
Adrine tampak lesu ketika pertarungan berikutnya bukanlah gilirannya. Akan tetapi mengingat sebelumnya banyak sekali yang ditendang keluar, Adrine merasa harus melakukan sesuatu yang lebih mengejutkan.
Apalagi Adrine terkejut dengan sistem pemilihan yang dilakukan oleh para ketua. Ia melihat cukup banyak yang ditolak padahal mereka punya potensi yang bagus. Adrine juga sudah menyadari bagaimana orang-orang yang ada di atas sana memilih anggotanya.
'Karena ini adalah organisasi pembunuh bayaran, maka aku harus bisa menunjukkan bagaimana cara membunuh dengan cepat dan efisien,' batinnya.
Sekarang ini yang sedang berada di tengah arena bernama Angelo D'Jonathan. Berada di puncak tahap Nirvana Alam Pertama, katanya ia hanya belum mendapatkan inti jiwa hewan spirit untuk melakukan terobosan. Umurnya sendiri baru akan menyentuh 31 tahun, para ketua di atasnya mengatakan bahwa Angelo adalah sosok yang jenius.
Sementara itu, Adrine sama sekali tak memperdulikan usia dan kultivasinya. Ia hanya ingin melihat performa lawan karena ninja di tingkat Keabadian telah diganti oleh ninja lain yang lebih kuat. Kultivasinya berada di tahap Nirvana Alam Pertama level-2 kelas menengah. Hanya beda dua kelas saja dengan Adrine.
Pada saat ini tak ada dari kedua belah pihak yang saling memberikan serangan. Mereka berdua diam saja dan menunggu lawan mereka menyerang terlebih dahulu.
'Lama sekali,' batin Adrine.
ZRAAASH!!
Angelo bergerak dengan sangat cepat ke arah ninja di depannya. Sementara lawannya hendak mencerabut satu pedangnya dan bersiap menahan serangan.
Belum juga pedangnya tercerabut dari sarung pedangnya, Angelo telah berada tepat di depan matanya dengan tangan yang dipenuhi energi petir. Pukulan Angelo mendarat tepat di perut sasarannya.
BUAGH!! BLAAAARR!!
Ninja tersebut terlempar dengan sangat cepat dan menghantam dinding kaca dengan sangat keras, hingga menimbulkan keretakan pada dinding kacanya. Itu adalah serangan telak yang membuatnya jatuh terkapar hingga membuatnya tak bisa berdiri lagi. Akibatnya pengujinya harus diganti lagi dengan yang lain.
"Ah, bocah sialan kau!" seru Adrine yang kesal karena pengujinya berganti lagi. Itu karena ia hendak mempelajari gerakan ninja tersebut.
Beralih dari Adrine, Angelo mendapatkan hasil yang sangat memuaskan bagi dirinya sendiri. Performanya membuat semua ketua tertarik padanya. Kemampuannya yang dahsyat itu serta dengan gerakan yang sangat cepat itu memberinya kesan yang luar biasa kepada para ketua yang ada di atasnya.
Karena berpikir angka satu adalah yang terbaik baginya, Angelo memilih divisi Purple Blood Moon yang mana itu adalah divisi pertama. Banyak ketua lain yang merasa kecewa karena ia masuk ke dalam divisi pertama, apalagi divisi itu sudah sangat banyak memiliki anggota.
Setelah itu, Angelo dipindahkan kembali ke balik dinding kaca dan tak disangka sekarang adalah gilira Liona.
Wanita itu dipindah ke dalam arena dan bertarung melawan ninja di tingkat yang sama, tingkat Kesempurnaan. Di sana ia memperkenalkan dirinya yang baru saja menembus ke tingkat Kesempurnaan. Sementara itu di atasnya, ketua Fheafel tertarik padanya.
'Wanita itu mungkin adalah kekasih dari bocah yang sebelumnya mengalahkan Royu, apapun yang terjadi aku harus merekrutnya ke dalam divisiku karena bocah tadi pastinya akan memilih divisi yang sama dengan wanita itu,' batin ketua Fheafel.
