Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Berbincang-bincang


__ADS_3

Diperjalanan, Adrine berbincang-bincang dengan Master Heyto dan Master Kai. Mereka sedang membicarakan tentang perguruan disaat Adrine pergi.


"Apa? Jadi, Etern dan yang lain ikut tertindas gara-gara kepergianku? Tidak bisa dibiarkan."


Walaupun melihat Adrine seperti bermasalah, namun Heyto dan Kai juga seperti merasa bersalah. Mereka merasa bersalah karena dulu disaat Adrine diculik mereka tidak bisa melakukan apa-apa.


"Oh iya, siapa yang menindas teman-temanku?"


Heyto menoleh kearah Adrine.


"Kalau tidak salah, namanya Geng Lima Jenius. Mereka lah yang paling membenci dirimu, memprovokasi orang lain agar sama-sama membencimu."


Adrine merasa aneh dengan nama gengnya. Ia berpikir kalau anggota yang ada didalam geng tersebut hanyalah 5 orang saja.


"Lima? Apa anggotanya hanya ada 5?"


Heyto mengangguk. Memang benar jika Geng Lima Jenius itu hanya terdiri dari 5 orang saja.


"Tapi jangan kau remehkan geng itu, mereka memang adalah para jenius yang sudah mencapai tahap Kematian. Dan yang ingin ikut serta dalam geng itu, tidak ada yang boleh. Tapi bawahan mereka, setidaknya harus mencapai tahap Kematian terlebih dahulu."


"Apa maksudnya bawahan? Apa para murid yang lain berlomba-lomba untuk menjadi bawahan geng itu?"


Heyto mengangguk. Adrine sendiri menjadi heran, dan dikepalanya selalu bertanya-tanya.


'Untuk apa mereka bekerja keras hanya untuk menjadi seorang bawahan saja?' Pikir Adrine.


Walaupun seperti itu, memang itulah kenyataannya. Apa yang dikatakan oleh Heyto itu memang benar. Dan orang yang tadi dilawan oleh Etern adalah salah satu dari bawahan Geng Lima Jenius.


Disana mereka merasa suasana seolah-olah sangatlah sunyi dan hening. Namun, karena Heyto punya pertanyaan kepada Adrine, ia membuka percakapan kembali dan bertanya pada Adrine.


"Adrine! Kami tadi menerima notifikasi bahwa kamu datang kemari bersama puluhan orang, siapa mereka? Kenapa mereka bersama denganmu?"

__ADS_1


Adrine pun menoleh. Ia juga sudah merasa kalau perguruan akan langsung tahu dan menanyakan hal tersebut.


"Bisa dikatakan mereka adalah geng seperti Geng Lima Jenius, dan aku juga termasuk salah satunya. Geng itu diberi nama Geng Deon."


Heyto mengangguk paham. Ia berpikir lebih logis bahwa Adrine diluar sana juga akan meminta bantuan dari seseorang.


Namun kebenaran yang sebenarnya adalah Adrine yang membuat Geng Pasir Darah takut dan menjadikan dirinya sebagai pemimpin, atau Adrine bukan menyebutnya sebagai pemimpin, namun seorang Kakak.


"Aku tahu kalau Gurun Pasir Iblis telah dibatasi oleh pelindung misterius selama satu tahun, jadi kami tidak bisa mengunjungiku selam satu tahun itu. Tapi, kami tetap tidak bisa menghubungimu walaupun waktu satu tahun telah terlewat. Kau itu sebenarnya dimana?"


Heyto teringat kalau ia sebenarnya sering menghubungi Adrine, bahkan saat satu tahun belum terlewatkan. Namun ia tetap tidak bisa menghubungi Adrine walaupun satu tahun itu telah terlewat hingga lebih dari 2 tahun.


"Sebenarnya kau ini berjalan kemana? Kenapa kami tidak bisa menghubungimu dengan koordinasi yang telah ditentukan? Bukankah kau berada di Gurun Pasir Iblis saat itu?"


Kai ikut menambahi pertanyaan. Itu karena alat komunikasi mereka sudah menempatkan koordinasi teknologi mereka dengan baik, bahkan dalam radius 1 kilometer lebih dari Gurun Pasir Iblis.


"Apa? Itu tidak mungkin! Aku tetap disana selama 2 tahun itu. Apa mungkin tempat yang aku tempati saat itu tidak memungkinkan untuk berkomunikasi?"


Adrine sendiri sebenarnya menyimpan rahasia tentang Altar Sembilan Warna Api Spiritual dari Heyto dan para master yang lainnya. Dan ia baru saja menyadari kalau Altar Sembilan Warna Api Spiritual telah menekan sinyal komunikasi hingga memanipulasinya menjadi seperti seolah-olah tempat itu tiada sama sekali.


