Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Ujian Kelulusan (5)


__ADS_3

Pertarungan masih terus berlangsung, Arpha cukup kewalahan disaat menghadapi lawannya, begitu juga dengan lawannya. Namun Arpha masih tetaplah kalah dikarenakan oleh kapasitas dan kemurnian energinya dibandingkan dengan lawannya. Apalagi ia melakukan perlawanan yang dihitung sebagai 1 lawan 1.


David merasa kalau Adrine tidak segera menjalankan rencananya, hal itu membuat David cemas dengan keadaan Arpha. Namun Adrine hanya menatap pertarungan Arpha dengan wajah dingin dan datar. Didalam matanya tersorot tatapan dingin dan tajam akan pertarungan Arpha dengan lawannya, ia menunggu saat-saat yang paling tepat untuk segera menjalankan rencananya.


Setelah beberapa saat, Adrine melihat kalau Arpha sudah mulai tak kuat lagi menahan lawannya, begitu juga dengan 2 orang yang berada dipihaknya juga mulai kewalahan dan hampir tumbang. Segera Adrine mengambil keputusan untuk menjalankan rencananya. Tatapan mata Adrine menjadi sedingin es dan dipenuhi dengan kecemasan, dengan segera ia melirik kearah David dan memberikannya sebuah perintah.


"David, segera turun tangan dan bantu mereka!! Tugasmu disana hanya cukup membantu seminimal mungkin, jangan terlalu berlebihan!"


"Baiklah!!"


David paham akan maksud dari perintah Adrine. Jelas dari perintahnya adalah hanya untuk membantu mereka yang sedang bertarung, bukan berarti harus mengambil point yang telah mereka perjuangkan. David pun juga melaksanakan perintah Adrine dan segera turun tangan untuk membantu, apalagi David juga adalah seorang support.


Segera David terjun kedalam pertarungan dan membantu Arpha beserta 2 lainnya, namun David berusaha untuk bagian penyembuhan terlebih dahulu, untuk bagian penyerangan ia mengesampingkannya agar semuanya terkondisikan. David juga melakukan pemulihan tenaga agar Arpha dan 2 orang yang bertarung bersamanya juga bisa memiliki energi yang cukup untuk bisa bertarung kembali.


Para musuh juga ikut mundur karena mereka juga telah menguras beberapa energi mereka. Waktu yang dimiliki juga semakin berkurang dan seharusnya kecepatannya harus ditingkatkan, jadi mereka memilih untuk mundur terlebih dahulu dan memperbaiki kondisi mereka.


"Hei David, kau tak perlu ikut membantu kami! Ini masih belum giliranmu."


Arpha tak mau David mengambil point yang sudah ada didepan mata, ia khawatir kalau David akan turun tangan dan mengambil apa yang sudah ia incar sekarang ini.


"Tenanglah, aku disini hanya membantu kalian. Point itu tetap menjadi milik kalian, aku tidak akan mengambilnya."


David pun menjelaskan kedatangannya dan tidak berniat untuk mengambil point milik Arpha maupun 2 orang yang juga sedang berusaha untuk mendapatkan pointnya, David hanya sedang menjalankan perintah dari Adrine dan tidak bermaksud untuk ikut campur.


"Disini aku hanya akan membantu kalian 1 kali saja, dan sekarang aku harus kembali pergi."


"Baiklah, silahkan kau pergi!"


Arpha pun dengan senang hati mempersilahkan David untuk pergi dari sana dan sekarang David pun juga telah pergi dari sana dan kembali ketempat Adrine.


"Bagus, aku memang hanya menyuruhmu untuk membantu mereka sekali saja, jika nanti mereka berada pada posisi yang sama lagi seperti barusan, aku sendiri yang akan turun tangan."


Tanpa menatap David, Adrine mengatakan hal tersebut dengan sangat serius. David sendiri juga berada dibelakang Adrine dan ia mengangguk paham akan orang yang ada didepannya.


'Eh?' Pikir Adrine.


Adrine terpikir oleh sesuatu hal yang dimana menurutnya cukup aneh. Ia merasa kalau posisinya ini baru disadarinya sekarang.


Lalu Adrine berbalik menoleh kearah David dan sedang ingin menanyakan sesuatu kepadanya. Dan pertanyaan ini sangatlah bersambung dengan hal yang terpikirkannya barusan.


"Maaf David, apa menurutmu dari tadi aku memerintahkanmu? Apa aku seperti orang yang sok kepemimpinan?"


