
Mengetahui adanya pertarungan dari luar wilayah kota, Liona segera bergegas menghampirinya. Wanita itu juga merasakan adanya energi dari sosok lelaki yang ia kenali. Apalagi instingnya yang sangat kuat itu mengatakan bahwa lelaki itu tidak baik-baik saja.
Pada saat itu, Liona telah berhasil menembus ke tingkat Kesempurnaan. Tapi kemampuannya dalam bertempur masih harus diasah lagi agar sesuai dengan tingkat kultivasinya. Dan menurutnya, pertarungan yang ada di depan sana mungkin saja adalah jalan agar kemampuan bertempurnya meningkat.
Sesampainya di tempat kejadian, Liona menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat mengerikan.
Di sana terlihat banyak sekali darah dan ada orang yang sedang bertarung melawan makhluk hitam. Ia juga melihat ada seseorang yang terbaring tak sadarkan diri dengan satu tangan yang terpotong.
"A ... Apa-apaan ini?" gumamnya.
Sementara itu, Adrine dan Royu juga menyadari kedatangan seseorang yang mana itu adalah Liona. Mereka tak memperdulikannya karena pertarungan yang sedang mereka lakukan sangatlah kritis yang pertaruhannya adalah nyawa masing-masing.
'Makhluk itu ... Itu adalah prajuritnya Adrine. Ya! Tidak salah lagi,' batinnya Liona.
Ia juga melihat formasi raksasa yang menjadi arena pertandingannya, namun formasinya hanya menguntungkan satu pihak saja.
Setelah melihatnya dengan teliti, Liona menyadari sesuatu, "Di tepian sisi formasi sihir yang besar itu, ada dinding tak terlihat yang membatasi pergerakan dari dalam maupun luar. Formasi itu juga menyerap banyak energi dari luar agar formasi itu dapat terus bertahan," jelasnya.
Hanya dengan melihatnya saja Liona tahu bahwa ia tak bisa masuk ke dalam pertarungan tersebut. Dirinya tak bisa melakukan apapun dengan adanya formasi besar milik Adrine tersebut.
Pertarungan terus berlanjut tanpa memperhatikan siapa yang datang. Royu tampak masih belum serius dalam bertarung, namun senantiasa berusaha keluar dari keterpojokannya di dalam pertarungan. Adrine juga tahu bahwa lawannya masih belum terlalu serius dalam menghadapinya, jadi ia harus lebih berhati-hati.
'Dengan tingkat kultivasinya yang berada di tahap Nirvana Alam Kedua, jelas saja pertarungan ini masih belum ada apa-apanya. Sekarang saja sulit mencari celah, bagaimana nanti jika dia sudah mulai serius melawanku?' batinnya.
***
20 menit kemudian, pertarungan Ancient Hell Demon dengan Royu masih belum berhenti. Tapi sekarang Adrine lah yang bertarung dengan menggunakan tubuh prajurit bayangannya tersebut. Itu karena Adrine meminjam tubuh Ancient Hell Demon dan mengambil kesadarannya untuk bertarung secara langsung melawan Royu. Pertarungan sengit tak mungkin berlangsung dalam sekejap mata saja.
'Ah ... Bahkan dengan tubuh ini pun masih belum bisa mengalahkannya? Sialan! Aku masih tak tahu dia ini sudah serius apa belum, tapi yang pasti semakin kami bertarung semakin sulit pula celahnya ditemukan,' ujar Adrine dalam hati.
Kemudian Adrine mengeluarkan Pedang Api Hitam Ashura. Suhu tubuhnya semakin panas dan kini mode setiap pasukan Adrine yang bergabung juga meningkat.
Purgatory Demon dari Purple Fire ke Blood Fire. Berbanding terbalik dengan warna atribut iblis api, Bolt Demon dari Petir Merah ke Petir Ungu dan Bone Demon dari Tulang Panas ke Tulang Besi. Kekuatannya meningkat tajam setelah berganti mode yang lebih kuat.
