
Keluarnya Adrine dari arena pertandingan, di sanalah aku mendapatkan masalah baru. Secara tak sengaja Adrine menyenggol lengan seorang wanita dengan cukup keras. Ia berusaha untuk membantu wanita itu dengan memberinya pil pemulihan, tapi wanita itu bilang baik-baik saja dan tak ada masalah.
Adrine tak enak hati jika dia harus pergi meninggalkannya begitu saja karena berjalan tak lihat-lihat, justru mereka malah seperti akrab dan saling berkenalan. Wanita itu bernama Icha, Adrine juga memperkenalkan dirinya.
"Sungguh? Kau benar-benar Adrine? Kandidat terbaik dari perguruan Bayangan Langit?"
Icha seperti mengenal Adrine dan senang ketika bertemu langsung dengannya.
"Iya... Aku benar-benar Adrine dari perguruan Bayangan Langit, memangnya kenapa?"
Adrine agak bingung dengan sikap Icha yang sedikit kegirangan.
"Tidak tidak, aku cuman mau tanya, kenapa kau memilih untuk ikut seleksi? Bukankah kau sudah dinyatakan lulus seleksi?"
"Aku hanya ingin melatih diri saja, jika aku langsung masuk, mungkin banyak orang akan mengincar diriku."
Adrine pun berterus terang kepada Icha, memang itulah alasannya ikut seleksi seperti kandidat lainnya.
"Bukannya jika kalau seperti ini malah membuatmu dalam banyak masalah? Nanti kau malah lebih banyak yang mengincar, karena merasa lebih hebat dan mau ikut seleksi lagi."
"Hak itu memang sudah kupikirkan, aku sendiri punya solusinya, kau tak perlu khawatir. Para senior tak akan memperdulikan aku ataupun berbuat apapun padaku, mereka akan acuh jika aku juga tak membuat masalah dengan mereka, benar bukan?"
Lalu Icha mengangguk paham dengan perkataan Adrine.
Tak lama kemudian, ada orang yang menantang Adrine untuk bertarung, mereka tidak melihat Icha karena kondisinya yang lebih bugar dibandingkan dengan diriku yang seperti orang yang terengah-engah, apalagi di dahiku berkeringat.
"Maaf ya Icha, aku mau ambil tantangan dulu, pointku masih kurang, hehe."
"Lho? Pointmu masih kurang? Kirain sudah selesai."
Setelah itu, Adrine tersenyum dan berbalik pergi dari sana, masuk ke arena dan mendapatkan penantang.
Tak berselang lama, Adrine pun keluar dan memenangkan pertandingan. Lawannya tak terlalu kuat dan Adrine juga menyembunyikan energinya, jadi para lawan akan mengira jika Adrine tak terlalu kuat.
'Masih kurang 4 point lagi, berarti aku harus bertanding 2 kali lagi agar bisa lolos seleksi.' Pikir Adrine.
Setelah itu, Adrine berjalan dengan menghadap ke depan agar kejadian yang menimpa Icha tadi tidak lagi terjadi. Dan secara kebetulan, mereka berdua bertemu lagi.
"Oh, hai. Kau sudah selesai? Cepat banget."
Adrine merasa tersanjung karena telah di puji.
"Haha, yang tadi masih tahap Kematian level-2 kelas menengah, lha aku aja sudah di level ke-3 kelas menengah."
"Apa? Ternyata kau sudah level-3? Wow..."
Icha sangat terkejut mendengar Adrine telah mencapai level-3 tahap Kematian, padahal sebenarnya telah jauh melampaui itu.
'Tahap Kematian level-3 aja seheboh ini, bagaimana kalau aku tadi ngomong di tahap Keberlanjutan?' Pikir Adrine.
Setelah itu pun mereka berbincang-bincang dan ada juga kadang ada yang menantang Icha maupun Adrine. Siapapun yang menantang Icha, perempuan maupun lelaki, semuanya di tolak karena Icha sudah malas untuk bertarung, sementara Adrine tetap menerima tantangan untuk menyelesaikan point seleksinya.
