Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Seleksi Kedua


__ADS_3

Di dalam sebuah tempat yang layaknya penjara atau kurungan, Adrine dan Reihan tengah membicarakan tentang taruhan. Reihan menyetujui untuk memberikan tombak yang dipegangnya, artifak tingkat Puncak, sementara Adrine akan memberikan 3 buah pil Yang Neraka Kedua.


"Hmm, apa tidak bisa lebih?"


Reihan merasa kurang dengan tawaran Adrine.


Adrine hanya tersenyum dan merasa mendapatkan kesempatan lebih bagus lagi, ia terpikir akan bisa memanfaatkan situasi ini jauh lebih baik dan lebih menguntungkan.


"Oke, aku akan memberikan 5 pil Yang Neraka Kedua dan 10 pil Yin Surga Keempat, tapi kau harus memberiku 2 artifak setingkat tombakmu itu."


Reihan terkejut mendengarnya, namun ia tak merasa takut atau khawatir dengan taruhan yang ditawarkan oleh Adrine. Tapi Reihan masih belum merasa curiga dengan taruhan Adrine.


"Oke, aku punya 1 lagi belati yang bagus, artifak tingkat Semesta, tapi syaratnya kau harus memberiku jumlah sebanyak 3 kali lipat dari yang kau tawarkan. Lihat ini!"


Dengan hati yang sangat senang, Adrine langsung mengangguk dengan cepat dan melihat sebuah belati yang dikeluarkan oleh Reihan. Belati tersebut berwarna ungu gelap dengan gagang yang berwarna hitam. Belati itu juga bergerigi dan memiliki aura yang cukup kuat dan Adrine juga merasakan energinya. Dia sangat setuju dengan apa yang akan diberikan oleh Reihan.


'15 pil Yang Neraka Kedua dan 30 pil Yin Surga Keempat hampir setara dengan sebuah artifak tingkat Semesta, artifak ini juga setidaknya berlevel 4 ataupun 5.' Pikir Adrine.


"Setuju!"


Kedua belah pihak telah setuju dengan taruhan masing-masing.


"Oke, kau harus memberikan semua pil yang kau pertaruhkan tadi setelah ini."


"Dan kau juga harus memberikan 2 artifak yang kau pertaruhkan tadi."


Setelah mereka saling beradu kata, Reihan memulai serangan lagi dengan menggunakan tombak yang tadi, namun mata jiwanya diaktifkan.


ZRAAAST!!


Reihan langsung bergerak dengan cepat ke arah Adrine dengan membawa tekanan yang kuat.


'Mata jiwa bawaan, aku merasakan tekanan berupa sesuatu yang dingin dan menyengat, sepertinya mata jiwanya ini punya elemen dasar berupa es dari alam dan hutan.' Pikir Adrine.


Adrine masih menunggu Reihan berjarak sedekat mungkin dengannya agar pasukan yang dikeluarkannya akan mengejutkan Reihan dan serangan yang dilancarkan menjadi kacau ataupun gagal.


Reihan telah berjarak sangat dekat dengan Adrine.


'Cukup 1.' Pikir Adrine.


"Blood Demon!!"


Adrine hanya berkata pelan dan tiba-tiba bayangan merah darah muncul disekitaran Adrine dan dengan cepat membentuk sebuah tubuh seperti manusia, namun memiliki ekor dan 1 tanduk di dahinya.


ZRAAAST!!


Reihan langsung terkejut dan bergerak menjauh dari Adrine.


'Sial... Ternyata hewan iblis.' Pikir Reihan.


"Maju!!"


Mendengar perintah dari Adrine, Blood Demon langsung maju dan menyerang, kecepatannya jauh lebih cepat daripada Reihan, namun Adrine mengontrolnya dengan kecepatan yang lebih lamban.


'Masih dalam rencana, sekarang aku harus...' Pikir Adrine.


"Aarghh..."


Secara tiba-tiba Adrine mengerang kesakitan, seolah pengendaliannya tak berjalan lancar dan kacau balau.


"Haha, kekuatan hewan iblis itu besar, kau mana punya cukup energi untuk mengontrolnya."


Reihan mengolok Adrine sambil bergerak menjauh dengan cepat. Gerakan Blood Demon juga semakin melambat dikarenakan kontrol Adrine yang diperlemah, hal tersebut memanglah disengaja.


