Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Menuju ke Perguruan Kilat Langit


__ADS_3

Hutan lebat yang memenuhi tanah hijau, angin berhembus cukup kencang, cahaya matahari bersinar terang benderang.


WUUUSH!!


Sesuatu lewat di antara dedaunan dan angin, menggerakkan daun dan udara dengan begitu cepat. Sebuah roh yang terbang dengan sangat cepat mengarah ke sebuah tempat, ia lah Shin kecil yang sedang menyusul keberangkatan Adrine serta memberikan selamat atas keberhasilan Adrine. Namun Shin kecil sendiri masih terus terpikir apakah Adrine lulus ataukah tidak.


'Seharusnya Adrine lulus dengan peringkat terbaik, dia adalah yang terkuat di antara semua murid Perguruan Bayangan Langit.' Pikir Shin kecil.


Shin kecil terus bergerak dengan sangat cepat sambil memikirkan hal terbaik bagi Adrine. Shin kecil juga membawa beberapa jiwa dari hewan spirit tingkat Langit peringkat 5 untuk di jadikan pasukan Adrine. Salah satunya adalah hewan spirit tipe tubuh iblis seperti Purgatory Demon dan Blood Demon.


"Seharusnya sekarang Adrine sudah menyelesaikan ujian-nya, aku harus mengucapkan selamat kepadanya atas keberhasilan yang telah di raihnya."


Dengan ekspresi yang senang, Shin kecil terus bergerak dengan laju yang semakin cepat pula, ia tak ingin terlambat ketika sampai di Perguruan Bayangan Langit. Namun Shin kecil juga merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang tak menepati janjinya untuk kembali di saat ujian kelulusan berlangsung. Ia tahu kalau ujian kelulusan yang dilaksanakan oleh Adrine tengah berlangsung, namun ia tak berada di tempat untuk bisa menyaksikan ujian tersebut.


'Maaf Adrine, aku tidak bisa menepati janjiku. Aku minta maaf karena tidak berada di tempat ketika ujian mu berlangsung, dan sekarang aku akan segera ke sana, segera kembali dan menemui dirimu.' Pikir Shin kecil.


Sementara itu, Adrine sudah memulai keberangkatan-nya ke Perguruan Kilat Bayangan. Pesawat Falcon X-12B telah terbang dan melaju dengan sangat cepat ke arah barat dari Perguruan Bayangan Langit.


Dari dalam lubuk hati Adrine, ia juga terpikirkan oleh Shin kecil yang pergi entah kemana. Keberadaan Shin kecil juga belum datang menemui dirinya, padahal ujian kelulusan sudah terlewat.


'Dimana kau Shin kecil? Kenapa kau tidak segera kembali?' Pikir Adrine.


Adrine terus terpikirkan oleh Shin kecil, begitupun dengan Shin kecil, ia juga terpikirkan oleh Adrine.


WUUUSH!!


Pesawat Falcon X-12B melesat begitu cepat di udara, bahkan lebih cepat dari angin yang berhembus. Perjalanan pesawat tersebut sedang menuju ke Perguruan Kilat Langit untuk mengantarkan murid-murid baru yang akan mendaftarkan diri mereka ke perguruan tersebut, kecuali Adrine, ia adalah seorang kandidat yang masuk secara cuma-cuma tanpa harus mengikuti pendaftaran dan dan seleksi.


Beralih dari Adrine ke Shin kecil, sekarang Shin kecil telah sangat dekat dengan perguruan. Dari tempat Shin kecil sekarang, bangunan-bangunan tinggi di perguruan mulai terlihat samar-samar.


ZRAAAST!!


Shin kecil melesat dengan sangat cepat hingga angin di sekitar menjadi ikut berhembus kencang.


