
SETELAH BEBERAPA BULAN BERLALU
Hari kelulusan pun tiba, pada bulan ini pula Etern berusia tepat pada 17 tahun. Adrine dan yang lainnya menyelamati kepada Etern yang sedang berulang tahun.
Adrine telah berhasil menembus sampai tahap Keberlanjutan level-1 kelas menengah pada 6 bulan lalu dan sampai kekelas akhir pada beberapa hari yang lalu. Tak disangka kecepatannya sangatlah ekstrem. Baginya hal itu sangat spesial dan mungkin juga dialami oleh orang lain, namun pemikirannya itu hanya bagi orang yang jenius dan mengakui keberadaannya sendiri dan Adrine tidak mengakui dirinya itu jenius, namun tidak dimata orang lain.
Pada 7 bulan yang lalu, Adrine telah berhasil sampai kelantai 6. Tak banyak orang yang ada disana, banyak sekali dudukan yang kosong. Yang ada dilantai 6 hanyalah beberapa saja, terdapat sekitar 13 orang saja. Dan seperti apa yang ia duga sebelumnya, memang apa bila semakin naik keatas maka akan semakin sedikit pula orang yang ada.
Pada 3 bulan yang lalu, Adrine telah naik sampai kelantai 7. Disana sangatlah sepi, hanya menyisakan 5 orang saja yang sedang berkultivasi disana, dan mereka semua sangatlah dikenal oleh Adrine, yakni kelima anggota dari Geng Lima Jenius. Yama menduduki dudukan bernomorkan 03, Pino berada dinomor 08, Vania berada dinomor 10, Rizky berada dinomor 12, dan Shani berada dinomor 13. Mereka berlima sangatlah fokus dan berkonsentrasi yang tinggi, sehingga membuat mereka memang menjadi yang terkuat diantara yang lain, kecuali Adrine, karena ia sudah jauh berada diatas merek berlima.
Menurut Adrine, 2 sampai 3 bulan lagi ia bisa naik kelantai 8, namun karena sudah tak punya cukup waktu lagi, ia memutuskan untuk berhenti saja. Kultivasinya kini juga sudah meningkat pesat.
Lalu Adrine dan teman-temannya berjalan bersama menuju kearea pertemuan yang dimana mereka akan dipertemukan oleh murid-murid lain dari perguruan utara. Tempat pertemuannya tepat digunung berapi yang ada ditengah-tengah pegunungan Sindra.
Setelah itu, Adrine bertemu dengan Nicho yang ditemani oleh Veno yang datang secara tiba-tiba ditengah jalan. Karena merasa ada yang ingin dibicarakan, Adrine menyuruh Etern, Arpha, dan David untuk pergi terlebih dahulu. Menurutnya pembicaraannya kali ini cukup rahasia.
"Ada apa Nicho? Apa ada yang perlu dibicarakan?"
Nicho mengangguk, lalu Veno maju kedepan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya ingin mereka bicarakan.
"Emm... Maaf Adrine, kita harus mencari tempat yang sesuai untuk membicarakan hal ini."
Ternyata Veno ingin mengatakan kalau tempat yang mereka gunakan ini terlalu terbuka dan bisa didengar oleh orang lain.
Setelah itu, mereka berdua mencari tempat yang sepertinya cukup sepi dan jarang didatangi oleh orang-orang. Mereka berada dibalik sebuah gedung yang dimana orang-orang telah pergi menjauh dari sana karena sedang menuju kearea pertemuan.
"Cepat katakan!"
Adrine menyuruh Veno untuk segera bergegas mengatakan hal yang ingin mereka sampaikan. Veno dan Nicho mengangguk karena paham akan situasi mereka sekarang ini yang dimana sedang dikejar oleh waktu untuk segera tiba kearea pertemuan.
"Disini aku akan memanggilmu tuan."
Ketika Veno mengatakan hal tersebut, Adrine merasa canggung ketika mendengarnya. Ia tak terbiasa dipanggil dengan panggilan tuan, bahkan satu gengnya saja disuruhnya untuk tidak memanggilnya tuan, namun memanggilnya dengan sebutan kakak saja.
"Ada apa ini? Kenapa aku harus dipanggil menjadi seorang tuan?"
Adrine sendiri tak mengerti akan hal tersebut, canggung dan kebingungan ketika ada orang yang bahkan lebih kuat darinya harus memanggil dirinya tuan.
"Anda akan mengerti ketika saya menjelaskannya."
