
Reina meminjam kartu misi yang diambil oleh Adrine, ia membacanya dengan seksama tugas yang ada di dalam kartu tersebut.
"Hmm ... Misi ini memang diperuntukkan bagi seorang pilar sepertimu, tapi di sini klien meminta satu orang lagi untuk membantumu," ujar wanita itu seraya memperlihatkan kartu misinya kepada Adrine.
"Jangan bilang kau ingin ikut bersamaku?"
Reina mengangguk sembari tersenyum, "Klien menginginkan dua orang di tahap Nirvana Alam Pertama dan salah satunya haruslah seorang pilar. Dia memang memilih orang dengan daya potensi yang bagus," terangnya.
Adrine paham dengan ucapan Reina, ia mengizinkan wanita itu untuk ikut dengannya.
Lantas Reina keluar untuk menuju ke aula utama, ia hendak mengambil misi dan bergerak dengan cepat agar pengambilan misinya tidak didahului orang lain. Sementara Adrine berdiam di kamar sambil menghabiskan makanan yang dimasakkan oleh Reina.
***
Beberapa saat kemudian, wanita dengan garis di wajahnya itu kembali ke kamar. Wajahnya terlihat seperti biasanya, datar dan dingin.
"Apa kau dapat kartunya?" tanya Adrine.
Reina mengangguk, "Iya, syukurlah."
Ia juga melihat piring kosong yang ada di tempat pencucian dan belum dikembalikan ke tempatnya.
"Wah, kukira kau tak punya selera makan,"
Adrine hanya diam dan tersenyum. Reina tertawa kecil dan mereka pun beristirahat di ranjang mereka masing-masing. Misi yang akan mereka jalankan itu akan dilaksanakan esok lusa dikarenakan besok adalah hari perebutan posisi pilar terkuat.
Adrine tak beristirahat, ia hanya berkultivasi untuk meningkatkan kekuatannya. Karena menurut sistem, kultivasi biasa yang dilakukannya setiap waktu itu dapat membuat tubuh semakin mudah untuk beradaptasi dengan energi asing.
Karena Adrine memiliki Tubuh Yin-Yang, sistem di kepalanya menyarankan untuk mengganti metode kultivasi ketika berada di tingkat Kesempurnaan.
Dan misi yang dilakukannya lusa esok juga akan dimanfaatkan untuk mendapatkan metode kultivasi yang lebih tepat dan efisien. Sistem hanya memberinya satu metode kultivasi saja dan sempat dicoba sebelumnya, yakni Pemurnian Tubuh Bintang.
Dan kini sistem menyarankan beberapa metode kultivasi yang terbaik, di antaranya adalah, Kultivasi Ganda, Pemurnian Tubuh Bintang, Lingkaran Ganda Hitam dan Putih, Prinsip Penekanan Meridian, dan lain-lain.
***
Keesokan harinya, Adrine berjalan ke arena bertarung yang digunakan pada saat penerimaan anggota baru sebelumnya dan ditemani bersama dengan Reina dan Liona.
Mereka bertiga seperti hamparan es yang sangat luas, dingin dan mematikan. Liona dan Reina hanya menonton di sana, sementara Adrine akan bertarung dan menentukan siapakah pilar terkuat di tingkat Keabadian.
Seseorang melintas di depannya, seketika Adrine memicingkan matanya. 'Dia?' batinnya.
Sosok itu adalah Angelo yang baru saja menatap sinis Adrine, lelaki itu berjalan dengan percaya diri seolah dapat mengalahkan semua lawannya dalam sekali serang. Liona dan Reina sedikit geram ketika melihatnya.
Sadar kedua teman wanitanya kesal melihat Angelo, Adrine berkata, "Tak ada waktu untuk meladeninya, setelah ini aku akan pergi ke Yunsha secepatnya."
Kota Yunsha adalah kota kecil yang dihuni oleh beberapa keluarga saja. Keluarga yang ada di sana dimusuhi oleh sebuah sekte yang kediamannya berada tak jauh dari kota tersebut. Pasir Darah Hitam diminta untuk membantu.
Perselisihan keduanya sangatlah ketat, bahkan tak jarang ada yang saling membunuh ketika saling bertemu.
__ADS_1
Kota Yunsha berjarak hampir sepuluh mil dari markas organisasi Pasir Darah Hitam dan dibatasi oleh gerbang besar Prefektur Yamura.
Misi yang diterima Adrine hanya akan berlaku sampai pagi esok dan jika tidak sampai ke kota Yunsha tepat waktu, maka misi yang diminta tak lagi berlaku. Karena itulah ia ingin segera menyelesaikan acara penentuan pilar terkuat, bahkan menurutnya ia ingin melewatkannya saja.