Dan setelah Adrine menyelesaikan point seleksinya, ia pun keluar dan lagi-lagi Icha terus menunggunya. Tak disangka Etern juga menunggunya, dia terlihat sudah selesai dengan point seleksinya.
"Etern, kau sudah selesai?"
"Sudah, barusan yang terakhir. Aku udah dapat 76 point dan udah cukup buatku untuk lulus seleksi. Kau sudah selesai?"
Adrine pun tersenyum dan mengangguk.
"Aku sudah punya 78 point, sekarang ini aku sudah tak butuh point lebih banyak lagi."
Walaupun sepertinya Adrine terhanyut dalam percakapannya bersama Etern, namun ia masih mengingat Icha yang ada di sampingnya.
"Oh iya Icha, perkenalkan, ini sahabatku, namanya Etern."
Adrine berusaha memperkenalkan Etern kepada Icha.
Lalu Icha melihat Etern dan tersenyum lebar.
"Perkenalkan, namaku Icha."
__ADS_1
"Namaku Etern, salam kenal."
Lalu mereka pun saling berbincang sampai waktu seleksinya selesai. Adrine dan Etern pun akan berpisah dengan Icha.
"Oh iya, Icha, kau ini berasal dari perguruan mana?"
Icha pun menoleh ke arah Adrine.
"Aku berasal dari perguruan Naga Kristal, maaf ya, aku harus kembali ke sesama perguruan."
Mereka pun benar-benar berpisah dan kini Adrine hanya bersama dengan Etern yang berjalan ke bawah. Mereka berdua mencari para kandidat dari perguruan Bayangan Langit.
"Wah wah, ternyata Adrine punya pacar nih."
Tiba-tiba saja Etern meledek Adrine.
"Bukan, dia itu tadi secara tak sengaja aku senggol. Kelihatannya dia kesakitan, jadi aku barengan sama dia."
Walaupun Adrine telah menjelaskan pada Etern tentang Icha, namun Etern tetap merasa tak percaya terlihat dari ekspresinya yang meledek Adrine.
"Tapi dia cocok sama kamu lho... Dia itu cantik, rambutnya yang hitam, sama kayak rambutmu, mata birunya juga indah."
"Tapi mataku warnanya kuning, beda banget!!"
Adrine berusaha untuk menghindari pembicaraan, walaupun Etern terus menyamakan dan mencocokkan Adrine dengan Icha.
"Apa kau benar-benar tak suka sama Icha? Kayaknya dia baik lho..."
"Aku sama sekali tak menyimpan perasaan padanya, toh pertemuan kami itu juga kebetulan, gara-gara kesenggol... Sudahlah, buat apa bahas dia terus, habis ini kita dinyatakan lulus."
Lalu Adrine berjalan dengan cepat dan meninggalkan Etern, ia sedikit kesal pada Etern.
"Hoi hoi, tunggu dong!"
Etern pun berjalan cepat pula untuk mengejar Adrine.
Mereka berdua pun telah sampai di tempat para kandidat dari perguruan Bayangan Langit, walaupun yang tersisa memang sebagian besarnya saja, yang lain telah tereliminasi dari awal dan sekarang tersisa masih cukup banyak. Kami berkumpul di lantai 3 dengan para kandidat dari perguruan Tombak Rantai, karena mereka dulunya adalah satu gerbang yang sama dengan para kandidat dari perguruan Bayangan Langit.
Shin kecil belum menampakkan dirinya, dia sibuk keluar untuk menjarah tanaman herbal dari seluruh wilayah seleksi ini. Adrine cukup kesal dengannya karena tak tahu malu mengambil banyak tanaman yang seharusnya adalah milik perguruan ini.
Adrine tak terlalu memikirkan Shin kecil, kini ia tengah memikirkan apa yang ada di depannya.
