Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Sesampainya di Organisasi


__ADS_3

Sekarang Adrine dikepung oleh dua kubu yang berbeda. Dia benar-benar terpojok pada saat ini, dan sekarang dirinya lah yang akan memutuskan. Reina dan Naithi tak memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan perlawanan apalagi anak kecil yang bersama dengannya, tetapi Adrine dapat sedikit memberikan aksi untuk menekan balik.


'Aku benar-benar sial, tenagaku tak cukup untuk bisa melawan balik, meskipun aku punya Tongkat Energi Selestial, ' batin pria itu.


Dari pihak Sekte Mata Emas dan penjahat yang membalaskan dendam kawan-kawannya, mereka tak ada yang bertanya apa alasan mengepung Adrine. Tatapan mereka benar-benar serasi dan memiliki pemikiran yang sama, hanya perlu membunuh pria yang bersama dengan dua gadis itu dan anak kecil itu, setelah itu tugas mereka selesai dan berpisah begitu saja.


"Haha, pergilah jika kau bisa!" ujar salah seorang pria dari Sekte Mata Emas dengan nada yang sombong.


Adrine hanya terdiam saja pada saat itu, dia terlihat seperti tak memiliki ide apapun untuk melarikan diri pada sekarang ini. Orang-orang yang mengepungnya tersenyum puas sembari berjalan mendekat ke arahnya.


"Tak peduli apapun masalah kalian, yang pasti akan kubunuh kau!" ujar orang yang matanya memiliki bekas luka sayatan di pipinya. Orang itu berasal dari faksi yang sebelumnya menghambat Adrine dan Reina masuk ke dalam Prefektur Yamura.


WUUUSH!!


Reina melemparkan jarum ke arah orang-orang yang menjaga gerbang. Tetapi mereka dapat menghindari serangan itu dengan sangat mudah.


"Haha, seranganmu terlalu lambat, gadis kecil."


Ketika orang-orang yang mengepungnya itu mulai begitu dekat, Adrine tersenyum. Dia seperti mendapatkan ide brilian yang dapat membawanya keluar dari kepungan.


"Teknik Pengunci Ruang, Pembatas Dunia Bawah!"


Adrine dan 3 orang yang bersamanya itu sekarang berada dalam lingkup pertahanan yang kuat. Sebuah ruang persegi yang membentang dari bawah tanah dengan lingkup yang lebih sempit dari penggunaan sebelumnya. Itu karena tak ada pilihan lain lagi bagi Adrine. Mereka tak lagi bisa ditangkap oleh orang di luar, tetapi apakah mereka akan di sana untuk selamanya?


"Adrine! Kita malah semakin terjebak di dalam sini, apa yang kau pikirkan?!" Bentak Reina. Tetapi gadis ini sadar akan suatu hal yang terjadi di bawah kakinya. 'Ini ... Formasi yang digunakan untuk teleportasi sebelumnya,' batinnya.


Gadis itu menatap kembali Adrine dengan penuh pertanyaan di kepalanya. Sementara gadis yang satunya lagi masih takut dengan apa yang ada di luar sebelumnya.


Beberapa saat kemudian, formasinya telah melingkar sepenuhnya. Adrine membuka teknik pembatas ruang miliknya.


"ITU DIA! TANGKAP MEREKA SEKARANG!"


Tetapi pria yang bersama dengan dua orang gadis dan satu anak lelaki itu bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Ekspresinya mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Hanya wanita yang memeluk erat anak kecil di samping kirinya yang terlihat ketakutan setengah mati.


Dan gadis yang satunya lagi hanya tersenyum dengan perasaan senang. "Sampai jumpa lagi," ucapnya seraya melambaikan tangan.


WUUUSH!!


Adrine dan yang lainnya pun tiba-tiba diselimuti oleh cahaya yang sangat terang dan menghilang. Orang-orang yang melihatnya merasa terheran-heran.


"Sialan! Mereka berhasil kabur!"


Setelah itu, dua kubu yang mengepung Adrine sebelumnya saling menyalahkan satu sama lain. Perseteruan tak dapat dielakkan dan mereka malah saling bertarung satu sama lain.


Sementara itu di tempat lain, Adrine, Reina, dan Naithi beserta anak kecil yang bersamanya itu muncul di tempat yang sangat jauh dari perbatasan. Mereka merasa lega karena dapat kabur dengan lancar.


"Ugh ... Itu hampir saja," ujar Reina sembari menghela nafas dan mengusap keringat di dahinya.


Tiba-tiba saja gadis ini teringat akan sesuatu, "Adrine, siapa yang memasang penandanya?" tanyanya.


"Purgatory Demon!"


SWOOOSH!!


