Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Ujian Kelulusan (13)


__ADS_3

Sebuah potongan tangan terlempar ditengah-tengah gerombolan orang, darah mengucur dari seonggok daging tersebut. Terlihat cukup samar karena hanya ilustrasi maya yang tercipta oleh teknologi simulasi, namun terlihat sangat nyata.


Segerombolan orang disana pun terkejut, tak tahu apa yang ingin dikatakan mereka, hanya saja mereka sedikit terkejut melihat orang yang berdiri disamping potongan tangan tersebut. Mata mereka terbuka lebar melihat orang tersebut dan juga melihat tangan yang terpotong disamping orang yang mereka lihat.


"BERANINYA KAU MEMOTONG TANGANKU... APA KAU TAK TAKUT MATI DAN POINT MILIKMU KAMI AMBIL?"


Orang yang berteriak keras itu adalah Alvian, tangan kanannya terpotong oleh tebasan pedang yang dipegang oleh orang yang berdiri disamping potongan tangannya, orang itu adalah Adrine.


Dengan seketika Alvian langsung memegang bekas potongan tangannya karena tak ingin kehilangan banyak darah dan membuatnya mati, lalu ia harus menggunakan point respawn dan harus mengurangi 3 point dari total point miliknya.


Namun ketika Adrine dibentak oleh Alvian seperti itu, Adrine hanya melirik kearah Alvian, arah hadapannya disaat ia berdiri sekarang membelakangi Alvian. Adrine tak bersuara apapun dan hanya diam, namun orang yang lain merasa terintimidasi oleh kemunculan Adrine yang secara tiba-tiba dan juga langsung memutuskan 1 tangan milik salah seorang disana, yang tidak salah lagi adalah Alvian.


Etern juga dibelakangi oleh Adrine, dan sesaat setelah itu Adrine pun berbalik dan menampakkan wajahnya kepada Alvian dan Etern.


"Eh?"


Etern terkejut dan tersenyum senang melihat temannya itu datang, dirinya merasa terselamatkan dengan datangnya Adrine disana.


"KAU..."


Alvian sangat tak menyangka akan datangnya Adrine disana, memang berita tentang Adrine yang sudah kembali keperguruan telah menyebar kemana-mana, namun Alvian tak menyangka pertemuannya kembali dengan Adrine akan seperti ini.


Awalnya Adrine hanya berbalik dan kepalanya menunduk, wajahnya hanya memandangi tanah pijakannya. Lalu Adrine menatap kearah Alvian, ia pun tersenyum tipis namun sangat mengerikan, seolah senyuman itu adalah senyuman dari iblis.


"Eh?"


Alvian sedikit terkejut melihat senyuman Adrine, namun didalam hatinya tercipta secuil ketakutan ketika melihat senyuman tadi.


'Tak tahu kenapa senyuman itu seperti... Iblis!' Pikir Alvian.


"AAAARRGHHH!!"


Sesaat rasa sakit pada tangan Alvian kembali muncul, perih dan cukup nyeri ia rasakan. Rasanya terasa cukup nyata ketika darahnya tersebut kembali menetes. Awalnya Alvian tak merasa rasa sakitnya ketika dipotong karena tebasan Adrine begitu cepat dan disaat itupun Adrine sama sekali tidak serius dalam menggunakan pedangnya, jadi serangannya itu tidak menimbulkan rasa sakit, dan kini rasa sakitnya malah muncul walau hanya sekedar simulasi maya saja.


'Kenapa rasanya seperti sangat nyata? Apa efeknya juga sama pada tubuhku diluar sana?' Pikir Alvian.


Ketakutannya telah tercampur oleh rasa cemas yang cukup berlebihan, padahal rasa sakit yang dirasakannya itu masih bersifat maya dan tidak menimbulkan efek pada fisik aslinya. Hanya saja Adrine memotong tangan kanannya dan hal tersebut adalah kerusakan yang cukup fatal dari serangan Adrine, sehingga rasa sakit tersebut muncul. Jikalau serangan Adrine kecil dan kerusakan yang ditimbulkannya hanya berupa goresan dan sedikit berdarah saja, maka Alvian tidak merasakan rasa sakit sama sekali.


