
Beberapa bulan kemudian, Adrine dan teman-temannya masih berada di tempat perkumpulan rahasia mereka. Liona pun juga sudah sampai di sana tepat setengah hari setelah Adrine sampai di titik pertemuan.
Pada hari itu, mereka sedang bersiap pergi dari sana. Dan juga tepat sekarang ini adalah hari di mana seharusnya Adrine bertemu dengan anggota dari rasi bintang Orion yang akan menjemputnya.
Adrine memutuskan untuk tidak ke titik pertemuan dengan orang-orang dari rasi bintang itu dan dia juga lebih memilih untuk segera ke Benua Es dalam beberapa hari ini.
"Tujuan kita sekarang adalah ke Kota Obat Beku, kota Springer," ujar Loki yang sudah bersiap di depan pintu kayu.
Kota Springer adalah kota yang dipenuhi oleh obat-obatan serta menjadi salah satu pusat dari perdagangan obat-obatan di Benua Es. Kota tersebut disebut sebagai Kota Obat Beku karena letaknya di wilayah paling dingin di Benua Es.
Bukan sebagai kota obat terbesar, hanya saja memiliki banyak alkemis dengan produksi sekaligus eksporter yang cukup besar dalam hal obat-obatan di dalam benua.
Kota Springer juga bukan sebuah metropolitan, hanya saja kota besar yang dipenuhi oleh obat-obatan.
***
Beberapa saat kemudian, Adrine dan yang lainnya pun berangkat. Mereka segera berjalan ke perbatasan benua, suhunya pun juga semakin menurun.
Sebelumnya, Loki sempat mempersiapkan jubah dengan berbagai jenis bulu serigala. Pria bermata perak tersebut memang seperti sudah mengenali tiap benua dengan baik dan belajar di tempat yang tepat. Sementara Adrine hanya mempelajari bagaimana cara menjadi kuat, melatih seni bertarung, dan mendapatkan jiwa.
Loki pun membagikan jubahnya. Masing-masing orang mendapatkannya, bahkan Liona pun juga mendapat jubahnya.
Dalam sekitar 3 jam setengah, Adrine dan teman-temannya sampai di perbatasan benua.
"Ini perbatasannya?" tanya Adrine.
"Iya," Loki mengangguk.
Adrine hanya penasaran saja melihat bagaimana wujud perbatasan antar benua. Namun yang ia lihat hanyalah es di setiap sudutnya, bukanlah tanah.
Salju yang turun dari langit disapu dengan angin yang berhembus kencang. Bahkan apa yang ada di depan hampir tak terlihat karena salju yang berhembus begitu tebal.
Loki mengatakan bahwa di perbatasan memanglah wajar dalam kondisi ekstrim seperti itu, hanya saja ketika sampai di daratan berpenghuni kondisinya akan sedikit membaik. Adrine percaya dengan apa yang dikatakan oleh Loki, tapi beberapa yang lainnya sedikit tak percaya. Kondisinya semakin lama semakin ekstrim, saljunya semakin tebal dan bahkan melihat orang-orang yang ada di dekat saja sudah sangat kabur.
"Seberapa jauh perjalanan kita?" tanya Adrine lagi.
Loki pun menjawab, "Kurasa sekitar satu setengah jam lebih, perbatasannya kalau tidak salah mencapai tiga mil agar mencapai wilayah berpenghuni."
"APA?! SEJAUH ITU?!" seru Viona dan Violet bersamaan, mereka berdua tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.
Tapi apa yang dikatakan oleh Loki memang mengejutkan. Bahkan Adrine pun juga sempat terkejut mendengarnya. 'Bagaimana wilayah seekstrim ini bisa sampai seluas itu?' batinnya.
Mereka memang tengah bergerak dengan cepat, tapi badai saljunya membuat kecepatan mereka terhambat.
Selain itu, wilayah dengan badai salju yang luas itu sebenarnya adalah lautan yang membeku. Di bawah es yang begitu tebal, terdapat banyak sekali hewan lautan yang tahan akan kondisi ekstrim, hanya beberapa saja. Tetap saja hukum rimba teruslah berlaku, hewan spirit yang lemah akan dimakan olen hewan spirit lain yang lebih kuat.
Secara tak sengaja, mata Adrine melirik ke arah Liona, "Lho eh?"
Ia terkejut melihat wanita tersebut bergerak dengan biasa saja dan tidak seperti orang yang kedinginan pada umumnya. "Apa kau tak merasakan dingin?" Tanya Adrine.
Liona menoleh dan menjawab, "Ah? Tidak, aku memang terlahir dengn tubuh yang beratribut es, cukup tahan hanya dengan suhu sedingin ini, kau tak perlu khawatir."
"Begitukah?"
Wanita itu mengangguk.