Beberapa saat kemudian, acaranya dimulai. Cara bermainnya adalah dengan cara menantang pilar lain untuk menentukan siapa yang terkuat. Ketika pertandingan selesai, yang menang tak memiliki kualifikasi lagi menjadi pilar terkuat. Sementara yang menang akan diberi pil pemulihan tingkat Duniawi dan mendapatkan kualifikasi untuk menjadi pilar terkuat. Dengan adanya pil pemulihan, mereka yang menang akan pulih energinya serta boleh menantang ataupun ditantang lagi.
Sekarang ini Adrine sama sekali tak berniat untuk menantang siapapun. Terlihat dari wajahnya yang bosan terus-terusan menguap, ia sama sekali tak antusias dengan acara ini.
'Kapan ini akan berakhir?' tanyanya sembari mengorek telinga. Padahal acara baru saja dimulai dan ia sudah mulai bosan dan merasa ingin segera pergi saja.
Sudah ada yang bertarung di tengah arena, Adrine juga masih belum mendapatkan tantangan dari siapapun.
***
Pilar tingkat Keabadian dari divisi Ketujuh adalah yang pertama kali kalah. Kemudian disusul oleh pilar dari divisi ketiga, kedelapan, kesembilan, dan kelima.
Yang masih memiliki kualifikasi adalah Angelo D'Jonathan dari divisi pertama sekaligus menjadi kuda hitam di dalam perebutan gelar pilar terkuat, Hans dari divisi kedua, Adrine Arnando dari divisi keempat, dan Isana Torui dari divisi keenam.
Adrine masih belum mendapatkan tantangan sama sekali. Hampir semua orang yang menonton merasa kesal dengannya, bahkan ada yang mencibirnya. Itu karena Adrine sama sekali belum menantang ataupun ditantang oleh pilar yang lain.
Semua pilar tahu bahwa Angelo dan Adrine adalah sosok mengerikan yang tak boleh dilawan. Namun apa daya, Angelo memiliki sifat agresif dan sangat percaya diri dengan kemampuannya. Sementara Adrine hanya malas untuk mengikuti acaranya saja, ia memang tak berniat dengan perebutannya. Menurutnya ini hanyalah sebuah kompetisi tak berbobot yang mana pesertanya hanya berusaha mendapatkan gelar dan kelayakan yang membuat kesan mengintimidasi saja.
Angelo sendiri sudah memikirkan sesuatu untuk melawan Adrine. Alasan kenapa ia tak menantangnya yaitu karena konsekuensinya.
Jika terburu-buru, maka akan buruk baginya di hadapan pilar yang lain. Jelas Angelo tahu seberapa kuat Adrine itu, 'Tapi yang kutahu hanyalah luarnya saja. Kekuatan dan kemampuan yang ditunjukkannya sebelumnya pasti hanya bagian tipis dari semua yang ia miliki. Setidaknya jika aku kalah, aku berada dalam posisi kedua,' batinnya.
Adrine menerima tantangannya dan dipindahkan ke tengah arena. Orang-orang bersorak-sorai meramaikan suasana, di sana kebanyakan mendukung Isana karena dia telah berhasil mengalahkan dua pilar, pilar divisi ketujuh dan divisi kelima.
'Sungguh bodoh orang ini, belum ada orang setingkat yang bisa mengalahkannya,' ucap Angelo dalam hati yang ditujukan kepada Isana Torui. 'Tapi dia tak tahu bahwa senior Royu seimbang ketika melawan bocah itu."
Sementara itu, Adrine segera memancarkan niat membunuhnya. Tekanan yang diberikan sangatlah berat dan membuat Isana tak dapat berkutik. Semua orang yang menyaksikan pertarungan mereka berdua juga merasakan aura yang sangat berat. Mereka semua terdiam ketika merasakan niat membunuh milik Adrine.
"Haha ... Kau ... Tak kusangka, ada orang sekuat dirimu ... Apa kau benar-benar tahap Nirvana Alam Pertama level-2?" Kepala Isana terasa berat dan tertunduk, mengangkat kepala saja seperti mengangkat batu besar yang bobotnya berton-ton.
Pandangan Isana mulai kabur, seakan di sekitarnya sedang dalam kondisi berkabut tanpa adanya cahaya.
WUUUSH!!
Adrine menghilang entah kemana, mata gadis berambut pirang itu bergerak ke sana kemari mencarinya. Suasana semakin hening dan terasa begitu mencekam, tapi apa yang terjadi sudah terjadi.
Isana tak sadar tubuhnya melayang, Adrine yang menghempaskannya ke atas.
BLAAAARR!!
Tubuh Isana terbanting di lantai dengan sangat keras. Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa, bahkan salah satu tulang rusuknya patah.
