Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Pulang Sejenak


__ADS_3

SETELAH 3 HARI BERLALU


Adrine belum menyelesaikan penerobosannya terhadap segel dalam dari Lapisan Segel Darah Suci. Namun Adrine telah dipromosikan untuk naik kelantai 4.


Disaat itu, Adrine ingin turun kebawah dan pulang kerumah untuk mengabari teman-temannya. Disaat Adrine sedang dalam perjalanan turun dan berada dilantai 2, ia bertemu dengan Roni yang sedang naik keatas.


"Kenapa kau dari atas? Tempatmu itu dilantai 2, bukan lantai 3!"


Roni ingin menegaskan kepada Adrine untuk tidak main-main naik kelantai atas, dan tempatnya itu berada dilantai 2.


"Aku tidak akan ketempat yang dimana aku tidak membutuhkannya. Untuk apa aku berkultivasi disini sementara tidak bisa aku gunakan untuk berkultivasi?"


Adrine memang berbicara dengan kata-kata yang biasa, namun terdapat makna yang dimana Adrine sedang menunjukkan dirinya telah naik lantai dan sedang menyombongkan dirinya.


"Naik lantai lagi? Tidak mungkin secepat ini! Kau pasti sedang bercanda? Jangan bercanda denganku!"


Walaupun sepertinya Roni sedang terkejut, namun ia berpikir kalau lantai 3 itu dirinya lah yang berkuasa disana. Roni memasang wajah mengintimidasi disaat itu juga.


"Untuk apa aku harus ada ditempatmu yang menyedihkan itu? Lihat ini!"


Adrine menunjukkan plakatnya yang terdapat angka yang menyebutkan nomor berapa dudukan yang akan disinggahi oleh Adrine dan lantai berapa ia boleh berkultivasi disana.


Disaat Roni melihat Plakat Penentu milik Adrine, ia sangatlah terkejut mendapati kalau Adrine sudah berada dilantai yang diatasnya.


"La... Lantai 4? Mustahil! Hanya dalam seminggu kau mencapai lantai 4? Tak mungkin, kau pasti menggunakan cara yang curang untuk mengakali Plakat Penentu milikmu! Mengaku!"


Roni yang tak percaya kepada Adrine yang sudah mencapai lantai 4, menuduh Adrine menggunakan cara yang curang. Ia mengira kalau Adrine sudah mengakali Plakat Penentu miliknya dengan cara yang tak benar.


"Terserah kau mau bilang apa, yang penting aku sudah memberitahumu. Aku akan pergi, minggirlah!"


Adrine pun pergi sambil menyenggol lengan Roni. Tapi, bahu Adrine ditahan oleh Roni agar tidak pergi. Ketika itu juga, Roni sedang menatap Adrine dengan tatapan yang mengerikan.


"Kau tak boleh pergi! Aku tak akan membiarkanmu pergi begitu saja!"


Roni dipenuhi oleh hawa pembunuh yang sangat luar biasa kuat. Namun tekanan itu tidak berlaku bagi Adrine.


"Kenapa? Apa kau sudah berani menantangku? Sudahlah, aku ingin pergi."


Adrine melepaskan cengkeraman tangan Roni yang menggenggam bahunya. Roni merasa kalau dirinya telah mencengkeram bahu Adrine dengan sangat kuat, namun Adrine melepaskannya dengan sangat mudah.

__ADS_1


Roni bertambah kesal saat itu. Ia pun mengepalkan tangannya dan sedang ingin memukul Adrine sekeras tenaga.


'Apa dia ingin membuat keributan disini?' Pikir Adrine.


Namun Adrine tak ingin membuat keributan ditempat itu dan menarik banyak perhatian. Ia tak ingin memperburuk reputasinya lagi setelah apa yang dikatakan banyak orang.


Walaupun Adrine bukan orang yang terlalu mementingkan reputasi, namun ia juga tak ingin kalau nama dan reputasinya akan menjadi buruk dan lebih buruk lagi.


Diam-diam Adrine menggunakan skill Dead Silent dan berjalan cepat kebawah. Visual Adrine memang nampak oleh Roni, namun mata yang melihatnya tidak bisa menyalurkan dengan baik apa yang ia lihat kepada otaknya. Jadi seperti orang yang bengong saja ketika melihat Adrine.


'Sial, kenapa aku jadi bengong begini. Jelas-jelas tadi dia pergi, kenapa serasa tadi itu angin?' Pikir Roni.


Walaupun kini Roni sedang marah dengan Adrine, ia meloloskan Adrine karena tak ingin menyia-nyiakan waktunya. Ia naik kelantai 3 dan berkultivasi diatas dudukan yang bernomorkan 06.