Senior Asra mengeluarkan sesuatu yang sangat besar dari cincin penyimpanannya, benda itu cukup familiar di mata para kandidat, Kubus Teleportasi. Mata para kandidat mulai ketakutan dengan melihat apa yang ada di depannya itu, namun dengan itulah satu-satunya cara agar mereka bisa sampai di perguruan.
Mereka pun masuk satu persatu dimulai dari Perguruan Bayangan Langit, setelah masuk semua pintu kubus pun tertutup. Apa yang terjadi sebelumnya, kini terjadi lagi, namun dalam sekejap mereka telah berada di perguruan.
Setelah mereka keluar, ada beberapa yang sudah mulai terbiasa dan hanya sedikit mual saja, Adrine pun begitu. Lalu datanglah kubus teleportasi pun datang lagi, ia membawa para kandidat yang berhasil dari perguruan Tombak Rantai. Mereka juga ada yang sudah terbiasa dengan teleportasinya, namun mereka yang tahan pun tetap akan merasa mual walaupun tidak sampai muntah.
Tiba-tiba Adrine melihat Shin kecil di sampingnya, ia terkejut melihatnya karena sebelumnya tak melihat Shin kecil ketika di perjalanan saat berteleportasi. Namun Adrine tidak mengajak bicara Shin kecil, menurutnya tak ada hal yang perlu dibicarakan dengan Shin kecil selain bertanya darimana kah dia pergi tadi?
Setelah itu, ada kubus teleportasi yang datang lagi, di dalamnya terdapat senior Asra untuk membantu para murid baru yang akan masuk ke dalam perguruan Kilat Langit secara resmi.
"Kalian yang lulus pointnya akan secara sendiri diakumulasikan menjadi peringkat profil kalian nanti setelah masuk, mungkin akan ada yang punya point sama, tetapi beda peringkat. Semua itu tak masalah karena jatah pendapatan murid baru adalah sama, mereka yang murid tingkat Permukaan ke atas memang mempunyai pendapatan yang berbeda, karena mereka bisa menjalan misi dan berkontribusi atas perguruan ini"
Semua murid pun mengangguk paham, lalu senior Asra berbalik.
"Kalian bisa masuk dengan mudah seperti ku karena kalian telah memiliki izin masuknya, prosesnya akan sulit jika terjadi sesuatu pada izin kalian, jadi jangan buat masalah kedepannya. Dan sekarang ini kalian bisa masuk secara otomatis."
Senior Asra pun masuk ke dalam perguruan dan di ikuti oleh para murid. Pelindung kaca yang begitu tebal pun terbuka begitu saja secara otomatis ketika para murid mendekat dan juga muncul profil wajah mereka di atas pintu masuknya.
Setelah Adrine masuk, dia melihat begitu banyak bangunan besar dan sangat canggih, ratusan bahkan ribuan orang berlalu lalang melintas dihadapannya. Mereka adalah murid yang di mana adalah para senior.
"Wow, bagus juga bangunan bangunan ini. Cukup mewah juga perguruan yang satu ini."
Tiba-tiba Shin kecil berdengung di samping Adrine.
"Kau benar, namanya juga perguruan tinggi dan aku sekarang adalah murid tingkat Permukaan, jadi kemungkinan aku akan mendapatkan tempat tinggal yang bagus juga."
PIIIP!!
Terdengar suara yang di mana suara itu seperti suara sistem.
__ADS_1
"Apa kau menanamkan USC di dalam tubuhku lagi?"
Adrine sangat mencurigai Shin kecil, padahal suara barusan bukanlah suara dari sistem USC.
"Kenapa setiap kali kau mendengar suara yang mirip sistem, kau langsung menuduhku? Lagipula suara itu adalah suara dari profilmu, perguruan telah mengatur profilmu menjadi sarana komunikasi."
Kemudian muncul cahaya merah dihadapan Adrine, ia menakan cahaya tersebut yang di mana cahaya merah itu adalah notifikasi.
"Di dalam pesan aku boleh memilih tempat manapun untuk aku tinggali, asalakn tempat itu benar-benar adalah sebuah tempat tinggal. Jatah di perguruan ini adalah bulanan, sehingga aku akan memiliki pendapatan setelah 1 bulan dan pendapatan ku akan berkurang jika aku memilih tempat tinggal yang sangat mewah."
