Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Bandit Wanita


__ADS_3

Adrine sudah berhasil mengalahkan kedua Fire Demon of Death, sejumlah besar kekuatan tubuh dan api mereka telah diserap oleh Purgatory Demon sehingga membuatnya menjadi sedikit lebih kuat, namun pasukannya yang satu ini masih belum naik peringkat sama sekali. Jiwa dari keduanya juga sudah diserap dan dijadikan pasukan oleh Adrine.


"Ayo kita masuk," ujar Adrine.


Kemudian Adrine masuk ke dalam Kastil Iblis dan melihat berbagai macam benda berharga, ia membiarkan yang lainnya untuk mengambil semua yang mereka mau terlebih dahulu, akan tetapi karena semuanya orang yang tidak serakah, justru teman-teman Adrine membiarkannya untuk memilah-milah benda berharga.


Lalu Adrine mencari beberapa benda yang dicarinya dan benar apa kata Shin kecil, ia menemukan Ruby Bintang seukuran kepala.


'Yah ... Sepertinya Shin kecil benar-benar tak bohong,' pikir Adrine.


"Kau pikir aku pembohong?"


Secara mengejutkan muncul Shin kecil di sana, Adrine sama sekali tidak terkejut melihat leluhur tua itu yang muncul secara mengejutkan. Setelah mendapat Ruby Bintang, Adrine mengambil beberapa benda, ia pun mempersilahkan yang lain untuk masuk dan mengambil semua benda sesuka hati.


***


"WOI! KALAU BELUM MAU MATI, KELUAR SEKARANG JUGA!!!" Teriak seseorang dari luar kastil.


Karena mendengar dan merasa terganggu teriakan yang memekakkan telinga, Adrine keluar dan menghampiri siapa yang berteriak barusan.


"Masuk ya masuk saja, kenapa harus menyuruh kami keluar?" Tanya Adrine dengan nada tak senang.


"Hahaha, ternyata cuman bocah, paling yang di dalam juga bocah, hahahaha ... " Tawa salah seorang dari kumpulan orang yang sangat banyak.


"Apa kau tahu kalau di sini tadi ada 2 hewan iblis? Kami yang mengalahkan mereka, apa hak mu mengusir kami?" Tanya Adrine lagi, dirinya merendah dengan mengatakan bahwa yang mengalahkan hewan iblis tadi adalah teman-temannya.


"Aku tahu, aku berterimakasih karena telah membunuh mereka, sekarang kalian tidak dibutuhkan lagi ... Enyahlah dari sini sekarang juga!!" Suruh orang itu lagi, terdengar dari suaranya yang sebelumnya berteriak mengusir adalah orang itu pula.


Ketika diusir oleh sekelompok orang tak dikenal, Adrine hanya diam sambil memandangi wajah mereka satu persatu dengan tatapan wajah dingin, sedingin es. Orang-orang yang menghina Adrine saling menertawakannya saja dan terus mencaci-maki dirinya.


"Dia diam saja, bos, kau bunuh dia jadi jauh lebih mudah, kita hanya tinggal rebut saja hartanya yang sudah diambil sama dia dan kita bunuh orang-orang yang ada di dalam," ujar salah satu anggota lainnya.


"Hahaha, kau itu pintar juga," ujar orang yang barusan mengusir Adrine.


Orang itu berjalan mendekati Adrine dengan pedang besarnya, pedang yang dibawanya itu sangat besar dan terlihat berat, itu karena pedang tersebut adalah pedang berat. Dengan santainya, ia berjalan dan masih terus menertawakan Adrine sambil sesekali menghadap ke belakang.


"Satu!"


WUUUSH!!


Lesatan pedang yang sangat cepat bahkan tak bisa diikuti oleh mata biasa.


CRAAASSHT!!


Tubuh dari ketua kelompok yang menghina Adrine itu terbunuh di tempat dan seluruh tubuhnya dalam waktu yang sangat singkat langsung menjadi Kristal Ungu Laut Dalam.


"BOOOOSSS!!!"


Semua pengikut dari orang yang terbunuh di tangan Adrine barusan langsung berteriak dengan lantang menyerukan bosnya. Mereka sama sekali tidak melihat bagaimana dan kapan Adrine menyerang bos mereka itu, gerakannya sangat cepat dan hampir tak bisa diikuti oleh pandangan mata.