"Hei kau, siapa kau? Apa yang kau mau disini?"


Pebi pun angkat bicara dan langsung mengintrogasi Adrine ditempat, walaupun ia kesal dengan Alvian namun kedatangan Adrine yang secara tiba-tiba dan bersifat agak brutal itu membuatnya menjadi sedikit kesal.


Terlihat sangat dingin dan sangat pendiam, Adrine sama sekali tidak menanggapi pertanyaan dari Pebi. Bahkan melirik Pebi pun Adrine sepertinya sangat tak ingin untuk melihatnya.


Lalu Adrine menoleh kearah Etern.


"Ayo kita pergi dari sini Etern."


"Baiklah, mari kita pergi dari sini."


Adrine sama sekali tidak menanggapi pertanyaan dari Pebi, ia hanya langsung mengajak Etern pergi dan tidak memperhatikan orang lain disekitarnya. Hal tersebut jelas membuat Pebi kesal dan marah kepada Adrine, perkataannya tadi sama sekali tidak ia dengarkan dan hanya dianggap sebagai angin lalu ditelinga Adrine.


"Beraninya kau tak menjawab pertanyaanku!"


Menoleh pun tidak, apalagi menjawab pertanyaan dari Pebi, hal tersebut sangat membuatnya marah dan sekarang Adrine masi seperti itu, sama sekali tak memperhatikan emosi dan kemarahan dari Pebi.


Setelah itu, Adrine langsung melangkahkan kakinya kedepan dan berjalan menuntun Etern keluar dari lingkaran setan tersebut, namun hal tersebut sangat membuat orang lain kesal termasuk Pebi, bahkan Alvian pun juga kesal dengan Adrine walaupun sekarang ia tak dapat melampiaskan rasa kesalnya karena rasa sakit pada tangan kanannya itu.


SET!!


Baru saja selangkah Adrine berjalan, ia sudah dihadang oleh tubuh besar Pebi didepannya.

__ADS_1


"Mau kemana kau?"


Adrine sama sekali tak bersuara, ia bahkan tak memandang wajah Pebi sama sekali. Pebi hanya tersenyum melihat Adrine yang terdiam didepannya itu, mengira kalau Adrine itu sedang ketakutan dihadapannya.


Lalu Adrine menoleh dan berbalik kearah Etern.


"Jangan lewat sini, mari kita lewat belakang."


Etern pun mengangguk dan juga ikut berbalik.


SET!!


"Mau kemana kalian? Jika kalian sudah datang disini, seharusnya kalian jangan pergi, apa kalian tidak ingin bermain-main lagi?"


Tiba-tiba datang seorang lelaki yang juga ikut menghadang Adrine dan Etern, ia bernama Dio. Dio berasal dari rasi bintang yang sama dengan Ray, yaitu rasi bintang Aquila. Namun ia berbeda sekte, sekte Dio masih belum diketahui. Kultivasinya sama dengan Pebi, yaitu tahap Kematian level-3 kelas awal.


SWOOOSH!!


Etern langsung memandikan seluruh tubuhnya dengan energi miliknya, semua keluar dan melapisi seluruh tubuh. Ia terlihat seperti sedang ingin menyerang lawan yang ada didepannya.


SET!!


Sesaat ketika Etern melangkahkan kakinya, tiba-tiba muncul tangan yang menghadang Etern untuk maju dan menyerang, tangan itu adalah tangan Adrine yang bermaksudkan agar Etern tidak gegabah untuk menyerang lawan secara langsung. Bukannya Adrine takut untuk melawan orang-orang yang ada disana, namun itu karena Adrine tidak ingin melibatkan Eterm disana, ia ingin Etern menjauh terlebih dahulu daripada ikut terkena dampaknya nanti.


"Kenapa? Apa kau takut?"


