
BLAAAM!!
Suara ledakan dari pukulan tangan terdengar dengan sangat keras. Para penonton bersorak lebih keras lagi disaat mendukung Yama.
Diarena hanya menyisakan asap mengepul karena serangan tadi. Dan cahaya yang menerobos masuk kedalam asap itu membuat sebuah bayangan dan tercipta siluet 2 orang.
Terlihat dari siluet itu, satu orang seperti sedang terjatuh dan satunya lagi sedang menginjak orang yang terjatuh.
"WOW!! KETUA YAMA MEMANGLAH HEBAT!!"
Sebagian besar dari penonton langsung berteriak dengan sangat keras dan mengira kalau Yama sudah mengalahkan Adrine dan menginjaknya.
Lalu, tubuh orang yang menginjak itu seperti mengeluarkan cahaya. Dan tiba-tiba saja, cahaya itu berubah menjadi petir dan menyambar keatas langit.
"ERGHH!!"
Semua penonton seperti tak tahan dengan pancaran cahayanya. Semuanya menutupi matanya karena silau akan petir yang menyambar.
Setelah petir itu mulai meredup, semua orang pun membuka matanya dan melihat kearah arena dengan sangat senang dan bangga.
"HEBAT SEKALI!! KETUA YAMA MEMANG SANGAT HEBAT!!"
Walaupun dari kebanyakan bersorak-sorai, namun ada beberapa yang merasa seperti ada yang aneh.
"Bukankah kapten Yama tidak menguasai teknik elemental petir? Bagaimana itu bisa terjadi?"
Ada beberapa yang melihat kejadian itu secara teliti dan merasa kalau keanehan itu ada pada pencipta petirnya.
"Apa mungkin kapten Yama berlatih elemental petir diam-diam? Kapten Yama itu jenius, tidak ada yang tak mungkin baginya."
Ada juga yang berpendapat bahwa Yama berlatih diam-diam dan selalu berpikir positif tentang apa yang terjadi pada Yama.
Tapi dari beberapa, tetap masih ada yang merasa aneh kalau Yama pencipta petir itu. Hingga semua pertanyaan tersebut terjawab disaat asapnya mulai menyebar.
"APA? TAK MUNGKIN!!"
Semua orang langsung terkejut, tak terkecuali. Bahkan Arpha, Etern, dan David pun juga terkejut melihat kejadian yang ada didepannya.
__ADS_1
"Orang yang kalian bangga-banggakan ini sudah aku kalahkan. Siapa selanjutnya?"
Suara keras dari dalam arena, namun penuh dengan hawa pembunuh. Bukan Yama yang sedang berbicara, tapi orang lain lah yang mengatakan kalimat tersebut, dan ia adalah Adrine.
Adrine telah menginjak kepala Yama dengan kondisi yang memalukan. Tubuh Yama menjadi hangus karena sambaran petir yang kuat tadi. Yama pun sudah tidak sadarkan diri.
Semua penonton merasa terkejut melihat Adrine yang telah mengalahkan Yama tanpa pertarungan sengit. Ada dari mereka yang merasa kalau Adrine itu berbuat curang, dan ada yang merasa takut karena kekuatan Adrine yang dibuktikan kalau ia mengalahkan Yama.
Namun Geng Lima Jenius tidak bisa mengakui kalah begitu saja. Keempat anggota geng tersebut langsung turun tangan untuk menghadapi Adrine. Mereka tidak bisa melihat salah satu temannya tertindas oleh orang lain, apalagi kalau orang itu adalah orang yang bagi mereka terhina, yakni Adrine.
"Beraninya kau memukul Yama!! Kami tidak akan melepaskanmu!!"
Rizky merasa marah dan tidak terima kalau Yama ditindas seperti itu. Begitupun dengan yang lainnya, mereka merasa ingin menghajar Adrine habis-habisan.
"Berlutut lalu minta maaf dengan Yama, atau kalau tidak kami akan membunuhmu!!"
Vania juga tak ingin melepaskan Adrine. Ia menginginkan Adrine agar berlutut dan meminta maaf kepada Yama agar Adrine tidak memiliki muka lagi untuk berada didalam perguruan.
Namun Adrine hanya diam dan tidak memperhatikan bagaimana Geng Lima Jenius mengancam nyawanya. Ia hanya terus menatap kearah Rizky yang merasa ingin sekali membunuhnya.