Tubuhnya berbentuk manusia dengan api sebagai tubuhnya dan tulang rusuk yang melindungi bagian dada serta tengkorak dengan mata api sebagai zirahnya. Kakinya juga dilindungi oleh tulang-tulang yang melingkar seperti tulang rusuk begitupun dengan lengannya. Lantas petir menjadi atribut yang melindunginya dari serangan sihir dan juga sebagai pemberi kerusakan tambahan ketika memberi pukulan langsung.
Tapi Adrine menduga kesempatan untuk mengalahkan Royu tak meningkat banyak, menurutnya kesempatannya hanya meningkat dari 8% naik ke 15% saja, kenaikannya terlalu minim hingga tidak sampai 10%.
'Tak akan kusia-siakan kenaikan tujuh persenku ini! Harusnya ada celah!' batinnya lagi.
Segera mata Adrine menjadi jauh lebih teliti dan lebih cepat dalam mencari celah. Matanya tak kunjung henti melirik ke sana kemari untuk bisa mendapatkan celah. Ia menyimpan pedangnya kembali ke dalam tubuh pasukannya, Pedang Api Hitam Ashura hanya digunakan untuk meningkatkan status kekuatan selama pedang itu masih menyentuh tubuhnya itu.
ZRAAASH!!
"Sedang lihat apa kau?!" seru Royu sembari melesat dengan sangat cepat ke arah Adrine.
Untung saja Adrine berhasil menghindarinya dengan melompat ke atas. Lalu memberikan serangan sihir berupa tembakan api secara beruntun ke arah Royu yang ada di bawah.
Sihir yang dilontarkan oleh Adrine berhasil dihindari oleh Royu, namun ketika menyentuh tanah bola api tersebut meledak dan menyebabkan efek kerusakan yang sangat besar. Royu terlontar ke atas akibat efek ledakan barusan.
__ADS_1
Ia hanya berwajah seperti biasa dengan mata sipit dan bibirnya yang selalu tersenyum ramah.
'Ya ... Aku tak akan membiarkan pertarungan ini semakin lama, akan kuakhiri sekarang juga!' batinnya.
Royu menebas ke arah Ancient Hell Demon yang dikendalikan oleh Adrine dan seketika itu juga mendapatkan luka yang sangat berat akibat tebasan itu. Adrine memang tidak merasakan rasa sakitnya namun tubuhnya menjadi sangat berat setelah mendapat luka itu.
Royu menyadari bahwa Adrine tak bisa lagi memberi serangan dalam waktu dekat. Ketika keduanya telah menginjakkan kaki di tanah, Royu segera mengulang serangan tadi secara horizontal. Serangan itu jauh lebih besar dari sebelumnya, Adrine dapat menghindarinya dengan melompat.
Karena serangan dan daya rusaknya yang besar, kecepatannya pun melambat dan membuatnya mudah dihindari.
Royu kini terlihat lebih serius, terlihat dari keningnya yang mengkerut. Tekanan yang keluar darinya membuat angin di sekitarnya menjadi gila. Pedang di tangannya memancarkan aura yang sangat mengerikan, energinya meluap-luap dan mengintimidasi.
Adrine merasakan aura yang mengerikan itu. Ia juga menyadari bahwa tubuh aslinya tak kuat dengan fluktuasi tersebut, jadi menurutnya ia tak boleh membawa pertarungannya hingga berlarut-larut. Akan merugikannya walaupun kemenangan di depan mata.
'Mungkin tak bisa jika hanya sekali serang, tapi jika aku bisa membuatnya terkena serangan beruntun mungkin saja ada kesempatan,' batinnya.
Lalu Adrine membuat kabut hitam kemerahan dan aura yang tak kalah mengintimidasi dari lawan. Semakin lama kabut kabut itu memadat pada titik-titik tertentu.