Setelah memperkenalkan dirinya, Liona langsung menyerang lawannya. Apalagi gelang yang diberikan Adrine sebelumnya akan sangat membantunya di pertarungan ini.
Gelang yang diberikan Adrine adalah Gelang Cahaya Dunia. Gelang itu dapat membuat penggunanya merasakan tubuhnya yang semakin ringan apabila digunakan untuk bergerak. Efek aktifnya adalah ketika sedang bergerak dalam kecepatan tinggi maka akan menciptakan pelindung berupa partikel cahaya yang dapat melindungi tubuh dari serangan sihir apapun. Tubuh juga mendapatkan peningkatan ketahanan fisik dalam skala kecil. Gelang itu juga membuat penggunanya mengurangi penggunaan energi berlebih ketika sedang bergerak lincah.
Adrine mendapatkannya dari sebuah toko yang di kota Springer dan membelinya tepat sebelum keberangkatannya ke Distorsi Portal sebelumnya.
"Kau harusnya bisa, Liona," ucap Adrine mengharap. Selepas itu, ia menoleh ke atas dan membatin, 'Ketua itu harusnya paham, kumohon kau harus memilihnya.'
Beberapa menit kemudian, ketua divisi keempat dan ketua divisi keenam, Blue Flame Lion, yang bernama Gordon Jackson berdiri dan memilih Liona. Adrine begitu senang melihatnya, apalagi wanita yang ada di tengah arena itu memilih divisi Golden Diamond and Heart.
Beberapa saat kemudian Adrine mendapatkan gilirannya untuk bertarung. Ia agak terkejut ketika tiba-tiba saja berpindah ke tengah arena.
Lantas Adrine pun memperkenalkan dirinya, "Perkenalkan, namaku Adrine Arnando, tingkat pencapaianku adalah tahap Nirvana Alam Pertama level-2 kelas puncak."
Orang-orang yang menontonnya dari balik dinding kaca menduga umur Adrine menurut pemikiran mereka masing-masing. Ada yang mengira Adrine telah berumur 35 tahun atau bahkan ke atas lebih. Bahkan pula orang-orang yang berhasil diterima sebelumnya mengira bahwa Adrine berumur empat puluh tahunan.
'Yah, aku sudah mengira pemikiran mereka,' batin Adrine sejenak.
Lalu Adrine melanjutkan perkenalannya, "Umurku yang sekarang ini ... Sedang menuju ke 22 tahun."
"APA?!!!"
__ADS_1
Seketika mereka semua yang mendengarnya terkejut ketika tahu bahwa Adrine masih berusia sangatlah muda. Mereka sangat tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.
"AH! BERBOHONG!"
"KAU PASTI SUDAH TIGA PULUH TAHUNAN! ATAU BAHKAN EMPAT PULUHAN!!!"
"KALAU USIAMU SEMUDA ITU, KAU PASTI MASIH DI TAHAP KEMATIAN!!"
"TAK PERLU MENGADA-ADA! AKU PERCAYA USIAMU DUA PULUH TAHUNAN, TAPI AKU TAK PERCAYA DENGAN TINGKAT KULTIVASIMU!"
"HUUU ... DASAR PENIPU!"
"BERITAHU YANG SEBENARNYA, BODOH!"
Adrine juga sudah menduga bahwa semua ini akan terjadi, oleh karena itu seolah menutup telinganya rapat-rapat dari hujatan orang lain.
Sementara itu Liona dari balik dinding kaca membatin, 'Kalian tak tahu saja, Adrine adalah sejarah baru. Kalian hanya belum melihat kemampuannya saja.' Wanita ini juga nampak kesal dengan ujaran yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya, walaupun yang dihujat bukanlah dia, melainkan sosok lelaki yang disukainya.
Karena Adrine sudah merencanakan untuk melakukan apa, jadi ia hanya tersenyum sembari menatap lawannya. Di sana ia juga masih terus menerima hujatan di sekitarnya.