"Kenapa kau hanya diam? CEPAT BERLUTUT!!"
"Apa aku tidak salah lihat? Kalian yang lebih lemah dari Yama ingin melawanku? Bahkan kera saja tidak mau melihat kalian."
Adrine pun menghina mereka dengan telak. Bahkan para penonton yang membenci Adrine, merasa benar adanya dengan kalimat Adrine.
Adrine telah mengalahkan Yama, para penonton tahu kalau satu kalah lalu turun mengeroyok, bahkan mereka tak jauh lebih hina dibandingkan dengan anjing.
Adrine pun berbalik dan ingin turun dari arena. Namun keempat anggota Geng Lima Jenius tidak membiarkan Adrine begitu saja. Mereka menyerang Adrine bersamaan dari belakang.
SET!!
Mata Adrine melirik kebelakang dan mata jiwa kanannya pun aktif saat itu juga. Lalu muncul sebuah pedang ditangan Adrine.
SLAAASH!!
Adrine pun mengayunkan pedangnya kebelakang. Semua pupil mata mengecil melihat serangan itu.
__ADS_1
BLAAARR!!
"AAAAAARRRRRRGGGGGGHHHHHHH!!!"
Seketika itu, keempat orang itu meledak dan tersambar petir dengan tegangan yang sangat tinggi. Para penonton menjadi merasa takut melihat kemampuan Adrine yang sangat menakutkan.
Tapi Arpha, Etern, dan David tersenyum puas melihat itu semua. Dari hancurnya Geng Lima Jenius sampai orang-orang yang takut dengan Adrine, semua hal itulah yang membuat mereka bertiga tersenyum puas.
Setelah itu, Adrine pun turun dari arena dan menghampiri teman-temannya. Mereka bertiga masih tersenyum dan menatap Adrine dengan tatapan bangga dan mereka merasa kalau Adrine sudah berubah jauh menjadi lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
"Apa kau sudah mencapai tahapan Kematian level-3 kelas akhir? Hebat sekali!!"
David langsung memuji Adrine dengan penilaiannya yang menurutnya Adrine telah mencapai tahapan tersebut. Namun Adrine menggelengkan kepalanya.
"Tidak? Apa kami salah? Semua itu penilaian paling positif tentang dirimu, apa penilaian kami itu kurang?"
Arpha masih tak mengerti kenapa Adrine masih saja menggelengkan kepalanya walaupun menurutnya semua itu adalah penilaian terbaik.
Walaupun Adrine selalu menggelengkan kepalanya, namun ia tak ingin membuat mereka bertiga penasaran. Adrine pun membuka mulutnya.
"Kita pulang dulu, nanti dirumah akan kuberitahukan semuanya."
Adrine berjalan keluar dari arena tantangan dan menepuk pundak Arpha. Mereka semua setuju kalau Adrine akan memberitahu kultivasinya saat nanti sampai dirumah.
Namun, seluruh penonton masih kaku didalam arena penonton dan masih memandangi Geng Lima Jenius yang terbaring tak sadarkan diri. Mereka memandangi 5 orang itu dengan pandangan yang bingung dan banyak yang merasa kecewa.
Banyak juga dari mereka yang merasa reputasinya turun pula ketika melihat Geng Lima Jenius telah dikalahkan oleh seorang yang satu perguruan sebut-sebut sebagai pecundang.
"Mereka telah merasakan batunya, apa kau tidak senang Adrine? Kita semua disini senang lho..."
Etern merasa sangat senang dan bersemangat seketika itu juga. Tapi Adrine hanya tersenyum saja melihat Etern sesenang itu.
"Sejauh ini, mereka telah merasakan apa yang rasanya terhina. Tapi kurasa, hinaan mereka tak sekedar sampai disini saja, apa yang mereka katakan tentang diriku ini pasti telah menyebar luas sampai perguruan murid inti utara. Semua ini akan kubalas sesuai dengan apa yang mereka lakukan selama ini."
Adrine berkata dengan penuh keseriusan, bahkan teman-temannya yang mendengarnya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Adrine.
Mereka pun berjalan menuju kerumah dan akan berlatih sampai ujian kelulusan tiba.
__ADS_1
'Tunggu saja!! Ketika kelulusan tiba, kalian semua yang menghina dan menindas teman-temanku selama ini akan merasakan rasa penindasan yang sama!! Tidak terkecuali!!' Pikir Adrine.
Bersambung!!