Adrine mengangguk paham.
"Baiklah, teruskan!"
Adrine menyuruh Veno untuk segera menjelaskannya agar tidak membuang-buang waktu.
"Tuan, disini aku sebagai utusan dari Yang Mulia Monarch ingin menyampaikan pesan dari beliau, bahwasanya beliau sedang mencari anda tuan. Yang Mulia Monarch mengatakan kalau anda adalah orang penting dan harus dihormati, maka dari itu aku harus memanggilmu dengan sebutan tuan."
Adrine mulai mengerti dengan alasan Veno memanggilnya tuan setelah dijelaskan secara rinci oleh Veno.
'Tak kusangka aku adalah orang penting dimata Monarch Orion.' Pikir Adrine.
Mulanya Adrine tersenyum tipis ketika sedang memikirkan hal barusan, namun senyumnya berubah menjadi wajah yang gelisah ketika memikirkan perkiraan yang lain.
'Bagaimana kalau aku yang dimaksud oleh Monarch Orion ini adalah buronan dan mereka sedang bersiasat untuk menangkapku? Apa yang sebenarnya terjadi?' Pikir Adrine.
Adrine cukup gelisah ketika memikirkannya, apalagi ia tahu kalau yang namanya sang Monarch itu adalah seorang penguasa, dan beliau adalah orang yang menguasai dari satu rasi bintang. Pastinya sang Monarch itu memiliki pasukan atau tentara yang hebat dengan jumlah yang tak terbatas dan kekuatan yang besar, persenjataan yang lengkap dan mematikan, dan pesawat tempur yang juga tak kalah mengerikan.
Hanya dengan memikirkan hal itu saja membuat Adrine menjadi berkeringat sangat deras. Ia tak tahu akan seperti apa jadinya jika hal itu benar-benar terjadi padanya.
"Tak perlu cemas tuan, beliau mengatakan kepada kami untuk menjaga tuan sebaik mungkin."
Nicho menganggukkan kepalanya.
Ketika Veno mengatakan hal tersebut, kecemasan Adrine langsung hilang dan wajahnya kini kembali serius lagi.
"Ada lagi tuan, Yang Mulia Monarch telah mencari anda semenjak hilangnya anda 2 tahun yang lalu. Beliau sangat marah ketika mendengar kabar tentang anda yang diculik oleh rasi bintang Telescopium. Dan 1 tahun yang lalu, pencarian tentang anda dihentikan dan akan melanjutkannya pada 2 tahun mendatang."
Adrine merasa ada sesuatu dari penjelasan Veno barusan, ia malah curiga kalau dirinya yang sekarang ini sedang diincar oleh Monarch Orion. Hatinya yang sekarang ini sangatlah takut, jantungnya berdetak kencang.
"Apa hanya itu?"
Veno menggeleng dengan sangat cepat ketika ditanya Adrine. Informasi yang ingin disampaikannya bukan hanya sampai itu saja.
"Ada lagi. Beliau menyampaikan kepada saya, jika kami bertemu dengan anda maka kami harus menyampaikan pesan beliau yang dimana mengharuskan anda untuk mempunyai tempat tinggal disini, planet ini. Jika tidak, maka Yang Mulia Monarch akan membawa anda kesana selamanya dan tidak akan pernah mengembalikan anda kembali kesini, pada waktu itu juga beliau akan memperketat pencarian jika anda tidak berada ditempat."
Adrine menjadi takut ketika tahu kalau dirinya yang sekarang ini memang sedang benar-benar menjadi incaran dari Yang Mulia Monarch.
"Dimana tempat pertemuannya nanti? Apakah ditempat ini?"
Veno dan Nicho sangat terkejut ketika Adrine mengatakan hal tersebut.
"Apakah tuan benar-benar setuju dengan semua ini?"
Veno hampir tak percaya ketika Adrine berani untuk menyetujui semua hal tadi yang disampaikan oleh Monarch Orion melalui Veno.
__ADS_1
Adrine mengangguk mantap ketika ditanyai apakah ia yakin untuk semua itu.
"Ya, untuk apa aku menolak panggilan dari seorang Monarch? Yang ada nanti aku sendiri yang akan hancur."
Veno dan Nicho tersenyum ketika mendengar hal tersebut dari Adrine. Mereka memang mengira kalau Adrine sekarang sedang takut dan berada diposisi yang tidak bisa ia tolak.
