
Di arena tantangan yang telah dijanjikan, terdapat seluruh anggota Geng Lima Jenius yang sedang berkumpul dan ingin melihat ketua salah satu diantara mereka bertarung dengan Arpha. Mereka berkumpul disebuah tempat khusus arena itu yang dibuat untuk menonton pertandingan secara eksklusif.
Tempat itu seperti diatas gedung yang tinggi seperti tempat untuk para pangeran atau raja yang ingin menonton sebuah pertandingan.
Kelima anggota Geng Lima Jenius tidak ada yang namanya ketua, namun para bawahannya memanggil mereka dengan sebutan ketua.
"Untuk apa kau mau menantang bocah yang belum sampai tahap Kematian? Buang-buang tenaga, tahu tak?"
Yang berbicara barusan ini adalah salah satu dari Geng Lima Jenius. Orang ini bernama Rizky, kultivasinya mencapai tahap Kematian level-2 kelas akhir, tipe fighter atau petarung. Rizky adalah lelaki yang cukup tampan dan memiliki kepintaran yang bagus.
"Aku cuma mau lihat, seberapa kuatnya bocah itu sampai-sampai selalu membela si pecundang itu. Aku dengar-dengar juga, bocah yang namanya Arpha itu adalah yang paling brengsek diantara 3 anggota yang lainnya."
Dan yang berkata diatas adalah Vania yang tadi dimaksud oleh Roni. Vania adalah wanita yang cantik dengan tubuh yang seksi dan seorang kultivator pencapaian tahap Kematian level-2 kelas akhir, tipe mage sub-kelas summoners.
"Memang seberapa hebat sih, si pecundang itu sampai-sampai selalu dibela-belain sama 3 orang itu?"
"Iya? Siapa itu namanya? Adrine?"
Dua orang yang barusan berbicara adalah Shani dan Pino. Shani adalah wanita yang sama cantiknya dengan Vania, namun biasanya cukup cerewet daripada yang lainnya. Dan kultivasinya telah mencapai tahap Kematian level-2 kelas akhir, seorang kultivator tipe mage sub-kelas penyihir kuat.
Pino adalah lelaki yang paling muda diantara keempat anggota lainnya, dan banyak disukai para wanita karena wajahnya yang imut dan menggemaskan, ia juga bahkan lebih pintar dari Rizky. Namun kultivasinya juga tak kalah kuat dari yang lainnya, pencapaiannya mencapai tahapan Kematian level-2 kelas menengah, memang yang paling lemah. Kultivator tipe fighter atau petarung.
"Memangnya siapa tadi? Adrine? Memangnya Adrine itu kuat? Bagaimana menurutmu Yama?"
Tiba-tiba Shani menyebutkan nama seseorang yang lain dan namanya adalah Yama.
"Menurutku? Ya, mungkin saja."
Dan Yama, kultivator tipe assassin atau pembunuh diam-diam, pencapaian tahap Kematian level-2 kelas puncak. Ia adalah seorang lelaki yang pendiam dan selalu memancarkan aura pembunuh setiap kali berbicara dengan orang lain. Serta yang paling kuat diantara keempat anggota lainnya.
Namun kali ini Yama membuka mulutnya untuk berbicara lagi. Ia sepertinya ingin menambah penjelasan tentang Adrine.
"Tapi, kalau menurutku, pasti ada yang spesial dengan Adrine ini, sampai-sampai mereka bertiga selalu membelanya."
Yang lainnya juga merasa kalau yang diomongkan oleh Yama itu ada benarnya. Bukan hanya percaya, namun mereka juga takut dengan Yama yang sangat menakutkan, bahkan tak ada yang berkutik lagi setelahnya.
"Mungkin kalau Adrine pernah menyelamatkan mereka bertiga?"
Vania mengasumsikan kalau Adrine pernah menyelamatkan David, Arpha, dan Etern. Yang lainnya juga merasa kalau apa yang dikatakan oleh Vania juga ada benarnya.
"Mungkin benar juga."
Semuanya terdiam seketika disaat Yama berbicara. Tak ada yang berani untuk tidak percaya dengan Yama ketika ia berbicara.
"HEI!! HEI!! KAMI DATANG!!"
__ADS_1
Suara yang keras terdengar dari seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam. Dan orang itu adalah Arpha yang dengan percaya dirinya datang dengan menyerukan suara dengan lantang.
"Oh? Si bocah itu datang rupanya."
Shani pun terkejut mendapati Arpha yang datang bersama temannya yang lain. Ia mengira kalau ancaman dari Roni tidak mempan bagi mereka.
"Siapa bocah yang ada dibelakangnya itu? Sepertinya aku baru lihat, siapa dia?"
Vania yang terus memandangi kelompok Arpha yang datang, ternyata ia juga memperhatikan sosok yang ada dibelakang Arpha.
"Hmm... Mungkin orang bodoh baru yang sama-sama membela si pecundang itu? Mungkin saja, iya kan?"
Shani sedikit tak peduli dan berpikir kalau ada orang baru yang sedang membela Adrine juga. Rizky juga merasa seperti itu.
Namun Pino merasa ada yang setelah melihat mereka datang. Ia merasa kalau ada yang kurang.
"Dimana Roni? Bukannya dia seharusnya yang datang duluan?"
