Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Kesepakatan dengan Yana dan Fhiora


__ADS_3

Perseteruan Adrine dengan Chrono masih terus berlanjut, akan tetapi dengan satu pasukannya yang begitu kuat, Adrine menekan lawan dengan mudahnya.


Walau pertarungan tampak tak adil di mata Chrono, namun ia sama sekali tidak mempermasalahkannya dan terlihat seperti puas. "Yah, kau bukan orang lemah yang seharusnya aku tidak membuat masalah denganmu," ujarnya lantang.


Adrine hanya menatapnya datar dan Aurora kembali ke dunianya. "Aku tahu kau bukan orang bodoh yang asal menyerang," balasnya.


Mereka saling senyum dengan tatapan yang masih tajam dan mengintimidasi satu sama lain.


"Sudahlah, kalian jangan bertarung lagi," kata Fhiora. "Saya mengundang tuan Adrine ke sini hanya ingin menanyakan sesuatu padanya."


Adrine agak terkejut mendengarnya, lagipula ia hanya ingin segera pulang dan melanjutkan kultivasinya yang telah terhenti selama beberapa saat. Apalagi yang memanggilnya adalah Fhiora yang menjadi topik utama di kota Springe dan dia mengenali nama Adrine.


Kemudian mereka melanjutkan perkenalannya dan saling berkomunikasi satu sama lain.


"Tuan Chrono, saya minta tolong agar anda tidak berulah lagi, kumohon," pinta wanita itu.


Chrono menggaruk kepalanya sembari tersenyum sungkan, "Ah ... Master Fhiora, haha ... Tolong jangan panggil saya tuan, sekarang saya adalah murid anda, seharusnya saya yang memanggil anda dengan sebutan nyonya," katanya.


"Ah, kukira nyonya Fhiora memilih murid yang masih seumuran, tak kusangka di sini umur tak dipermasalahkan," ujar Adrine.


Kemudian mereka semua menatap ke arah Adrine termasuk Yana. "Yap, kami memang sama sekali tidak mempermasalahkan usia, asalkan dia mau menerima tawaran kami, maka kami juga bersedia untuk mengajarinya menyuling pil yang lebih baik," ujar Yana.


"Tawaran?" tanya Adrine.


"Ya, kami menawarkan untuk ikut bersama dalam perburuan di Hutan Kabut Ilusi. Kami membutuhkan banyak alkemis yang dapat membuat sekaligus menyediakan berbagai jenis pil ketika ada di sana." jelas Fhiora.


Hutan Kabut Ilusi adalah suatu tempat yang memiliki energi sihir yang sangat kuat sehingga menutupi seluruh bagian dari wilayah itu sendiri. Biasanya energi akan berwujud seperti kabut jika di daratan terbuka layaknya hutan dan gurun. Sedangkan yang ada di lautan biasanya adalah badai maupun pusaran yang sangat kuat sehingga menyulitkan banyak orang yang ingin menjelajahinya.


Sebenarnya Fhiora bertujuan mengumpulkan alkemis handal yang dapat ikut dan membantu kelompoknya yang di mana mereka telah terbentuk. Namun masih memerlukan beberapa anggota tambahan lagi. Karena dirasa tak mungkin untuk mengumpulkan orang yang kuat. Lalu ia memilih anggota yang mahir dalam hal alkemis dan menambah jumlah sebanyak-banyaknya.


Selain itu, alasan Fhiora mengumpulkan banyak alkemis adalah untuk mengumpulkan beberapa bahan herbal tertentu. Itu karena hanya alkemis handal saja lah yang dapat mengenali mana yang benar-benar bahan herbal dan mana yang bahan beracun.


"Rumor mengatakan bahwa Hutan Kabut Ilusi memiliki banyak bahan herbal tersembunyi yang kualitasnya luar biasa," tambahnya.


Mendengar itu semua, dengan wajah datarnya Adrine bertanya, "Dan alasan aku diundang untuk datang kemari?"


Yana dan Fhiora saling bertatapan dan berkata bersamaan, "Ikutlah dengan kami!"