"Baiklah, jika tuan telah yakin untuk semua yang kusampaikan tadi, maka tempat pertemuannya akan saya beritahukan. Karena tidak ingin orang lain tahu, aku akan mengirim titik koordinatnya beserta letak tempatnya."
Walaupun terlihat tegang, namun Adrine tetap menerima semua kenyataan itu dengan hati yang mantap. Veno pun mengirimkan pesan yang berisikan titik koordinat pertemuan Adrine saat panggilannya nanti dan Adrine sudah menerimanya.
"Kalau tidak ada yang ingin disampaikan lagi, maka aku akan pergi."
Ketika Adrine sedang berbalik kanan, tiba-tiba bahunya ditahan oleh telapak tangan, dan yang menahannya adalah Veno.
"Tuan, bagaimana kalau aku yang akan mengantarkan anda?"
Adrine ditawari oleh Veno untuk diantarkan menuju ketempat pertemuan.
Adrine menganggukkan kepalanya dan menerima tawaran dari Veno.
"Antarkan saja aku ketempat teman-temanku sekarang. Aku akan berjalan bersama mereka saja."
Adrine tak ingin membuat teman-temannya menunggu karena tak mendapati Adrine selama perjalanan dan terkejut ketika mendapati Adrine yang tiba-tiba sudah berada ditempat pertemuan.
"Baiklah tuan, sesuai permintaan anda."
Lalu Veno mengeluarkan sebuah benda yang berupa batu kristal yang berwarna hijau. Ternyata kristal tersebut telah dilengkapi oleh teknologi dan bisa digunakan untuk berteleportasi ketempat yang diinginkan.
"Nah, ini dia teman-temanmu."
Adrine mengangguk dan mereka bertiga langsung berpegangan untuk berteleportasi bersama.
Veno pun mulai menghitung.
"Oke, bersiap... 1... 2... 3..."
ZRIIIING!!
Mereka langsung menghilang dari pandangan dan hanya menyisakan debu dan udara.
ZRIIIING!!
Hanya dalam waktu kurang dari 1 detik, mereka bertiga telah sampai ditujuan Adrine yang dimana ingin bersama dengan teman-temannya.
Seketika setelah Adrine datang, dirinya dimata teman-temannya seperti orang yang hadir disebuah pertemuan reuni.
"Adrine, kami pergi dulu."
Nicho seperti sedang berpamitan dengan Adrine untuk pergi dari sana.
"Baiklah."
Adrine mempersilahkan untuk mereka pergi dan seketika mereka berdua pergi dengan menggunakan kristal hijau tadi.
"Apa yang digunakan mereka berdua itu adalah Kristal Teleportasi radius 10 mil?"
Arpha seperti memperhatikan kristal hijau yang dipakai oleh Nicho dan Veno untuk berteleportasi dan pergi dari sana.
"Entah, aku berusaha untuk tidak memperhatikan apa yang mereka gunakan secara langsung."
Adrine tahu benda yang dimaksud oleh Arpha adalah kristal hijau tadi, dan karena tidak tahu akan benda tersebut, ia mengatakan sebuah alasan agar membuatnya seolah-olah memang tidak memperhatikan benda-benda yang digunakan oleh Nicho dan Veno.
"Ya, kristal hijau tadi memang Kristal Teleportasi radius 10 mil, kalau berwarna biru makan radiusnya akan jadi 100 mil."
Adrine merasa penasaran dengan kristal tersebut.
"Sambil berjalan, aku ingin tahu tentang yang namanya Kristal Teleportasi yang kalian bicarakan tadi."
Adrine sudah mulai mempersiapkan sebuah alasan apabila ditanya oleh teman-temannya nanti seolah memang ia kurang membaca.
"Baiklah, ayo kita berjalan!"
Mereka berempat pun langsung berjalan dengan kecepatan berjalan biasa dan tidak tergesa-gesa untuk sampai ketempat pertemuan. Banyak juga orang lain yang masih berada dibelakang mereka berempat.
'Eh? Mereka tidak ingin tahu kenapa aku bisa tak tahu tentang Kristal Teleportasi? Baguslah.' Pikir Adrine.
Adrine merasa lega ketika tak ada yang menanyakan kenapa ia tak tahu tentang Kristal Teleportasi. Dan Etern sudah tahu tentang hal tersebut dan hanya tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Adrine.
David pun membuka mulutnya untuk menjelaskan pertanyaan dari Adrine.