Vania, Shani, dan Rizky juga merasa kalau ada yang aneh setelah Pino mengatakannya. Mereka juga tidak mendapati Roni datang untuk melapor apakah Arpha menerima tantangannya atau tidak. Namun Yama tidak terlalu memperdulikan hal seperti itu.
"Biarkan saja!"
Walaupun Yama mengatakan seperti itu, namun Pino merasakan adanya keanehan. Ia merasa kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Roni sehingga ia tidak datang untuk melapor.
"Kenapa kau tidak sopan kepada kami? Baru datang langsung teriak-teriak."
Walaupun Vania telah menegur Arpha, namun responnya hanya tersenyum tipis saja.
'Bocah ini seperti tidak takut denganku? Apa dia punya rencana? Atau jangan-jangan...' Pikir Vania.
Vania mencurigai kalau Arpha akan melawannya dengan rencana yang sudah ia persiapkan disaat diperjalanan.
"Kau lawan saja dia. Jika wanita itu berbuat macam-macam, akan langsung aku tangani."
Adrine berbisik dari belakang kepada Arpha. Dari kejauhan Yama juga sudah terus mengamati Arpha dan yang lainnya. Diam-diam Yama juga penasaran dan curiga dengan sosok berjubah yang ada dibelakang Arpha.
Dan dibawah, Arpha sudah naik keatas panggung pertarungan dan menunggu untuk pertandingannya dimulai.
"Kau menyerang dulu saja! Jika aku yang menyerangmu dulu, aku tak yakin kalau kau bisa bertahan."
Dihadapan para penonton yang datang, Arpha dihina oleh Vania dengan sangat memalukan. Namun Arpha sudah terlanjur bisa mengabaikan hinaan seperti barusan.
"Baiklah, akan kugunakan kekuatan mental untuk menyerangmu! Formasi Alam Es!"
Arpha memunculkan Formasi Alam Es, formasi yang sama ketika ia melawan Adrine dulu. Tanah yang ada disekitarnya menjadi es dan suhu udaranya juga menurun.
__ADS_1
'Mungkin teknik milik Arpha sekarang ini sudah mencapai tingkat ketiga. Tapi masih belum cukup.' Pikir Adrine.
Adrine jauh lebih mengerti tentang kekuatan mental milik Arpha dibandingkan dengan orang lain, namun Arpha sendiri juga tahu dimana batasan kekuatannya.
Arpha sudah mengeluarkan energi mental dengan seluruh Jimat Mental miliknya. Arpha yang sekarang masih termasuk pemula dalam hal Ahli Jimat, ia hanya bisa menciptakan sekitar 10 Jimat Mental.
"Oh? Kau ternyata Ahli Jimat ya? Hebat juga kau ini."
Walaupun Arpha dipuji oleh Vania, namun ia tak merasa kalau pujian itu memang benar-benar murni pujian.
"Terima kasih atas pujiannya. Tapi, kita tak perlu lama-lama lagi, dunia pertama, Stalakmit Es!"
Tumbuh banyak sekali es yang tajam dan besar dan sedang mengarah ke Vania. Namun, disaat stalakmitnya mulai tumbuh dan mengincar Vania, ia dapat dengan mudah menghindari serangan itu.
"Hehe, mudah saja. Apa kau punya kejutan lain?"
Namun wajah Arpha masih saja datar dan tidak berubah. Vania juga melihatnya karena ia juga mengamati wajah dan pergerakan lawan kalau sedang ingin menyerang.
"Tidak? Kalau begitu, sekarang adalah giliranku. Majulah, Kera Berbulu Jarum!!"
Vania memunculkan seekor hewan spirit miliknya yang bernama Kera Berbulu Jarum. Seperti namanya, kera ini memang memiliki bulu yang sangat tajam. Dan Kera Berbulu Jarum adalah hewan spirit tingkat suci peringkat 4. Dan Arpha setara dengan kera itu.
Kera itu bergerak dengan cepat kearah Arpha, dan keseimbangannya sangatlah bagus walaupun bergerak diatas es yang licin.
"Dunia ketiga, Tembok Es!!"
Tumbuh sebuah tembok besar yang terbuat dari yang sangat tebal dan dingin. Tembok itu mengelilingi dan melindungi Arpha dari Kera Berbulu Jarum.
'Walaupun tembok itu besar dan tebal, tapi aku tidak yakin kalau tembok itu bisa menahan Kera Berbulu Jarum.' Pikir Adrine.
Adrine sudah menganalisa kekuatan yang dimiliki oleh Vania dan kera miliknya. Dan ketika Adrine membandingkan antara kekuatan Kera Berbulu Jarum dengan Arpha, kekuatan milik Kera Berbulu Jarum sedikit lebih kuat daripada Arpha.
Arpha juga sudah menyadari antara perbedaan kecil dari kekuatan Kera Berbulu Jarum dengannya.
BLAAAM!!
Kera itu pun memukul temboknya.
KRAK!!
Dan apa yang telah diprediksikan oleh Adrine menjadi benar. Tembok yang melindungi Arpha mulai retak ketika dipukul oleh Kera Berbulu Jarum.
'Gawat! Apa yang aku khawatirkan mulai terjadi. Jika terus berlanjut, maka temboknya akan hancur.' Pikir Arpha.
Bersambung!!
__ADS_1