Adrine sama sekali tidak menanggapi dengan serius dalam pertarungannya ini, hanya saja ia membuktikan bahwa tanpa harus mengalahkan banyak orang, ia bisa menjadi lebih kuat dan semakin hebat. Apa yang ditunjukkannya membuat orang-orang semakin diam, suasana juga semakin sepi.
Adrine mengurungkan kembali niat membunuhnya, Isana menjadi sedikit lebih bebas dalam bergerak.
__ADS_1
Sebenarnya Adrine hendak bermain lebih halus ketika bersama dengan wanita, tapi karena didesak oleh waktu ia harus segera menyelesaikan pertarungannya. Sehingga Isana dikalahkan dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Isana tak bisa bergerak lagi meskipun sudah terbebas dari kekuatan Adrine. Wanita itu harus mendapat pertolongan pertama agar dapat bertahan.
'Ah, kupikir aku sudah lebih halus dalam pertarungan ini ... Kupikir lagi ... Haha, aku memang terlalu kasar dengan wanita ... ' batin Adrine sembari tersenyum hangat melihat Isana tumbang, begitupun dengan tatapannya.
Adrine tak dipindahkan ke tempat penonton, salah seorang ninja memberinya pil pemulihan. Tapi Adrine tak menelannya.
"Bukankah dia terlalu sombong?"
"Ya, kupikir bocah itu memang sangat sombong."
"Dia memang sangat sombong sejak dari awal, bahkan sepertinya belum ada yang sesombong bocah itu."
Sekali lagi Adrine mendapatkan hujatan dari orang yang menontonnya. Tetapi ia tak peduli akan hal tersebut, yang pasti sekarang posisi Isana telah digantikan oleh Angelo.
Angelo memakai semua perlengkapannya termasuk zirahnya. Dia sangat waspada dengan Adrine karena telah mengetahui kekuatannya. Angelo paham dan cukup percaya diri jika Adrine tak memakai seluruh perlengkapannya walaupun bertarung dengan sungguh-sungguh.
"Kenapa bocah yang jadi kuda hitam itu begitu waspada? Bukannya dia lebih kuat ya?"
"Bocah itu awalnya terlihat sombong, tapi sebenarnya dia orang yang sangat waspada.
"Betul, jika seperti ini setidaknya akan ada pertunjukan yang menarik."
"Setidaknya bocah yang bernama Angelo itu bisa memberikan pertarungan yang lebih intens kepada bocah sombong itu."
Benar-benar banyak yang tak suka dengan Adrine, bahkan sampai membencinya. Tetapi beberapa pilar dengan tingkat yang lebih tinggi merasa bahwa reputasi Adrine seharusnya layak dengan kekuatannya. Apalagi Royu, ia merasa bahwa Adrine mirip ketika dirinya pertama kali masuk ke dalam Pasir Darah Hitam.
"Respon yang diterima oleh bocah yang bernama Adrine itu mirip seperti kau dulu, Royu. Bukankah begitu?" tanya salah seorang di samping pilar tingkat Kesempurnaan divisi pertama, Royu.
Pria yang ramah senyum itu mengangguk, "Aku merasa sedang melihat diriku di masa lalu."
Pada saat yang sama, Adrine mengeluarkan pedangnya. Ia ingin melatih kemampuan berpedangnya kembali menggunakan Ascended Sword. Royu terkejut melihatnya, begitupun dengan beberapa kultivator pedang lain yang melihatnya.
'Pedang itu seharusnya adalah pedang kelas tinggi yang sulit untuk mengendalikan kemampuan Ascended Sword. Itu seperti berjalan di atas tali sembari mempertahankan gelas yang penuh,' batin Royu.
Matanya menatap tajam ke arah pedang Adrine. 'Tujuh Konektivitas dan Ascending Jingga? Jika benar umurnya masih belum dua puluh dua tahun, maka pelatihannya itu terbilang biasa-biasa saja. Tapi kendalinya ... ' batinnya lagi.
Pengendalian Ascended Sword dalam pedang yang mana itu adalah artefak kelas tinggi sangatlah sukar untuk dilakukan. Sama saja dengan mengendalikan dua kekuatan dengan hanya satu perantara. Jika gagal melakukannya, kualitas dan durabilitas artefaknya akan menurun serta membuat penggunanya sulit untuk melakukan Ascended Sword kembali.
Tetapi jika berhasil, maka pengguna akan mendapatkan hasil yang luar biasa. Memadukan ketajaman yang luar biasa dari pedang itu dengan potensi yang sebenarnya dari pedang itu sendiri.
Seperti itulah yang dirasakan oleh Adrine sekarang, tapi menurutnya hal seperti itu ...
SLAAAASH!!
Suasana menjadi hening, tak ada sorakan dari para penonton dan pertandingan telah berakhir.
Bersambung!!
__ADS_1