Padahal orang yang barusan dibunuh Adrine adalah seorang kultivator di tahap Nirvana, seharusnya tak sulit jika langsung membunuh Adrine, akan tetapi dia sangat meremehkan kemampuan lawannya dan hanya memperhatikan tampilan lawan.


"KAU BERUNTUNG BOCAH, KARENA MEMBUNUH BOS KAMI YANG SEDANG CEROBOH! TAPI KAMI SEMUA JUGA BERADA DI TAHAP NIRVANA, BERSIAPLAH UNTUK MATI!!!" Teriak pengikut setia yang sedari tadi memberikan saran dan dukungan yang hebat terhadap bos-nya.


"Aku sudah membunuh lebih dari sepuluh orang di puncak tahap Nirvana secara bersamaan, mereka mengepungku dan akhirnya mati di tanganku, lantas siapa kalian yang belum mencapai level-3 tahap Nirvana berani menantangku?" Ucap Adrine dengan lantangnya, ia sama sekali tidak takut akan lawannya yang jumlahnya bahkan lebih dari 20 orang.


Ucapan Adrine sama sekali tidak mengintimidasi semua lawannya dan mereka tidak menghiraukannya, justru api kebencian mereka semua semakin meluap.


ZRAAAST!!


'Haiish ... Dasar anjing yang tidak tau tempat,' pikir Adrine.


"Dua! Tiga! Empat! Lima! Enam! Tujuh!" Gumam Adrine sambil memunculkan dan langsung menerbangkan kesemua pedangnya.


CRAAASSHT!! CRAAASSHT!!


"AAAARRGHHHHH!!!"


CRAAASSHT!!


Semuanya dibantai habis-habisan oleh Adrine seorang diri, ia memperbolehkan orang lain masuk asalkan tidak membawa masalah saja, hal inilah yang menjadi kekurangan Adrine karena di dalam Monumen Iblis 6 Tahun pembunuhan tidak dianggap kriminal oleh data, asalkan yang dibunuh bukanlah orang yang memiliki hak perlindungan.


WUUUSH!! SRAAATT!!


Tiba-tiba saja muncul seorang wanita bermasker yang menodongkan sebilah pisau tepat di depan mata Adrine, bukan hanya pedang yang ada di tangan wanita tersebut, bahkan banyak belati yang beragam jenis melayang dan ditodongkan kepada Adrine.


Pertarungan Adrine yang telah selesai dengan berubahnya semua lawan menjadi Kristal Ungu Laut Dalam, mendadak muncul wanita yang tiba-tiba mengancam Adrine.


"Siapa kau? Apa urusanmu denganku?" Tanya Adrine kepada wanita tersebut.


'Wanita ini adalah ahli di puncak tahap Nirvana, kekuatannya berbeda dari orang-orang yang kubunuh sebelumnya, dia lebih kuat dan hebat tapi bukan ancaman bagiku untuk terus maju,' pikir Adrine.


"Aku adalah bandit di kota Toturao, apa kau tak mengenalku?" Tanya wanita tersebut yang mengaku sebagai bandit.


"Tidak!"


Adrine menggeleng, ia memang tak mengenalinya karena dia bukan warga dari kota Toturao, ia adalah pendatang yang memang sedang berkunjung di kota tersebut.


"Ah? Kau pasti pengunjung, berarti aku bisa membunuhmu jauh lebih ... ERKKKHH!!"


Adrine langsung mencengkram erat leher bandit tersebut dan membuat belati terbangnya menjadi berjatuhan, Adrine menggunakan kekuatan Blood Demon agar tak terlalu mencolok.


"Apa kau yakin bisa membunuhku?" Tanya Adrine dengan wajah datarnya.


Walaupun raut wajahnya datar dan tidak memancarkan niat pembunuh sama sekali, namun entah aura dari mana yang membuat Adrine menjadi begitu mengerikan di mata bandit tersebut.


"A ... AK ... AKU ... Haah ... Haaaaaah ... "


Bandit tersebut menghela nafas lega karena dilepaskan oleh Adrine, ia dilepaskan dikarenakan Adrine tidak tega jika harus membunuhnya tanpa alasan, walaupun sebelumnya telah mengancamnya, namun tetap saja Adrine tidak terlalu keras ketika melawan perempuan.


