
Arpha mulai bergerak sedikit ketika mendengar suatu kalimat dari Adrine, apalagi diperintahkan untuk menyerang tanpa ampun membuatnya semakin bersemangat.
"Hahaha, apa kau menyuruh kami untuk menyerangmu secara brutal?"
Hanya dengan mendengar hal itu dari Arpha, Adrine sudah mengira kalau Arpha itu salah tanggap dengan perkataannya tadi. Sebenarnya Adrine bukan bermaksud mengatakan untuk menyerang secara brutal.
"Kau itu salah tafsir. Aku ini bukan bermaksud brutal, tapi menyerang sekuat tenaga dengan penuh konsentrasi."
Adrine menjelaskan kembali agar tidak ada kesalahpahaman dari perkataannya tadi. Namun Arpha masih terlihat seperti tidak peduli dengan apa yang dimaksudkannya.
"Itu sama saja. Memang apa bedanya?"
Lagi-lagi Arpha masih saja tidak mengerti dan Adrine sudah menduganya. Namun Etern dan David malah saling mengobrol, seperti sedang mendiskusikan sesuatu.
"Menyerang secara brutal itu berbeda dengan sekuat tenaga. Kalau brutal itu menyerang tanpa memikirkan sekitarnya atau bisa disebut membabi buta, tapi kalau sekuat tenaga itu masih bisa dikatakan sebagai konsisten. Kedua hal itu sangatlah berbeda."
Arpha masih saja seperti orang yang tidak peduli. Adrine juga sudah lelah menjelaskan panjang lebar, dan lagi ia tahu kalau Etern dan David sedang mendiskusikan tentang rencana melawan dirinya.
'Sejujurnya, aku merasa sedang dibodohi oleh 2 orang licik itu.' Pikir Adrine.
Ia malah menggerutu didalam hatinya. Dan setelah itu, Arpha mendekat kearah Etern dan David untuk menanyakan rencana yang barusan mereka diskusikan.
Setelah beberapa saat, mereka kembali pada posisi yang siap lagi. Arpha mempersiapkan lagi Formasi Mentalnya dan 2 yang lainnya bersedia didepannya. Tatapan semua orang kembali fokus lagi pada lawan yang ada didepan mereka, bahkan termasuk Adrine juga.
Aura dan energi yang sekarang terpancar lebih kuat dari sebelumnya. Namun Adrine tidak memancarkannya karena merasa tidak perlu.
Ketiga lawan Adrine melakukan kuda-kuda yang jauh lebih siap lagi. Arpha juga memancarkan energi mental yang sangat kuat, bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya.
'Karena Arpha menggunakan Formasi Mental, pasti mereka sudah memperkirakan hal ini sebelumnya. Arpha pasti dibelakang untuk memberi bantuan yang lebih kuat, namun kali ini berbeda dari yang tadi. Hehe, aku sudah tahu apa rencana kalian.' Pikir Adrine.
__ADS_1
Disaat itu Etern dan David tidak maju seperti tadi, mereka seperti sedang bersiap menunggu aba-aba dari Arpha. Tapi memang kalau Arpha sedang mempersiapkan sesuatu untuk melawan Adrine. Wajahnya terlihat lebih serius ketimbang disaat sedang berdebat dengan Adrine barusan.
"Bagaimana Arpha? Apa kau sudah siap?"
David menoleh kebelakang dan menanyakan persiapan yang dilakukan oleh Arpha.
"Sudah! Sekarang waktunya. Alam kelima, Transformasi Zirah Puncak Beku!!"
Alam keempat atau Es Penyejuk Aura yang dikeluarkan oleh Arpha masih aktif, dan kini ia menggunakan alam kelimanya dan tekniknya berupa transformasi.
'Sudah kuduga dia akan melakukannya. Mereka menunggu beberapa waktu untuk menjaganya disaat sedang mengumpulkan energi mental.' Pikir Adrine.
Aura dingin disekitar menjadi berkumpul pada satu titik, yakni Arpha. Namun aura dinginnya juga semakin kuat pula dan aura dingin itu membentuk sebuah zirah yang berwujud es biru ditubuh Arpha.
"Oh ya Adrine, aku mau tanya sesuatu. Apa boleh kami menggunakan zirah kami?"
Tiba-tiba Arpha menanyakan hal tersebut padahal sedang berada didalam tahap yang kritis. Tapi orang yang ditanyainya terlihat tenang dan hanya tersenyum saja.
