Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
"Lain Waktu!"


__ADS_3

Adrine menghela nafas yang sangat panjang. Awan merah yang membumbung tinggi dan membentuk simbol spiral itu seperti telah mengumumkan tanggal kematian Adrine yang terpampang jelas di batu nisan.


"Hei, rubah! Apakah kematian kita akan seperti ini?"


Rubah Bermata Tiga menoleh ke arah Adrine, pertanyaan yang barusan diajukan benar-benar tak pandang situasi.


"Tidak bagimu... Iya bagiku... Kau akan di selamatkan oleh seseorang... Master setelah ini..."


Adrine menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Aku memiliki waktu untuk bisa kembali ke dunia ku, dan itu membutuhkan setidaknya 1 jam untuk membentuk sebuah portal pengembalian. Apabila aku dikeluarkan secara paksa, akan ada kemungkinan kecil aku hancur saat benar-benar keluar."


Rubah Bermata Tiga menatap aneh kepada Adrine, ucapannya barusan seperti tak ada niat untuk hidup, namun ekspresi Adrine menunjukkan bahwa ia memang tak takut menghadapi kematian dan terus dingin di hadapan kematian.


"Apa kau... Bercanda? Kemungkinan kecil yang barusan... Kau bicarakan itu adalah... 98,5 persen kau binasa... Dan apakah kau sudah punya pacar?"


"Itu termasuk kecil jika dihadapkan dengan kematian dan kenapa kau menanyakan aku sudah punya pacar atau belum? Itu urusanku, memang apa manfaat berpacaran? Lagipula, kau ini hewan spirit, bagaimana kau bisa tahu tentang pacaran?"


Adrine membalas tatapan aneh dari Rubah Bermata Tiga dengan tatapan anehnya, pertanyaan yang barusan terdengar memanglah aneh di telinga Adrine.


"Aku hanya pernah mendengar saja... Dan sepertinya kau tak punya pacar... Jadi tak akan ada yang menangisi mu... Ketika kau benar-benar... MATI!!"


Ucapan Rubah Bermata Tiga membuat bibir Adrine tersenyum halus.


"Lupakan saja pembahasan aneh ini, lagipula kita ini musuh, kenapa kau juga harus tanya soal pacar? Tidak penting sekali."


Adrine merasa aneh jika hewan spirit menanyakan tentang pacar, ia tahu pacaran adalah hal umum, namun ia tak tahu apakah itu juga umum di kalangan hewan spirit.


"Ya... Setidaknya kita sudah cukup... Bersenang-senang."


Rubah Bermata Tiga tersenyum melihat tatapan datar Adrine yang tertuju pada langit gelap. Menurutnya langit gelap yang dipenuhi oleh awan merah itu terlihat menyeramkan, akan tetapi Adrine seperti tidak terlalu memperdulikan apakah itu terlalu mengerikan atau tidak, justru Adrine terlihat seperti penasaran dengan apa yang akan terjadi.


"Sepertinya aku tidak akan ikut pelatihan Ascended Sword dan juga pertandingannya pada beberapa bulan berikutnya."


Pelatihan Ascended Sword adalah pelatihan pedang untuk para kultivator pedang. Ascended Sword terbagi menjadi 3 kemampuan pedang, yaitu Ascending, Flowing, dan Shadow. Ketiganya adalah kemampuan yang saling terikat dan terhubung satu sama lain.


"Siapa bilang kau akan mati di sini?"


Tiba-tiba muncul seseorang di depan Adrine. Orang itu melayang di udara dan memiliki fisik orang tua, berjenggot putih dan berambut panjang nan putih.


"Anak muda berbakat sepertimu tak akan kubiarkan mati di sini, kau masih belum siap untuk menghadap Tuhan sekarang ini."


Adrine memang tak mengenali orang tua tersebut, namun seolah-olah orang tua itu mengenali Adrine.