"Eh?"


Adrine sebenarnya telah menduga akan hal tersebut ketika Fhiora mulai menjelaskan Hutan Kabut Ilusi. Reaksinya barusan hanya alasannya saja yang ingin menambah suasana.


'Dilihat-lihat, yang barusan menyerangku itu sama sekali tak terkejut, berarti dugaanku memang benar kalau tadi hanya menguji seberapa tinggi kemampuanku. Pantas saja di pertarungan kami tadi tak ada respon yang mencolok dari mereka berdua,' batin Adrine dengan pikiran yang begitu serius.


"Kami melihat potensimu dalam melakukan penyulingan pil. Seharusnya kau adalah alkemis tingkat lima, kau bisa menggunakan teknik formasi yang dapat mempertahankan suhu serta menyesuaikannya." Jelas Yana. "Hal semacam itu tak mudah bagi pemula, tapi ... "


Tiba-tiba saja ucapan Yana terhenti di tengah-tengah.


"Tapi?" Sebenarnya Adrine sudah menduga alasan sebenarnya dari ucapan Yana yang tiba-tiba terhenti. Sedari tadi yang ia lakukan hanyalah menambah suasana yang seakan dirinya bingung dan polos.


"Hasil yang kau berikan justru tak sesuai dengan harapan kami. Kukira kau adalah seorang alkemis hebat dan handal," kata Yana penuh dengan nada kekecewaan.


"Namun melihat kemampuan anda dalam melakukan pemanggilan roh dan juga pengendaliannya, itu sungguh luar biasa. Seolah anda dan pasukan anda memiliki jiwa yang terikat satu sama lain dan tak memiliki rasa ketakutan terhadap satu sama lain," jelas Fhiora lagi.


"Hah? Kenapa aku harus takut dengan pasukanku sendiri?" tanya Adrine dengan serius.


Sebenarnya untuk sekarang ini Adrine memanglah tak mengetahui apapun dan sedikit kebingungan. Ucapan Fhiora barusan sama sekali tidak dijawab oleh sistem yang ditelan oleh kemampuan mata ketiganya alias Absorbtion Tremendous.

__ADS_1


"Biasanya ikatan antara pemanggil dan roh yang dipanggil memiliki keraguan dan ketakutan yang besar terhadap satu sama lain. Baik dari kekuatan maupun kepercayaan, mereka pastinya akan memiliki satu hal yang pasti, keraguan. Bahkan mereka yang bertahun-tahun melakukan teknik pemanggilan pun masih akan merasa ketakutan walaupun sedikit. Tetapi, saya sama sekali tidak melihatnya pada diri anda." jelas Fhiora lagi dan lagi.


Yah, kekesalan Adrine kini meluap. Di dalam hatinya kini sedang menggumam tak jelas yang dipenuhi emosi terhadap sistem buatan Shin kecil. 'SHIN KECIL! KAU HARUS MEMBAYARNYA! KARENA SISTEM MILIKMU YANG MENDADAK RUSAK, AKU HARUS MENDENGAR CELOTEHAN GADIS INI PANJANG LEBAR!!!' batinnya.


Walau begitu, mereka mengakhiri semuanya dengan saling melontarkan permintaan.


"Aku harap kau ikut kami dalam dua bulan mendatang dan juga kami akan memberikan imbalan yang setimpal atas bantuan anda nantinya," ujar Yana.


"Ah, apakah anda nantinya bisa mengajari saya dalam penggunaan sihir formasi? Sejak dari dulu saya tertarik untuk dapat melakukannya," pinta Fhiora.


Adrine mengangguk, "Baiklah, setelah kita berhasil dalam mengeksplorasi Hutan Kabut Ilusi nantinya, aku akan mengajarimu dalam menggunakan sihir formasi dan juga kekuatan mental," ujarnya.


Sementara itu, Chrono masih masih bingung ingin berkata apa. Menurutnya, di sana kini ia tak dibutuhkan dalam pembicaraan dan seharusnya pergi dari tempat itu.