Dio berusaha mengeluarkan kalimat pedasnya agar Adrine terpancing emosinya dan terprovokasi untuk segera menyerang. Namun Adrine seperti tidak terpancing sama sekali dengan ucapan dari Dio.


Sementara itu, Yama dan yang lainnya masih terus melihat apa yang sedang terjadi dengan Adrine disana. Jarak antara Yama dengan Adrine disana sekitar 100 meter dan mereka bisa dengan jelas apa yang sedang terjadi pada Adrine, walaupun terbatas dalam hal jarak penglihatan dan pendengaran.


Yama tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Adrine tidak sesuai dengan anggapan Arpha, namun David dan Arpha masih terus antusias melihat apa yang sedang terjadi pada Adrine.


"Bagaimana Arpha? Apakah tebakanmu sebelumnya itu tepat seperti apa yang kau katakan?"


"Apa kau belum memahami tentang perkataanku sebelumnya?"


"Hah?"


Yama terlihat bingung lagi, ia kembali dibingungkan oleh Arpha dengan kata-katanya lagi, akan tetapi David masih terus antusias akan apa yang terjadi pada Adrine didepan sana, namun bukan berarti David sama sekali tidak mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh Yama dengan Arpha.


"Dengarkan lagi perkataanku, bodoh!!"


Yama sama sekali tidak mempedulikan ejekan dari Yama, namun orang lain menatap sinis kearah Arpha karena berani menghina Yama. Akan tetapi Arpha juga sama sekali tidak menanggapi pandangan sinis orang lain.


"Adrine itu jauh lebih mengutamakan temannya ketimbang lawannya, dia akan berusaha mengirim Etern kemari terlebih dahulu ketimbang langsung menyerang, takutnya serangannya nanti juga akan berdampak pada Etern jika masih terus ada disana bersama Adrine."


"Oh, jadi seperti itu... Kau benar juga."


Setelah mendengar penjelasan Arpha sekali lagi, Yama telah paham bagaimana Adrine akan bertindak nantinya. Dan anggapan dari Arpha sebelumnya menjadi masuk akal dipikiran Yama.


"Seperti itulah Adrine, dia akan mengutamakan teman yang ada dibelakangnya dibandingkan mengurusi lawan yang ada didepannya."


David menambahi penjelasan yang menurutnya kurang dari Arpha, Yama mengangguk paham ketika mendengarnya.


Dan disaat yang sama, Adrine menggenggam tangan Etern dengan erat, ia terlihat seperti akan melakukan sesuatu untuk lepas dari kepungan itu.


Sebelumnya Adrine ingin bergerak kesamping dan ditutup oleh 2 orang lagi. Yang menutup dari sisi kanan Adrine adalah Syayi, lelaki dengan tinggi yang sama dengan Adrine, yakni 176 cm, dan dengan corak garis hijau disamping mata kirinya. Syayi memiliki kultivasi yang sama dengan Lala, yaitu tahap Kematian level-2 kelas puncak, ia berasal dari rasi bintang Serpent atau Ular dan yang satunya adalah Zikri, seorang lelaki yang tingginya adalah 180 cm, menggunakan topi putih dan kultivasinya sama dengan Dio, yaitu pada tahap Kematian level-3 kelas awal. Zikri berasal dari rasi bintang Telescopium atau yang berarti adalahTeleskop.


Zikri lah yang bisa dibilang ikut campur urusan antara Adrine dengan Ray dan Alvian pada saat dulu.


Dan sekarang Adrine tengah bersiap meninggalkan tempat dimana ia berdiri sekarang.

__ADS_1


"Apa kau itu Gay? Tangan temanmu itu kau genggam erat sekali, ada apa? Kau takut?"


Sekali lagi Dio mengucapkan kalimat pedasnya untuk memprovokasi Adrine, namun Adrine sama sekali tidak menghiraukannya. Dan kini Adrine mengangkat kepalanya dan mengaktifkan mata jiwa kanannya, laku keluar belati ditangan kanan Adrine dengan seketika.


