Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Ujian Kelulusan (10)


__ADS_3

Sekumpulan orang masih berkerumun dan memandangi 1 hal yang sama, mata mereka tertuju pada 2 orang yang sedang bertanding. Namun mereka sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Disana mereka melihat seseorang membanting kepala lawannya dengan sangat cepat dan menghantam tanah dengan sangat keras hingga tanahnya retak dan hancur. Adrine lah yang melakukannya, kepala Qiandi dibantingnya dengan sangat keras sekali.


'Ge... Gerakannya... Cepat sekali...' Pikir Qiandi.


Namun Qiandi masih belum harus menggunakan point respawn miliknya, Adrine memang sengaja melakukan hal itu karena rencananya tidak sampai itu saja, rencananya masih berlanjut hingga...


"Aku akan menghancurkan kalian semua dalam 1 serangan!"


Sebuah kalimat yang membuat pendengar lainnya menjadi tertegun dan terpaku, sebuah kalimat yang sangat mengejutkan hingga tak ada siapapun yang berkutik lagi. Mata siapapun terbelalak lebar, pupil mata mengecil, tubuh terpaku, dan kaki terasa menjadi sangat berat. Sebuah kalimat itu terlontar dari mulut Adrine seperti air yang mengalir, namun air tersebut dipenuhi dengan paku dan ikan pemakan daging manusia, siapapun yang mendengarnya tak akan bisa berkutik lagi, bahkan untuk melarikan diri pun tak ada yang berani.


Tubuh Adrine telah dipenuhi oleh energi yang sangat dahsyat, siap dikeluarkan dan diledakkan kapan saja. Wajah Adrine terlihat sangat dingin dan gelap seakan memang itulah yang sebenarnya gambaran muka Adrine. Ketika Qiandi melihat wajah Adrine, yang terlihat hanyalah dunia yang hanya dipenuhi oleh es dan salju, sangat dingin hingga seluruh langitnya.


Yama merasa ada yang aneh dengan yang dilihatnya barusan, ada sesuatu yang menurutnya ganjil dari serangan Adrine tadi.


'Kecepatannya memang sangat cepat, sesuai dengan tahap Keberlanjutan, tapi kenapa serangannya tidak langaung membunuh Qiandi? Ada yang tidak beres...' Pikir Qiandi.


Yama merasa kalau kekuatan Adrine tidak sekuat dari apa yang barusan dikatakan oleh David, namun ketika melihat David yang juga sedang menonton pertarungan Adrine dengan tenang pemikirannya menjadi kacau dan bingung. Apa yang dilihatnya tak sesuai ekspektasinya, tidak sekuat apa yang dibayangkannya.


"Kau pasti bertanya-tanya kenapa Adrine tidak menyelesaikannya dalam serangan tadi, iya kan?"


Tak disangka David langsung tahu apa yang dipikirkan oleh Yama, seketika hal tersebut membuat Yama terkejut dan ia langsung menganggukkan kepalanya karena memang ingin menanyakan hal tersebut.


"Ya, kau itu seperti bisa membaca pikiran orang lain, kau itu orang yang sangat peka."


David hanya tersenyum dan menunduk kebawah, lalu ia mengangkat kepalanya kembali dan mengatakan sesuatu.


"Pada serangan tadi Adrine memang tidak bermaksud untuk membunuh orang itu, siapa namanya?"


"Qiandi."


David masih belum tahu nama dari Qiandi, begitu pun dengan Adrine, ia juga belum tahu nama dari Qiandi. Yama langsung menjawabnya karena ingin segera tahu penjelasan dari David.


"Qiandi? Ya, Adrine memang tidak bermaksud untuk membunuh Qiandi dalam serangan barusan, itu karena dia memang belum melancarkan serangan utamanya, dan kau tahu apa rencana Adrine?"


"Tidak."


Jelas Yama tak tahu akan apa yabg telah direncanakan oleh Adrine, maka dari itu ia menggelengkan kepalanya.


"Huuuh..."


David menghembuskan nafas, lalu ia langsung melanjutkan penjelasannya yang belum selesai.


"Kau tahu? Rencana Adrine adalah... Membunuh semua lawan dalam sekali serang!!"