Namun kemampuan yang dirasakan oleh Adrine sangatlah kuat, tapi berasal dari Naga Surga Terkutuk yang terbentang jauh darinya, hanya saja Adrine tak dapat merasakan kemampuan orang tua itu.


"Siapa kau? Apa aku pernah bertemu denganmu?"


Orang tua itu hanya diam dan terus memandangi langit merah.


"Sudahlah... Lantas bagaimana caranya aku keluar dari sini? Bukankah katamu aku bisa keluar dengan selamat?"


Manula itu menganggukkan kepalanya dan mengangkat tangan kirinya, lalu ia menunjuk ke belakang Adrine.


"Silahkan saja keluar."


Adrine menoleh ke belakang dan melihat portal keluarnya telah tersedia.


"Terima kasih, aku tak perlu mengkhawatirkan mu karena aku tahu kau itu lebih kuat."


"Tidak, aku hanya berusaha menekannya saja, aku tidak terlalu kuat untuk bisa mengalahkan naga jelek itu."


"Terserah kau saja, jaga dirimu baik-baik dan kau juga rubah, jaga baik-baik semua anakmu."


Adrine pun keluar dari tempat tersebut dan Rubah Bermata Tiga tersenyum kembali kepada Adrine, ia juga segera bergegas menuju ke tempat di mana anaknya disembunyikan.


"Aku tak mengira kau benar-benar tak mengenaliku, Adrine."


Di saat orang berambut putih itu menoleh, wajahnya diperlihatkan dan dia adalah Shin kecil.


"Aku tak mungkin berhasil melawannya, tapi aku bisa menahannya untuk sementara agar megalopolis Zeronia yang kau tempati ini tidak hancur."

__ADS_1


Sahabat kecil Adrine pun berbalik dan memandangi langit kembali, menunggu kehadiran sang naga. Petir menyambar di mana-mana dan Shin kecil hanya memandangnya dengan tatapan yang biasa saja.


SET!!


"Oh? Tak ku sangka kau punya rival di sini?"


Tiba-tiba lelaki tua itu menyadari adanya hewan spirit kuat yang lain, kemampuannya setar dengan Naga Surga Terkutuk. Jika dari arah sang naga, Shin kecil berada di arah selatan darinya, sementara hewan spirit yang disadari olehnya berada di timur dari sang naga.


Kehadiran sosok baru itu ternyata menimbulkan banyak dampak, seluruh hutan rimbun yang ada di sekitarnya langsung mati dan lenyap, seolah energi kehidupan mereka terhisap oleh sesuatu.


"Aku di sini hanya ingin menahan Naga Surga Terkutuk, kenapa si manusia jadi-jadian ini muncul?"


Manusia jadi-jadian yang di maksud oleh Shin kecil barusan adalah hewan iblis, hewan iblis ini sangat kuat bahkan melampaui hewan iblis yang berada di sebalik bayangan Adrine. Hewan iblis ini mampu menyerap kehidupan, dia adalah...


"Jadi kau memutuskan untuk keluar, Deadly Devouring Demon?"


Deadly Devouring Demon, hewan iblis pembantai kehidupan, di awal kehidupannya telah dilahirkan sebagai hewan spirit tingkat Yin-Yang peringkat 4, setara dengan Naga Surga Terkutuk yang terdapat di sejauh mata memandangnya.


"Sial, padahal kota Fierry ini hanya terdapat 1 kultivator tingkat Leluhur, kenapa 2 hewan spirit tingkat Yin-Yang keluar lagi?"


Master Heyto merasa resah dengan keadaan yang ada di dalam portal, Adrine juga telah keluar dan menceritakan bagaimana ia bisa keluar dari sana.


"Sepertinya orang yang menolongku tidak bisa tertangkap kamera, dia bukan kultivator biasa."


