
Adrine masih terus saling beradu tatapan dengan Rubah Bermata Tiga. Mereka seperti sedang bertarung dalam pandangan dan menyelaraskan fisik mereka untuk pertarungan yang sebenarnya.
Rubah yang seukuran 2 kali tubuh Adrine itu terus mengerang dan menunjukkan tatapan tajamnya, mulutnya meringis dan memperlihatkan jajaran taring yang tajam.
"Manusia... Apa kau masih terus... Berlagak sombong di hadapanku?"
Adrine kini memperlihatkan senyumannya, senyuman yang tajam dan penuh aura membunuh.
"Lantas beranikah kau mengeluarkan ekor delapan mu?"
"GRRRR"
Rubah Bermata Tiga pun mulai mengeram dengan keras, ia marah dengan ucapan sombong yang yang lantang kan oleh mulut Adrine.
ZRAAAST!!
Hewan berbulu tebal berwarna jingga itu lantas bergerak cepat ke arah Adrine dan menyerang mengunakan kuku kuku tajamnya, dia begitu marah dan Adrine menanggapinya dengan santai.
"Blood Demon, majulah!"
Blood Demon pun melangkah maju selepas mendengar perintah dari Adrine. Gerakan kakinya terlihat santai ketika maju, di tangannya terbentuk sebuah pisau yang berasal dari darah murni. Pisau besar itu menyatu dengan tangan humanoid gelap itu dan tangannya itu pun diangkat setinggi bahu.
"Aku tak akan membiarkanmu menyentuh tuan ku."
ZRAAAST!!
Dengan penuh keberanian, Blood Demon maju menghadapi Rubah Bermata Tiga.
Serangan demi serangan telah dilancarkan oleh rubah besar itu, namun pasukan Adrine ini berhasil menghindari semuanya tanpa adanya kesulitan. Cakaran, serangan dari ekor, dan pancaran cahaya dari mulut rubah itu berhasil di lewati begitu saja oleh humanoid ini.
"Sebenarnya aku tak terlalu terburu-buru, tapi ini sangat membosankan karena bukan aku yang melawan, cepat bunuh dia, Blood Demon! Aktifkan mode Amukan Darah!"
SRIIING!!
Mata merah Blood Demon mulai memancar cahaya merah setelah mendengar perintah aktivasi mode Amukan Darah.
Energi mulai terkumpul di tubuh Blood Demon, membuat tubuhnya semakin berbau darah pekat. Di saat pemancaran energi darah, Rubah Bermata Tiga terkena dampak dari pancarannya. Kedua kaki depannya lah yang terkena dampaknya.
"Kakiku... Terkorosi?"
Kakinya seperti melebur akibat energi darah yang begitu pekat dari Blood Demon, namun Adrine bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Blood Demon tetap belum tandingan dari rubah itu, apalagi jika sampai si rubah itu mengeluarkan ekor kedelapannya, maka terpaksa Blood Demon harus mundur."
Purgatory Demon agak bingung ketika mendengar perkataan Adrine.
"Lantas mengapa tuan menyuruhnya untuk maju?"
"Hehe..."
Adrine tertawa lirih.
"Setelah itu terjadi, kau lah yang akan maju. Blood Demon hanya akan melukai Rubah Bermata Tiga sebanyak mungkin, di saat giliran mu tiba, maka kau akan membakarnya dan melambatkan kemampuan regenerasinya."
"Tapi, bukankah kemampuan regenerasi Rubah Bermata Tiga akan sangat cepat jika menggunakan ekor kedelapannya? Bukankah itu sia-sia?"
"Memang, kemampuannya akan terus didorong sampai ambang batasnya ketika menggunakan ekor kedelapannya, tapi kau hanya bertugas melambatkannya saja, seharusnya kau paham dengan apa yang kukatakan."
__ADS_1
Purgatory Demon terdiam sejenak, Adrine paham dengan api besarnya itu yang kurang memahami pemikirannya.
"Intinya, kau akan bergerak ketika aku memerintahmu, oke?"
Purgatory Demon menganggukkan kepalanya, Adrine tersenyum lagi dan pandangan matanya kembali berpaling kepada pertarungan Blood Demon dan Rubah Bermata Tiga. Dia sudah menduga jika pertarungannya tidak akan semudah yang dibayangkan, tetapi Adrine sudah merancang rencana agar pertarungannya tetap berjalan sesuai keinginannya.
Dalam hitungan menit, Blood Demon telah kewalahan melawan rubah besar itu. Namun humanoid merah gelap itu tetap bertarung melawan rubah tersebut tanpa memikirkan apapun selain pertarungan.
Lalu Adrine mengirimkan sebuah pesan yang telah tersalurkan di otak Blood Demon dan humanoid itu pun mundur dari pertarungannya.
'Pertarungannya sudah lewat perkiraan, aku harus sedikit merubah rencananya.' Pikir Adrine.
"Blood Demon, Purgatory Demon, combine soul!"