__ADS_1
Yang lainnya hanya bisa tertegun dan terkesan bagaimana kuatnya Liona. Mereka hanya tak menyangka wanita sekuat itu tak memiliki kehidupan yang layak dan hidup sebagai bandit. Walaupun di usianya seharusnya bisa lebih kuat, tapi kekuatannya lebih kuat dibandingkan dengan ranah kultivasi yang sama dengannya.
Untuk usia Liona sendiri sekarang telah mencapai 39 tahun, ia belum dewasa tapi tak bisa disebut remaja lagi.
***
Dua jam kemudian, Adrine dan teman-temannya sampai di daratan yang lebih hangat dan memiliki kehidupan. Walaupun suhu udara yang ada di sana masihlah rendah, tapi tidak serendah suhu di perbatasan.
Tak banyak kendaraan terbang yang melintas di atas kepala, kebanyakan orang seperti lebih memilih untuk berjalan kaki melalui jalanan es.
Lalu Adrine bertanya pada Loki, "Apa ini kota Springer? Kenapa seperti reruntuhan?"
Loki menggeleng, "Bukan, kita sedang di gurunnya Benua Es, kalian lihat pasir-pasir itu?" ucapnya sembari menunjuk ke tempat dengan banyak gundukan pasir.
Semuanya terkejut melihatnya. Tak disangka kalau tempat yang seperti kumpulan zat beku itu memiliki gurun. Bukun gurun biasa, itu adalah gurun yang hanya ada di Benua Es saja, tempat itu adalah gurun salju. Gurun yang dipenuhi oleh butiran salju dan banyak gundukan batu yang terlihat seperti bekas reruntuhan bangunan.
"Tempat ini ramai karena menjadi jalur tercepat dari kota Seori ke kota Klea, kedua kota itu memang berada di dekat perbatasan benua," ujar Loki lagi.
Adrine tak terlalu memperdulikannya, tapi melihat tempat itu yang begitu ramai, ia hampir mengira bahwa tempat tersebut adalah kota kebebasan, kota Toturao. Terlalu mirip keramaiannya di mata Adrine.
BUGH!!
"Aduduh, maaf tak sengaja," ujar seorang pria berambut putih panjang sembari tangannya memeluk pedang panjang yang disarungkan. Pria tersebut baru saja menyenggol lengan Adrine, langkahnya lebih cepat dan terburu-buru. Tapi dia tetap meminta maaf dengan senyuman hangat.
Adrine terdiam sejenak sembari menatap siapa sosok yang baru saja menyenggolnya. "Ah, tak apa-apa," ucapnya.
Pria berambut putih tadi pun segera memalingkan wajahnya dan pergi dari sana.
Adrine terus menatap pria tersebut dengan tatapan yang tajam. 'Kurasa takdir akan mempertemukanku dengan pria itu lagi ... Firasatku mengatakan seperti itu,' batinnya.
Selama perjalanan tak ada yang mengeluh tentang apapun. Mereka terus bergerak cepat dan saling mengobrol satu sama lain. Terkadang Adrine lah yang menjadi topik pembicaraan, tapi pria itu terus diam ketika dirinya tengah dibicarakan. Walaupun apa yang dibicarakan tentangnya adalah sesuatu yang baik.
Terkadang pula topiknya berubah menjadi serius dan Adrine juga terkadang ikut angkat bicara.
***
Tak dirasa Adrine dan teman-temannya sampai di kota Springer. Loki yang memberitahu bahwa perjalanannya telah berakhir dan sampai pada tujuan.
Mereka melihat bagaimana megahnya kota itu. Kotanya dua kali lebih luas dark kota Toturao, tapi bangunan yang ada di sana tak banyak yang setinggi dari kota kebebasan. Lagipula ada banyak bangunan yang dibangun di dalam tebing es yang menjulang tinggi.
Adrine dan teman-temannya pun masuk ke dalam kota, mereka harus melewati gerbang perbatasannya terlebih dahulu dan telah diurus oleh Loki dan Razer.
"Fyuuh ... Untungnya kita langsung lewat jalan ke gerbang selatan. Kalau tidak kita akan memutar," ujar Loki.
Mereka semua pun telah berhasil masuk ke dalam kota Springer. Sesampainya mereka di kota tersebut, mereka langsung mencari tempat penginapan yang nyaman dan luas.
Merasa memiliki cukup banyak uang, Adrine memilihkan sebuah apartemen mewah dalam kelas ekonomis. Walaupun menghabiskan berpuluh-puluh ribu koin plasma, tapi ia tak mempermasalahkannya.
Loki mengatakan bahwa mereka akan tinggal di sana selama beberapa bulan. Adrine pun berinisiatif untuk mempersiapkan tempat tinggal dalam waktu lima bulan terlebih dahulu. Tak terlalu lama juga tak terlalu cepat, dan keputusan Adrine juga disetujui oleh semuanya.
***
Setelah memeriksa bagaimana wujud kamar pesanan Adrine, semuanya merasa nyaman dan ruangannya pun juga luas. Mereka berada di lantai dua belas dalam gedung yang hampir setinggi dua ratus meter.