Di atasnya, Royu sedang membisikkan sesuatu kepada ketuanya, yakni ketua Jason. "Ketua, kau harus menariknya ke dalam divisi kita, apapun yang terjadi!" bisiknya.
Ketuanya itu menoleh dengan wajah datar, "Kau kira aku tak tahu? Aku sudah mendengarnya dari si badut kuning itu, kau tak perlu menjelaskannya lagi!"
Royu pun tertegun mendengarnya. Ia jelas paham bahwa ketuanya itu pasti juga sudah mendengarnya kekalahannya melawan Adrine.
Dan kini Adrine mengeluarkan Pedang Api Hitam Ashura. Ia menancapkannya di lantai.
Ninja di depannya agak bingung apa yang tengah dilakukan oleh Adrine, namun matanya seketika dikagetkan oleh musuhnya yang tiba-tiba saja bergerak tak bersuara. Gerakan Adrine sangatlah senyap karena ia menggunakan teknik Dead Silent. Ketika ia menghempaskan dirinya, dengan cepat ia mengeluarkan tujuh Pedang Semesta Laut Dalam. Satu di antaranya segera melayang ke tangan Adrine dan pedang yang lainnya terbang berada di jalur terbang pedang yang berada di tangannya.
Di sana ninja itu hendak bergerak, tetapi kakinya sangatlah berat hingga tak bisa digerakkan sama sekali. Ketika ia menengok ke bawah, rupanya ada bayangan yang berbentuk seperti tangan menyergapnya dan kini tangannya juga telah dililit oleh bayangan lainnya.
Sebab bayangan yang ada di bawahnya itu juga ada yang membentuk seperti jarum yang sangat runcing dan mengancam leher, perut, punggung, bahkan ***********.
Semua kejadian itu berlangsung begitu cepat, hanya berselang dua detik saja Adrine sudah membuat lawannya diam tak berkutik. Pada saat yang sama pula, semua ketua di atasnya berdiri. Seketika itu juga mereka menghilang dan turun ke bawah.
Semua orang yang ada di balik dinding kaca dibungkam mulutnya oleh aksi yang dilakukan oleh Adrine. Mereka juga diam tak bergeming ketika melihat aksinya yang sangat cepat itu.
"Apa kau berniat membunuhnya, bocah?" tanya seorang ketua yang memakai pakaian serba hitam dengan jas yang formal. Dia adalah seorang ketua dari divisi kedua, Black Panther, yang bernama Georgio Falmuth. Bibirnya tersenyum kecil karena cukup tertarik dengan Adrine.
Kemudian salah seorang ketua lainnya bertanya lagi, "Menarik sekali kau, kenapa tak sekalian membunuhnya? Padahal kalau itu aku, pasti sudah kubunuh jika dia dalam kondisi seperti itu."
Sosok yang barusan berbicara ini adalah ketua divisi ketiga, Dual Killer Swords, yang bernama Naoto Ken. Dia berpakaian ala seorang ninja yang membawa dua katana di belakang punggungnya. Pedangnya sangat panjang dan ia juga mengenakan pakaian yang sangat tertutup yang mana sebagian wajahnya pun juga tertutup oleh selembar kain hitam. Hampir mirip dengan para ninja tadi, hanya saja postur tubuhnya lebih besar dan lebih tinggi. Tingginya bahkan sampai dua meter.
Adrine melepaskan semua tekniknya dan bahkan Pedang Api Hitam Ashura yang menancap tadi telah kembali di tangannya. Ketujuh Pedang Semesta Laut Dalam ia masukkan kembali di dalam cincin penyimpanannya.
Setelah itu Adrine pun menjawab dengan santainya, "Pengujian ini hanya ditujukan untuk menilai seberapa hebat kemampuan kami dalam membunuh. Ini adalah organisasi pembunuh bayaran, yang mana semakin cepat caraku membunuh target maka akan semakin baik. Di dalam pertarungan ini juga, aku hanya ingin memperlihatkan caraku membunuh, bukan benar-benar ingin membunuh."