"Kristal Teleportasi itu adalah kristal yang dimana bisa dilakukan untuk berteleportasi ketempat lain. Dulu sebelum adanya teknologi yang sehebat pada zaman sekarang ini, kristal ini hanya digunakan untuk melarikan diri tanpa arah tujuan. Kini Kristal Teleportasi telah dimodifikasi dan digunakan oleh berbagai orang yang memiliki cukup kekayaan untuk bisa membelinya."
Adrine lumayan mengerti akan penjelasan dari David. Namun penjelasannya tak sampai disitu saja.
"Sekarang Kristal Teleportasi telah ditentukan oleh warnanya masing-masing, dari yang berwarna kuning, hijau, biru, merah, ungu, dan berwarna bintang galaksi. Jika berwarna kuning, Kristal Teleportasi hanya memiliki radius 1 mil saja, hijau radiusnya mencapai 10 mil, biru radiusnya mencapai 100 mil, merah radiusnya mencapai 1000 mil, ungu adalah teleportasi antar planet, dan berwarna bintang galaksi memiliki radius terbesar, yaitu antar bintang. Kristal Teleportasi bisa digunakan hingga 5 kali dan setelah digunakan sebanyak 5 kali, maka fungsinya akan menghilang dan warnanya akan berubah menjadi putih serta menjadi kristal biasa."
__ADS_1
Setelah penjelasan yang sangat panjang itu, Adrine sama sekali tak ada yang melewatkan perhatiannya akan penjelasan dari David.
Arpha yang melihat Adrine yang sangat memperhatikan penjelasan dari David dengan seksama, malah merasa aneh akan Adrine yang terlalu fokus.
"Adrine, apa kau itu sebenarnya tak tahu dengan Kristal Teleportasi? Sepertinya kau itu sangat memperhatikan penjelasan dari David, apa kau benar-benar tak tahu?"
Arpha merasa penasaran akan Adrine yang terlihat sangat fokus akan penjelasan dari David. Adrine sendiri merasa terkejut ketika ditanya oleh Arpha tentang ketidaktahuannya akan Kristal Teleportasi. Dan alasan yang telah dibuatnya tadi seakan telah memudar dari pikirannya karena merasa sudah tak dibutuhkan lagi.
"Begini, aku..."
Adrine yang sekarang ini sangat tidak tahu untuk memberi jawaban apa kepada Arpha, apalagi David juga terlihat ikut bertanya-tanya tentang hal yang sama dengan Arpha.
"Adrine hanya kurang membaca buka dan jarang mendapatkan informasi sejak dia kecil. Dulu hidupnya sebatang kara disebuah hutan dan pada akhirnya kami bertemu hingga sampai sekarang. Karena itu dia sangat minim akan informasi yang ada."
Etern menjawab pertanyaan dari Arpha, Adrine merasa sedikit terkejut sekaligus lega karena pertanyaan yang diajukan kepadanya tadi telah dijawab oleh Etern.
Adrine mengacungkan kedua ibu jarinya dan tersenyum kearah Etern dan juga kembali membalas senyuman tipis kepada Adrine.
"Ya, itu benar. Sebenarnya aku malu untuk mengatakannya."
Adrine menambahi agar Arpha dan David semakin tak curiga dengan alasan yang diberikan oleh Etern barusan. Namun tiba-tiba Arpha menanyakan sesuatu lagi.
"Jika kau hidup sebatang kara dihutan, bagaimana bisa kau punya hubungan dengan seseorang dari rasi bintang?"
Adrine malah menjadi bingung dengan pertanyaan yang diajukan, seakan pertanyaan tersebut memang akan menghantui Adrine untuk hari ini.
Adrine pun menjelaskannya kepada Arpha.
"Apa kau tak ingat dengan kejadian 2 tahun lalu? Kejadian itu juga ada sangkut pautnya dengan rasi bintang Orion dan mereka merasa bersalah karena tak dapat membantu kala itu. Dan sekarang mereka ingin meminta maaf kepadaku, dan... Hanya itu saja."
Arpha sudah paham akan penjelasan dari Adrine. Kini ia sudah tak bertanya sesuatu lagi hingga beberapa waktu.
Akan tetapi, Adrine ingin menanyakan sesuatu kepada teman-temannya tentang ujian kelulusannya nanti. Ia ingin tahu bagaimana persiapan mereka untuk bisa menghadapi lawan yang mereka ketahui maupun mereka tidak ketahui.
"Bagaimana dengan persiapan kalian untuk menghadapi musuh nantinya?"
