
Pertarungan antara Adrine dengan Royu masihlah belum selesai. Dengan adanya Liona, ia terbantu dalam segi jumlah dan kekuatan, apalagi kini wanita itu telah mencapai tingkat Kesempurnaan.
"Adrine, tetap saja ini pasti akan sulit bagi kita untuk mengalahkan pria itu. Apa kau tahu? Aku melihat gerakannya itu seperti seolah dia belum serius sama sekali dari awal, sedangkan kau telah mengerahkan tenagamu sampai sejauh ini," jelasnya dengan nada yang agak panik.
Liona paham akan perbedaan kekuatan dan bagaimana cara orang bertarung. Sejauh ini dia selalu bertarung sendiri dan menjadi bandit tanpa kelompok yang membantunya, tentu saja hanya dengan melihat saja dia bisa langsung tahu bahwa Royu masihlah belum serius ketika menghadapi Adrine.
Adrine juga sudah menyangka bahwa semua yang ia pertaruhkan segala ini masih belum apa-apa dibandingkan dengan lawannya itu. Bahkan sampai kehilangan kaki pun ia harus berjuang agar bisa mengalahkannya.
"Aku tahu itu, tapi apa kau punya rencana? Rencana yang kumiliki sekarang hanyalah mengerahkan segala kemampuan kita,"tutur Adrine dengan seksama.
"Aku pun demikian," sahut Liona.
BLAAAARR!!
Bola hitam yang mengurung Royu akhirnya meledak dan hancur. Pria yang terkurung di sana telah terbebas dari kurungan yang sangat gelap dan pengap.
"Ah, sialan!" serunya.
Kemudian ia melirik Adrine, Liona dan Aurora serta Ancien Hell Demon. "Kalian bekerja sama rupanya, kukira kau itu hanya numpang lewat saja di sini," ujarnya sembari menatap tajam ke arah Liona.
Wanita yang ditatapnya itu tak menjawab apapun. Walaupun memakai masker yang menutupi hidung dan mulutnya, dari tatapan mata Liona saja sudah terlihat bahwa ia sangatlah waspada dan penuh dengan persiapan.
Tatapan mata Royu kini beralih pada Adrine, "Kau bisa memberiku hiburan semenarik ini, aku akan mulai serius sekarang!" ucapnya dengan aura membunuh yang sangat mengerikan.
Muncul seperti aura hitam mengerikan dari belakang Royu dan menyebar luas kemana-mana. Aura mengerikan itu membuat sosoknya menjadi tertutup dan terlihat sorot matanya merah menyala. Sosoknya menjadi sangat mengerikan.
"Adrine, berhati-hatilah! Dia mulai menunjukkan wujud aslinya!" seru Liona.
Adrine mengangguk, ia juga langsung paham hanya dengan melihatnya saja. Tanah di sekitar seolah berguncang penuh kengerian, langit pun juga telah tertutup oleh kabut hitam yang sangat mengerikan.
"Dia merealisasikan niat pembunuhnya dengan Energi Kehidupan dan Energi Kematian, tapi bisa sampai semengerikan ini ... Dia pasti mengerahkan banyak sekali kedua energi itu," ujar Liona.
Mengumpulkan Energi Kehidupan dan Energi Kematian membutuhkan banyak sekali waktu dan kesabaran. Lingkungan di sekitarnya juga mempengaruhi kecepatan dalam mengumpulkannya. Wujud kengerian yang diperlihatkan oleh Royu sekarang ini adalah berkat Energi Kematiannya, itu karena energi tersebut akan membuat sosoknya menjadi haus akan membunuh dan juga darah.
Keberadaan juga sangat besar akibat Energi Kehidupannya. Energi tersebut memaksimalkan ketahanan tubuh, keberadaan diri, dan juga potensi serta fondasinya. Royu menjadi sulit untuk dilukai dan pemulihannya sangat cepat.
'Mengorbankan Energi Kematian sebesar itu, berapa banyak dia berada di situasi hidup dan mati? Berapa banyak kehidupan yang habis di tangannya?' batin Liona.
Royu terlihat tidak menyesal dalam menggunakan banyak kedua energi besar itu. Adrine mempersiapkan diri dengan berbagai cara. Zirahnya muncul, mata tengahnya terbuka, ketujuh pedangnya muncul di belakang punggungnya, serta kedua matanya berubah menjadi sorotan cahaya dan sinar gelap.
"Tamatlah riwayat kalian!" ujar Royu seraya kedua tangannya menjulur hendak menghempaskan energi mengerikan yang begitu destruktif.
Merasa tak ingin kalah begitu saja, Adrine menggunakan teknik sihirnya yang paling dahsyat dari semua teknik yang dimilikinya, Kreasi Phoenix Biru. Selama berbulan-bulan ia mengumpulkan energi api biru di dadanya, kini adalah waktu yang tepat ia menggunakan teknik tersebut.