"Mau mau kemana?" Tanya Adrine.


Chrono menoleh ke arah Adrine dengan menatapnya halus.


"Aku ingin kembali ke tempatku untuk bersiap-siap pergi ke Serikat Alkemis," jawabnya.


Tiba-tiba Adrine mengeluarkan tiga buah pil yang memancarkan cahaya merah terang. Fhiora dan Yana tertegun dengan mata yang terbelalak lebar ketika melihatnya, seolah benda bulat di tangan Adrine adalah sebuah harta karun yang sangat berharga.


"Ambillah ini, kulihat kau kesulitan dalam kultivasimu. Pil ini berguna untukmu," ujar Adrine.


Chrono pun menerimanya dengan senang hati dan berkata, "Terima kasih."


Setelah itu, ia keluar dari ruangan itu dan segera kembali ke tempat tinggalnya.


"Bukankah itu Pil Kehidupan Jiwa, pil tingkat Semi Surgawi?" tanya Yana dan Fhiora.


"Benar," jawab Adrine.


"Benar, anda pastinya adalah sosok alkemis yang sedang menyembunyikan identitas anda bukan?" tanya Fhiora lagi.


Sebenarnya Chrono juga menyadari pil yang diberikan oleh Adrine, ia agak terkejut ketika melihat pria yang baru saja diserangnya itu memberikan hadiah padanya.


Adrine menggeleng, "Tidak, bagaimana bisa aku yang baru saja belajar menyuling sejak pagi tadi langsung menjadi alkemis misterius? Itu tidak masuk akal," ujarnya.


"Hah?"


Yana dan Fhiora dikejutkan lagi dari sosok di depannya. Mereka terkejut karena baru saja mendengar langsung bagaimana Adrine berlatih dalam penyulingan pil.


"Hanya dalam sehari dan bisa membuat pil tingkat Semi Duniawi? Justru anda lebih tidak masuk akal," kata Fhiora.


"Jaga mulutmu, Fhiora!" suruh Yana dengan nada yang tinggi.


"Ba ... Baik,"


Kemudian Yana menceritakan sesuatu tentang dirinya sendiri yang berjalan di jalan seorang alkemis. Itu karena kekagumannya terhadap seorang alkemis di kota Springer ini yang dulunya begitu terkenal yang bernama Eve.


"Aku yang kini disebut sebagai jenius alkemis saja berlatih untuk membuat pil tingkat Dasar dalam waktu dua bulan penuh. Dan juga nyonya Eve yang kuanggap sebagai orang paling berbakat dalam penyulingan pil saja berlari dalam setengah bulan untuk bisa membuat pil tingkat Dasar. Lantas, kau yang seorang pemula tak dikenal berkata bahwa kau berlatih hanya dalam sehari saja untuk bisa membuat pil tingkat Dasar bahkan bisa membuat pil di tingkat Semi Duniawi?" tanya Yana.


Adrine mengangguk, "Memang kebenarannya seperti itu. Aku sama sekali tidak berbohong, baru tadi pagi aku berlatih menyuling pil," ujarnya dengan nada yang cukup meyakinkan.


Yana dan Fhiora kembali saling menatap, namun dengan tatapan yang tajam. Mereka juga merasa bahwa apa yang diucapkan oleh Adrine bukanlah suatu kebohongan.


"Berarti mata kami salah dalam melakukan penilaian terhadapmu. Kau adalah jenius di antara para jenius," puji Yana.

__ADS_1


Fhiora mengangguk setuju, "Mungkin saja, bakat yang anda miliki didukung dengan kemampuan anda dalam membentuk sihir formasi yang mahir."


Adrine benar-benar tak mengerti situasinya. Seolah dua orang di depannya itu berubah drastis.


"Sudahlah, aku sebenarnya berlatih seperti ini juga punya alasan dan bukan keinginan pribadi. Aku punya tujuan sehingga menjadi seorang alkemis di kota ini," ujar Adrine.