Shin kecil membuat dirinya tak kasat mata dari kamera buatan manusia, kemampuannya sangat hebat, namun energinya yang sangat kuat tidak bisa membantah kalau terdeteksi oleh detektor energi. Master Heyto yang mendengar cerita dari Adrine menjadi paham, awalnya ia sendiri bingung karena terdapat energi yang begitu besar berada di dekat Adrine ketika di dalam dunia buatan.


"Ya... Apa bisa aku menahan keduanya? Kalau tidak sih, kota yang ditempati Adrine ini bakal bahaya."


Shin kecil menghela nafas yang sembari memandang 2 aura kematian di hadapannya yang saling berseteru.


"Kalau kau sendiri mana mungkin bisa, pendek."


Terdengar suara yang tiba-tiba muncul dari belakang Shin kecil.


"Oh? Kau juga mati saat itu?"


Sebelumnya Shin kecil merasa tersinggung oleh ucapan barusan, jadi ia kembali menyinggung orang yang di belakangnya itu dan ia juga tampak mengenalinya.


"Intinya kita sama, keadaan kita pada masa itu masih setengah dewa, tapi musuhku punya kemampuan dewa, kita mati dalam keadaan yang sama."


Orang yang diajak oleh Shin kecil itu telah berada di samping Shin kecil. Orang itu memang nampak lebih tinggi dibandingkan dengan badan Shin kecil pada saat itu.


"Memangnya Penekanan Jiwa-mu sudah sampai Sempurna?"


Lalu Shin kecil menjulurkan tangannya dan menunjukkan 3 jarinya.


"Yap, Sempurna peringkat 3."


Orang itu nampak terkejut mendengar perkataan Shin kecil, namun ekspresinya berganti kembali seperti semula.


"Oke, aku kalah. Sekarang kita harus mengurus yang lebih penting lagi, pendek, lihat itu, mereka semakin menjadi-jadi."


Kemudian Shin kecil melihat kembali ke arah awan hitam.


"Jika mereka bisa bangkit sepenuhnya, kota yang ada di luar akan hancur."


Shin kecil sendiri tak bisa memprediksi apakah ia dan temannya itu bisa mengalahkan kedua hewan spirit itu.


"Aku ingin tahu, kau sekarang sudah setara dengan tingkat apa jika dalam perwujudan roh?"


Shin kecil menoleh ke arah temannya itu.


"Setidaknya di tingkat Kesempurnaan tahap Penciptaan."


"Lambat sekali. Ya, walaupun kita sama tapi setidaknya kau harus lebih cepat dariku."


Shin kecil hanya tersenyum.


"Sekarang ini aku bisa saja sudah mencapai tingkat Misteri, hanya saja aku tidak terlalu berniat meningkatnya."


Temannya itu kembali ke ekspresi yang sebelumnya.

__ADS_1


"Terserah kau saja."


Mereka terdiam sejenak sembari memandangi langit hitam dan sesekali mengalihkan pandangannya ke arah hutan yang mulai mati.


"Sekarang waktunya, kita hentikan keduanya sebelum mereka bangkit sepenuhnya."


Teman Shin kecil itu langsung bersemangat terlebih dahulu.


"Baiklah, aku akan mengurus Deadly Devouring Demon, kau urus saja Naga Surga Terkutuk itu."


"Haha, sepertinya kau memberiku tugas yang mudah."


Shin kecil menatap aneh ke arah temannya itu.


"Shuo... Aneh sekali kau bilang ini mudah, memang perwujudan kita kali ini membentuk kemampuan yang hampir setara dengan 2 hewan spirit itu, tapi jangan anggap semua ini mudah, sekarang ini kita sedang dalam keadaan Membakar Jiwa, di satu sisi kita perkuat di sisi lain kemampuan kita akan menurun setelah pemakainya tergantung jangka waktunya."


"Ya iya, kau ini memang tukang ceramah, kau kira aku tak tahu begitu? Sudahlah, ayo kita segera bergegas."


