
Identitas Adrine ditebak dengan benar oleh orang yang baru saja mendatanginya. Sosok berpakaian aneh yang bernama Fheafel San itu seolah-olah memang sudah tahu dari awal bahwa Adrine adalah seorang pewaris.
Sebaliknya Adrine juga menebak bahwa ketua Fheafel San adalah seorang pemburu, namun ...
"Tidak! Kau ... Salah orang," tegas ketua divisi keempat organisasi Pasir Darah Hitam, Fheafel San, masih dengan nada yang aneh.
Adrine masih kurang percaya dengan ucapan yang didengarnya barusan. Wajah pria itu memang selalu tersenyum dengan sangat lebar setiap saat seolah ia benar-benar seorang badut.
"Kalau kau tetap tak percaya ... Aku bisa menjadi 'pemburu' seperti apa yang ... Kau inginkan!" tegasnya lagi dengan wajah dan nada yang sama.
Kini Adrine menurunkan rasa curiganya. Ia juga menyadari bahwa selama ini para pemburu yang pernah bertemu dengannya sebelumnya tak ada dari mereka yang kultivasinya berada di tingkat Misteri. Setidaknya yang terkuat dari mereka berada di puncak tingkat Permata.
Ekspresi Adrine kembali seperti semula, dingin dan datar. Royu yang ada di samping pria berpakaian serba emas itu tampak sedikit kebingungan dengan apa yang dibicarakan oleh Adrine dan ketua Fheafel.
Karena Royu merasa percakapan tersebut tak ada hubungannya dengannya, maka ia berpaling dan tak memperdulikannya isi percakapannya.
Ketua Fheafel tahu bahwa Adrine sudah menurunkan kecurigaannya. Mereka kembali bergegas karena katanya perjalanan dengan berjalan akan memakan waktu tiga sampai lima hari paling cepat apabila tanpa beristirahat sama sekali. Mereka bergerak dengan cepat ke arah timur karena katanya pusat dari organisasi Pasir Darah Hitam berada di sebuah reruntuhan kota kuno di dekat sebuah gunung berapi aktif.
Menuruti kemauan dari ketua divisi keempat dari organisasi Pasir Darah Hitam itu, Adrine tak banyak protes akan semua itu. Di perjalanan mereka juga mencari hewan spirit untuk dimakan nantinya.
***
Lima hari kemudian, Adrine dan yang lainnya telah sampai ke tempat pengujian. Di sana juga sangat banyak psikopat yang ingin masuk ke dalam organisasi tersebut.
'Eh?'
Tak disangka, ketika Adrine melewati gerbang raksasa, dan memasuki ruangan yang amat sangat luas, dirinya merasakan hawa keberadaan yang cukup familiar. Apa yang ia rasakan sekarang bukan hanya ada satu hawa keberadaan saja, melainkan berpuluh-puluh jumlahnya.
Ketua Fheafel San menoleh, lantas berkata, "Di dalam sana ... Kau bisa mencari banyak pewaris lain yang masuk ... Dengan alasan berlindung ... Mungkin saja kau juga punya pemikiran ... Yang sama dengan mereka."
Adrine membatin bahwa itu memanglah benar. Alasan seperti itu memang masuk akal karena menjadi seorang pewaris, nyawanya dipertaruhkan untuk bisa menjadi Selestialin dari Keselestialan Resscion Laniakea.
Dan hawa keberadaan yang familiar dalam jumlah banyak yang baru saja dirasakan oleh Adrine adalah keberadaan dari para pewaris yang lain yang dalam satu ruangan itu.
"Kebetulan hari ini ... Adalah hari di mana kami ... Para ketua divisi sedang tidak menjalankan misi," ujar ketua Fheafel.