Tubuh Blood Demon juga semakin mengeropos dan sudah banyak bagian yang telah hilang.


ZRAAAST!!


Tiba-tiba saja gerakan Blood Demon sangat cepat dan Reihan juga sangat terkejut.


'Apa? Cepat sekali!' Pikir Reihan.


Reihan menghadap ke belakang dan dia melihat sudah berada di ujung arena.


'Sial, jalan buntu.' Pikir Reihan.


Reihan memasang kuda-kuda yang yang sangat tegak dan Blood Demon sudah berada di depan matanya, tombak yang dipegangnya bukan dijadikan senjata menyerang lagi, melainkan menjadi perisai yang berupa tombak. Dia juga menutup matanya karena tak tahu apa yang akan dialami.


WUUUSH!!


Blood Demon tiba-tiba terhenti tepat di depan Reihan dengan tangan yang siap memukul Reihan. Blood Demon mematung di sana dan sama sekali tidak terjadi apa-apa.


Reihan pun membuka matanya dan langsung terbelalak lebar, ia terkejut melihat tubuh hitam kemerahan yang mematung di depannya. Adrine sendiri terlihat sedang kesakitan dan terus menghadap ke bawah dengan mata yang menatap tajam ke arah Reihan.


"Hehe, tak kena."


Dengan senangnya dia berjalan ke arah Adrine dan melewati Blood Demon begitu saja. Adrine juga terlihat sedang terduduk lemas dan dalam keadaan yang menyedihkan.


"Ooh? Kau sudah kehabisan tenaga ya?"


Reihan sangat seang sekali, dia berkata dengan sombongnya di hadapan Adrine begitu saja.


SET!!


Tiba-tiba Adrine mengangkat wajahnya dengan cepat dan tersenyum menatap ke arah Reihan.


"Haha, kena tipu."


ZRIIING!!


Dengan kecepatan yang tak terlihat, Adrine bergerak begitu cepat dan sekarang posisi duduknya telah digantikan oleh Blood Demon yang tadinya ada di belakang Reihan.


'Dimana dia?' Pikir Reihan.

__ADS_1


"Hei, kemana matamu melihat?"


Muncul Adrine di belakang Reihan dan dia sudah tak memiliki kesempatan untuk menghindar dari serangan Adrine.


BRUAGH!!


Tangan Adrine melayang dengan begitu cepatnya, membuat Reihan terpukul jauh hingga terseret sampai di bawah Blood Demon yang berdiri terpaku.


"Tunggu dulu!"


Reihan menghentikan pertandingan, dia merasa pertarungan kali ini tidak sesuai dengan apa yang sebelumnya dibicarakan.


"Bukankah perjanjiannya aku akan melawan pasukanmu?"


Adrine tersenyum lebar.


"Oke, pilih salah satu! Lawan aku, atau dia?"


"Eh?"


Reihan langsung terdiam tak tahu harus menjawab apa, ia menunduk ke bawah dan memikirkan apa yang harus ia pilih.


'Dia punya kendali yang lemah terhadap pasukan besarnya ini, tapi sekali aku terkena serangannya, keadaan bisa bertambah gawat.' Pikir Reihan.


Kemudian Reihan menatap Adrine kembali.


"Tetap, aku akan melawan pasukanmu."


Adrine tersenyum santai mendengar jawaban Reihan.


"Oke, sekarang... Blood Demon, serang dia!"


"Apa?"


Dengan cepat Reihan menatap Blood Demon yang ada di belakangnya dan kepalan tangan Blood Demon telah diangkat tinggi-tinggi, siap dihantamkan kepada Reihan.


BLAAAM!!


Reihan sempat menghindar dari serangan Blood Demon, tapi dia tetap merasakan dampak dari serangan berat barusan. Blood Demon tidak mengejar dan hanya berdiam diri di sana.


'Sial, pasukannya terlalu kuat.' Pikir Reihan.


Walaupun Reihan telah menghindar, akan tetapi Adrine masih terlihat baik-baik saja di saat mengendalikan Blood Demon barusan,, Reihan juga masih sangat waspada kerana hal tersebut, melihat Adrine yang masih baik-baik saja dalam kendalinya.


"Blood Demon, Stalakmit Darah!!"


"Hah?"


Reihan kembali menatap Blood Demon dengan sangat waspada, sekali lagi dia melihat Blood Demon telah mengangkat tangannya, namun tidak berada dekat dengan Reihan.