Dalam sekejap Shin kecil telah sampai di Perguruan Bayangan Langit, ia masih terus terbang dengan sangat cepat ke arah perguruan murid inti yang berada di tengah pegunungan Sindra. Shin kecil pun sampai di tengah pegunungan Sindra dan berada di perguruan murid inti. Ia melihat-lihat di sekitar perguruan dengan terbang di atas perguruan murid inti. Shin kecil mencari Adrine dengan antusias penuh, tidak ada satupun tempat yang luput dari matanya.


'Seharusnya Adrine ada di perguruan ini, lantas dimana dia sekarang? Kenapa Adrine tidak ada di sini?' Pikir Shin kecil.


Shin kecil terus berputar-putar di atas awan dan mencari Adrine, namun tetap saja tidak bisa menemukan dimana Adrine berada, bahkan sudah di cari olehnya di tempat ujian di laksanakan. Hingga setelah Shin kecil terus berkeliling, ia merasakan sesuatu.


"Aura ini... Bukankah aura yang baru saja kurasakan ini adalah aura Adrine?"


Tiba-tiba Shin kecil merasakan keberadaan Adrine, namun ia masih belum yakin dimana Adrine sekarang.


"Tunggu sebentar, aura Adrine seperti sedang menjauh dari perguruan dan sekarang sedang mengarah ke arah barat dari sini."


Shin kecil yang tadinya sedang terbang ke arah timur, ia langsung berbalik ke barat dan menatap sepanjang mata memandang.


'Berarti Adrine sudah pergi dari sini, kemana dia akan pergi?' Pikir Shin kecil.


WUUUSH!!


Shin kecil pun langsung bergerak cepat untuk segera menyusul, aura yang sedang di kejar olehnya bergerak dengan begitu cepat, ia tak ingin kehilangan jejak dan tertinggal.


'Pergerakan Adrine mengarah ke arah barat dari Perguruan Bayangan Langit, berarti dia sedang menuju ke... Perguruan Kilat Langit atau kalau tidak ke Metropolis Sanlong.' Pikir Shin kecil.


Metropolis Sanlong adalah kota besar yang berada di arah barat dari Perguruan Bayangan Langit, sama seperti Perguruan Kilat Langit, hanya saja berada sedikit lebih jauh dan sedikit ke kiri dari Perguruan Kilat Langit. Metropolis Sanlong merupakan kota terbesar yang ada di pulau Nimbus, pulau yang sekarang menjadi tempat singgah oleh Adrine, Perguruan Kilat Langit, Perguruan Bayangan Langit, Metropolis Sanlong, dan lain-lain, begitu juga dengan Gurun Pasir Iblis.


Dengan segera Shin kecil langsung memikirkan kemungkinan terbesarnya, yaitu Perguruan Kilat Langit, ia tahu kalau Adrine akan terus berlatih untuk menjadi kuat, jadi akan jauh lebih masuk akan jikalau Adrine akan mengarah ke perguruan tersebut.


"Ada yang aneh. Kecepatan Adrine sangat tak masuk akal, bagaimana dia bisa bergerak secepat ini? Dia pasti mengendarai sesuatu."


Selalu sesuai dengan apa yang di katakan dan yang di perkirakan oleh Shin kecil, Adrine memang sedang mengarah ke Perguruan Kilat Langit dengan naik sebuah Pesawat Falcon X-12B. Kecepatan terbang dari pesawat tersebut sama cepatnya dengan kecepatan Shin kecil yang sedang terbang dan melaju cepat sekarang ini.


Beralih lagi dengan Adrine, ia sekarang tengah bermeditasi dan sekarang ia sedang berada di dalam alam bawah sadarnya. Di sana Adrine sedang melatih kemampuan berpedangnya agar kemampuannya terus meningkat.


Bahkan Adrine mengeluarkan bayangan yang membentuk dirinya sendiri untuk bertarung melawan-nya. Namun Adrine masih belum terlalu bisa dan berusaha untuk mengkondisikan gerakan dari bayangan-nya agar serangan dan gerakan dari bayangan tersebut bisa lebih stabil dan terkontrol.