Diluar Adrine terlihat normal saja ketika sudah pergi. Ia menatap kebelakang dan memikirkan Roni lagi.


"Aku belum membuat perhitungan denganmu, tapi aku sendiri tak ingin membuat keributan dan sorotan dari banyak orang. Tunggu saja nanti, ujian kelulusan lah yang akan membuktikannya."


Adrine mengatakannya dengan pandangan mata yang sangat tajam. Ucapannya sangatlah dramatis dan menggunakan perasaannya. Tapi, apa yang dikatakan oleh Adrine, itulah hal yang akan dilakukan olehnya nanti.


Adrine pun berbalik kanan dan berjalan pulang kerumahnya. Dirinya tak ingin membuat teman-temannya cemas akan dirinya.


"Aku pulang."


Mendengar suara Adrine, Etern langsung terbangun dari kultivasinya dan berdiri terkejut. Ia sangatlah rindu dengan Adrine. Walaupun sesama lelaki, hal itu wajar apabila status mereka adalah sahabat.


"Darimana saja kau ini? Ini sudah seminggu dan kau baru pulang?"


Adrine merasa kalau yang sedang menanyainya itu adalah seorang ibu-ibu yang pemarah.


"Haish... Seminggu ini aku berada di Menara Aliran Bayangan Bertingkat untuk memecahkan Lapisan Segel Darah Suci. Seharusnya aku masih ingin disana, tapi aku tahu kalian akan mencemaskan diriku, maka dari itu aku pulang."


Adrine pun menjelaskan apa yang ia lakukan selama ini dan teman-temannya menerima dengan baik. Tapi ada satu hal yang membuat Arpha bingung.


"Ada yang janggal dari ceritamu itu."


Semua orang langsung menoleh kepada Arpha. Mereka tak paham mengapa Arpha mengatakan hal itu.


"Ada apa? Bukankah sudah jelas jika selama ini Adrine ada disana."

__ADS_1


Etern yang melihat Adrine sudah pulang saja, alasan apapun akan diterimanya. Namun David juga merasa ada yang janggal ketika Arpha mengatakan hal tadi. Terlihat dari wajah David yang juga sedang memikirkan sesuatu.


"Ya, benar juga kau Arpha."


Semua orang berganti menoleh dan menatap David.


"Kau juga David? Apa yang terjadi sebenarnya?"


Etern merasa kalau teman-temannya itulah yang janggal. Perilaku mereka seolah sedang mencurigai Adrine.


"Bukan seperti itu Etern! Apa kau tak tahu? Atau tak ingat? Bukankah kalau berada di Menara Aliran Bayangan Bertingkat itu haruslah memenuhi jadwal yang ada?"


Setelah David mengatakan hal tersebut, Etern juga merasa benar juga dengan apa yang mereka katakan tadi.


"Hmm... Iya juga. Adrine berada disana selama seminggu, sedangkan untuk lantai 1 sampai 3 itu punya jadwal 24 jam per 5 harinya, benarkah kalau kau itu dari Menara Aliran Bayangan Bertingkat?"


Etern yang awalnya percaya kepada alasan Adrine, kini menjadi mencurigainya karena tahu akan jadwal yang ada disana.


"Untuk apa aku membohongi kalian? Aku benar-benar dari Menara Aliran Bayangan Bertingkat. Aku juga bertemu Roni disana, dia sudah sampai pada lantai 3."


Ketika Adrine mengatakan hal tersebut, mereka menjadi kebingungan. Sebab Adrine bertemu dengan Roni dan tahu dimana Roni berkultivasi.


"Lalu, bagaimana bisa kau berada ditempat itu hingga waktu yang cukup lama? Apa kau pergi ketempat lain?"


Arpha masih terus mencurigai Adrine, menurutnya hal itu tak masuk akal jika dikaitkan dengan jadwal yang ada pada Menara Aliran Bayangan Bertingkat yang sudah sangat jelas.


"Apa kalian tahu tentang nomor 00 yang katanya belum ada yang menempatinya?"


Semuanya mengangguk ketika ditanya oleh Adrine tentang itu. Tak ada yang belum tahu tentang nomor 00 yang belum pernah digunakan untuk berkultivasi itu.


Lalu Adrine mengeluarkan sebuah benda. Benda itu adalah Plakat Penentu miliknya yang ia dapatkan dari Menara Aliran Bayangan Bertingkat.


"Lihat ini! Aku mendapatkan nomor yang katanya suci itu."


Mata semua orang yang melihatnya menjadi terbelalak lebar dan perasaan terkejut menggema diseluruh ruangan itu.


"APA? NOMOR 00?"


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2