Tatapan mata Adrine dan Royu sangat tajam dan tidak teralihkan satu sama lain. Mereka berfokus pada teknik masing-masing agar mendapatkan hasil yang maksimal.
Pada saat bersamaan teknik mereka siap untuk dilancarkan.
"Kabut Pedang Tulang Dari Neraka!"
"Tebasan Badai Silang!"
Ketika kedua teknik itu saling bertumbuk satu sama lain, fluktuasi dan gejolaknya semakin besar. Tanah hancur dan membuat formasinya semakin melemah.
Aurora meningkatkan keamanan pada tubuh tuannya dengan memperkuat dinding perisainya dan memberikan sebuah penguatan pada fisik Adrine yang asli. Jika Aurora tak melindungi tubuh asli tuannya, maka sekarang ini kesadaran tuannya kembali dan fisiknya terluka berat. Pada saat yang bersamaan kemungkinan terbesarnya adalah Adrine kehilangan kesadarannya sesaat setelah kesadarannya kembali.
Pedang tulang yang dihempaskan oleh Adrine tak kunjung henti, begitupun dengan tebasan yang diberikan oleh Royu tak kunjung hancur.
ZRIIING!!
'Apa?!' batin Adrine.
Tiba-tiba Royu muncul di dekatnya ketika dirinya sedang berfokus di depannya. Royu menyerang menggunakan pedangnya dengan cepat dan kuat. Adrine juga berhasil mengambil salah satu pedang yang tercipta dari kabut, sehingga sempat untuk menahan serangan langsung barusan.
Untuk sementara teknik pedang kabut yang dilancarkan oleh Adrine itu diarahkan pada Royu.
BLAAAARR!!
Ia tak bisa menahan serangan secara langsung, sehingga membuat teknik milik Royu menghantam dinding dari formasinya. Akibatnya formasi yang diciptakan oleh Adrine berangsur-angsur memudar sampai benar-benar menghilang.
"Jadi kau dari tadi tak memperdulikan apakah seranganmu mengenaiku ataupun tidak, kau memang berniat mengincar dindingnya dan tetap membuatku tak menyadarinya," ujar Adrine.
"Kau benar, rupanya kau pria yang cukup pintar," sahut Royu.
ZRAAASH!!
__ADS_1
Tanpa banyak basa-basi Royu bergerak dengan cepat ke arah tubuh Adrine yang asli dan menghancurkan pelindung yang diciptakan oleh Aurora dengan mudahnya. Itu karena tindakan yang ia lakukan sudah tidak terbatasi lagi dan energi yang meluap-luap pada tubuhnya semakin besar pula, itu karena kini segala kemampuannya sudahlah tidak lagi dikurangi separuhnya.
'Sudah kuduga!'
Dengan sigap kesadaran Adrine kembali pada tubuh aslinya dan segera melompat mundur. Ketika kaki kirinya menyentuh tanah, bayangannya menjadi hitam pekat dan terus meluas.
Setelah Royu telah terlalu dekat dengannya, bayangan hitamnya itu segera menyeruak dan menciptakan ruang besar berbentuk bola dengan Adrine dan Royu di dalamnya. Tak ada satupun cahaya yang dapat masuk dari luar, di dalam sana terlalu gelap dan segalanya berwarna hitam.
'Bocah ini selalu bermain domain agar pertarungannya senantiasa lebih menguntungkannya dari segi lingkungan maupun kekuatan, dia juga dapat melemahkan lawan dengan kekuatannya itu. Bocah ini sudah jelas adalah ahli jimat, kutebak dia pasti adalah ahli jimat tingkat tiga atau bahkan tingkat empat,' batin Royu.
Ia selalu berasumsi dan bersikap tenang dalam setiap keadaan. Jadi dengan pemikirannya itu ia memperkirakan serangan dan gerakan yang akan diambil oleh lawannya serta hal itu membuatnya selangkah lebih maju dari lawannya.