Karena Adrine sudah berlatih cukup lama dan merasa tidak mengalami perkembangan dalam kontrol bayangan-nya itu, Adrine pun menyimpan kembali bayangan-nya dan hanya berlatih pedang saja.


Adrine mengayunkan pedangnya ke kanan, kiri, atas, bawah, miring ke kanan, miring ke kiri, dan terus di ayunkan. Awalnya ayunan pedang Adrine memanglah perlahan, namun semakin lama kecepatan ayunan pedang Adrine semakin cepat.

__ADS_1


Ayunan pedangnya bahkan sampai berputar ke belakang, bahkan Adrine sampai bergerak dari tempatnya dan mengayunkan pedangnya lebih cepat lagi. Yang awalnya arah pergerakan dari ayunan pedangnya teratur dan selalu mengikuti pola, sekarang gerakan pedang Adrine berubah dan bergerak secara acak, namun pergerakan Adrine terlihat menjadi lebih stabil dan lebih cepat, begitupun dengan ayunan pedangnya.


SWOOOSH!! SRIIING!! SLAAASH!! SRIIING!! SLAAASH!! SRIIING!! SWOOOSH!! SLAAASH!! SLAAASH!!


Gerakan Adrine yang awalnya kaku, sekarang menjadi terlihat lebih lentur dan lincah, seolah ia seperti sedang menari di dalam lantunan ayunan pedang.


Setelah beberapa saat, Adrine berhenti. Ia beristirahat sejenak dan kembali pada tubuh aslinya, terlihat keringat mengucur di kening dan pelipis Adrine. Etern yang ada di sampingnya malah memanfaatkan waktu yang ada untuk berkultivasi, sedangkan Pino dan Vania malah tertidur di saat perjalanan berlangsung. Pino tertidur dengan kepala menunduk, sedangkan Vania tertidur dengan kepala terangkat dan mulut terbuka.


'2 bocah ini... Bagaimana bisa mereka tertidur di dalam pesawat sedingin ini?' Pikir Adrine.


Lalu Adrine menoleh ke arah belakang, ia seperti baru saja terkena sengatan listrik setelah melihat hal yang ada di belakangnya. Tak disangka, kebanyakan orang-orang yang ada di belakangnya juga tertidur pulas seperti Pino dan Vania. Namun ada juga yang memanfaatkan waktu yang ada untuk berkultivasi seperti halnya Etern.


Adrine tersenyum ketika menatap ke arah orang-orang yang sedang berkultivasi.


'Mereka yang berkultivasi pasti sedang berusaha agar tidak gagal dalam seleksi.' Pikir Adrine.


Lalu Etern membuka matanya dan menatap ke arah Adrine yang sedang melihat ke belakang.


"Kau sedang apa Adrine?"


"Eh?"


Adrine agak terkejut ketika tiba-tiba namanya di panggil, apalagi yang memanggil adalah Etern yang tadinya sedang berkultivasi.


"Kau tidak melanjutkan kultivasimu?"


Etern tersenyum dan menggelengkan kepalanya ketika di tanya oleh Adrine.


"Sekarang ini aku sedang akan melakukan penerobosan, tempat seperti ini kurang mendukung untuk melakukan penerobosan"


Tidak perlu di ingatkan oleh Etern, Adrine pun juga mengerti. Pesawat Falcon X-12B memang pesawat yang bisa digunakan untuk berkultivasi di dalamnya, namun pesawat tersebut tidak menyediakan energi yang cukup besar untuk melakukan suatu penerobosan level kultivasi. Kini Etern akan menembus level ke-2 dari tahap Kematian dan pesawat tersebut sangat tidak cocok untuk penerobosan.


"Ya, aku sendiri paham tentang hal itu, apa berarti kau akan menembus tahap Kematian level ke-2?"


Etern mengangguk membenarkan pertanyaan Adrine.


"Ya, kau benar, aku akan menembus ke level-2 tahap Kematian."


