
Kasyo dan Idan merasa heran dengan bocah di samping mereka itu, bagaimana tidak heran meski Japar ini masih kecil, tapi tangannya sangat enteng saat membunuh orang.
bahkan jika dulu mbok Minten di ampuni oleh Romo Heru, tapi tidak dengan bocah ini
bahkan dia menebasnya dengan sekali ayun, "apa kalian tau pak lek, aku benci semua jenis penghianatan, dan hukuman yang pantas itu cuma kematian," kata Japar yang membuat kedua orang itu merinding.
"tapi bukankah mereka berhak dapat kesempatan kedua dan hak untuk menjelaskan?" tanya Kasyo.
"kesempatan itu hanya untuk orang yang pantas, jika dia sudah di beri kesempatan tapi masih melakukan hal yang sama, itu sudah tidak bisa di tolerir lagi,"
"kamu memang benar-benar putra Romo Heru, bahkan aku bisa bilang kdmu lebih kejam dari Romo mu le,"
"ha-ha-ha, pak lek baru tau, ya mau bagaimana pun aku ini anak Romo Heru dan juga Nyai Lastri yang terkenal tanpa ampun juga," kata japar tertawa.
Setelah itu tanpa terduga, sebuah jeweran telinga di dapat bocah itu, "kamu ini di suruh tidur malah di sini, Bedok katanya mau main ke tempat teman mu, nanti tidak bisa bangun," kata Arumi.
"iya ibu, tolong lepas sakit..." mohon Japar dengan tatapan mata memelas.
"masuk..."
mendengar itu, Japar langsung lari ngabrut karena takut pada ibunya yang sangat mengerikan saat marah.
Kasyo dan Idan pun saling pandang, dan tertawa saat melihat Arumi dan Japar sudah pergi.
"ha-ha-ha kenapa bisa begitu ya," kata Idan.
"tau nih, bapak sama anak kok takutnya sama," kata Kasyo melihat hal itu
Japar sudah cuci kaki dan langsung tidur memeluk Romo Heru yang sudah terlelap.
Sedang Arumi tak mengira harus punya dua pria yang begitu menggemaskan.
Bagaimana tidak kalau di luar seperti singa yang siap menyerang dan menerkam mangsanya.
Tapi saat di rumah malah berubah seperti kucing kecil yang begitu menggemaskan.
Dia pun tidur di sisi kasur yang lain, dan berharap agar hari-hari bahagianya ini tak akan pernah berakhir.
Sedang di rumah Casandra, wanita itu terkejut menerima surat penolakan dari Rino Heru tentang perjanjian yang dia tawarkan.
"sialan, aku tak akan tinggal diam, aku akan melakukan apapun untuk membuat mu bertekuk lutut padaku," marah wanita itu.
Dia benar-benar tak menyangka jika penawaran bagus itu di tolak, padahal dia sudah memastikan bahwa jika mereka menikah
semua akan di atur oleh keluarga Romo Heru, terlebih perdagangan antar benua ini sangat menguntungkan.
"jika aku tak bisa memiliki dengan cara yang baik, maka aku akan membuat mu bertekuk lutut padaku," gumamnya.
Cahaya matahari sudah menunjukkan sinarnya, saat seorang gadis cantik itu bangun dari tidurnya.
Dia merasa jika hati ini, semuanya baik-baik saja dan jika di malam sebelumnya dia kesakitan tapi semalam tidak terasa apapun.
Bahkan dia tidur dengan nyenyak, dan dia melihat bunga yang ada di vas bunga.
__ADS_1
Buket bunga Krisan yang begitu banyak, entahlah tiba-tiba dia merasa sangat senang melihatnya.
"Wulan, ayo bangun dan segera mandi karena hari ini kamu mau ikut bulek ke pasar tidak?" tanya Sari yang memanggilnya dari luar kamar.
"iya bulek,"
Dia pun segera keluar dan meminta tolong salah seorang pelayan untuk membantunya mandi.
Setelah selesai dia mengenakan baju tanpa lengan tapi tetap tertutup dengan selendang yang menutupi lukanya.
di sisi lain, seorang pemuda sudah siap dengan baju kebesaran miliknya, "jadi kamu sudah tau gadis cantik dan mau apel ke rumah keluarga Kalis,"
"apa? Siapa yang mau kesana, aku mau ke tempat lain Romo, dan jangan pernah menyebut keluarga itu sekarang, karena aku tak ingin berurusan dengan atu, karena dia itu menyebalkan sekali," kata Japar.
"kamu tau nak, bukankah sempurna jika si pria ini pendiam dan baik, dapat istri yang cerewet dan baik juga," kata Arumi membujuk putranya itu.
"apa ibu tak tau, ayu itu cerewet tapi otaknya bodoh, bahkan dia itu tak bisa menghapal perkalian, bukankah otaknya kosong dan aku paling benci wanita seperti itu," ketus japar.
Romo Heru tertawa, pasalnya yang di katakan oleh japar itu benar, tidak berguna seorang wanita yang tak punya otak.
"ya sudah kemana pun kamu pergi ingat bawa uang dan pastikan jangan membuat malu," kata Romo Heru.
"tentu Romo, karena aku adalah putra mu, jadi aku akan mengunakan kekayaan ku dengan baik," kata Japar.
Dia pun pergi setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, bahkan dia membawa rantang untuk di bawa sebagai buah tangan dari Arumi.
ia langsung pergi dengan Kasyo, dan setelah mobil yang di bawa itu pergi,Arumi melihat suaminya.