Kai masih menanyakan pertanyaan yang sama.


"Aku berada ditempat yang sangat panas dan penuh tekanan, tapi ada salah satu tempat didalamnya yang bisa dikatakan cukup aman. Aku berada disana dan berlatih."


"Eh? Apa?"


Taro seperti menyadari sesuatu tentang yang dikatakan Adrine, seolah-olah ia tahu tempat yang dimaksud oleh Adrine.


"Ada apa Taro? Apa kau tahu tempat yang dimaksud Adrine?"


Tari yang ada didepan mengangguk, walaupun yang dibelakang tidak tahu kalau ia sedang mengangguk.

__ADS_1


"Ya. Salah satu alat pendeteksi milikku yang kukirimkan disana mendeteksi kalau ada satu tempat yang sangat panas, bahkan detektornya menunjukkan kerusakan pada saat aku mengontrolnya untuk masuk kedalam, karena tempatnya terlalu panas dan bertekanan."


Taro pernah sekali menyadari tempat yang sama seperti dengan yang dikatakan oleh Adrine. Disaat ia menggunakan alatnya untum memeriksa tempat tersebut, alatnya mengalami kerusakan yang cukup parah karena panas.


"Itu memang betul. Disana alat komunikasiku tidak bisa dijalankan dan seperti rusak. Zirahku bahkan menjadi sangat panas ketika berada didalam wilayah itu."


Hal seperti itu memang benar dialami oleh Adrine, dan ia tidak mengada-ada tentang cerita tersebut. Zirahnya memang pernah sempat memerah karena suhu yang ada didekat Altar Sembilan Warna Api Spiritual terlalu panas.


"Kalau begitu, memang masuk akal kalau kita tidak bisa menghubungi Adrine. Dan itu juga yang membuat Adrine tidak berani keluar dari sana dan berlatih untuk menjadi kuat agar tubuhnya kuat untuk keluar dari tempat itu."


Kai lebih berpikir positif. Heyto juga setuju dengan pemikiran dari Kai. Taro pun juga demikian.


"Oh iya Adrine, apa kau tahu? Murid-murid yang berasal dari rasi bintang telah dipindahkan ketempat khusus untuk mereka. Kalian akan bertemu lagi nanti disaat ujian kelulusan berlangsung."


Adrine yang tadinya sudah sedikit melupakan semua tentang rasi bintang, kini malah teringat kembali karena perkataan Heyto. Namun Adrine juga teringat kembali dengan teman baiknya yaitu Nicho, Veno, dan Zeno.


Adrine sedikit sedih karena tahu karena ia dan Nicho harus dipisahkan, namun Adrine sedikit merasa bahagia karena mereka akan kembali bertemu disaat ujian kelulusan nantinya. Tapi Adrine masih merasa kesal karena tidak bisa membalaskan dendamnya dengan Alfian dan Ray. Walaupun seperti itu, Adrine merasa lega karena bisa berpisah dengan mereka berdua.


"Oh iya, apa Senior David juga dibully geng itu?"


Adrine merasa penasaran, jika mungkin junior diganggu, senior bisa saja tidak diganggu.


"Untuk David, dia hanya diganggu juga jika dia sedang menolong Etern dan Arpha. Oh iya, untuk apa kau memanggilnya Senior? Sekarang ini kau itu sekarang seangkatan, apalagi kalau kita bandingkan data milikmu dengan milik David, kau itu satu tahun lebih tua darinya."


Disisi lain, Adrine juga merasa tidak enak jika memanggil David dengan nama panggilannya secara langsung. Ia merasa kalau David itu adalah orang yang dipanggil senior, karena pengetahuannya yang lebih dibandingkan dengan Adrine.


Namun, sekarang ini telah berbeda. Adrine telah mempunyai pengalaman pergi jauh dari perguruan dan mempunyai ilmu yang lebih diluar sana, daripada David yang sampai sekarang ini belum pernah keluar dari perguruan. Apalagi kekuatan dan kultivasi Adrine yang sekarang sudah lebih tinggi. Dan yang seharusnya dipanggil senior adalah Adrine.


"Aku hanya tidak enak saja kalau tidak memanggilnya dengan panggilan senior, hehe."


Walaupun segalanya telah berubah dan banyak yang belum tahu, namun Adrine tetap saja tidak enak kalau tidak memangil David dengan sebutan senior.

__ADS_1


'Hmm... Berarti mereka hanya mengganggu junior yang kultivasinya masih rendah, mereka harus merasakan pelajaran karena telah menganggu teman-temanku!!' Pikir Adrine.


Bersambung!!


__ADS_2