
"Hei Adrine! Tubuh gagaknya ada dibawah, kalau kau mau menyerapnya, kau harus mengumpulkan jiwa yang tersebar disekitar mayatnya." Ujar Etern.
"Ya, aku tahu." Ujar Adrine dengan mata yang tak memperhatikan Etern.
'Adrine sebenarnya kenapa sih, kok tiba-tiba sifatnya aneh kayak begini?' Tanya Etern dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Lalu Adrine turun kebawah dan merasakan sisa-sisa jiwa dari Gagak Semesta Petir yang baru saja ia lawan. Adrine langsung bisa mengumpulkan sisa jiwa tersebut tanpa harus bertanya kepada Etern terlebih dahulu. Disaat inti jiwa tersebut mulai menggabung dengan jiwa kultivasi Adrine, Adrine mulai merasakan kesakitan yang luar biasa. Itu dikarenakan Adrine menyerap inti jiwa yang tingkatannya terlalu tinggi.
"Erghh... Arghh..." Adrine menggeram kesakitan.
"Apa kau tidak apa-apa Adrine? Sepertinya kau kesulitan?" Tanya Etern yang cemas dengan kondisi Adrine.
"Tenang saja, arghh... Aku... Aku tidak apa-apa." Ujar Adrine sambil menahan kesakitan.
__ADS_1
"Tapi tetap saja, kau harus pelan-pelan untuk menyerap inti jiwa yang berwarna ungu, karena ini inti jiwa pertamamu, mungkin akan sulit seperti ini." Ujar Etern yang terlambat untuk mengingatkan.
"Ya, aku sudah tahu konsekuensinya. Arghh... Lebih baik kau tenang, agar aku juga bisa menyerap inti jiwa ini dengan arghh... Perlahan dan sempurna." Ujar Adrine.
Lalu Adrine menyerap inti jiwa dengan penuh kesakitan. Tekanan yang dirasakan semakin lama semakin kuat pula. Bahkan Adrine hampir tak sadarkan diri dengan kesakitan tersebut. Tetapi Adrine terus berjuang sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit yang sedang ia alami.
'Ini adalah pilihan yang harus kuambil. Jika tidak, bagaimana aku bisa kuat nantinya.' Ujar Adrine dalam hati.
'Kasihan Adrine, jika bisa, maka aku juga ingin merasakan rasa sakit yang Adrine rasakan. Agar sakit yang sedang Adrine derita bisa berkurang.' Ujar Etern dalam hati yang merasa kasihan dengan kondisi Adrine.
"Lebih baik kubiarkan Adrine tidur. Dan lebih baik juga untukku berkultivasi agar kekuatanku meningkat." Ujar Etern sambil tersenyum.
3 Jam telah berlalu. Adrine terbangun dari pingsannya. Adrine juga menyadari bahwa Etern telah menunggunya dengan berkultivasi hingga Adrine terbangun.
__ADS_1
"Hei, apa kau baik-baik saja?" Tanya Etern yang ikutan sadar melihat Adrine telah sadar dari pingsannya.
"Sudah kubilang dari dulu, kau itu tak perlu khawatir padaku, aku itu kuat tak mungkin aku akan mati dengan hanya menyerap inti jiwa seperti ini saja." Ujar Adrine dengan sombongnya.
"Ya ya ya, lebih baik aku tak bertanya kepadamu. Kau itu benar-benar sombong." Ujar Etern dengan wajah yang berubah menjadi kesal.
"Hei Etern, lihat ini. Gagaknya menjadi kecil dan wujudnya menjadi tembus pandang." Ujar Adrine yang mengeluarkan inti jiwa dari Gagak Semesta Petir yang baru saja ia serap.
"Ya, bentuknya menjadi imut kalau kecil seperti ini." Ujar Etern sambil mengelus-elus gagak tersebut yang bertengger dipundak Adrine.
"Hei, apa kau sudah pulih? Kalau sudah, ayo kita kembali!" Ujar Etern yang mulai merasa bosan berada ditempat tersebut.
"Kau akan kukirim keluar jika kau mau, aku masih ada urusan disini. Hehehe." Ujar Adrine sambil tertawa seperti punya niat yang mengerikan.
__ADS_1
'Adrine ini sebenarnya kenapa sih.' Pikir Etern yang bingung melihat kelakuan Adrine yang mulai menjadi aneh.