
Japar sudah di tinggalkan di sekolah itu, tentu saja dia juga membawa uang tunai untuk membeli beberapa barang.
dia centeng yang menjaga bocah itu berada di kawasan luar sekolah karena di dalam sekolah tak di izinkan ada orang lain.
Di takutkan akan menganggu semua pembelajaran dari guru pada murid-muridnya.
Japar berjalan sambil membawa tas miliknya, dia masuk mengikuti guru yang menunjukkan kelasnya.
Saat bocah itu masuk, semua tatapan mata tajam seperti mengulitinya hidup-hidup.
Tapi bukan Japar yang akan minder atau takut, dia sudah hidup di hutan dari dia masih belum bisa bicara.
Dia tak menundukkan kepalanya sedikitpun, "selamat pagi semuanya, perkenalkan kita kedatangan seorang murid baru, jadi semuanya tolong jadi teman yang baik untuknya,"
"pribumi, bukankah dia tak pantas berteman dengan kami miss," kata William, seorang bocah yang merasa jika dia paling mulia karena ayahnya adalah mantan kepala penguasa di tempat itu.
"kamu menghina ku karena aku keturunan asli bukan, tapi kamu lupa tanah kau injak ini milik kami para pribumi, jadi jaga mulut mu sebelum aku mengusir mu seperti ayah mu yang terpenggal tanpa ampun," kata Japar tersenyum menyeringai.
"apa!!" teriak William tak terima.
"Sudah, Willi apa ini sikap untuk menyambut teman baru, dan Japar tolong jaga sikap mu, aku tau kamu adalah putra dari Romo Heru yang terkenal dan kaya raya, tapi tak boleh kamu seenaknya bersikap," kata guru wanita itu.
"anda bilang begitu karena anda juga orang campuran bukan, dan aku tidak di ajarkan oleh ayah ku untuk diam saat ada orang yang berani menginjak kepala kami, karena kami keturunan Hadikusumo, dan mereka saja tak sadar diri jika strata sosial mereka masih di bawah ku," kata Japar dingin.
Guru wanita itu terdiam, bagaimana bisa ada bocah se-arogan ini, bahkan bocah itu berani menunjukkan posisinya.
"sudahlah silahkan duduk," kata guru itu karena dia tak ingin waktu mengajarnya semakin berkurang.
tanpa terduga, di jelas itu mengunakan bahasa asing untuk belajar, ya bisa di bilang bahasa Belanda masih di ajarkan.
"Indonesia sudah merdeka, mereka sudah terusir kenapa kalian masih mengunakan bahasa seperti itu, apa anda tak bisa mengajar kami dengan bahasa yang benar, Kuta punya bahasa sendiri," kata Japar yang akhirnya membuat gitu itu menurut.
__ADS_1
Ya dia tak bisa mengeluarkan bocah itu karena Japar sendiri memiliki perlindungan kuat, karena Romo Heru.
akhirnya mulai pagi itu sekolah mengunakan bahasa Indonesia dan Jawa sebagai bahasa tetap.
Japar tampak menyimak semua pelajaran dengan baik, bahkan bocah itu sangat kritis.
Dan membuat semua temannya tak menyukai dirinya, tapi hanya satu orang yang melihat sosok Japar berbeda tentu saja itu ayu.
setelah kelas selesai, mereka semua bersiap untuk ke kantin, William yang masih dengan pun menghampiri Japar yang masih duduk di kursinya.
"hei dasar manusia rendahan, kenapa kamu masuk dan menganggu sekolah ini, kamu itu tak pantas," kata bocah itu sambil mengebrak meja.
"kamu kira yang membangun sekolah ini siapa,bapak mu yang sudah mati itu, dan lagi kamu lupa jika kamu juga keturunan orang pribumi, jadi jangan bertingkah jika tak ingin aku kirim ke tempat bapak mu berada," kata Japar dengan menatap tajam.
