Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Kembali Fokus


__ADS_3

Mata terbelalak lebar, pupil mengecil, dahi mengkerut, dan tubuh yang kaku disaat menatap sesosok yang berdiri dengan tubuh yang menggunakan zirah lengkap hingga menutupi seluruh kakinya. Memegang tombak berwarna gelap dengan wujud yang sangat mengerikan dan sarung tangan yang hampir sama dengan zirahnya, namun tidak menyatu dengan zirahnya. Dibelakang punggungnya juga juga terdapat 2 buah benda yang sepertinya juga berbahan dasar yang sama dengan zirahnya, tepatnya berada diatas bahunya dan agak membelakanginya.


"Kalian tak perlu terkejut hingga sebegitunya! Ini memang mata jiwa milikku, mata bawaan."


Etern sedikit merasa kikuk ketika melihat teman-temannya yang terdiam memandangi dirinya. Adrine sendiri hingga tak berani berkata ketika memandangi seseorang yang ada didepannya itu.


Namun, tak selamanya mereka akan terus terdiam dan memandangi Etern, mereka justru penasaran bagaimana satu jenis mata jiwa bisa mempunyai banyak sekali artifak kuat, 1 set perlengkapan bertempur.


"Apakah memang ini semua tergantung keberuntungan, atau apakah memang mata milikmu itu sudah kau kembangkan dimasa lampau?"


Adrine teringat kalau Etern juga punya kekuatan yang cukup hebat pada masa lampau, hingga pada tingkatan yang bahkan hampir tak pernah terdengar. Namun semua itu adalah rahasianya dengan Adrine saja, tak ada yang akan pernah tahu.


"Adrine, kau ini sedang mengatakan apa? Tolong, jangan katakan hal yang tidak-tidak."


Etern terlihat panik dan gelisah ketika Adrine sedang membicarakan masa lampau, namun Adrine tidak terpikir demikian.


"Apa yang kau maksud? Masa lampau itu, maksudku adalah ketika aku tak ada disini, dulu disaat aku dikatakan sebagai seorang pecundang."


Adrine menjelaskan hal yang sesungguhnya dimaksud olehnya, tak ada maksud dirinya untuk membahas masa lalu Etern. Dan orang yang sedang ia maksudkan sudah merasa paham atas perkataan tentang dirinya tadi.


"Oke, aku paham. Semakin aku merasa panik, aku sendiri nanti yang akan membuka rahasiaku, hehe."


Namun 2 orang yang ada disampingnya malah merasa penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Etern dan Adrine. Arpha yang blak-blakan langsung saja membuka mulutnya.


"Kalian ini sedang membicarakan apa? Apa sebenarnya kalian ini sedang bermain rahasia-rahasiaan dari kami?"


Saat ditanya oleh Arpha, ekspresi mereka malah menjadi terbalik dari yang tegang menjadi santai. Adrine dan Etern saling menatap.


"HAHAHAHAHA..."


Mereka berdua malah tertawa terbahak-bahak. Arpha dan David semakin tak mengerti dengan keduanya, membuat rasa penasaran mereka menjadi semakin terbuka.


"Kenapa kalian malah tertawa?"


Tak lama setelah Arpha mengatakan hal tersebut, Adrine dan Etern berhenti tertawa. Ekspresi keduanya kembali pada keadaan normal, seolah tak ada apa-apa.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, tenang saja!"


Walaupun Adrine sudah mengatakan untuk tenang saja, Arpha dan David malah semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Karena suasana mereka berdua semakin tegang, Etern pun mengalihkan pembicaraan mereka.


"Sudahlah, lupakan itu! Sekarang ini waktunya untuk berlatih, bukan untuk sesi tanya jawab."


David yang teringat akan hal tersebut langsung fokus kembali, begitu pun dengan Arpha. Namun rasa penasaran mereka juga tak hilang begitu saja, mereka masih saja bertanya-tanya tentang hal tadi didalam hati mereka.


"Sekarang ini jangan remehkan kami lagi. Kau juga seharusnya mengeluarkan teknik, atau kalau tidak, mau akan terluka."


Arpha yang merasa percaya diri dengan peningkatan yang dari kelompoknya sudah berani untuk mengancam Adrine, kini ia menyuruh Adrine untuk waspada akan serangan dari mereka bertiga.


"Baiklah, kali ini aku akan sedikit serius untuk menanggapi kalian. Akan aku aktifkan mata jiwaku."


Adrine pun mengaktifkan mata jiwanya. Sedetik setelah ia mengaktifkan mata jiwanya, sebuah pedang yang berwarna merah gelap yang juga dilapisi oleh beberapa unsur gelap berada ditangan Adrine.