Teman Shin kecil itu bernama Shuo seperti apa yang dikatakan oleh Shin kecil sendiri.


"Aku hanya mengingatkan saja, bagus kalau kau tahu itu."


ZRAAAST!!


Keduanya langsung bergegas pergi setelah saling bertatapan dan mengangguk satu sama lain.


Bersamaan dengan Adrine yang telah keluar dari portal, ia mendapati master Heyto dan seorang lelaki lain yang tengah menatap layar monitor besar dengan sangat antusias.


"Hoi!"


Adrine pun memanggil mereka berdua dengan tangan kirinya yang menutupi dahinya. Itu karena mata tengahnya masih belum ternonaktifkan.


Master Heyto dan Reki pun menoleh ke arah portal dan melihat Adrine sudah keluar. Portal penghubung juga terlihat aktif dan bersinar, namun kondisi Adrine terlihat begitu buruk dan kelelahan.


Master Heyto langsung bergegas menghampiri Adrine.


"Adrine? Kau sudah keluar? Bagaimana... Bisa?"


Master Heyto tak percaya jika Adrine bisa keluar dengan paksa dari dunia portal, namun kekhawatiran lekas hilang karena sudah mengetahui Adrine yang baik-baik saja.


"Aku akan pulang saja, aku lelah dan sedang kehabisan tenaga. Jika ingin tanya sesuatu, besok saja atau lain waktu."


Adrine terus menutupi dahinya dan berjalan menuju pintu keluar.


"Apa kau pusing? Aku bisa mengantarmu jika kau mau?"


Tiba-tiba Reki menawarkan bantuan kepada Adrine, namun terlihat jika situasinya yang akan menjadi begitu rumit bagi Adrine jika ia menerima bantuan dari Reki.


"Tidak perlu, lagipula aku tidak mengenalmu, aku bisa pulang sendiri."


Jawaban Adrine terdengar begitu dingin ketika melakukan penolakan dan ia pun langsung berjalan keluar bergegas untuk kembali ke tempat tinggalnya. Namun Reki yang masih berada di samping master Heyto nampak kesal dengan ucapan dingin Adrine barusan.


"Dia seperti meremehkan aku, padahal aku adalah seniornya."


Master Heyto yang melihatnya seperti hanya menanggapinya dengan biasa saja.


"Kau sendiri memang sudah biasa diremehkan, jika bisa berubah, buktikan jika itu benar."


Setelah itu pun master Heyto langsung pergi ke ruangan lain dan meninggalkan Reki di ruangan pusat laboratorium sendirian.


'Master Heyto meremehkan ku juga, aku tidak terima ini. Ini gara-gara bocah itu.' Pikir Reki.


"Adrine, itu namamu bukan? Aku akan menghancurkan mu di lain waktu."


Lantas Reki pun berjalan keluar dari laboratorium dan segera kembali juga, sementara itu master Heyto masih terpikirkan oleh sesuatu. Ia duduk di atas sofa yang ada di suatu ruangan istirahat yang terdapat di dalam laboratorium.


'Barusan yang tadi itu... Siapa yang menyelamatkan Adrine?' Pikir master Heyto.


Master Heyto juga teringat jika dia sempat melihat adanya 2 energi yang begitu besar dan terdeteksi oleh detektor energi yang terdapat di dalam dunia portal. Energi misterius itu juga yang membuat master Heyto berpikir keras dan ia menghubungkan situasinya, dari Adrine yang tiba-tiba keluar dan munculnya 2 kekuatan besar lain.


"Ya! Sepertinya aku harus menanyakan ini langsung kepada Adrine di lain waktu."

__ADS_1


Master Heyto pun segera berdiri dan kembali ke ruang monitoring untuk melihat apa yang terjadi di dalam dunia portal, sementara Adrine juga sudah sampai di tempat tinggalnya yang tak terlalu jauh dari laboratorium pusat.


Bersambung!!


__ADS_2