__ADS_1


Sontak Yama beserta orang-orang yang mendengarnya menjadi terkejut, rencana yang semengerikan itu hanya dilakukan oleh Adrine seorang, namun bagi mereka hal ini cukup masuk akal karena Adrine sekuat apa yang telah direncanakannya.


Sementara itu Adrine tengah bersiap menunjukkan sesuatu yang fenomenal, hal yang mungkin belum pernah atau jarang terlihat oleh mata. Terlihat api berkobar dibelakang tubuhnya, api itu membentuk sebuah tubuh, tubuh yang nampak seperti manusia dan sangat familiar.


"Combine Soul, Purgatory Demon!!"


BWOOOSH!!


Seketika tubuh api yang ada dibelakang Adrine nampak seperti lebur dan menyatu dengan tubuh Adrine, cahaya membentang dari tubuhnya dengan panas yang sangat dahsyat disekitarnya. Kepala Qiandi sudah hampir tak mampu untuk menahan cengkeraman Adrine, panas, tertekan, dan rasa sakitnya itu sungguh sangat luar biasa.


'Seharusnya aku tidak meremehkannya dan membuatnya... Menjadi sekutu...' Pikir Qiandi.


Penyesalannya tak akan berguna, semuanya telah terlambat dan ia menyadarinya. Tanpa disangka orang yang diremehkannya, direndahkannya adalah monster yang sangat menakutkan. Qiandi menyadari akan kekuatan yang dimiliki oleh Adrine, ia bahkan yakin kalau seluruh anggota pengikutnya mampu untuk dibantai oleh Adrine seorang.


"Ingatlah satu hal, meremehkan seseorang itu adalah kesalahan, apalagi kau belum mengetahui kebenarannya."


Mulut Adrine tiba-tiba berada tepat disamping telinga kiri Qiandi, suaranya berat namun begitu lancar untuk diterima ditelinga hingga keotak, kalimat itu sungguh tak mampubuntuk Qiandi melupakannya.


Lalu api yang berkobar ditubuh Adrine kian membesar, udara disekitar pun menjadi sangat panas dan peningkatan suhunya sangat ekstrim. Orang-orang yang sudah tak mampu menahannya pun lari terbirit-birit karena takut dampak yang lebih besar akan segera muncul.


Setelah itu, Adrine mengangkat kembali tubuh Qiandi dan melemparnya. Kedua tangan Adrine dengan sigap langsung memegang pedangnya dan mengayunkannya tepat ketika Qiandi jatuh didepannya.


SLAAASH!!


"Ledakan Api!!"


BLAAARR!!


Seketika tebasan pedang yang terus berjalan itu meledak dan memancarkan api yang sangat besar hingga ke langit-langit, ledakannya sangat dahsyat hingga orang-orang yang ada diatas kawah pun juga ikut merasakan panas yang luar biasa. Teknik Ledakan Api itu adalah teknik yang dimiliki oleh Purgatory Demon ketika meledakkan dirinya hingga membuat pancaran api yang sangat dahsyat kelangit, Adrine memodifikasinya dengan meledakkan tebasannya dan memiliki radius yang lebih besar tanpa harus meledakkan dirinya sendiri.


Yama terus berpikir dan masih tercengang memandangi pancaran api sebesar itu didepan matanya.


'Kekuatan seperti ini... Memang layak jika Adrine berada ditahap Keberlanjutan... Sungguh sangat mengerikan!' Pikir Yama.


Ia menghiraukan panas yang ada, seolah zirahnya itu mampu untuk menahan panas dari pancaran api yang sangat besar didepannya, dan juga ia memandangi pancaran api tersebut seperti orang yang sedang merenung.


BWOOOSH!!


Arpha merasa kepanasan dan sedikit menjauh dari sana, matanya juga silau karena cahayanya sangatlah terang.


Pancaran apinya masih terus berkobar kelangit, udara yang ada disekitar juga menjadi semakin panas, namun Yama seperti telah mengabaikan panasnya. Ia bahkan tidak menutup matanya karena silau akan cahaya terang dari pancaran api didepannya itu.


"Aku tak yakin kalau Adrine hanya sebatas tahap Keberlanjutan level-1 kelas awal..."