Tiba-tiba muncul api yang berkobar di atas tanah yang membeku, ukurannya begitu besar dan membumbung tinggi. Itu mengejutkan dua gadis dan anak kecil yang bersama Adrine itu. Muncul sesosok hewan iblis dari api tersebut.

__ADS_1


"Ke ... Kenapa ada hewan iblis di sini?" Reina terkejut dan takut secara bersamaan. Begitupun dengan Naithi dan anak kecil yang bersamanya.


"Tenanglah, dia ada di bawah kendaliku. Lagipula dia lah yang memasang penandanya," ujar Adrine.


Kini keterkejutan Reina berubah pada lelaki di sampingnya. Dia begitu heran mendengar kalimat barusan. "Tunggu dulu! Apa dia prajurit roh?" tanyanya lagi.


Adrine mengangguk, "Iya."


Reina benar-benar kagum kepadanya, tak disangka ada seseorang yang mempunyai kemampuan untuk memanggil makhluk roh yang telah mati tetapi cara bertarungnya begitu dahsyat dan memiliki fisik yang sangat lentur dan stabil.


"Kau punya kartu truf seperti itu, dengan itu kau bisa kabur dengan mudah. Aku tak membayangkan kalau kau punya lebih banyak lagi, seolah kau adalah panglima perang prajurit roh," terang Reina yang masih terus merasa kagum.


Adrine melirik ke arahnya, "Apa maksudmu seperti ini?"


Bayangannya mencuat dari tanah dan menghancurkan permukaannya, membentuk tubuh spiritual yang begitu beragam dengan jenis yang berbeda-beda.


"Ini ... "


Mata Reina terbelalak lebar melihatnya, mulutnya tak bisa lagi berkata-kata. Tujuh hewan iblis yang diselimuti bayangan itu mengelilinginya seakan sedang menunjukkan keberadaan yang sangat kuat.


'Adrine ... Berapa kali kau lolos dari kematian?' batinnya.


Adrine menyimpan kembali para prajuritnya dan mereka melanjutkan perjalanannya kembali.


Lantas mereka bergegas kembali ke organisasi. Sebelum itu, Adrine menyiapkan sebuah rumah dan ia bangun selama kurang lebih setengah hari bersama dengan para pasukan bayangannya. Di sanalah tempat tinggal gadis cantik yang bersama dengan anak kecil itu. Tempat itu juga tak begitu jauh dari organisasi, tetapi cukup tersembunyi karena berada di wilayah kaki gunung yang mana itu banyak terdapat goa dan hutan lebat yang menyembunyikannya.


Adrine juga menutupi rumah tersebut dengan dedaunan dan akar-akar yang merambat dari atas pepohonan. Rumah tersebut juga ditutupi oleh gumpalan-gumpalan salju.


Setelah itu dia meninggalkan Naithi dan anak kecil yang bersamanya itu. Dikatakan anak kecil itu bernama Noah dan adik dari gadis tersebut.


"Adrine, apa kau menyukainya?" tanya Reina di tengah jalan tanpa menatap orang yang diajaknya bicara.


Pria yang diajak bicara itu menggeleng, " Aku hanya memanfaatkannya saja."


Lantas mereka hanya saling diam saja sembari bergegeas kembali ke organisasi. Dan ketika mereka sampai, Reina mengantarkan Adrine sekaligus menjelaskan bagaimana caranya melaporkan misi yang telah diselesaikan.


Kemudian mereka kembali ke kamar dan berbincang. Mereka juga makan makanan yang ada di dalam kulkas.


"Apa gunanya poin kontribusi?" tanya Adrine.


Reina menjawab, "Kau bisa menukarkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhanmu. Kau juga bisa menukarkannya dengan artifak, harganya begitu mahal, kau harus mengumpulkan hingga puluhan ribu poin agar bisa menukarkan satu buah saja."


Tak lama setelah itu, gadis ini duduk mendekati Adrine dan mendekatkan wajahnya. "Apa kau tahu Adrine, aku dulu sebenarnya mempunyai seorang kakak."


Tiba-tiba saja Reina menceritakan tentang masa lalunya. Adrine sebenarnya hendak menolak untuk mendengarkannya, tetapi dia paham, ketika seorang gadis mulai bercerita tentang sesuatu yang mendalam dalam hidupnya, maka gadis itu sedang membutuhkan perhatian.


Reina masih melanjutkan ceritanya.


"Kami lahir dalam keadaan yang begitu buruk dan penuh tekanan. Kedua orang tua kami dililit hutang yang amat besar, tanah kelahiranku sendiri berada di Benua Langit. Kedua orang tau kami dibunuh oleh seseorang yang telah diperintahkan, aku dan kakakku berpisah dan saling menghidupi diri sendiri tepat setelah aku mendapatkan Divine Cube. Umur kami hanya selisih dua tahun saja."