"Berikan alasan yang tepat agar aku tidak membunuhmu!" Ujar Adrine.


"Justru aku yang ... Bertanya padamu ... Haaah ... Haaaah ... Kenapa kau melepaskan aku? Bukankah kita ini musuh?" Tanya bandit.


"Karena kau adalah wanita."


Bandit tersebut tersentak, ia terdiam dengan matanya yang terbelakang menatap tajam ke arah Adrine, perlahan kepalanya mulai mengenang masa-masa kecilnya.


"Apa kau ... KATAKAN DENGAN JUJUR, KENAPA KAU MELEPASKAN AKU?!" Teriak wanita itu kepada Adrine.


"Itu karena kau wanita, aku tak terlalu bersungguh-sungguh dengan wanita, apalagi dengan orang yang tak kukenal. Lagipula kau itu kuat, tak seharusnya kau menjadi bandit, kau bisa punya posisi yang lebih layak," ujar Adrine.


"Huh ... Posisi apa? Layak apanya? ... Pertama kali ... Ya, ini pertama kalinya ... " Gumam wanita tersebut dengan matanya yang berkaca-kaca dan kepalanya sudah dipenuhi oleh kenangan masa kecilnya yang sangat kelam.




"Huuuuu ... Wanita bodoh, dasar bocah rongsokan!"


__ADS_1


"Apa dia itu yang terlahir di tempat sampah? Katanya dibuang ya?"



"Bodoh, orang tuanya mati karena mereka banyak hutang sama rentenir, nah si bocah ini dibuang."



"Kalau sudah besar, fix, dia jadi pelacur."



"Tak usah pedulikan dia, tak berguna juga kita di sini, buang-buang waktu."



"Iya, besok-besok kita lempari batu saja."



"Ide bagus, itu. Tumben kau pintar, kapan pernah belajar?"



"HAHAHAHA!!!"



Sosok wanita itu seolah tak dipandang oleh masyarakat sekitar dan hanya dicela saja, kehidupannya sangat menyedihkan semenjak kedua orang tuanya tiada,



'Aku bukanlah orang tak berguna! Kumohon, anggaplah diriku ini manusia, setidaknya itu yang kubutuhkan. Hargai aku sebagai seorang wanita, setidaknya itu yang kubutuhkan! Kalian boleh mencaci maki diriku, tapi jangan pukuli aku, setidaknya itu yang kubutuhkan! Kumohon, sekali saja!' Pikir wanita tersebut.



Masa lalu yang begitu kelam, tersingkirkan dari masyarakat, hidup menyendiri dan tak pernah diberikan keadilan, selalu dicaci dan dipenuhi oleh ketidakberdayaan, bukan dianggap sebagai wanita bahkan manusia.



'Aku selalu ingin diakui, dianggap, dan dihargai, itu saja! Kalian mencaci diriku, aku selalu kalian rendahkan, apa salahku? Apa salahnya jika ingin diakui? Orang tuaku hanya berhutang saja, kenapa sampai dibunuh? KENAPA AKU SELALU DIHUJAT DAN DIINJAK-INJAK?!!!' Teriak dalam hati wanita bandit itu, seolah pikiran itu benar-benar sudah merasuk ke dalam jiwanya.



'Semenjak itulah aku memutuskan untuk menjadi lebih kuat, berlatih dan berkultivasi, agar tidak direndahkan, tapi mereka, justru mereka semakin kuat dan kuat, mereka malah diterima di setiap perguruan besar dan menjadi tak terkalahkan, apa aku harus terus hidup menjadi pecundang?' Pikir wanita tersebut.



Layaknya boneka, wanita itu hidup untuk dipermainkan dan tidak dipedulikan, bukan boneka biasa, melainkan boneka rongsokan, hanya dibuat untuk dibuang. Kini Adrine mengingatkannya kembali pada masa lalunya yang kelam itu, namun wanita itu hanya terdiam dan menangis dihadapan Adrine.



Wanita tersebut terjatuh dan hanya bisa menangis di hadapan Adrine.



\*\*\*



Sudah lebih dari sepuluh menit wanita itu menangis, Adrine tak tahu apa yang harus dilakukan, tapi sudah ada banyak orang yang tadinya ingin masuk ke dalam kastil dan tidak jadi. Mereka menganggap Adrine dan wanita yang menangis itu adalah pasangan yang sedang bertengkar, Adrine cukup kesal dengan cara orang memandangnya.