Lantas Adrine diberi penjelasan bahwa organisasi ini sebenarnya adalah organisasi pembunuh bayaran. Dan sebelumnya Royu yang berada di kota Springer sedang menjalankan misi untuk membunuh seseorang di sana. Dia mengacau karena ***** untuk membunuhnya masih belum menghilang. Sehingga ia menghabisi kelompok yang sedang akan masuk ke dalam Distorsi Portal.
Ketika itu juga, layar besar yang ada di dinding ruangan memperlihatkan berita pembunuhan yang dilakukan oleh Royu di kota Springer. Orang yang dibunuhnya itu rupanya adalah keluarga kaya yang sedang berselisih dengan keluarga lainnya.
'Orang itu benar-benar seorang psikopat yang sangat mengerikan,' batin Adrine sembari melihat layar.
Karena Adrine akan masuk ke dalam organisasi Pasir Darah Hitam, maka ia harus mempunyai hati yang tak segan untuk membunuh. Mereka semua yang ada di sini diharuskan untuk kejam dan tak ada kata ampun dengan mangsanya.
'Aku baru tahu, pembunuh bayaran itu rupanya seperti ini,' batin Adrine lagi.
Ketua Fheafel San pergi dari sana. Royu pun juga telah berpisah semenjak ia memasuki pintu, dia seperti sedang terburu-buru.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, langit-langit ruangannya memudar dan berganti dengan kaca yang sangat tebal. Di atasnya terdapat beberapa orang yang sedang duduk di atas kursi melingkar. Dan di atas sana terdapat ketua divisi keempat, Fheafel San yang juga tengah duduk serta didampingi oleh tiga orang yang berdiri di belakangnya.
'Ada sembilan orang yang duduk di sana termasuk 'orang itu,' yang berarti mereka semua yang duduk di sana adalah ketua divisi yang didampingi oleh anggotanya masing-masing,' batin Adrine.
'Ketuanya pun ada yang wanita, bahkan ada tiga orang wanita yang duduk di atas sana.'
Sesaat setelah langit-langit memudar, sebagian dindingnya juga memudar dan berganti dengan kaca pula.
SYUU!!
Tiba-tiba muncul tiga orang di tengah-tengah ruangan. Mereka mengenakan pakaian seperti ninja, pakaian yang serba tertutup dan dua pedang di belakang punggung.
Kemudian salah seorang ketua di atas sana berdiri dengan didampingi ketiga pendampingnya. Terdapat sosok yang terlihat familiar di mata Adrine, dia adalah Royu, yang artinya pria yang berdiri itu adalah ketua dari divisi pertama, divisi Purple Blood Moon.
"SELAMAT DATANG UNTUK KALIAN SEMUA!" sapa pria tersebut.
Adrine agak terkejut ketika mendengar suaranya. Pria tersebut terlihat seperti sedang berbicara biasa namun suaranya terdengar sangat menggelegar di dalam ruangan besar.
"TIGA ORANG DI SANA ADALAH PARA PENGUJI, MEREKA AKAN MENGUJI SEBERAPA KUAT KALIAN SEMUA!" ujar pria itu lagi.
Kemudian Adrine dan semua orang di saja menoleh ke arah tiga orang yang dimaksud barusan.
Adrine mengamati mereka bertiga dengan seksama. 'Mereka bertiga kemampuannya berbeda-beda, ada yang berada di tingkat Keabadian, Kesempurnaan, dan Permata. Aku tak bisa menebak dengan pasti yang berada di tingkat Permata, tapi kalau kutebak dua lainnya, mereka berada di awal tahap Nirvana Alam Pertama dan awal tahap Nirvana Alam Kedua,' batinnya.
Setelah itu, ketua divisi pertama memperkenalkan dirinya. Namanya adalah Jason Parker. Di atas sana dia menjelaskan peraturan pengujiannya.
SYUU!!
Semua orang yang ada di bawah kecuali ketiga ninja tadi berpindah ke balik kaca yang tadinya adalah sebuah dinding. Ruangan di balik kacanya tidak terlalu lebar namun tak terlalu sempit pula.