Ceritanya masih begitu panjang, kota di mana gadis tersebut dilahirkan dikatakan telah menjadi reruntuhan semenjak terjadinya perselisihan antar ahli di tingkat Misteri. Ketika Reina masih kecil dan juga masih hidup bersama sang kakaknya, mereka juga sering mendapat cacian dan semacamnya. Mereka dijauhi, dihina, direndahkan, bahkan sampai dilukai pada masa mereka masih kecil.


"Apa kau tahu kabar kakakmu sekarang ini?" tanya Adrine.


Reina menggeleng, "Aku tak tahu tentangnya setelah kami berpisah. Aku juga pernah mendapat kabar bahwa dia selalu menjadi perampok atau apalah itu untuk menghidupi dirinya sendiri. Tanggung jawab untuk menghidupiku terlalu besar baginya, dia tak sanggup untuk melakukannya, begitulah katanya."

__ADS_1


Adrine tiba-tiba saja teringat oleh sesuatu, suatu kisah yang hampir mirip dengan apa yang diceritakan oleh Reina, hanya saja lupa di mana dia mendengarkannya dan siapa yang menceritakannya.


"Lalu racun di tubuhmu itu?" tanyanya.


Reina hanya tersenyum sembari menjawab, "Itu kudapat karena sempat melukai alkemis yang ahli dalam racun dan kutukan. Aku membunuhnya karena kesal, tapi racun itu sudah menyebar di lenganku."


Lantas gadis ini terdiam sejenak, Adrine mulai sedikit memahaminya.


"Adrine, apa kau tahu lagi? Aku dulu sempat bersumpah jika ada orang yang menyelamatkanku, aku ingin apabila dia perempuan maka dia akan kujadikan saudaraku, dan apabila dia seorang pria akan kujadikan dia suamiku," begitulah ungkap perasaan yang selama ini Reina pendam sejak dia disembuhkan oleh Adrine.


"Tunggu! Apa maksudmu itu aku?!" lelaki muda ini terkejut mendengarnya. Dia begitu malu jika mendengar sesuatu yang berhubungan dengan cinta. "Ah ... Kumohon jangan seperti itu, aku sudah ada wanita yang kusukai."


Karena menurut Adrine sudah terlanjur malu dan terpojok, ia memperlihatkan foto seorang gadis di layar hologram yang melayang di tangan kanannya.


Reina sedikit tersentak ketika melihatnya, "Dia?"


Adrine terkejut, gadis di sampingnya itu terlihat seolah mengenali seseorang yang ada di dalam foto. "Apa kau mengenalnya?" tanyanya.


Gadis itu mengangguk, Adrine kini penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


"Akan kuceritakan suatu hal padamu," ujar Reina.


Gadis tersebut kemudian bercerita panjang lebar tentang seorang gadis yang ada pada gambar yang diperlihatkan oleh Adrine. Tak disangka ceritanya membuat pria yang mendengarkannya itu tercengang.


"Apa kau yakin dengan kejadian itu?" tanya Adrine dengan tatapan tak percaya.


Reina pun menghela nafas, "Memangnya apa untungnya aku berbohong," ujarnya.


Pria di sampingnya itu kemudian menunduk dan menghilangkan gambarnya. Tak berselang lama, ia pun kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum hangat. Reina benar-benar terpesona dengan senyumannya itu.


"Indah sekali." Gadis itu tak sadar bahwa mulutnya tiba-tiba saja berbicara.


"Apanya?" tanya Adrine yang tak peka.


Gadis di sebelahnya itu kemudian menggeleng, "Ah, tidak tidak, lupakan itu!"


TOK TOK TOK!!


Terdengar suara ketukan dari pintu, ada seseorang di luar yang ingin menemui Adrine ataupun Reina.


Adrine berdiri dan membuka pintunya. Ketika pintu terbuka, ada seorang gadis yang tak asing lagi di matanya itu.


"Liona? Kenapa kau mencariku?" tanyanya.


Gadis di depannya itu menjawab, "Tidak ada apa-apa, aku tadi dengar kau baru saja kembali dari misimu. Apa kau baik-baik saja?" tanyanya balik.


Adrine mengangguk dan menjawab bahwa dirinya baik-baik saja.


"Syukurlah."


Tiba-tiba mata Liona tertuju pada seorang gadis yang tengah duduk di atas ranjang di belakangnya Adrine. Dan gadis yang dilihatnya itu juga tak sengaja melihatnya, sehingga mereka saling membalas tatapan mata.


"Kau ... "


S1 Tamat!!

__ADS_1


__ADS_2