"Terima kasih," bisik wanita tersebut.



Seketika setelah berterimakasih kepada Adrine, wanita itu mencium pipi Adrine dengan penuh kasih sayang dan kehangatan.



"A ... APA YANG BARUSAN KAU LAKUKAN?!!" Teriak Adrine.



Adrine salah tingkah dengan wajahnya yang memerah dan sangat malu, ia tak tahu apa tujuan wanita yang ada di depannya.



"Aku berterimakasih kepadamu, belum pernah ada yang menganggapku wanita atau bahkan manusia, pertama kali ini aku dianggap oleh orang lain sebagai seorang wanita," ujar wanita tersebut.



Adrine mulai memahami perasaan wanita itu, hal ini mengingatkannya pada saat pertama kali bertemu dengan Icha.



"Aku mungkin tak akan mengungkit masa lalumu, tapi karena kau telah mencium pipiku, kau harus ikut denganku!" Suruh Adrine.



"Baiklah, ... Umm ... Siapa namamu sayang?" Tanya wanita itu.



"Hiik ... Jangan panggil aku dengan panggilan itu! Lagipula aku sudah punya wanita yang kusukai, namaku Adrine, panggil saja nama panggilanku!" Suruh Adrine lagi dengan wajah yang memerah dan tak berani menatap langsung wajah wanita yang ada di belakangnya.



"Oh iya, namaku adalah Liona, salam kenal denganmu, Adrine," ujar Liona, wanita bandit yang baru saja menangis di hadapan Adrine.



"Oke oke, ayo masuk!"



Mereka pun masuk ke dalam Kastil Iblis.



\*\*\*



Setelah beberapa saat, Adrine pun selesai dengan beberapa bahan yang ada di dalam kastil, di tengah lapangan yang ada di dalam kastil, terdapat lingkaran formasi yang akan mengantarkan mereka ke dimensi kedua. Di samping mekanismenya yang sama dengan yang dilakukan oleh Loki sebelumnya, formasi sihir yang dapat mengantarkan ke dimensi lain itu di lingkari oleh sihir perlindungan yang sangat kuat.


__ADS_1


Adrine bisa masuk dengan menerjang badai yang tercipta dalam pelindung sihir yang hanya setebal kuku jari saja.



'Walaupun tipis, tapi seperti ada angin puyuh yang sangat kuat dan dipenuhi jutaan jarum yang tajam, untung saja aku kuat,' pikir Adrine.



Selain Adrine, ada juga yang dapat masuk, diantaranya adalah Liona, Shiny, Violet dan Viona serta beberapa orang yang tak dikenal lainnya. Terdapat lebih dari dua puluh orang yang bisa masuk ke sana, namun karena lingkaran formasinya yang terlalu kecil, jadi yang lainnya harus menunggu sampai lingkaran sihirnya benar-benar sudah memindahkan semuanya yang berdiri di sana.



**SRIIIING**!!



Adrine dan yang lain telah terpisah ke dalam dimensi lain dan kini ia mendapati ruangan yang mirip seperti gua melingkar. Gua yang ada di sana bercabang dan kondisi geologisnya yang berbeda-beda tiap cabangnya.



"Kemanapun kau memilih jalurnya, akan tetap menuju ke tempat yang sama, yaitu pintu masuk ke dalam dimensi yang ketiga," ujar Shin kecil yang ternyata juga ikut.



'Master Heyto pernah berkata kalau paling gelap dan dipenuhi oleh stalakmit stalaktit panas adalah tempat di mana kolam Sacred Liquid Fire berada,' pikir Adrine.



Adrine pun segera memilih cabang manakah yang sesuai dengan tujuannya. Memang terdapat salah satu cabang yang sama dengan apa yang tuju, dan ketika ia menuju ke cabang lorong tersebut, Liona mengikutinya. Sementara itu, Shiny pergi bersama Violet dan Viona, Adrine sudah bilang jika mereka harus berpisah ketika memasuki dimensi tersebut. Di samping itu, Adrine juga menanamkan bayangan Blood Demon ke bayangan Shiny untuk berjaga-jaga.



"Kau boleh ikut asalkan jangan mempersulit aku dan kalau ada apa yang aku inginkan, jangan berebut denganku, mengerti?!" Tekan Adrine.