"kenapa kamu?"
"kamu jangan aneh-aneh, sudah dia masih kecil dan kamu masih punya banyak waktu, dan nanti jika para putra mu besar, kita buat tiga anak lagi setidaknya untuk membuat rumah ini ramai,"
"terserah kang mas saja," jawab arumi yang membuat senyum di wajah Romo Heru juga ikut mengembang senang.
di rumah Ayu, gadis itu sudah bersiap bersama dengan dua orang tuanya.
Ya mereka ingin mengunjungi bayi milik Romo Heru, sekalian Ayu ingin bertemu dengan japar karena kemarin bocah itu sangat sulit di temui.
terlebih setelah mereka di sapa Miss baru, dan itu sangat menganggu ayu karena bocah itu hilang setelah itu.
"sudah siap nduk?"
"tentu ayah, mari kita berangkat," kata pak Kalis.
akhirnya rombongan dari kereta kuda menuju ke istana Bangura dan tak lupa mereka juga membawakan jeruk yang sengaja di pering dengan pilihan.
Ya keluarga mereka datang ke rumah itu untuk berterima kasih atas semua batuan saat mereka susah, terlebih setelah kerampokan itu, keluarga Romo Heru dan tuan Kalis menjadi dekat.
dan beberapa kali mereka juga sempat membicarakan tentang pernikahan.
padahal dia bocah itu saja belum mengerti apa itu pernikahan mungkin.
mobil yang membawa Japar sampai di kediaman Wicaksono, meski rumah itu tak besar seperti rumah orang kaya pada umunya.
__ADS_1
Tapi rumah itu sangat sejuk karena penuh dengan pohon rindang, terlihat tuan Wicaksono sudah menunggu kedatangan dari Japar.
"selamat datang Ndoro Japar,"
"iya pak, ini ada titipan dari ibu, katanya terima kasih sudah mau menerima kunjungan ku, dan ini dari bapak katanya terima kasih sudah mau menyambut ku, dan dimana putri anda," kata japar yang membuat tuan Wicaksono terkejut.
"ah itu, dia sedang ke pasar bersama dengan buleknya, sebentar lagi juga pulang kok," kata tuan Wicaksono.
Akhirnya delman yang membawa sari dan Wulan sampai di rumah, keduanya langsung turun dan bergegas menyambut kedatangan Japar.
"selamat datang Ndoro,"
"iya, bagaimana dengan luka ku, aku dengar sangat dalam ya, apa masih sakit," tanya Japar yang ingin melihatnya.
Wulan menoleh ke arah ayah dan buleknya, dan mereka mengangguk, "ah iya Ndoro masih sakit, karena kadang masih suka berdarah, dan pak mantri bilang jika seperti ini terus bisa membusuk," kata Wulan dengan suara lirih.
"dasar mantri tak berguna," kata jaoar yang melihat luka di lengan Wulan.
Setelah membersihkan dengan cairan revanol, tanpa terduga Japar mencium luka itu dan kemudian menaburkan sesuatu.
Wulan secara reflek memegang bahu Japar karena merasa kesakitan, lukanya terasa panas dan sakit.
Tapi Japar terus meniup luka itu perlahan dan setelah beberapa saat luka itu kering dan Wulan pun merasa jika lukanya sudah tak sakit lagi.
"Ndoro..."
"aku di ajari untuk menyembuhkan luka, tentu kalian tau sejarah panjang dari keluarga Hadikusumo, dan sekarang kamu bisa beraktifitas lagi," kata Japar yang memakaikan selendang itu ke atas kepala Wulan.
"seorang gadis akan terlihat cantik jika menjaga paras dan penampilannya agar tetap sopan," tambahnya.
mendengar itu membuat Wulan malu dan Sari tertampar keras, karena bocah sekecil itu saja tau mana pakaian sopan.
Japar mencuci wajahnya dan setelah itu dia masuk kedalam rumah dan yang membuat heran adalah bocah itu tak makan makanan yang di goreng.
Sedang dari tadi japar melihat tingkah dari centeng yang menemaninya tak fokus dan terus melihat sari.
"apa pak lek menyukainya?" tanya japar pada Kasyo.
"tidak kok, Ndoro ini ngomong apa, aku tak pantas untuk bersanding dengan wanita yang punya strata sosial tinggi," kata Kasyo yang sadar diri.
"kenapa bulek dan Wulan begitu sibuk, duduklah aku hanya datang untuk bertamu dan melihat kondisi Wulan, dan bagaimana usaha bapak dalam berdagang, apa perlu bantuan lagi?" tanya Japar.
"tentu saja tidak Ndoro muda, berkat bantuan keluarga Hadikusumo, sekarang parfum saya sudah di kenal luas," jawab tuan Wicaksono.
"syukurlah kalau begitu, Wulan aku juga berterima kasih atas parfum yang kamu berikan padaku, aku menyukainya, boleh kamu sendiri membuatkan parfum itu untuk ku," tanya japar.
"tentu saja Ndoro," jawab Wulan terus menunduk.
sedang Kasyo tampak mengalihkan pandangannya saat tak sengaja pandangannya bertemu dengan pandangan sari.
melihat hal itu Japar geli sendiri, bahkan tiba-tiba kerongkongan dari Kasyo kering.
"apa bulek sudah menikah? Pak lek Kasyo belum menikah siapa tau cocok?" tanya japar yang membuat jadul tersedak minuman itu.
__ADS_1
"Ndoro jangan ngomong sembarangan..." kata Kasyo malu.