"SETELAH INI, KALIAN AKAN DIPILIH SECARA ACAK DIMULAI DARI TINGKAT KEABADIAN, KESEMPURNAAN, DAN YANG TERAKHIR PERMATA. YANG BERADA DI TINGKAT MISTERI LANGSUNG MENJADI KETUA DIVISI, TETAPI KULIHAT DARI KALIAN TAK ADA DARI KALIAN YANG BERADA DI TINGKAT MISTERI, JADI TAK ADA DARI KALIAN YANG AKAN LANGSUNG MENJADI KETUA DIVISI!" sambungnya.
Lalu ninja yang berada di tingkat Permata dan Kesempurnaan menghilang, menyisakan ninja yang kultivasinya di tingkat Keabadian.
Seseorang berpindah lagi ke ruangan tengah barusan dan mereka dipersilahkan untuk saling bertarung. Sebelumnya mereka yang dipilih untuk ke tengah diharuskan untuk memperkenalkan diri sebelum bertarung agar setidaknya ketika terpilih oleh salah seorang ketua divisi, mereka dapat dikenal oleh anggota yang lain.
Adrine melihat pria yang bertarung di depan matanya. Ia membatin, 'Pria itu adalah seorang pewaris, di tahap Keberlanjutan level-3 kelas akhir, setidaknya dia harus memberi kesan terhadap orang-orang yang ada di atas sana.'
Pria yang bertarung itu bernama Steven. Pertarungannya sangatlah mencolok dalam menggunakan keterampilan sihir beratribut api. Digabungkan dengan kemampuannya bela dirinya yang mumpuni membuatnya seperti seseorang yang menari dengan menggunakan api.
Ninja yang dilawannya juga dapat diimbangi dengan caranya bertarung. Akan tetapi ninja itu hanya menarik satu pedangnya, pedang yang satunya belum ia cabut dari sarung pedangnya.
'Dilihat dari gerakannya, pria bernama Steven itu cukup mahir dalam pertarungan satu lawan satu. Ninja itu juga terlihat jelas bahwa dia sedang menahan diri ... Menarik,' batin Adrine.
Lima menit kemudian, Steven terlihat agak kesulitan karena ninja yang dilawannya menggunakan keterampilan sihir yang membuat gerakannya semakin cepat. Steven juga melapisi sebagian lengannya dengan api jingga yang membara.
Pertarungan terus berlanjut, hingga salah seorang ketua divisi berdiri. Tepat setelah seorang ketua berdiri, ninja itu berhenti dan juga ada ketua lain yang berdiri. Karena Steven tak menyadarinya, ia menyerang ninja yang diam saja di depannya dengan menghantam tanah di bawahnya. Tanah yang dihantamnya retak dan retakannya mengeluarkan lava yang sangat panas serta bergerak menuju ke ninja tersebut.
__ADS_1
"BERHENTI!!!"
BLAAARR!!
Retakannya meledak ketika sampai pada targetnya. Namun ledakannya ditahan oleh suatu kekuatan yang membuat target dari ledakan serangan barusan tidak terluka sama sekali.
Ledakan tersebut rupanya ditahan oleh seorang ketua yang mengatakan untuk 'berhenti' tadi. Ketua itu pun yang pertama kali berdiri dan memilih Steven untuk bergabung dengan divisinya. Ketua itu bernama Kelly Orsaa dari divisi ketujuh, Blue Flower Underwater.
Ketua yang satunya lagi adalah ketua divisi ketiga, Black Clover and Spade, yang bernama Pheomon San. Sosoknya mirip dengan ketua divisi keempat, Fheafel San, yang mana pakaiannya motif dan simbol pada pakaiannya adalah simbol keriting atau daun semanggi dan sekop. Lantas pakaiannya juga sama dengan ketua Fheafel San, hanya saja lempengan logam pada ujung helai kain di belakang punggungnya berbentuk daun semanggi dan sekop yang melilit kedua lengannya.