"Haha, tak pernah ada ahli jimat sekuat dirimu yang pernah kulawan, padahal kau sendiri adalah ahli jiwa tingkat tiga, tapi bisa sehebat ini," ujarnya.
Dari dalam kegelapan Adrine membalas, "Sudah lama aku tak menggunakan kekuatan mental, tapi maaf kau salah, aku masihlah ahli jimat tingkat satu."
Hal itu sangat mengejutkan Royu. Tak disangka sedari tadi ia bertarung, ia masih belum tahu pasti kemampuan dari lawannya. Ketika berpikir bahwa mungkin musuh telah mencapai tingkatan tertentu atau mungkin lebih, tebakannya pasti akurat. Tapi hal itu tak berlaku ketika sedang melawan Adrine.
Sedari awal pertemuannya segala sesuatu dari segi bertarung, tingkat kultivasi, hingga kemampuan berpikirnya selalu saja membuat Royu tertegun. Awalnya ia berpikir bahwa Adrine berada di tingkat Kesempurnaan, tapi ia menyadari bahwa ada sesuatu yang membuatnya setara dengan tingkat Kesempurnaan dan itu berada di dalam bayangannya. Tebakannya tak meleset, itu karena bayangan Adrine memang memancarkan energi yang cukup kuat dan menempel padanya, sehingga orang-orang mungkin menyangka bahwa energi tersebut murni berasal dari Adrine.
"Itu tak mungkin, daya kerusakannya sangat kuat dan kekuatannya juga berdampak besar pada pertarungan tadi. Tak mungkin kau hanya ahli jimat tingkat satu!" serunya tak percaya sembari menoleh ke sana kemari.
Bibir Adrine menyungging di dalam kegelapan, "Berbeda dengan kultivator, tingkatan tak menentukan seberapa kuat dirimu. Di dalam dunia ahli jimat, tingkatan hanya menentukan sebanyak apa kau bisa menciptakan jimat mental, dari situlah formasi ini terbentuk. Tetapi kualitas tak ditentukan dari kuantitasnya," jelasnya.
Kemudian Royu segera mengangkat pedangnya dan mengalirinya dengan energi. Pedang itu bercahaya walaupun redup, hanya saja cukup untuk meneranginya di dalam lingkaran gelap tersebut yang luas tak seberapa.
Rupanya Adrine keluar dari bola hitamnya dan ia menyusutkannya.
Keberadaan Adrine masih membekas di dalan bola hitam tersebut karena energi mental yang
telah ditanamkan olehnya dengan tujuan keberadaannya tetap terasa walaupun ia tak berada di sana.
Royu tak menyadarinya, maka dari itu ia hanya sedikit panik karena sadar bahwa area yang mengurungnya itu semakin menyempit.
Lalu ia mengumpulkan energi dan memampatkannya di dalam pedang. Sama seperti sebelumnya, Royu ingin menggunakan teknik Tebasan Badai Silang untuk menghancurkan dinding pembatas itu. Ia menyadari bahwa kemungkinan besar dirinya akan terkena dampaknya pula dari serangannya itu.
Kerusakan asli dari serangan itu setara dengan ledakan sebuah bom dengan radius ledakan 35 meter.
Di luar Adrine tengah mempersiapkan serangan dari empat penjuru. Dimulai dari dirinya sendiri, Aurora, Ancient Hell Demon, dan Liona.
"Apa kau benar-benar sudah mencapai tahap Penciptaan?" tanya Adrine memastikan.
Liona mengangguk, "Ya, mana mungkin aku berbohong padamu?" jawabnya.
Adrine juga yakin bahwa serangan dari Liona lebih memberikan kerusakan ketimbang dari serangannya. Melihat dari segi kultivasi memang seperti itu kenyataannya, tapi Adrine mempunyai banyak senjata dan teknik yang mematikan, bahkan dapat menggores hingga melukai orang di tahap Nirvana Alam Kedua seperti Royu.
'Kuyakin kami bisa mengalahkannya!' batinnya.
Bersambung!!
__ADS_1