Adrine pun menggabungkan Blood Demon dan Purgatory Demon, keduanya membentuk tubuh baru yang di mana saling mendominasi. Kakinya yang panjang, tubuhnya yang tinggi, seluruh tubuh diselimuti api, dan sebuah tanduk merah yang ada di dahi merupakan dominan dari Purgatory Demon, sementara ekor yang mirip seperti milik tyrannosaurus, tulang-tulang yang mirip pisau yang banyak tumbuh di punggung, dan lengan yang panjang merupakan dominan dari Blood Demon.
Adrine berusaha untuk mempercepat mengalahkan Rubah Bermata Tiga, hal ini dikarenakan banyak membuang waktunya.
'Rubah sialan ini akan menghambat ku jika aku terus di melawannya secara perlahan, sebisa mungkin aku harus cepat karena portal keluarnya akan berlangsung dalam 1 jam setelah aku masuk ke sini.' Pikir Adrine sambil mengumpat.
Adrine menyebut penggabungan Blood Demon dan Purgatory Demon dengan nama Bloody Fire Demon.
"Aku ingin kalian menghabisi rubah itu dengan cepat, waktu yang aku miliki di sini sudah mulai menipis."
Tepat setelah Adrine berucap, Bloody Fire Demon langsung bergerak menyerang Rubah Bermata Tiga, rubah tersebut mengelak dari serangan dan sedikit terkenan oleh serangan yang dilancarkan oleh humanoid prajurit Adrine.
Lalu Bloody Fire Demon menciptakan api di tangannya dan api tersebut membentuk pedang yang sangat panjang. Pedang tersebut juga sangat panas karena terbentuk oleh esensi api milik Purgatory Demon dan kemampuan mengkorosi layaknya darah yang dimiliki oleh Blood Demon.
ZRAAAST!!
Bloody Fire Demon bergerak menyerang Rubah Bermata Tiga dengan pedang di tangannya, ketika pedang tersebut diayunkan dengan cepat, muncul kilatan api yang segera menyambar Rubah Bermata Tiga. Walaupun rubah itu berhasil menghindari tebasan mematikan dari pasukan besar Adrine, namun kilatan barusan juga memiliki energi yang sangat besar sehingga rubah tersebut tetap mendapatkan luka berat akibat masih berada di dekat radiasi dari tebasan barusan.
Serangan demi serangan, tebasan demi tebasan telah dilancarkan, Rubah Bermata Tiga tetap beregenerasi dan kemampuannya terus menurun akibat tertekan oleh kemampuan itu sendiri yang terum menerus digunakan. Energinya juga telah dikonsumsi secara besar-besaran, sehingga ia tak punya pilihan lagi sekarang.
Namun Adrine juga kewalahan dalam mengendalikan Bloody Fire Demon, energinya juga terkuras begitu banyak ketika mengendalikan kekuatan sebesar itu. Oleh karena itu, Bloody Fire Demon juga menghentikan gerakannya yang terus menyerang Rubah Bermata Tiga menggunakan energi Adrine.
Tiba-tiba muncul bayangan hitam yang diselimuti aliran listrik dari punggung Adrine, itu adalah Bolt Demon yang memeriksa keadaan tuannya.
"Tuan, anda sudah terlalu banyak menggunakan energi anda, meridian anda bisa terkuras dan rusak jika terus dipaksakan."
Bolt Demon mengingatkan tentang keadaan Adrine saat ini agar tuannya itu tidak memaksakan kehendaknya.
"Bagaimana jika rubah itu menyerangku? Aku yang sekarang sudah kehabisan tenaga."
Sembari berkata, tubuh Adrine terduduk di tanah dan kakinya telah lemas untuk bisa mempertahankan posisi berdirinya. Kaki Adrine juga sudah mulai gemetaran sedari ketika Bloody Fire mulai melancarkan serangan pertamanya dengan pedangnya.
"Gunakan saja mata tengan milik tuan."
"Tidak, aku bisa saja kehilangan kendali seperti dulu."
Bolt Demon tak bisa memikirkan tentang hal lain lagi, namun ia terpikir tentang sesuatu.
"Tuan, kami bisa bertarung tanpa perintah dari tuan, adanya perintah itu kami menggunakan energi tuan terus menerus, jangan memerintahkan kami agar kami bisa dengan leluasa melakukan serangan tanpa penyaluran energi."
"Aku takut kalian berada di luar kendaliku, aku takut kalian menyerangku."
Mulut Bolt Demon memang tak terlihat oleh mata, namun Adrine bisa merasakan jika bayangannya ini tersenyum.
__ADS_1
"Saya akan tersambar oleh petir saya sendiri jika menyerang tuan, Purgatory Demon akan terbakar oleh apinya ketika menyerang tuan, dan Blood Demon akan terkorosi oleh darahnya sendiri ketika menyerang tuan, kemampuan seperti ini dinamakan dengan janji jiwa. Tuan bisa memastikan jika kami tidak akan menyerang tuan di saat pertarungan, jadi tuan bisa fokus menyerap energi sekitar dengan mata tengah tuan."