Sedang ayu yang melihat itu langsung menghampiri Japar,karena dia tak ingin bocah itu terluka.
Terlebih fisik William lebih besar di banding Japar, "sudah Japar, ayo kita keluar aku ingin menunjukkan kucing milik ku, dan ingat jangan membunuhnya," kata ayu yang menarik bocah itu.
Sedang di kelas William tak suka dengan Japar karena dia sudah merebut ayu darinya.
"bocah brengsek itu benar-benar ingin menjadi musuhku," gumamnya.
Japar duduk sambil membaca buku di taman, sedang Ayu bermain dengan kucing berwarna hitam yang tampak menyeramkan itu.
"apa kakuntak tau jika kucing hitam itu identik dengan penyihir dan ilmu hitam di Jawa, apa kamu tak takut?"
"kenapa takut, aku menyukainya dan aku merawatnya, aku yakin hewan juga bisa merasakan cinta seperti halnya manusianya," kata bocah itu.
"itu menurut mu, padahal di dunia ini yang kuat yang bertahan,"
"ya tinggal cari suami yang kuat saja jika menikah," jawab Ayu sambil tersenyum.
__ADS_1
"kamu sudah memikirkan sejauh itu, dasar bocah aneh," kata Japar yang tampak begitu tenang.
Ya peribahasa untuk melambangkan Japar adalah air tenang yang menyimpan semuanya di dalamnya.
amarah, kebencian, kekuatan hingga cinta yang bahkan mungkin hanya akan di rasakan oleh orang yang bisa membuatnya tertarik.
Saat dia sedang membaca buku, seorang anak berperawakan sedikit gemuk menghampirinya.
Japar tau kedatangan bocah itu, dan lagi ayu merasa aneh melihat bocah gemuk yang selalu di tindas itu.
"loh Alex, ada apa kamu datang ke sini, bukankah kamu biasanya selalu bersama William dan teman-temannya," kata Ayu yang merasa aneh.
"aku ingin meminta bantuan pada Ndoro Japar ini, bukankah dia bilang dia keluarga Hadikusumo, seharusnya dia bisa menolong ku untuk membantu usaha orang tuaku, mereka sedang kesulitan karena beberapa toko tak mau menerima barang yang telah di buat oleh kami."
"kenapa harus aku, kenapa tak menyuruh ayah mu untuk pergi menemui Romo ku,aku yakin jika kwalitas barangnya bagus bukan hanya Romo yang akan senang, tapi juga ibu ku pasti akan memborong semua barang itu, terlebih kami akan mengadakan acara besar sebentar lagi, jadi bilang pada orang tua mu," kata Japar yang tak suka melihat orang susah.
"terima kasih, aku akan membujuk orang tua ku dan aku akan mengabdikan hidup ku pada mu," kata bocah itu.
"tapi sayangnya aku tak suka di ikuti oleh bocah yang tak berguna, pertama-tama sebaiknya kamu turunkan dulu bobot mu dan setelah itu kamu ikut pelatihan dengan ku, dan aku akan melihat apa kamu pantas untuk menjadi orang kepercayaan ku,"
"baik aku mengerti Ndoro," jawab bocah itu yang kini merasa begitu senang karena dia punya orang seperti Japar yang akan menjadi panutannya.
sedang Ayu tak mengira jika Japar yang tampak dingin dan kejam, punya sisi baik seperti ini.
Ayu tanpa terduga bangkit dan mengecup pipi Japar, dan membuat bocah itu kaget.
"apa kamu gila ayu, kamu itu wanita terhormat!" marah Japar.
"aku hanya melakukan apa yang menurut ku benar," kata Ayu tersenyum malu dan meninggalkan temannya itu begitu saja.
Japar mengusap pipinya cukup kasar, "tak ada yang boleh menyentuh diriku selain ibu Arumi ku," gumamnya dengan tatapan dingin.
__ADS_1