David mendengar ucapan Yama dan menoleh kearahnya, ia merasa kalau Yama memang sedang mengajaknya untuk berbicara. Lalu David pun bertanya karena penasaran akan maksud dari Yama.

__ADS_1


"Lalu Adrine mencapai level berapa dalam tahap Keberlanjutan?"


"Masih di level-1, hanya saja bukan dikelas awal..."


David mulai paham akan maksud dari pertanyaan Yama, namun ia masih penasaran akan opini yang akan dikatakan oleh Yama, apalagi ucapan Yama masih beluk selesai.


"Lalu?"


"Menurutku... Adrine telah mencapai kelas akhir dalam level-1 tahap Keberlanjutan."


DEG!!


David pun terkejut mendengar hal tersebut, namun ia merasa apa yang dikatakan oleh Yama itu cukup masuk akal jika dilihat apa yang barusan dilakukan oleh Adrine didepannya.


BWOOOSH!!


David pun berjalan hingga didepan Yama, lalu ia terdiam sejenak dan berpikir sambil memandangi pancaran api besar yang ada didepannya. Ia memikirkan tentang perkataan Yama barusan dan memikirkan Adrine, hal ini mirip sepeeti Yama yang menghiraukan panas disekitar dam silau dimatanya, ia mengabaikan hal itu sambil memikirkan tentang Adrine. Namun pemikiran David sangatlah cepat, otaknya langsung menyimpulkan sesuatu pada saat itu juga.


Lalu David pun menoleh kearah Yama sambil mengucapkan kesimpulannya.


"Ya... Mungkin kamu benar juga, tapi hanya dalam kelas awal saja Adrine mungkin juga sudah mampu untuk melakukan hal seperti ini."


Yama tersenyum, namun kini senyumannya tidak mengintimidasi sama sekali. Ia bahkan sama sekali tidak memancarkan hawa pembunuh, sehingga tak ada satupun yang takut untuk berbicara maupun dekat dengannya, namun semua orang menjauh dikarenakan suhu udara yang sangat panas dan cahaya dari pancaran api dari teknik Adrine ya g sangat menyilaukan mata.


Lalu David berbalik dan hendak berbicara dengan Yama mengenai suatu hal. Senyuman Yama kini menghilang dan raut wajahnya berganti menjadi wajah orang yang bingung, bibir David juga tidak sedang tersenyum seperti halnya Yama barusan.


'Apakah dia sedang ingin mengucapkan hal yang serius?' Pikir Yama.


David pun menghadap kebawah sambil menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan dari mulutnya. Lalu lidahnya pun mengucapkan sesuatu hal.


"Ingat Yama, kau telah melakukan hal yang sangat buruk kepada Adrine sebelumnya, dan mungkin... Kini dia sedang membuktikannya dihadapanmu."


DEG!!


"Eh?"


Yama terkejut akan hal tersebut, namun ia langsung menyadarinya seketika itu juga. Ia teringat akan berita buruk yang disebarkannya mengenai Adrine yang dibuang beberapa tahun lalu, menyebutnya sebagai pecundang dan lain-lain mengenai dirinya. Yama kini telah terdiam dan merenungi kesalahannya itu.


'Mungkin apa yang dikatakan David ada benarnya juga, aku lah yang bersalah dan sekarang Adrine menunjukkan kebenarannya.' Pikir Yama.


Waktu telah berlalu dan kini semua orang telah bisa untuk melihat kembali apa yang sedang terjadi. Semua yang menjauh kini telah kembali mendekat.


Pancaran cahayanya kini kian mengecil, cahayanya juga kian meredup, suhu udara disekitar juga semakin turun. Orang-orang yang tadinya menjauh kini telah bisa mendekat kembali dan melihat apa yang terjadi dibawah kawah. Namun ketika mereka melihatnya, tak ada apapun dibawah sana, yang tersisa hanyalah tanah yang hangus terbakar dan langit-langit goa yang tanahnya rontok dan berjatuhan. Disana hanya menyisakan tanah hangus dan hanya ada seorang saja, mereka semua yang melihatnya pasti tahu dan mengenal siapa dia, yap, itu lah Adrine. Dan tak ada orang selain Adrine disana, tak ada satupun, melainkan hanya terdapat Adrine yang sedang duduk bersandar disamping pedangnya yang ditancapkan ketanah.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2