"Kau benar, aku hanya tidak boleh memerintah gerakan kalian, memprediksi, membaca bahkan menyebutkan gerakan kalian saja. Dan janji jiwa, aku tidak tahu tentang itu, aku akan tanyakan ini kepada Shin kecil nantinya. Baiklah, aku turuti kemampuan kalian."
Bolt Demon pun terpisah dari tubuh lemas Adrine yang terduduk di atas tanah.
"Lepaskan dulu kemampuan kombinasi jiwa yang ada pada Bloody Fire Demon, tuan."
Adrine pun membatalkan kemampuan kombinasi jiwa Bloody Fire Demon dan ketiga pasukan Adrine telah siap bertarung di hadapannya.
Kemudian Adrine memejamkan kedua matanya dan mata ketiganya pun terbuka. Cahaya emas memancar dari mata ketiganya dan energi yang ada di sekelilingnya mulai bereaksi dan terus mendekati tubuh Adrine. Mata tengahnya itu juga sebagai penglihatannya untuk melihat pertarungan Purgatory Demon, Blood Demon, dan Bolt Demon.
Purgatory Demon menoleh ke arah Adrine.
"Tuan, percayakan saja pada kami."
Adrine mengangguk dengan perlahan mendengar suara serak dari Purgatory Demon yang penuh dengan keyakinan.
"Aku percayakan pada kalian."
Adrine pun kembali fokus pada penyerapan energinya yang ada di tengah matanya. Aura dan cahaya emas menyebar ke mana-mana dari mata tengah Adrine, energi yang ada di sekitar terserap oleh mata tersebut dan aura emas yang keluar dari mata tengahnya itu membuat pelindung emas tak terlihat yang mengelilingi tubuh Adrine.
SRZZZT!!
'Tunggu dulu, apa-apaan yang barusan aku rasakan?' Pikir Adrine.
Perasaan yang kuat akan membunuh, begitu menusuk dan bahkan bisa melumpuhkan orang lemah hanya dengan itu saja, Adrine berhasil menangkal aura membunuh yang begitu kuat itu karena pelindung emas yang terpasang di sekitar tubuhnya. Namun pelindung emas tersebut hancur dan membuat kedua matanya terbuka dengan seketika, akan tetapi mata tengahnya tetap aktif.
"Tuan, apakan anda tidak apa-apa?"
Bolt Demon langsung menoleh dan berjalan menuju kepada Adrine.
"Tenang saja, justru aku kira rubah sialan itu bertransformasi menjadi monster dan menumbuhkan sembilan ekornya."
"Justru aku mengira... Ancaman yang barusan itu dari... Bocah seperti mu... Bodoh... Dan aku menyadari... Ternyata ada sesuatu yang... Lain... Lebih kuat darimu"
Adrine sedikit tercengang mendengar bahwa Rubah Bermata Tiga sebenarnya telah merasakan hawa keberadaan yang begitu menakutkan ini sebelumnya ia datang ke dunia ini.
"Sekarang aku tahu, kau sendiri tak tahu darimana asalnya aura membunuh barusan, tapi kau berusaha untuk melindungi bayi bayimu yang ada di sana, bukan? Aku terkesan melihat sifat keibuan mu, tapi apa kau tahu darimana aura mematikan ini berasal? Pasti kau mengenalnya, bukan?"
Adrine terkesan tahu menahu akan hal yang baru saja terjadi, langit gelap mulai terkumpul awna merah darah yang membentuk spiral. Jauh dari tempat Adrine bertarung melawan Rubah Bermata Tiga, titik dari awan spiral tersebut terbentuk dan petir merah menyambar di mana-mana.
Adrine bahkan bisa melihat jika titik spiral tersebut terbentuk jauh di belakang gunung yang bahkan hampir tak terlihat dengan mata telanjang. Energi mematikan yang begitu luar biasa, Adrine sudah cukup beruntung bisa menahan serangan tak langsung barusan.
Sementara itu, di luar dunia yang tengah di pijaki oleh Adrine sekarang ini, Master Heyto mendapatkan alarm merah dari segala penjuru ruangan laboratorium.
"Sial, makhluk itu muncul lagi, padahal sudah bikin capek menangkap dan mengurungnya di dalam sana, kenapa harus menyusahkan lagi?"
Walaupun nada bicaranya terlihat santai, namun keringat dingin mengucur deras di keningnya. Situasi hatinya kacau dan sekarang harus menyelamatkan Adrine dari bahaya makhluk yang baru saja ia sebutkan.
"Master, makhluk apa itu? Apa tingkatannya?"
Reki merasa penasaran dengan makhluk tersebut, dan master Heyto terlihat bersedia untuk menjawabnya.
Dalam waktu yang bersamaan master Heyto dan Adrine menjawab nama dari makhluk mengerikan itu.
"Naga Surga Terkutuk, hewan spirit tingkat Yin-Yang peringkat 4, setara dengan kultivator di tingkat Leluhur."
__ADS_1
Bersambung!!