Bukannya Adrine menghentikan ketiga temannya untuk menggunakan zirahnya, ia malah menyuruh mereka untuk melakukan apa saja demi bisa mengalahkan dirinya.
"Baiklah. Karena kau memperbolehkan kami untuk menggunakan zirah kami, maka kami akan menggunakannya. Aktivasi Zirah!"
Arpha pun memulai mengaktifkan zirahnya, diikuti juga oleh Etern dan David.
"Aktivasi Zirah!!"
"Aktivasi Zirah!!"
Zirah mereka pun muncul secara tiba-tiba dengan wujud yang berbeda-beda. Dan zirah milik Arpha adalah zirah yang sekarang dalam kondisi yang paling sempurna diantara ketiganya. Namun Arpha bukanlah yang memimpin dalam kekuatan, apalagi disaat ketiganya melakukan Aktivasi Zirah. Jika dalam kekuatan, David lah yang memimpin diantara mereka bertiga.
__ADS_1
"Maju!"
Arpha memberikan aba-aba untuk mulai menyerang Adrine. Dengan cepat mereka bertiga bergerak dan sekarang Arpha lah yang berlari didepan, bukan lagi dibelakang seperti tadi.
'Dengan penguatan yang masih sama seperti sebelumnya, sekarang ini tetap David lah yang paling kuat diantara mereka. Jadi yang harus aku khawatirkan sekarang adalah David.' Pikir Adrine.
Adrine sekarang sedang berusaha untuk menghindari serangan langsung dari David. Walaupun memang tidak terlalu kuat, namun Adrine sekarang ini sedang bermain tangkap dan lari.
Dan disaat jarak antara Arpha dengan Adrine sudah mulai cukup dekat, Arpha menghantam tanah yang ada dibawahnya dan memunculkan banyak gundukan es tajam yang keluar dan dengan cepat mengarah ke Adrine.
Adrine dengan mudah menghindari serangan dari Arpha. Tapi mereka bertiga seperti sudah menduga hal tersebut dan mereka sama sekali tidak merasa terkejut maupun panik ketika Adrine dengan mudahnya menghindari serangan. Seakan-akan mereka memang sudah merencanakan hal tersebut.
'Bagus. Serangan mereka sepertinya sudah terkoordinasi dengan baik dan lebih terencana. Jika terus seperti ini, mereka akan berkembang lebih cepat dan bisa memenangkan suatu pertandingan yang tak adil hanya dengan pengalaman bertarung mereka.' Pikir Adrine.
Sama seperti sebelumnya, David berada disisi kanan Adrine dan Etern berada dari arah yang satunya lagi.
David tidak menggunakan kekuatan support miliknya karena pada dasarnya hal itu adalah tabu bagi setiap kultivator tipe support. Akan ada bentrokan diantara kekuatan support yang ada kecuali jika ada sesuatu yang bisa membuat kekuatan support tersebut tidak bentrok satu sama lain.
Etern mengeluarkan sebuah tombak yang berwarna merah gelap dan juga terdapat simbol petir pada tombak tersebut. Tapi tombak itu bukan artifak jiwa dari mata jiwa milik Etern, tombak itu adalah tombak temuan yang didapat olehnya dan cocok untuknya. Artifak jiwa milik Etern itu lain dan juga tidak berupa sebuah tombak.
'Eh? Itu artifak jiwa milik Etern? Sepertinya bukan.' Pikir Adrine.
Walaupun pemikiran Adrine itu benar, namun ia merasakan kalau artifak itu sangat kuat. Etern mengalirkan elemental petir pada tombak tersebut dan petirnya terkonveksi menjadi lebih kuat disaat ada pada tombaknya.
David masih menyerang dengan serangan yang sama, namun dengan kekuatan yang lebih kuat dari sebelumnya. Ketiganya sudah berada sangat dekat dengan Adrine.
Kini Arpha berada digaris yang lebih depan dibandingkan dengan kedua temannya, David bergerak lebih menjauh untuk mengecoh pandangan Adrine, dan Arpha menyerang tapat dari depan Adrine. Dan juga gerakan ini terlihat sudah terencana oleh mereka bertiga.
Etern menggenggam tombaknya dengan erat, David sudah mengepalkan tinjunya dengan sangat rapat, dan begitu juga dengan Arpha. Ketika mereka tepat berada didepan mata Adrine...
__ADS_1
BLAAAM!! PHZZZTT!!
Bersambung!!