'Mungkin ketua itu adalah saudaranya ketua divisi keempat,' batin Adrine.
Lalu Steven memilih ketua Kelly Orsaa dan ninja yang melawannya tadi memberikan sebuah bros yang berbentuk bunga mawar berwarna biru dan terdapat simbol air di tengahnya.
Steven pun dipindahkan ke belakang kaca kembali dan kemudian ninja yang ada di atas arena berganti. Ada sosok baru lagi yang dipindah ke tengah ruangan. Dia adalah seorang wanita yang juga mengenakan pakaian layaknya ninja dan di pinggangnya terdapat banyak shuriken.
"Perkenalkan, namaku Hanabi. Kultivasiku berada di tahap Kehancuran level-2 kelas menengah, umurku 50 tahun dan seorang assassin jarak menengah," ucapnya.
Setelah itu, pertarungan Hanabi melawan ninja dengan tahap Nirvana Alam Kedua itu berakhir dalam waktu tiga menit saja. Pertarungannya itu menarik empat orang ketua termasuk ketua Fheafel San dan Pheomon San. Ketua divisi kesembilan dan ketua divisi kedelapan, divisi Nine Cyan Stars dan Dark Hunter. Mereka bernama Michaela Yumira Aranta dan Kevin August Silver.
Hanabi memilih untuk masuk ke dalam divisi keempat.
Adrine cukup antusias pada setiap pertarungan yang ada di depannya. Ia berharap agar dirinya bisa melihat titik lemah setiap orang yang dipilih untuk maju, baginya itu adalah suatu persiapan agar nantinya bisa melawan ketika tengah ditindas.
Apalagi sekarang adalah pertarungan antar ahli di tingkat Permata. Seorang pria yang terlihat masih begitu muda mengaku bahwa dirinya berada di tahap Keunikan level-2 kelas puncak. Katanya dia juga masih berumur 74 tahun, di umur yang sudah menyentuh kepala tujuh adalah seseorang yang sudah benar-benar menyentuh kedewasaan. Namanya adalah Roki Rexenmark.
Pertarungan antar ahli tingkat Permata benar-benar membuat Adrine tak bisa berpaling. Matanya hanya tertuju dan terus terpaku pada pertandingan yang fenomenal di hadapan matanya.
***
Satu jam telah berlalu. Adrine dan Liona masih belum mendapatkan gilirannya.
Adrine menoleh pada Liona, "Hei, jika kau terpilih setelah ini, maka kau harus bersungguh-sungguh agar bisa menarik perhatian salah seorang ketua. Siapapun dia dan darimanapun divisinya, kusarankan kita harus berada di dalam divisi yang sama, aku ingin kita bergabung di dalam divisi empat," ujarnya.
Liona mengangguk.
Kemudian Adrine mengluarkan sesuatu dari dalam cincin penyimpanannya. Ia mengambil sebuah gelang yang mana itu adalah artifak tingkat Suci peringkat 1.
Seseorang yang berada di samping Adrine sempat mendengar percakapannya dengan Liona, pria itu kemudian berkata dengan nada sinis, "Kalian hanya sepasang kekasih yang tak tahu bagaimana caranya membunuh, lupakan saja harapan kalian untuk bisa bergabung ke dalam organisasi ini!"
Liona tersinggung dengan ucapan pria itu barusan. Ketika hendak berjalan menuju pria tersebut, Adrine menghentikannya. "Jangan gegabah, kau hanya perlu membuktikannya saja di atas arena, ambil ini."
Adrine memberikan gelang tersebut kepada Liona, wanita itu memakainya dan berterimakasih kepada Adrine.
"Baiklah, kuharap setelah pertarungan antar ahli tingkat Permata ini adalah giliranku untuk bertarung," gumannya.
Bersambung!!
__ADS_1