Adrine baru merasa kalau apa yang telah ia lakukan sebelumnya seperti seorang pemimpin yang suka menyuruh-nyuruh bawahannya untuk melakukan sesuatu. Namun David hanya menggelengkan kepalanya.


"Tenang saja Adrine, kau bukan seperti orang yang kau pikirkan. Aku melakukan semua ini dengan sebagai seorang teman, tak perlu khawatir."


Dengan senyuman tulus dan ramah dari David, Adrine sudah merasa kalau yang kalimat yang diucapkan oleh David memanglah benar. Adrine tak dapat memungkiri kalau David itu benar-benar tulus dalam membantu rencananya.


Perasaan Adrine pun mulai menurun dan tidak terlalu emosional ketimbang barusan, namun ia masih merasa tidak enak dan kurang benar kalau harus menyuruh-nyuruh temannya sendiri. Adrine pun membalas senyuman dari temannya itu dengan senyuman tipis darinya.


Adrine pun kembali berbalik dan menatap kearah pertarungan, wajahnya mulai serius namun senyumannya masih belum saja hilang dari raut wajahnya.


"Ya... Sekarang kita hanya tinggal menunggu waktu saja untuk bisa melihat hasilnya, apakah akan sesuai dengan perkiraanku atau tidak."


Pertarungan telah berlanjut kembali selang beberapa detik setelah David pergi dari sana. Pertarungannya juga semakin sengit dan memanas seiring berjalannya waktu dan kini Arpha telah memiliki kondisi yang cukup baik ketimbang sebelumnya.

__ADS_1


Namun Adrine telah memperkirakan akan pertandingannya yang dimana kondisi mereka yang tadi akan terulang kembali dan membutuhkan bantuan lagi. David juga sudah mengerti akan batasan yang telah membatasi antara perbandingan dari jumlah beserta kekuatan antar pihak.


"Menurutku Arpha dan kedua orang itu tak akan bertahan dalam waktu kurang dari 5 menit, dan Arpha juga tak mungkin lagi berani untuk mengerahkan kemampuan yang sama seperti tadi. Kekuatannya dan tenaganya akan semakin terkuras jika dia melakukannya."


Adrine juga tahu dengan yang dikatakan oleh David, kalimat tersebut memang sudah tercantum dalam rencana Adrine yang dimana hal tersebut memang akan terjadi dalam waktu dekat. David memang sudah menduga hal tersebut akan terjadi sebentar lagi dan memang mengerti akan rencana Adrine.


Dalam waktu yang cukup dekat, apa yang tadi telah diperkirakan oleh Adrine telah terjadi. Kedua belah pihak telah jatuh kedalam kondisi terbawah yang dimana mereka sudah tak bisa menggunakan teknik apapun lagi. Energi mereka semua telah terkuras dan hampir kehilangan kesadaran mereka jika tidak segera mundur dan memulihkan kondisi masing-masing.


"Sialan! Jika kalian tadi tidak ditolong oleh seseorang, sekarang ini pasti kalian telah kalah ditangan kami."


Walaupun seorang murid utara itu menggerutu, namun Arpha dan juga kedua murid selatan yang ada disisinya tidak memperdulikan perkataannya, mereka malah terengah-engah dan sedang memikirkan strategi berikutnya. Mereka juga memikirkan bagaimana kondisi dan luka yang didapat agar bisa dipulihkan dengan segera.


Dari kejauhan Adrine dan David sudah melihat semua yang telah terjadi, Adrine sudah mulai bersiap untuk bergerak dan menjalankan rencananya.


"Hanya tinggal sedikit menunggu disaat yang tepat saja dan disanalah aku akan turun tangan untuk membantu mereka."


Suara Adrine cukup pelan, namun penuh dengan keseriusan dan kekuatan. David tersenyum dan Adrine masih terfokus pada pertarungan Arpha, matanya menyorot tajam dan sedingin es, tatapan yang sangat mengintimidasi dan menekan orang lain.


SET!!


Namun, belum juga Adrine bergerak untuk menjalankan rencananya dirinya telah mendeteksi adanya kehadiran dari beberapa orang yang dimana kekuatan mereka cukup besar. Namun Adrine merasa kalau kekuatan mereka rata-rata hanya sebatas tahap Kematian level-2 kelas awal dan Adrine sangat merasa asing atau tidak pernah mengenal dengan aura yang dirasakannya.


"Ada beberapa hama yang sedang menuju kemari."