"Berarti kau harus mencari yang murah dan cukup, tidak boleh sampai melebihi pendapatan mu perbulannya."
Lalu Adrine melihat Etern yang sedang menuju ke suatu tempat.
"Hei Etern, kau mau ke mana?"
Etern pun menoleh ke arah Adrine.
"Aku sedang mencari titik koordinat yang telah ditentukan oleh perguruan, di sanalah aku akan tinggal."
"Oh begitu ya? Kalau aku di suruh untuk memilih sendiri di mana aku akan tinggal, jadi sampai jumpa Etern."
Etern tersenyum.
"Sampai jumpa lagi."
Mereka pun berpisah di sana, setelah itu pun Adrine mencari tempat tinggal yang menurutnya sesuai.
Adrine pun berhenti di depan sebuah gedung tinggi sangat bagus, ia berhenti karena Shin kecil yang menyuruhnya untuk berhenti di sana.
"Kenapa kau menyuruhku untuk mendapatkan yang sebesar ini? Bukankah akan sangat mahal?"
Shin kecil menggelengkan kepalanya, Adrine bingung dengannya itu.
"Gedung ini memiliki berbagai tempat tinggal yang dinamakan apartemen, kau bisa memilih di lantai berapa kau akan tinggal dan di kamar mana kau akan tinggal."
Adrine mengangguk paham dengan penjelasan Shin kecil.
"Coba aku cek."
Lalu muncul layar yang di mana menyediakan rangkaian harga tiap apartemen yang ada pada 1 gedung itu.
"Di lantai 1 sampai 5, harganya cukup murah dan sesuai dengan pendapatan perbulan ku. Layanannya tergolong standar dan tidak sampai minimum, tidak terdapat ruang kultivasi khusus."
Adrine terus melihat-lihat harga pada tiap kamarnya.
"Lalu kau pilih yang mana?"
"Lantai 4 nomor 498, hanya sedikit yang tersisa."
Shin kecil merasa penasaran dengan pendapatan yang di dapat Adrine perbulannya.
"Dapat berapa kau tiap bulannya?"
"500 koin plasma perbulannya, apartemen yang aku tempati seharga 430 koin plasma perbulannya, jadi masih tersisa lumayan banyak."
"Apa kau hanya dapat pendapatan sesedikit itu?"
Adrine menggelengkan kepalanya, Shin kecil merasa tak paham dengan Adrine.
"Aku bisa menambah jumlah pendapatan ku jika aku menyelesaikan sebuah misi. Kesulitan dan juga hadiah dari misi tergantung dari jumlah bintang pada misinya, 1 bintangnya akan bernilai 50 koin plasma dan berlaku selama 1 tahun. Ada batasan aku bisa mendapatkan bintang perbulannya, untuk murid tingkat Permukaan seperti ku hanya sebatas 3 bintang perbulannya, aku juga diharuskan untuk menyelesaikan misi setidaknya 1 bintang tiap bulannya dan misinya akan di dapat secara otomatis."
Walaupun Adrine menjelaskan dengan panjang lebar, Shin kecil tetap paham apa yang dimaksud oleh Adrine.
"Kalau begitu lekas masuk, kenapa kau terus berdiri di sini?"
Mereka berdua pun masuk ke dalam dan Adrine harus menyelesaikan administrasinya. Dia langsung naik ke lantai 3 dan mencari kamarnya yang bernomor 498 dan kamarnya berada di pojok karena nomor urutnya mendekati 500 yang di mana adalah nomor di lantai 5.
Adrine pun masuk ke dalam dan ia mendapati kamar yang bagus, namun tidak terlalu mewah. Dia tetap menerima kamarnya yang tidak terlalu mewah itu dan dia juga sudah siap untuk menerima misi yang ditetapkan oleh para Master dan perguruan.
Bersambung!!
__ADS_1