Liona tunduk begitu saja dan mengangguk dengan patuh.



"Baik!"



Liona terus terlihat bahagia walaupun mulutnya ditutupi oleh masker.



Setelah itu, mereka menelusuri lorong gua yang sangat gelap tersebut dan Liona sempat beberapa kali terjatuh. Adrine sendiri kepalanya juga sering tersantuk oleh stalaktit yang menggantung.



Tak lama kemudian, mereka berdua menemukan sumber cahaya yang diyakini Adrine itu berasal dari kolam Sacred Liquid Fire.



Dan benar ketika Adrine dan Liona menuju ke sumber cahaya, terdapat kolam Sacred Liquid Fire yang ditetesi oleh Cairan Embun Emas yang biasanya berfungsi untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap racun dan serangan fisik.



Kolam terlihat sangat cair dan tidak mengental seperti lava, Sacred Liquid Fire benar-benar seperti air yang berkilauan warna putih dengan warna biru yang seperti tak bisa menyatu layaknya air dan minyak. Kolam Sacred Liquid Fire adalah kolam melingkar yang memiliki diameter sekita empat meter.



"Kau ambil saja Cairan Embun Emas yang menetes di langit-langit itu, aku akan menyerap Sacred Liquid Fire, jangan ganggu aku selagi berendam dan meminumnya!" Suruh Adrine lagi kepada Liona.



Liona patuh dan langsung mengangguk begitu saja, Adrine agak tak enak sendiri jika semuanya harus diambil olehnya.



"Kolam sebanyak ini juga tak mungkin aku habiskan sendiri, sisanya nanti juga masih banyak dan kau bisa ambil," ujar Adrine lagi.



Setelah itu, Adrine membuka bajunya dan bersiap untuk terjun ke dalam kolam. Liona sangat kagum dan terpesona dengan tubuh sixpack Adrine.



'Wow, indah sekali ... ' Pikir Liona.



**BYUUURR**!!



"AAAARRGHHHHH!!!" Teriak Adrine.



Ia berteriak sekeras-kerasnya karena suhunya yang sungguh luar biasa panas, sebelumnya ia pernah masuk ke dalam magma yang sangat panas, namun kali ini bahkan jauh lebih panas dari yang sebelumnya ia pernah rasakan. Adrine terus berjuang melawan panas yang sangat ekstrim tersebut, sesekali meminumnya dan menahan panas yang luar biasa di dalam perutnya, seolah semua organ dalamnya telah terbakar dengan api yang membara. Pernafasannya juga sudah mulai berat karena paru-parunya yang memanas pula, ketika hidungnya mengeluarkan nafas, seolah ia mengeluarkan api dan bulu hidungnya terbakar oleh panasnya udara yang dikeluarkan.



Liona sangat takut dan mulai menangis kembali di saat melihat Adrine yang tidak berdaya di dalam kolam, namun apa daya dirinya juga sudah diperintah untuk tidak mengganggu Adrine ketika dalam proses penyerapan, bahkan dirinya malah tak berani mengambil tetesan emas yang seharusnya ia ambil.



"Adrine ... Kau ... Tolong, jangan paksakan dirimu ... " Ucap lirih Liona.



\*\*\*



Dalam beberapa menit kemudian, Adrine telah menyesuaikan dirinya dengan api yang panas itu, otaknya yang juga ikut memanas seolah ditekan untuk tenang dan meregenerasi sel-sel Kembali secara paksa. Suhu panasnya masih sama, terus meluap-luap dan tidak turun sama sekali, akan tetapi Adrine tengah berusaha tenang dari panasnya Sacred Liquid Fire sambil sesekali ia meminumnya.



Melihat kondisi Adrine yang sekiranya sudah cukup tenang, Liona bisa dengan tenang pula menadahi tetesan Cairan Embun Emas dengan botol kaca yang dimilikinya.



Adrine masih terus berjuang melawan panasnya Sacred Liquid Fire yang membakar luar dalam setiap bagian tubuhnya.



'Aku ... Aku harus ... Harus lebih lagi!' Gumam Adrine dalam hati untuk menekankan diri sendiri agar terus memaksanya melampaui batasannya.

__ADS_1



**Bersambung**!!


__ADS_2