ada kue putu dan kue klepon," jawab pedagang itu.


"aku maunya kue rangin dan gandasturi," kata nyai Wulan dengan suara lirih hampir menangis.


"tunggu dulu sayang, kita pulang saja ya, bapaknya tidak punya, dan sekarang biar aku minta anak buah ku mencarinya, atau minta Lela membuatnya khusus untuk mu," kata Ndoro Japar yang tak mau istrinya sedih.


"tapi aku mau beli di bapak ini," kata Nyai Wulan dengan mata yang berkaca-kaca.


"ya Gusti,bapak bisa tolong buatkan satu saja pak keinginan istriku, aku bisa membayar berapapun, agar dia tak sedih," kata Ndoro Japar memohon demi istrinya.


Pedagang itu pun mengerti, "baik Ndoro Monggo duduk dulu, Bu ne tolong layani yang lain,bapak akan ambil bahan di rumah, sebentar," kata pria itu semangat.


dia duduk di samping istrinya, tapi saat melihat pedagang itu kuwalahan, Ndoro Japar pun bangkit.


"tunggu di sini ya, biar aku bantu ibunya dulu, mengerti," kata Ndoro Japar.


"iya kang mas,"


Ndoro Japar memberikan kode pada anak buahnya yang mengawasi dari jauh untuk memastikan istrinya aman.


"saya bantu Bu,"


Ndoro Japar pun terlihat sangat cekatan dan tak lama akhirnya para pembeli sudah habis, dan bapak penjual itu pun datang.


"aduh Ndoro maaf, mau tunggu sebentar lagi ya," kata penjual itu.


"tidak apa-apa pak, boleh saya tau cara buatnya, takutnya istri saya minta lagi saat bapak tutup," kata pria itu.


"inggeh Ndoro,Monggo saya ajarkan," kata pria itu dengan senang hati.


Nyai Wulan yang melihat suaminya belajar pun ikut senang, bahkan pria itu tampak mengangguk saat mengerti.

__ADS_1


Penampilan Ndoro Japar saat ini lebih seperti preman sayang istri, pasalnya badan berotot tapi hari Hello Kitty saat bersama istrinya.


Setelah beberapa waktu akhirnya kue rangin jadi, tapi kue yang di buat Ndoro Japar sedikit gosong.


"aku mau kue yang di buat suamiku," kata Nyai Wulan.


"jangan itu saja, ini pahit karena gosong," pria itu menarik dan menyembunyikan kue buatannya.


"tapi Aku mau..." kata nyai Wulan yang mulai ngambek dengan menarik-narik roknya kesal.


"baiklah aku pasrah," jawab pria itu mengalah.


Mereka pun pamit pulang setelah membayar, istri pedagang itu bingung kenapa suaminya itu sangat bersemangat.


"bapak kok tumben mau melayani orang,padahal tadi sudah habis,"


"ibu ini tidak peka ya, apa ibu tak lihat seorang suami yang punya jabatan tinggi, rela memohon demi istrinya itu kenapa, hanya satu kemungkinan," kata pedagang itu.


"yo Gusti..." kata wanita itu sadar jika kemungkinan nyai Wulan itu sedang hamil dan saat itu ngidam


Dan di tambah pasti besok dagangan mereka makin laris di tambah tadi Ndoro Japar membantu melayani para pembeli.


Keduanya sudah sampai di rumah, dan tampaknya kue itu sangat enak,Ndoro Japar hingga ingin mencoba juga.


"boleh mencoba dek?"


"tentu kang mas," jawab nyai Wulan memberikan kue yang bagus.


Keduanya tampak saling menyuapi,tuan Wicaksono baru selesai bersih-bersih melihat adegan itu.


Dia pun ke dapur untuk meminta para mbok mban menyiapkan sajian spesial untuk kedua anaknya itu.


"ayah aku tidak melihat Tante dan si ganteng?"


"mereka ke desa tempat mertua ku tinggal, katanya mau nostalgia dengan tinggal di rumah yang di sediakan oleh Romo Heru," kata tuan Wicaksono.


"padahal rumah itu kecil Lo, tapi semua centeng Romo sangat betah tinggal disana," kata Ndoro Japar.


"jangan lihat kecil dan luasnya rumah, tapi dengan siapa kita tinggal," kata Nyai Wulan yang membuat Ndoro Japar tersenyum.


"iya dek, Iya..."

__ADS_1


__ADS_2