Etern pun menjawab pertanyaan dari Adrine.
"Kami telah berlatih lagi untuk bisa meningkatkan kerja sama kami, dan kami juga telah menerapkan beberapa persiapan dan rencana untuk beberapa musuh yang sudah kami ketahui selama ini dan kami juga telah mempersiapkan sedikit rencana untuk musuh yang tidak kami ketahui."
Adrine masih harus berpikir ulang ketika mendengar penjelasan dari Etern, tapi setelah beberapa saat Adrine pun paham dengan apa yang barusan dikatakan oleh Etern.
Adrine telah menarik kesimpulan dari penjelasan Etern barusan.
"Ada beberapa yang salah dari kalian, terutama tentang rencana untuk melawan musuh yang tak diketahui. Seharusnya kalian harus lebih mempersiapkan rencana untuk musuh yang tak diketahui, ketimbang yang sudah diketahui. Kalian ini harus mempersiapkan lebih dari 1000 rencana untuk musuh yang tak diketahui, karena kita tak tahu bagaimana mereka menyerang dan melakukan perlawanan nantinya."
Disaat Adrine menasehati ketiga temannya, mereka semua terlihat seperti menyesal karena tidak memperkirakan hal tersebut. Etern sendiri terlihat malu dengan Adrine dan dirinya sendiri yang seharusnya tahu akan hal tersebut.
Namun Etern telah terpikirkan oleh suatu ide yang dimana ide itu menurutnya adalah ide yang paling cemerlang.
"Kau benar Adrine! Aku sudah mempersiapkan rencana yang jauh lebih matang dibandingkan dengan ide manapun, bahkan bisa digunakan untuk musuh yang diketahui maupun tak diketahui."
Adrine merasa penasaran dengan ide yang dipikirkan oleh Etern.
"Ide apa itu?"
Etern tersenyum ketika ditanya tentang ide apakah itu dari Adrine.
Etern pun menunjuk kearah Adrine.
"Kau adalah idenya! Dimana tak ada yang mungkin sebanding denganmu saat ini, bahkan seseorang dari rasi bintang sekalipun."
Ketika Etern mengatakan idenya, Adrine tersenyum mendengarnya. Lalu ia tertawa.
"HAHAHAHAHAHA!!"
Semuanya terlihat bingung disaat Adrine tertawa, mereka tak tahu apa yang lucu disana. Wajah Adrine pun telah kembali serius setelah berhenti tertawa terbahak-bahak.
"Dengar!! Kalian tak selamanya akan mengandalkan orang lain, karena orang lain bisa saja meninggalkan kalian. Janganlah terlalu menggantungkan semuanya kepada orang lain, termasuk pada pertarungan penentuan. Aku tegaskan sekali lagi, jangan terlalu menggantungkan semuanya kepada orang lain!"
Seketika suasana menjadi hening dan mereka kembali termenung ketika Adrine menasehati mereka bertiga. Bukan berarti Adrine tak mau melindungi teman-temannya, namun hanya sekedar mengingatkan bahwa tak ada yang bisa diharapkan dari hasil menggantungkan kepada orang lain saja. Percaya diri dan rencana bisa membuat semua keadaan berada didalam genggaman, hal itu yang bisa membuat seseorang puas akan usahanya, bukan dari hasil menggantungkan kepada orang lain. Itulah maksud yang sebenarnya dari perkataan Adrine.
"Kau benar Adrine. Kami tak selamanya akan menggantungkan padamu, tapi untuk kali ini kami masih membutuhkan dirimu. Dan kami juga akan berusaha untuk bisa membantu dari arah yang tak bisa kau jangkau. Kami akan membantumu untuk naik sampai keatas dan dengan adanya dirimu juga, kami juga akan terangkat setinggi mungkin."
Arpha dan David ikut mengangguk ketika Etern mengatakan semua itu. Adrine juga tersenyum setelah semua kalimat tadi terlontar dari mulut Etern.
"Baiklah, aku percaya kalian."
Lalu Adrine menghadap kedepan dan melihat sesuatu ada didepannya. Ia pun menunjuk apa yang dilihatnya itu.
"Lihatlah, tempat yang kita tuju sudah ada tepat didepan kita."
Dan benar, area pertemuan sudah berada tepat didepan mereka berempat. Pertandingan pun sudah menanti, kini masanya mereka akan menunjukkan apa yang selama ini mereka latih tanpa henti.
Bersambung!!
__ADS_1