David sendiri sedikit terkejut mendengar kalau ada orang dengan jumlah lebih dari 1 datang kearahnya, ia terkejut karena dirinya tak merasakan kekuatannya dan Adrine mengatakan kalau memang ada beberapa orang.


"Apa tidak apa-apa kalau kita membiarkan mereka kemari? Seberapa kuat mereka?"


David merasa penasaran dengan gerombolan orang yang datang kesana, Adrine sendiri masih terlihat tenang dan tidak terlalu terkejut akan kedatangan dari segerombolan orang yang dimaksudnya. Itu karena Adrine tahu seberapa kuatnya mereka dan batasan dari kekuatan mereka.


Suara Adrine memanglah biasa dan tak memiliki nada yang berbeda, namun kalimatnya itu seperti seorang psikopat yang sedang berbicara. Adrine berkata sambil tersenyum lebar dan mata yang dipejamkan, semakin terlihat seperti seorang psikopat.


Adrine pun berkata sambil menoleh kearah David dan senyumannya itu sangatlah menakuti David.


David sendiri menjadi terkejut dan takut ketika melihatnya, bahkan ia sampai melangkah mundur karena takut, apalagi Adrine memancarkan hawa pembunuh yang kuat dan mengintimidasi. Benar-benar sangat menakutkan, bahkan jika dapat dilihat secara langsung, hawa pembunuhnya itu mirip seperti kabut tebal berwarna merah darah yang menyelimuti tubuh Adrine, bahkan cahaya matahari pun tak dapat menerpa kabutnya.


"Ke... Kenapa wajahmu seperti itu? Menakutkan sekali!"


David ketakutan karena wajah Adrine yang sangat mengintimidasi dan hawa pembunuhnya sangat membuat dadanya menjadi berat untuk bernafas. Namun Adrine tidak akan menyentuh temannya dan hawa pembunuhnya itu khusus untuk musuh yang sedang mendekat.


"Sebaiknya kau cepat bersiap karena mereka telah mendekat."


Suara yang dikeluarkan oleh Adrine sangatlah lembut ditambah dengan senyuman lebarnya. Adrine masih menunjukkan wajah yang sama, suaranya sangatlah lembut namun orang yang mengenalinya mungkinkah akan mendengarnya sangat mengerikan. David berusaha untuk tidak ketakutan, namun tetap tak bisa karena hawa pembunuh Adrine sangatlah pekat bagaikan kabut darah yang sangat tebal telah menyelimuti seluruh gunung.


"Da... Dari arah mana musuhnya datang?"


David sampai gagap ketika berbicara karena saking takutnya dengan raut wajah dan suara dari Adrine, ditambah dengan hawa pembunuh yang dilepaskannya dan membuat David menjadi sangat ketakutan, padahal bukan ia yang yang ditargetkannya.


"Dari sana arah belakangmu. Disana mereka akan segera mendatangi kita karena sepertinya aku merasa kalau mereka akan segera kemari."


Adrine menunjuk kearah belakang David.


SET!!


Tiba-tiba Adrine melihat sesuatu dari arah pertarungan Arpha. Raut wajahnya telah kembali seperti semula dengan tatapannya yang sangat tajam dan sedingin es. Ia mendapati lawan telah mulai bergerak dan Arpha bersama dengan kedua murid yang bersamanya masih belum memasuki kondisi yang cukup untuk bisa bertahan.

__ADS_1


"Sialan! Ternyata mereka sudah bergerak."


ZRIIIING!!


Seketika David menoleh kembali pada Adrine, ia tidak mendapati seseorang sama sekali. Sedikit terkejut akan hilangnya Adrine, namun ia tahu dimana temannya sedang berada.


Setelah itu, David pun mendekat kearah pertarungan Arpha untuk bisa melihat dengan lebih jelas dan mencari tahu apakah benar kalau Adrine berada disana sesuai dengan pemikirannya.


Sementara itu, Arpha telah semaksimal mungkin untuk bisa melindungi dirinya sendiri. Lawannya semakin mendekat dan mendekatinya, hingga...


SLAAASH!!


Muncul sesosok yang telah menebas ketiga lawan Arpha hanya dengan menggunakan 2 jarinya. Ketiga orang yang diserangnya langsung terjatuh dan terluka sangat parah. Orang yang menebas itu adalah Adrine, ia benar-benar tepat waktu dan tidak terlambat sama sekali.