BLAAAR!!


Blood Demon menghantam tanah lagi, namun langsung muncul banyak stalakmit berwarna merah yang sedang mengarah ke Reihan.


ZRAAAST!!


'Serangan itu tak mungkin akan bisa menyentuhku dari ketinggian setinggi ini.' Pikir Reihan.


"Blood Demon, Bola-bola Darah!!"


Reihan semakin cemas dan waspada dengan serangan Blood Demon lagi setelah Adrine mengatakan sesuatu.


"UHUUK!!"


Adrine terjatuh, namun ia tengah berpura-pura di depan Reihan.


'Sepertinya apa yang akan dilakukan oleh hewan iblis itu akan melemah, aku harus cepat untuk menghindari serangan ini.' Pikir Reihan.


Muncul bola-bola berwarna merah gelap di belakang punggung Blood Demon, bola-bola tersebut berjumlah 10 buah dan siap untuk dilancarkan.


WUUUSH!!


'Sial, bola darah itu cepat sekali!!' Pikir Reihan.


BYAAAR!!


Bola-bola darah itu mengenai sasaran, Reihan pun juga terjatuh ke bawah, namun tidak terjadi apa-apa ketika ia terkena serangan dari Blood Demon.


'Tidak mungkin serangan barusan tak ada efeknya, mungkin tadi adalah pengalihan.' Pikir Reihan.


Reihan merasa curiga dengan serangan tadi, dia melihat sekujur tubuhnya yang basah dengan darah yang tidak terlalu kental.


"Pembekuan darah!!"


Sekali lagi Adrine mengeluarkan suara, Reihan juga cemas lagi.


Tiba-tiba saja tubuh Reihan menjadi kaku, dia tidak bisa bergerak, hanya matanya yang mampu ia gerakkan.


'Darah darah tadi... Meengeras?' Pikir Reihan.


Lalu Adrine berdiri dan berjalan mendekati Reihan, Blood Demon juga berjalan ke arah yang sama dengan Adrine.


"Kau kalah, apa kau ingin melanjutkan pertarungan?"


Adrine berkata dengan cukup lantang di depan Reihan, namun Adrine juga dalam kondisi yang tidak bagus, tapi hanya sedang berpura-pura.


Reihan juga dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan, ia sudah membeku dan tangan Blood Demon sudah sangat siap untuk memukulnya.


"Oke aku mengaku kalah, taruhannya kau yang menang."


Tanpa adanya perlawanan lagi, Reihan dengan senang hati mengalah dengan senyuman di bibirnya. Dia sudah mengerti posisinya sekarang yang sudah tidak bisa apa-apa lagi.


"Lunturkan!"

__ADS_1


Darah yang membeku di sekujur tubuh Reihan telah luntur hanya dengan 1 kata yang keluar dari mulut Adrine, kini Reihan telah bisa bergerak bebas lagi.


Lalu Reihan mengeluarkan sesuatu yang berasal dari dalam cincin penyimpanannya dan benda-benda yang dikeluarkannya adalah benda yang dipertaruhkannya tadi.


"Tombak Cahaya Bulan dan Belati 2 Garis Merah, ambillah!"


Adrine pun mengambil keduanya, ia juga merasakan kekuatan yang besar berada di dalam masing-masing senjata tersebut.


"Baiklah, aku akan terima keduanya."


Setelah itu, Adrine berbalik pergi meninggalkan Reihan, namun ia terpikirkan sesuatu dan berbalik lagi.


"Ambil ini!"


Adrine melemparkan sesuatu kepada Reihan.


"Apa ini?"


"Di dalam botol itu ada 10 pil penyembuhan tingkat 3. Oh iya, di dalamnya juga ada 4 pil Mutiara Petir Langit bintang 3 dan sebuah pil Yang Neraka Kedua."


Reihan terkejut mendengarnya, ia tak tahu kalau Adrine sebegitu baiknya.


"Kenapa kau memberiku pil sebanyak ini?"


Adrine tersenyum tipis.


"Aku tahu kau terluka, makanya aku berikan pil itu padamu dan aku tidak sejahat itu sampai-sampai harus tega membiarkanmu terluka seperti itu."


'Kalau pil seperti ini sih sebenarnya banyak kalau di tempat kakak, tapi aku terima saja lah.' Pikir Reihan.


Kemudian Adrine berbalik lagi dan benar-benar akan pergi dari sana.