Lantas orang-orang yang menontonnya di balik dinding kaca itu sadar akan sesuatu dan bergumam satu sama lain.
"Benar juga! Aku mungkin tadi hanya fokus untuk bertarung satu lawan satu, jadi mungkin itu alasan kenapa tak ada yang melirikku sama sekali, padahal aku cukup kuat."
"Bocah itu cukup cerdas juga, bisa langsung mengerti alasan pengujian ini."
"Apa mungkin dia pernah kemari sebelumnya dan mencobanya?"
"Dia sangat pintar dan kuat! Aku juga baru sadari tentang itu."
__ADS_1
"Bocah itu sangat berbahaya ke depannya!"
Adrine melirik ke arah mereka semua, 'Kalian hanya terlalu bodoh untuk bisa menyadarinya. Sudah jelas bahwa tes ini ditujukan untuk mencari pembunuh, bukan akademi yang sedang mencari petarung bela diri,' batinnya.
Para ketua tertawa melihat mereka yang baru sadar akan tujuan tes yang sesungguhnya. Ketua ketua psikopat itu suka sekali melihat orang bodoh yang baru saja menyadari kebodohannya. Begitupun sebenarnya Adrine, ia juga tertawa melihat kebodohan orang-orang itu.
Setelah itu, Adrine diberi penawaran oleh masing-masing ketua jika masuk ke dalam divisi mereka. Tetap saja, ia masuk ke dalam divisi Golden Diamond and Heart bersama dengan Liona.
Semua ketua divisi kecewa kecuali ketua Fheafel. Adrine dipindahkan kembali ke tempatnya. Di sana ia menjadi perhatian utama, apalagi mereka yang tak diterima di antara divisi manapun. Bahkan mereka yang diterima masuk pun memberi tatapan iri nan dengki kepada Adrine.
***
Beberapa jam kemudian, pengujian selesai. Dikatakan jumlah orang yang ingin masuk ke dalam organisasi Pasir Darah Hitam mencapai empat kali lipat dari jumlah beberapa bulan lalu dan yang berhasil diterima hanya berkisar satu setengah kali lipatnya. Semua ketua divisi turun dan dinding kacanya terbuka. Adrine dan yang lainnya keluar dan mengikuti ketua mereka masing-masing. Itu karena tempat tinggal di setiap divisi itu berbeda-beda. Terdapat dua puluh tiga anggota baru yang diterima di divisi empat.
Ketua Fheafel mengatakan bahwa jumlah anggota sebelumnya yang ada di divisi empat tidak jauh berbeda dari yang sekarang ini dan juga mereka akan tinggal di sebuah asrama. Setiap kamarnya akan ditinggali oleh tiga orang, dan pada satu kamar akan dihuni pula oleh orang dengan tingkat kultivasinya yang sama.
Para anggota baru dipersilahkan untuk mengambil nomor secara acak di sebuah kotak besar di lantai pertama, dan nomor itulah yang menentukan kamar masing-masing anggota.
Adrine mengambil nomornya dan ia mendapatkan token kaca berbentuk persegi panjang dengan bertuliskan angka 112. Nomor lima puluh pertama berada di lantai dasar atau satu. Lima puluh berikutnya di lantai dua hingga seterusnya yang berarti Adrine berada di lantai ketiga. Adrine pun naik hingga ke lantai lima melalui lift yang ada di dekat pintu kamar pertama, di sana ada dua lift yang ada di samping kamar nomor 001 dan dua lift lagi di kamar 026 yang saling berhadap-hadapan. Jumlah liftnya ada delapan, dan empat yang lainnya berada di ujung.
Kemudian ketika pintu lift terbuka, Adrine berpisah dengan Liona yang berada di lantai yang lebih tinggi. Pintu liftnya pun tertutup dan Adrine segera mencari kamarnya yang ada di lantai tiga itu.