Adrine pun berdiri dengan tegak menghadap kearah ketiga lawannya dihadapan Arpha dan kedua murid selatan yang ada disamping Arpha. Walaupun lawan yang ditebasnya dengan kedua jari itu telah tumbang dan terluka sangat parah, namun Adrine tidak menghabisinya. Bahkan jika mau, bisa saja Adrine menghabisi ketiga lawannya hanya dengan tebasan tadi, namun Adrine masih mengontrol kekuatannya mengingat kalau ia masih dalam rencana dan gerakannya juga telah terencana pula. Apalagi ia tahu kalau point yang sudah ada didepan mata itu bukanlah miliknya, namun milik ketiga orang yang ada dibelakangnya.


Adrine pun menoleh kearah 3 orang yang ada dibelakangnya, mulutnya terbuka dan mengatakan sesuatu.


"Kalian hanya tinggal menghabisi mereka bertiga saja dan ambil pointnya. Jika kalian bertanya kenapa aku tidak mengambilnya, itu karena point itu milik kalian bertiga. Jangan katakan kalian tidak mengerti dan jangan bertanya apapun kepadaku."


Nada ucapannya sangatlah datar dan mukanya juga mengikuti dari nada bicaranya, datar namun terlihat dingin. Arpha dan kedua murid selatan yang ada disampingnya itu masih terus menatap Adrine. Ia pun berjalan pergi mengarah ketempat dimana ia datang tadi.


Setelah itu, Arpha beserta kedua murid yang bersamanya itu menghabisi lawannya dan mendapatkan 1 point. Ketika mereka bertiga menoleh kearah Adrine berjalan tadi, sosok yang ingin dilihatnya telah menghilang ditelan bayangan.


Arpha beserta kedua orang disampingnya itu masih terus saling menatap bingung dan tidak tahu harus berbuat apalagi. Mereka pun berjalan kearah Adrine berjalan dimana mereka juga sedang ingin mencari dimana Adrine sekarang.


Adrine sendiri sedang menemui David dan memperingatkannya kalau gerombolan orang yang tadi dimaksudnya sudah sangat dekat dengan mereka.


"Bersiaplah!! Mereka datang, Dead Silent!!"


Wajah Adrine tadi yang mirip psikopat telah sirna, kini wajahnya masih terus memperlihatkan begitu dinginnya kepribadiannya, namun entah apa tadi yang telah membisikinya sehingga membuat wajah, nada bicaranya, beserta hawa pembunuhnya menjadi sangat berbeda dengan kepribadian yang sangat ganas. Tetapi kini telah berubah dan semua itu telah tiada, Adrine telah kembali pada sikap dinginnya yang dimana wajahnya hanya datar dengan tatapan yang sedingin es, namun wajahnya hanya terlihat tanpa ekspresi.


"Adrine, apakah aku bisa mendapatkan 1 point dari mereka?"


David tak yakin kalau ia bisa mendapatkan 1 point dari pertarungan yang mungkin akan datang. Namun Adrine mengangguk mengisyaratkan bahwa nanti David bisa mendapatkan point.


"Aku bukan orang yang pelit, jumlah mereka setidaknya ada 7 orang, dan aku akan memberikanmu 2 point agar kau juga tidak kekurangan point."


Walaupun ucapannya terdengar sangat menjanjikan, namun wajahnya hanya terlihat biasa dan datar. Akan tetapi David tidak memperdulikan apakah raut wajah Adrine akan seperti apa, hanya saja ia tahu kalau Adrine akan benar-benar menepati perkataannya.


Karena merasa kalau Adrine telah berbaik hati kepadanya, David pun berterima kasih kepada Adrine.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih Adrine."


"Jangan berterima kasih, kita adalah teman, sudah seharusnya aku dapat membantumu, tapi maaf aku hanya memberikanmu 2 saja nantinya."


Adrine merasa sedikit bersalah karena hanya memberikan 2 point saja kepada Arpha, namun orang yang dimintai maaf malah tersenyum ramah dan tidak marah akan pemberiannya.


"2 point sudah lebih dari cukup. Lagipula nanti aku hanya bisa membantumu sedikit saja, semua pemberianmu itu sudah menjadi tak masalah bagiku."


Adrine hanya bisa tersenyum atas keramahan dari David, ia memang tahu akan sifatnya yang ramah dan selalu berterima kasih itu. Namun tatapannya telah kembali mengarah ketempat dimana ia merasakan semua yang dikatakannya tadi. Ia tahu auranya telah semakin mendekat.


Adrine pun membuka mulutnya dan berkata sesuatu.


"Mereka datang!!"

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2