"Awas, dia akan menyerang!!"


Dengan cepat Pebi pun langsung memperingatkan yang lainnya, dan mereka semua bergerak sedikit menjauh.


Adrine pun mengayunkan tangan kanannya dengan sangat cepat dan melemparkan belati yang ada ditangannya itu.


WUUUSH!!


Belatinya melesat dengan sangat cepat, namun Dio yabg ada didepan Adrine dengan sangat mudah menghindari lemparan belati dari Adrine.


"Hehe, kau meleset."


Dio tersenyum senang dan meledek Adrine karena berhasil mengelak dari serangan Adrine barusan. Bukannya merasa semakin terpojok, Adrine malah tersenyum seperti orang yang senang, ia terlihat memang sudah mengira hal itu terjadi dan membuat orang lain menjadi sedikit bingung.


'Eh? Kenapa dia tersenyum?' Pikir Dio.


Senyuman senang Dio berubah menjadi ekspresi bingung, namun ia tetap waspada jika Adrine kembali menyerang untuk yang kedua kalinya.


Setelah itu, Adrine berjongkok seperti orang yang sedang bersiap untuk lomba lari, lalu Adrine mengangkat pinggulnya dan...


"On target!!"


ZRIIING!!


Dalam sesaat Adrine dan Etern menghilang dari pandangan dan Adrine sudah memegang belatinya kembali.


"Cepat pergi!"


Adrine menyuruh Etern untuk segera lari dari sana dan bergabung dengan yang lainnya. Etern pun langsung berlari sesuai apa yang diperintahkan oleh Adrine.


SREEESH!!


Entah kenapa Etern tiba-tiba berhenti ketika baru saja mulai berlari. Adrine pun langsung menoleh kearah Etern dan melihat apa yang terjadi.


'Ada penghalang.' Pikir Adrine dan Etern secara bersamaan.


Dengan cepat Adrine menyadari adanya penghalang disana,dengan cepat Adrine langsung mengubah belati ditangannya itu menjadi pedang besar yang biasa digunakannya, yaitu Pedang Api Hitam Ashura. Adrine pun langsung mengayunkan tangannya dan menebas penghalang yang ada didepan Etern.


CIAAAR!!


Penghalangnya pun langsung pecah seperti sebuah kaca dan Etern dengan mudah langsung berlari menjauh dan bergabung bersama dengan David dan yang lainnya.


Jarak antara Adrin dengan seiumpulan orang dari rasi bintang sekitar 30 meter, Adrine tetap berdiri disana karena sedang melindungi Etern dari serangan dadakan.


Lalu Adrine langsung kembali menatap kearah sekumpulan murid dari rasi bintang. Matanya terlihat sangat fokus seperti sedang menganalisa, mata jiwa kanannya telah dinonaktifkan oleh Adrine dan kini ia mengaktivasi mata jiwa yang sebelah kirinya. Mata kirinya itu tertutup oleh zirahnya yang secara otomatis menutupi mata kirinya ketika mata jiwa kiri Adrine telah diaktifkan, begitu juga dengan mata jiwa tengah Adrine.


Setelah itu, Adrine tiba-tiba tersenyum sendiri ketika memandangi sekumpulan rasi bintang itu, namun matanya tertuju pada seorang wanita yang ada disamping Nicho. Adrine seperti mengetahui sesuatu tentang wanita tersebut, lalu ia menunjuknya dan orang-orang langsung tahu siapa yang ditunjuk oleh Adrine, karena wanita tersebut berada dipinggir bersama Nicho.


"Oh, jadi kau rupanya yang memasang pelindung barusan."


Orang-orang yang ada disana langsung terkejut mendengarnya.


"Apa? Yang barusan memasang itu tuan putri Adrina?"


Mereka semua langsung bertanya-tanya, namun Adrine terpikirkan sesuatu tentang nama yang barusan terdengar ditelinganya.


'Adrina?' Pikir Adrine.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2