Lalu Adrine menoleh ke arah jendela lingkaran yang ada di sampingnya, angin-angin berhembus di luar sana, awan-awan yang besar membentang dan melayang tepat di bawah pesawat, burung-burung kecil juga berterbangan di atas awan. Adrine merasa sangat tenang dan damai ketika melihat pemandangan indah tersebut.


Setelah itu, Adrine menoleh ke arah Etern lagi.


"Kapan kita akan sampai di Perguruan Kilat Langit?"


Etern langsung menoleh ke arah Adrine karena mendengar Adrine yang baru saja memanggilnya.


"Hmm... Sepertinya kita akan sampai dalam 2 hingga 3 jam lagi."


Adrine sedikit terkejut mendengarnya, tak di sangka olehnya jika perjalanan-nya akan memakan waktu yang cukup lama.


"Oke, terima kasih."


"Iya, sama-sama"


Setelah bertanya dan berterima kasih kepada Etern, Adrine langsung terpikirkan oleh Shin kecil yang masih belum nampak batang hidungnya. Menurutnya, ini sudah terlalu lama untuk Shin kecil segera kembali, apalagi Adrine cemas jika Shin kecil mencarinya di Perguruan Bayangan Langit dan tak menemukan-nya, padahal Adrine sudah berangkat ke Perguruan Kilat Bayangan.


'Shin kecil, kau ini... Dimana kau sebenarnya sekarang ini?' Pikir Adrine.


PLAK!!


"Eh?"


Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundak Adrine, jelas itu membuatnya terkejut. Dan ternyata yang menepuk pundak Adrine adalah Etern.


"Ada apa Etern? Apa kau perlu sesuatu?"


Etern menggelengkan kepalanya, hal tersebut membuat Adrine menjadi semakin bingung, yang awalnya bingung memikirkan Shin kecil, sekarang malah di tambah dengan Etern.


"Ah tidak, bukan begitu... Aku hanya ingin bertanya padamu, apa kau sendiri tak memanfaatkan waktu seperti ini untuk berkultivasi?"


Walaupun tidak mengejutkan jika Etern bertanya seperti itu, namun Adrine malah terkejut setelah mendengarnya.

__ADS_1


"Ah, aku kira apa..."


Adrine menggaruk kepalanya sambil mengerutkan dahinya dan memejamkan matanya, serta tersenyum lebar, ia mengira kalau Etern akan bertanya tentang hal lain selain kultivasi.


"Sebenarnya aku sendiri ingin melatih teknik yang di berikan oleh master Kai ketika kita hendak pergi dari Perguruan Bayangan Langit, katanya teknik ini adalah pemberian terakhir dari master Heyto kepadaku sebagai murid inti dari Perguruan Bayangan Langit."


Memang hal tersebut terjadi sebelumnya, tepat beberapa menit sebelum keberangkatan, master Kai memang sempat menemui Adrine untuk memberikan sesuatu, namun ketika Adrine belum bersama dengan teman-temannya.


"Benarkah? Teknik apa itu?"


Etern merasa penasaran dengan teknik apa yang telah di berikan oleh master Heyto, menurutnya jika memang benar dari master Heyto maka teknik tersebut mungkin teknik tingkat Tinggi.


"Kalau tidak salah namanya adalah teknik Tarian 3 Garis Pedang, oh iya, aku juga di beri koin plasma lagi dari master Kai, dam lagi-lagi katanya dari master Heyto."


Adrine mengucapkan-nya sambil mengeluarkan sebuah gulungan yang di berikan oleh master Kai.


Etern emang sudah tak terkejut lagi mendengar jika Adrine di beri koin banyak lagi dari master Heyto, namun yang membuatnya agak terkejut adalah teknik yang barusan di sebut dan di tunjukkan oleh Adrine, teknik Tarian 3 Garis Pedang.


"Teknik Tarian 3 Garis Pedang? Sepertinya aku tahu tentang teknik yabg satu ini."


