
BLAAM!!
"Argh..."
Tiba-tiba ada sebuah hantaman yang sangat kuat muncul didepan Adrine hingga membuatnya terlempar jauh. Dan ternyata itu adalah hantaman dari seseorang yang sangat kuat.
'Siapa itu?'
"Beraninya kamu melukai tuan muda kami!"
'Apa? Tuan?'
Seketika Adrine terpikir bahwa semua itu masuk akal karena Alfian adalah salah seorang dari sekte di rasi bintang Lynx. Dan yang datang adalah 2 orang bodyguard yang menjaga keselamatan Alfian.
"Hati-hati Adrine, 2 orang ini setidaknya pada tingkat Keabadian."
"Aku tahu."
Tatapan Adrine sangatlah mendalam ketika melihat 2 orang yang menjaga didepan Alfian. Tetapi Alfian masih tak menunjukkan wajahnya yang sedang menahan kesakitan dari serangan Adrine.
"Sebutkan alasanmu, kenapa kau menyerang tuan muda kami?"
2 bodyguard tersebut masih terus mendesak Adrine agar menjawab pertanyaannya. Suara dari 2 bodyguard tersebut mempunyai tekanan yang sangat kuat.
"Kalau kau tak memberi alasan yang masuk akal, kami akan membunuhmu."
'Apa? Hanya tidak menjawab pertanyaannya saja aku akan dibunuh? Kejam.' Pikir Adrine.
"Cepat!!"
__ADS_1
"Oke oke, tenanglah!"
Lalu tekanan dari 2 bodyguard tersebut sedikit berkurang. Adrine sudah dapat menghirup nafas dengan cukup baik.
"Ucapkan alasanmu!"
"Baiklah. Begini, aku dan tuan muda yang ada dibelakangmu itu sedikit punya masalah."
Adrine menunjuk kearah Alfian. 2 bodyguard tersebut tidak melihat apa yang ditunjuk oleh Adrine, mereka tetap masih fokus mendengar alasan Adrine.
"Masalah seperti apa?"
Wajah 2 bodyguard tersebut tidak berekspresi, demikian dengan Adrine. Ucapan Adrine juga cukup datar apabila setiap kali sedang berbicara.
"Dia membela orang dari rasi bintang yang lain."
"Lalu, apa masalahnya denganmu?"
Adrine seperti agak cuek dengan pertanyaan tersebut. Seperti ada jawaban yang terjanggal di otaknya, namun sulit untuk diucapkan oleh mulut Adrine.
"Baiklah, kau tak punya alasan lagi."
2 bodyguard tersebut sudah siap dan dalam posisi kuda-kuda seperti siap untuk menyerang Adrine. Kuda-kudanya saja sudah cukup untuk membuat Adrine mundur satu langkah.
"Tunggu dulu! Aku masih punya alasan."
"Cepat sebutkan!"
Adrine menghela nafas, lalu menatap 2 bodyguard tersebut dengan tatapan yang cukup sinis.
__ADS_1
"Dia menghinaku, tetapi dia sendiri yang marah dan menyerangku terlebih dahulu."
Kedua bodyguard tersebut saling melirik satu sama lain. Tetapi Alfian tak terima dengan alasan dari Adrine, meskipun alasan dari Adrine masuk akal ditelinga siapapun termasuk Alfian sendiri.
"Tidak, itu tak benar. Dia yang menyerangku dulu."
Alfian terus menunjuk Adrine untuk melemparkan kesalahannya dan menghindari malu hingga semuanya terlempar pada Adrine. Tetapi Adrine tetap diam walaupun terus ditunjuk dan diberi masalah oleh Alfian.
Bodyguard tetaplah bodyguard, selalu mendengarkan dan lebih percaya dengan apa yang dikatakan oleh tuannya. Adrine tentu tahu semua itu.
"Apa yang kalian tunggu, serang dia!!"
Alfian memerintahkan kepada para bodyguardnya untuk menyerang Adrine. Mendengar perintah dari Alfian, 2 bodyguard itupun langsung menganggukkan kepalanya.
CKRATAAK!!
Suara dari tanah yang menjadi retak karena hempasan energi yang berada di kaki bodyguard tersebut.
"Kau dibelakang dan lindungi tuan muda!"
"Baiklah, habisi dia!"
Salah satu bodyguard Alfian maju dan yang satunya bertugas dibelakang untuk melindungi Alfian. Bodyguard yang maju, mengangkat tangannya keatas.
Lalu, bodyguard tersebut menghempaskan tangannya ketanah, dan seketika tanah yang ada disekitarnya berguncang hebat. Tanah yang berguncang hanyalah biasa. Tetapi tanahnya menjadi retak dan seperti mengeluarkan lava dan api merah yang menyala.
"Erghh..."
Adrine hampir kehilangan keseimbangannya karena guncangan yang cukup hebat. Bodyguard yang ada dibelakang menciptakan sebuah pelindung agar dia dan Alfian terlindungi dari serangan apapun.
__ADS_1
Bodyguard tersebut memukulkan tangannya lagi ketanah dan tangannya tembus ketanah. Disaat tangan tersebut ditarik lagi keatas, tangan tersebut berubah seperti tanah yang retak dan ada lava yang menyala. Lalu, bergantian pula dengan tangan yang satunya lagi.
"Nak, bersiaplah untuk mati!"