"Apa hanya aku disini yang terlihat lemah? Kenapa sepertinya semua artifak milik kalian itu lebih kuat dariku?"


"Tenang saja Arpha, artifak milikku ini juga berada ditingkat yang sama, tingkat puncak."


Disaat Arpha mendengar kalau artifak milik David itu berada ditingkat puncak, wajahnya berubah menjadi minder.


"Aku kira artifak milikmu itu lebih lemah dari milikku, ternyata sama saja. Yah, setidaknya kita berdua sama-sama yang paling lemah."


Wajah Arpha kembali senang ketika mengatakan hal tersebut. Dan setelah itu, mereka kembali fokus tanpa harus diingatkan kembali. Mereka bertiga dalam kondisi berkuda-kuda dan Adrine juga dalam kondisi yang sudah siap untuk menerima serangan dari mereka, bahkan serangan dadakan sekalipun.


"Tunggu apalagi? Serang aku!"


Adrine pun memerintahkan lagi kepada mereka untuk segera memulai gerakan, dan seketika itu, mereka langsung bersiap untuk bergerak.


ZRAAAST!!


Mereka semua langsung bergerak dengan kecepatan yang lebih cepat dari sebelumnya. Kini Adrine juga berhati-hati akan serang yang datang karena kekuatan dan kemampuan mereka juga telah ditingkatkan dengan mata jiwa mereka masing-masing.

__ADS_1


ZRIIIING!!


Etern dengan cepatnya langsung berada disamping Adrine. Kecepatannya meningkat pesat ketika mengaktifkan mata jiwanya dan menggunakan seluruh set artifaknya. Etern pun mengayunkan tombaknya kearah Adrine dengan sangat cepat. Adrine sudah menduga kalau hal itu terjadi dan dengan mudahnya menghindari serangan tersebut.


Tapi ketika Adrine menghindari serangan dari Etern, ia jadi membelakangi 2 orang yang 1 tim dengan Etern. Dari belakang terdapat David yang sudah siap untuk menyerangnya, namun lagi-lagi Adrine berhasil mengelak dari serangan yang akan dilakukan.


'Sekarang ini pasti adalah giliran Arpha!' Pikir Adrine.


Dan benar ketika Adrine berusaha untuk menghindari serangan, Arpha sudah berada dibelakangnya. Secara refleks Adrine langsung bergerak menjauh dari sana dengan gerakan yang sama, namun ia hampir tak menyadari kalau dirinya berada didalam jangkauan serangan Etern. Dan terlihat mereka sudah merencanakan hal tersebut karena tidak terlihat ingin menyerangnya sama sekali.


Etern pun dengan cepat mengayunkan tombaknya kembali kearah Adrine.


TRIIIIIIING!!


Adrine berhasil menangkis serangan dari Etern dengan menggunakan pedangnya.


'Ugh... Hampir saja.' Pikir Adrine.


Terlambat sedetik saja Adrine gagal untuk menangkis serangan barusan, ia pasti akan terluka dan teman-temannya menjadi berhasil menyerangnya. Namun ia masih punya kecepatan dan refleks yang bagus untuk menghindari serangan yang tak terduga seperti itu.


"Dead Silent!!"


Adrine yang tak ingin mengulang kesalahannya kembali, ia menggunakan teknik Dead Silent agar gerakannya menjadi tak menentu. Penglihatan mereka seperti tidak tersalurkan pada otak mereka dan ketika melihat Adrine, seolah-olah mereka hanya sedang melihat angin yang menari.


Arpha yang melihat Adrine, penglihatannya seperti kabur. Tak tahu kenapa matanya ini seperti sedang butuh kacamata untuk melihat sesuatu.


"Apa ini? Kenapa Adrine seolah-olah tidak ada? Kenapa penglihatanku menjadi kabur seperti ini?"


Arpha hampir saja terjebak dengan ilusi mata yang diciptakan oleh teknik Adrine yang satu ini. Ia juga hampir panik karena penglihatannya yang buram seperti kamera yang distraksi atau blur.


"Fokuslah kembali! Jangan alihkan perhatian kalian kemanapun!"


Etern menegaskan hal tersebut agar pertarungan mereka kembali seperti yang telah mereka rencanakan. David tidak pernah mengalihkan perhatiannya dan selalu fokus, namun Arpha yang jika tidak diingatkan oleh Etern, ia pasti akan kehilangan konsentrasinya dan akan menyerang secara acak.


'Semakin lama kerja sama mereka juga semakin kompak. Jika terus seperti ini, mereka akan menjadi yang paling hebat diantara kelompok seangkatan mereka, ditambah lagi dengan keseluruhan artifak yang dimiliki oleh Etern.' Pikir Adrine.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2