Selain itu, ruangan yang dipesan Adrine begitu luas dan cocok untuk ditempati beberapa orang, hal itu dikarenakan adanya teknik ruang yang memperluas ruangan tersebut. Mengingat ruangannya yang mirip seperti ruangan Master Heyto, Adrine merasa pengalaman itu tak terlupakan.
__ADS_1
Sekarang juga sama dengan yang lalu, tapi yang lalu biarlah berlalu. Tujuan Adrine sama sekali tidak berubah, terus berkembang menjadi kuat dan lebih kuat.
Pintu gerbang terbuka. Muncul dua sosok wanita yang masuk ke dalam, mereka adalah Violet dan Viona.
"Adrine, ini benda yang kau minta," ujar Viona sembari memberi sebuah batu kristal kepada Adrine.
Lelaki berambut hitam hitam itu menerimanya dan ia hanya diam sembari menatap batu di tangannya.
"Ehem!"
Tiba-tiba saja Violet mendehem, namun Adrine menghiraukannya. Matanya terus menatap tajam ke batu kristal di tangannya dan ia juga perlahan membalikkan badannya.
"Apa kau tidak ... "
"Terima kasih," ucap Adrine memotong kalimat Violet.
'Keparat sialan ini ... ' batin wanita berambut ungu itu dengan perasaan dan ekspresi wajah kesal. "Cih, kukira kau lupa caranya berterima kasih," ujarnya.
Akan tetapi Adrine masih menghiraukannya dan berjalan pergi.
Viona pun mendekati Violet, ia menyentuh bahu saudara kembarnya sambil berkata, "Sudahlah, toh sifatnya memang seperti itu. Apa kau lupa?"
Violet hanya diam kesal dan tak menanggapi ucapan kembarannya.
"Haish, kenapa kau malah ikut-ikutan diam? Haduuuh ... " gumam Viona kesal.
Sementara itu, Adrine ingin berlatih untuk menjadi seorang alkemis. Di kota Springer, alkemis memiliki kedudukan yang tinggi, bahkan penguasa kota itu pun harus tunduk dengan alkemis tingkat tinggi.
Tujuannya adalah ia ingin mendapatkan perlindungan dari orang dengan kekuatan tak terduga. Ketika kemampuannya terasah dan membuat orang lain menjadi kagum, namanya akan dilirik dan mendapatkan banyak tawaran untuk menjadi murid seseorang yang hebat.
Adrine kini berada di kamar khusus, yang di mana itu adalah ruangan pribadinya. Ia mengklaimnya karena dirinya lah yang memesan apartemen tersebut. Kamar itu pun juga lumayan besar, ukurannya sekitar 6 meter x 6 meter x 6 meter.
Kemudian dia pun mengeluarkan sebuah tungku. Tungku yang dimilikinya itu adalah pemberian Shin kecil, walaupun tidak disebutkan di saat proyeksi berlangsung.
Lalu Adrine mempraktekkan apa yang sistem sebutkan di otaknya, mulai dari pemahaman dasar tentang obat-obatan, penggunaan api, menyesuaikan suhu, meleburkan bahan-bahan, hingga membentuk tubuh pil.
Adrine juga mendapatkan bahan-bahan herbal yang cukup banyak dari Shin kecil sebelumnya dan ia baru menyadari bahwa ruang cincin penyimpanannya bertambah luas. Selain itu, terdapat satu ruang berbeda yang di mana kini Adrine memiliki dua ruang dalam satu benda.
'Ternyata menyuling pil itu tak semudah melatih seni bela diri,' batinnya.
***
7 jam kemudian.
Matahari telah tergelincir di barat. Adrine sendiri telah sedikit bisa melakukan penyulingan pilnya. Namun ia masih belum terlalu dapat mengendalikan suhu apinya.
Setiap kali bahan-bahannya melebur, suhu apinya terus naik dan selalu terlambat dalam menyesuaikannya. Dan pada saat tubuh pilnya mulai terbentuk, dikarenakan suhunya yang terlalu tinggi, akhirnya pil yang ia dapatkan selalu gosong dan hanya menjadi abu.
Akan tetapi, Adrine masih belum menyerah. Kemudian ia mengeluarkan beberapa bahan herbal dan batu kristal yang ia minta kepada Violet untuk dibelikan diluar.
Batu kristal itu dinamakan Kristal Murni. Tapi Kristal Murni tidak memiliki aura spiritual sama sekali. Ia hanyalah kristal biasa, hanya saja cukup dibutuhkan untuk para alkemis pemula.
Kristal murni hanya memiliki struktur yang padat dan keras, tapi mudah melebur. Jika kristal murni dileburkan dapat menjadi tubuh pil yang sesuai, apalagi tak memberi efek samping apapun ketika telah menjadi pil.
"Kali ini aku harus bisa, akan kucoba lagi," gumam Adrine.
__ADS_1
Bersambung!!