"Hoi, jangan pergi dulu!"


Tiba-tiba saja Reihan memanggil Adrine, dia seperti akan mengatakan sesuatu.


"Apa?"


Adrine terus menghadap ke depan tanpa berbalik.


"Setelah kau masuk ke dalam perguruan ini, kau harus berhati-hati dengan beberapa keluarga yang berkontribusi di perguruan, mereka licik dan kau itu kuat, kau akan menjadi sasaran utama mereka jika terlalu mencolok."


Reihan berusaha mengingatkan kepada Adrine, namun Adrine diam dan tak berkomentar apapun. Ia menunduk dan memejamkan matanya. Reihan merasa bingung dengan Adrine yang diam tak bergeming.


Beberapa saat kemudian, Adrine pun mengangkat kepalanya.


"Aku akan mendengarkanmu kali ini, tapi kau itu adalah salah seorang dari apa yang kau katakan tadi."


Reihan bingung sekaligus terkejut dengan kalimat Adrine, ia juga cemas terhadap suatu hal ketika mendengar perkataan Adrine.


"Apa maksudmu?"


"Kau berkata kalau kaluarga yang berkontribusi di perguruan Kilat Langit adalah orang licik, benar? Berarti kau itu lebih licik dari mereka, kau menggunakan keburukan keluarga-keluarga itu untuk mengungkap keburukan dirimu sendiri. Kau itu adalah bayangan jahat yang berlindung di balik bayangan yang lebih besar."


Lalu Adrine berjalan keluar tanpa berkata apapun lagi, dia benar-benar meninggalkan Reihan di sana.


Setelah itu, Adrine melawan beberapa kandidat lainnya tanpa mengeluarkan satu pun pasukannya. Ia selalu membatasi waktu pertarungannya dalam beberapa menit seperti sedang mengumpulkan energi.


Ada beberapa yang menghindari Adrine, mereka juga tahu jika Adrine sangat kuat, namun mereka tetap tidak tahu jika Adrine sedang berpura-pura.


Waktu yang diberikan juga masih tersisa sedikit, dalam 1 jam lagi mereka yang tak mempunyai cukup banyak point tidak akan lulus.


'Aku sudah dapat 70 point, tinggal 5 point lagi aku bisa berhasil dalam seleksi masuk ke dalam perguruan ini.' Pikir Adrine sambil berjalan menunduk.


BUAGH!!


"Aduh!"


Tiba-tiba Adrine menabrak seorang wanita karena berjalan tanpa melihat ke depan.


"Maaf, maaf, aku tidak sengaja, apa kau baik-baik saja?"


Adrine merasa khawatir dengan wanita itu, dia sedikit merasa sakit karena tubuh Adrine yang lumayan keras karena sehabis bertarung dan tubuhnya masih belum lunak.


"Ah... Tak apa-apa..."


Wanita itu terlihat masih sedikit kesakitan karena tangannya yang membentur tangan Adrine, dia terus mengusap tangannya itu.


"Apa kau perlu pil penyembuhan?"


Adrine menawarkan pil penyembuhan dan mengeluarkan sebuah pil penyembuhan dari cincin penyimpanannya.


"Tidak perlu, ini kan cuma tersenggol saja."


Wanita itu tersenyum tidak masalah, namun Adrine masih merasa bersalah dengan apa yang tadi dilakukannya.


"Oh iya, apa kau sedang akan bertarung?"


Lalu wanita itu melihat ke arah Adrine.


"Tidak, aku baru saja selesai dengan tantangannya, pointku sudah 78, aku sudah tak mau lagi bertarung, tenagaku juga sudah terkuras banyak."


'Apa? Dia sudah selesai? Cepat sekali.' Pikir Adrine.


Adrine sangat terkejut karena ada yang telah berhasil mendahului pointnya, biasanya dia selalu unggul dan memiliki point tertinggi di antara yang lainnya.


Kemudian Adrine menyadari kalau di setiap pertarungannya, ia selalu membatasi waktu untuk berpura-pura lelah dan mengumpulkan energi.


"Oh iya, kita belum berkenalan, perkenalkan, namaku Icha, siapa namamu?"


"Eh?"


Adrine terkejut karena dia tengah berpikir dan tiba-tiba ada yang mengajaknya bicara.

__ADS_1


"Icha ya... Perkenalkan, namaku Adrine."


Bersambung!!


__ADS_2