"Tak sopan jika kami bertanya apa tujuan anda, tapi bolehkah kami tahu anda ahli jimat di tingkat berapa?" tanya Fhiora.


"Dua," jawab Adrine.


Walaupun mengejutkan, tapi keduanya benar-benar percaya dengan apa yang diucapkan oleh lelaki yang ada di depan mereka.


"Aku tak terlalu mengembangkan kemampuanku dalam sihir mental, jika aku mau mungkin saja sekarang aku telah mencapai ahli jimat tingkat tiga maupun empat. Tapi yang pasti aku hanya ingin tumbuh menjadi lebih kuat dan terus berkembang. Pencapaianku saat ini tak mungkin hanya berhenti sampai di sini saja, benar bukan?" kata Adrine.


Yana dan Fhiora mengangguk, mereka yakin di masa depan Adrine akan menjadi sosok yang jauh lebih kuat dan berbakat dalam segi kekuatan, pengetahuan, dan berbagai bidang lainnya.


'Bukan hanya memiliki kekuatan yang luar biasa, tapi kejeniusannya dalam penyulingan pil jelas berbeda jauh dari kami yang sekedar alkemis handal,' batin Yana.


'Menguasai penyulingan pil dalam sehari, memiliki kekuatan yang luar biasa, seorang ahli jimat, dan memiliki ambisi serta tekad yang kuat, anda adalah seseorang dengan kelas yang jauh berada di atas kami,' batin Fhiora.


'Kenapa mereka tiba-tiba diam? Bukankah dari tadi mereka cerewet sekali?' batin Adrine.


Suasana menjadi hening dan semua yang ada di sana hanya membatin saja. Adrine merasa telah terjebak dalam situasi yang begitu canggung baginya.


"Sepertinya sudah tak ada lagi hal yang perlu kita bicarakan, aku akan pulang saja. Permisi."


Kemudian Adrine berbalik dan keluar dari situasi canggung itu.


"Ah, tuan Adrine, tunggu sebentar," pinta Fhiora yang tiba-tiba mengejarnya.


Adrine menoleh dan menghadapnya. Wanita yang memanggilnya barusan sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam cincin penyimpanannya.


Sebuah kalung muncul di tangannya.


"Kalung ini begitu berat ketika saya memakainya, seolah ada gunung yang tersimpan di dalamnya. Aku tak tahu apa isi yang ada di dalamnya, tapi yang pasti anda bisa menguak misteri yang ada di dalamnya, kumohon tuan menerimanya," pinta Fhiora lagi.


Mata kanan Adrine bersinar dengan cahaya putih yang tak terlalu terang. Matanya itu melihat apa yang ada di dalam batu yang digantung pada kalung tersebut.


'Apa ini? Energi sihirnya ... Seolah benar-benar seperti gunung yang sangat besar. Dari mana gadis ini mendapatkannya?' batinnya.


'Matanya ... Bersinar?' batin Fhiora.


Fhiora secara tak sengaja melihat mata Adrine yang bersinar. Tetapi pikirannya mengatakan bahwa kemungkinan besar itu adalah mata jiwa yang dimiliki oleh Adrine, pikirannya memang sungguh pemikiran yang positif.


"Akan kuterima, tapi yang pasti aku masih akan mencoba mengerti apa yang membuat kalung ini berat ketika dipakai. Karena apa yang ada di dalamnya, aku juga ingin memastikannya," ujar Adrine.


'Tak mungkin aku menolak seseorang yang memberiku sebuah artefak,' batinnya lagi.


Fhiora tersenyum dan diikuti senyuman tipis Adrine.


"Terima kasih Fhiora," ucap Adrine.


'Apalagi artefak ini ... '


"Sama-sama, lagipula itu hanyalah hadiah kecil karena bersedia membantu kami," ujar Fhiora.


Setelah itu, Adrine berbalik lagi dan pergi meninggalkan wanita tersebut. Di tengah perjalanannya, ia membatin, 'Hanya hadiah kecil? Nona, kau salah besar, ini adalah hadiah besar, kau telah memberiku ... Artefak tingkat Murni.'

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2