Ketika sampai di depan pintu kamar, Adrine sudah melihat kartu bernomor sama milik orang lain. Terdapat gambar wajah seseorang di kartu tersebut dan juga ada dua slot lagi yang masih kosong di bawahnya.
Lalu Adrine melihat kartunya sejenak untuk memeriksa apakah kamarnya benar.
[Mengambil gambar wajah ... ]
"Eh?"
[Selesai.]
Adrine agak terkejut bahwa kartu yang ia pegang dapat mengambil gambar wajahnya. Karena sudah tahu cara kerjanya, ia pun menempelkan kartunya di slot yang masih kosong.
Ketika Adrine hendak membuka pintu, pintunya telah terbuka dengan sendirinya. Rupanya ada seorang wanita dari dalam kamar yang justru ingin keluar dari kamar tersebut. Wanita itu mendongak menatap wajah Adrine yang lebih tinggi darinya. Tatapan mata wanita itu tampak sangat dingin dan ekspresi wajahnya juga terlihat datar. Yang mencolok darinya yaitu adanya garis vertikal berwarna merah gelap yang terlihat seperti menyayat matanya. Garis itu memang terlihat seperti bekas luka sayatan yang kering di kedua matanya. Kedua garis itu memanjang hingga ke ujung bibirnya. Rambut hitam panjangnya juga berantakan seperti tak pernah mandi.
Adrine menduga bahwa dia adalah teman satu kamarnya. "Salam kenal," sapanya.
Wanita itu hanya diam dan memalingkan wajahnya. Lantas pergi meninggalkan Adrine di sana.
'Aneh,' batin Adrine.
Lalu Adrine pun masuk ke dalam kamarnya. Ia agak terkejut melihat ruang yang lumayan luas, terdiri dari dua kamar mandi dan juga ada dapur. Di dapur terdapat sebuah kulkas yang mana ketika Adrine membukanya nampak banyak sekali makanan di dalamnya. Ia mengambil minuman yang bertuliskan susu sapi segar.
Adrine pun meminumnya dan segera duduk di atas kasur yang begitu empuk dan nyaman. Ada tiga kasur di kamar itu, hanya saja ketiga kasur itu sangatlah berantakan.
Adrine menduga sesuatu, 'Kurasa wanita itu adalah anggota lama yang telah lama tinggal di kamar ini ... yah, kamar ini sangat berantakan,' batinnya.
Kamar yang menjadi tempat tinggal Adrine sekarang bisa dikatakan sangatlah berantakan. Banyak sekali barang berjatuhan dan di setiap ujung kamarnya pasti ada sampah dan debu yang menumpuk.
Setelah menghabiskan satu kotak susu, Adrine membuang sampahnya yang ada di tempat sampah di dekat kasur, tempat sampahnya penuh dan ia tak bisa membuang sampah di sana. Lantas Adrine mencuci tangannya dan segera membersihkan sekaligus merapikan kamarnya yang sangat kumuh dan berantakan itu. Ia segera mengambil plastik hitam dan mengumpulkan semua sampah yang ada di dalam kamarnya.
Lalu Adrine membungkusnya dengan plastik hitam itu. Sebelumnya membuangnya, ia berinisiatif untuk membersihkan debu dan merapikan kamarnya terlebih dahulu agar lebih enak dipandang. Selepas itu barulah ia membuang sampah yang menumpuk itu.
Beberapa saat kemudian, Adrine selesai membersihkan kamarnya. Semuanya terlihat sangat bersih dan rapi, akan tetapi ia sama sekali tak berani menyentuh beberapa barang yang ada di kasur yang paling ujung. Itu karena terdapat barang milik wanita yang sebelumnya keluar dari kamar itu.
Adrine pun segera mengambil sampah yang ia bungkus di dalam plastik hitam sebelumnya.
__ADS_1
Ketika Adrine hendak keluar, ia mendengar suara yang ramai sekali. Di luar kamarnya terdengar suara banyak orang, mereka tampak tengah membicarakan tentang 'Pilar.'
Bersambung!!