Adrine mulai tertarik dengan perkataan Etern, tak disangka jika Etern mengetahui tentang teknik Tarian 3 Garis Pedang.


"Kau tahu? Cepat beritahu padaku mengenai teknik ini!"


Adrine sangat tak sabaran dan senang sekali dengan teknik yang di dapatnya barusan, ia ingin segera mengetahui dan memahami tentang teknik tersebut dari Etern.


"Teknik Tarian 3 Garis Pedang adalah teknik penggunaan pedang, teknik ini adalah teknik yang akan mempengaruhi bagaiman caramu dalam menggunakan pedang. Teknik ini mampu meningkatkan kontrol, stabilitas, ketajaman pedang, bahkan sampai meningkatkan kecepatan ayunan pedang. Teknik ini memiliki 3 tahapan yang dimana semakin tinggi tahap yang kau raih, maka akan semakin mahir pula kau dalam menggunakan pedang."


Adrine mendengarkan dengan sangat seksama penjelasan dari Etern, ia memahami setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulut Etern dan masuk ke dalam telinganya, tak ada satupun yang di lewatkan.


"Oh... Jadi begitu, berarti teknik ini adalah teknik yang meningkatkan daya kemahiran dalam penggunaan pedang? Hebat juga teknik ini."


Adrine tersenyum senang dam puas atas apa yang telah di hadiahkan master Heyto kepadanya.


"Oh iya, masih ada lagi, teknik Tarian 3 Garis Pedang akan meningkat menjadi teknik Tarian Aurora Pedang jika sudah mencapai tahap ketiga dari teknik Tarian 3 Garis Pedang. Pedang akan mengeluarkan cahaya yang berwarna secara acak jika sudah mencapai tahapan teknik Tarian Aurora Pedang layaknya aurora di langit malam. Dan lagi, dimana kau akan melatih teknik itu?"


Adrine hanya tersenyum ketika di tanya seperti itu, namun Etern malah bingung ketika melihatnya.


"Apa kau sendiri tak ingat jika di tahap Keberlanjutan itu ada yang namanya alam bawah sadar? Di sanalah aku akan melatih teknik itu."


"Oh iya ya..."


Etern mulai teringat dengan alam bawah sadar yang dimana bisa melakukan pelatihan di sana.


WUUUSH!!


Pesawat di percepat kecepatannya oleh sang pilot, kini waktu untuk sampai ke Perguruan Kilat Langit pun juga semakin dipersingkat.


"Wow, sepertinya pesawatnya dipercepat?"


Adrine merasa tubuhnya sedikit terdorong ke belakang karena kecepatan pesawatnya yang meningkat.


"Iya, pesawatnya memang dipercepat dan dengan kecepatan ini, kita mungkin akan sampai dalam 2 jam kurang."


Etern menambahi. Namun orang-orang yang tidur tidak merasakan percepatannya, mereka masih tertidur pulas layaknya kucing di siang hari.


"Kita tinggal menunggu sampai dan tiba di Perguruan Kilat Langit."


Etern mengangguk setelah mendengar perkataan Adrine.


WUUUSH!!


Pesawat Falcon X-12B melesat dengan sangat cepatnya, menghempaskan angin panas api pendorong ke belakang dengan pendorong pesawat yang sangat besar.


Shin kecil yang ada di belakang tertinggal jauh, ia merasa kalau hawa keberadaan Adrine semakin menipis dengan sangat cepat.


"Sialan, Adrine malah semakin cepat."


Shin kecil yang mengeluh kesah, langsung bergerak lebih cepat karena tak ingin tertinggal. Ia mengerahkan semua tenaganya untuk mempercepat kecepatan terbangnya agar bisa menyusul Adrine. Shin kecil tak ingin tertinggal dan kehilangan jejak Adrine yang melesat dengan begitu cepatnya.


'Aku harus segera menyusul Adrine!!' Pikir Shin kecil.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2