__ADS_1
Api biru keluar dari dadanya di sebelah kanan, tatonya juga menyala dengan warna kebiruan. Suhu di sekitar menjadi begitu panas dan Tubuh Es yang dimiliki oleh Liona tak mampu menahan panasnya udara di sekitar Adrine. Semua es yang ada di sana meleleh karena panas yamg dipancarkan oleh api birunya.
Niat membunuh Adrine juga sangat kuat hingga menyesakkan dada. Seluruh pasukannya ia tarik kembali ke dalam alam bayangannya dan ia melakukan kombinasi dengan Purgatory Demon.
Perlahan wujud burung Phoenix terbentuk, ekor yang menawan dari burung itu sangat panjang melebihi tubuhnya. Ukuran tubuhnya saja lebih panjang dari ukuran tubuh manusia dewasa.
'Bocah ini mengejutkanku sekali lagi, teknik ini pastinya adalah teknik tingkat Semesta, kuat sekali!' batin Royu.
Ketika energi pada teknik mereka telah terkumpul sempurna, dengan bersamaan mereka melancarkan teknik masing-masing. Gejolaknya begitu dahsyat sehingga menerbangkan semua benda yang ada di sekitar, bahkan Liona pun sampai terhempas jauh.
Phoenix biru milik Adrine terbang dengan cepatnya ke arah Royu, sebaliknya Royu menghempaskan ular naga berwarna hitam dengan banyak kilatan merah di tubuhnya yang memiliki wujud awan hitam.
BLAAAARR!!
Ledakan besar terjadi ketika kedua teknik mengerikan itu bertabrakan. Ledakannya berdampak besar di sekitarnya dan bahkan dampaknya sangatlah luas, hingga kota Springer terjadi badai yang sangat mengerikan. Dan bahkan badainya sampai ke pusat kota Springer.
'Eh?'
Adrine terkejut, matanya terbelalak ketika menyadari bahwa api biru yang ia pancarkan tadi kembali padanya lagi.
Ketika kabut yang tercipta dari ledakan tadi mulai memudar, terlihat sosok yang rupanya menengahi tabrakan kedua sihir mengerikan barusan.
Sosok itu mengenakan baju berwarna emas dengan banyak lambang hati dan belah ketupat berwarna merah seperti simbol yang ada pada kartu judi. Terdapat dua helai kain yang menempel pada punggungnya dan kedua kain itu melingkar seakan melindungi pria tersebut. Pada ujung kain tersebut terdapat lempengan emas yang sangat cerah berbentuk hati dan berbentuk belah ketupat.
Pria itu hanya tersenyum lebar.
"Maaf ya, Royu, aku hanya bisa mengembalikan ... Sebagian energimu itu ... Ketua divisimu itu ... Memintaku untuk membawamu ... Kembali."
Sosok itu berbicara dengan nada yang aneh, nadanya selalu naik turun, seolah cara bicaranya seperti seorang badut.
Pria itu kemudian menoleh pada Adrine, tatapannya tidak mematikan hanya saja aura yang keluar darinya begitu mengerikan. Sosok dengan pakaian serba simbol kartu itu memiliki kultivasi pada tingkat Misteri. Adrine juga sudah menduga karena dengan mudahnya pria itu menghentikan sekaligus membatalkan teknik Adrine.
Tatapannya kembali pada Royu, "Kau melawan ... Bocah di tingkat Keabadian sampai ... Babak belur seperti ini?" tanyanya.
Kemudian dengan santainya Royu menjawab, "Bila dia ada di dalam Pasir Darah Hitam, bocah itu pasti menjadi pilar terkuat di antara pilar lainnya di tingkat Keabadian. Apalagi bocah ini punya rekan wanita yang sangat menyusahkan."
"Haha, wanita itu baru saja menembus lho ... Didukung dengan Tubuh Esnya ... Ah, tapi kelihatannya dia tak mengganggu sama sekali."
Itu memang benar, Liona memang hampir tak memberikan kontribusi dalam pertarungan barusan.
"Hei ... Bocah!" Sosok itu kembali menoleh ke arah Adrine, "Kuberi kau dua pilihan ... Mati atau bergabung dengan kami."
'Bocah ini akan menjadi keuntungan besar bagi Pasir Darah Hitam, tapi ... Jika kubiarkan dia hidup ... Di masa depan pasti akan menjadi masalah yang sangat besar,' batinnya.
__ADS_1
Seketika Adrine mendapatkan sebuah ide yang sangat cemerlang dan menguntungkan baginya. 'Kesampingkan kebencianku dengan organisasi mereka, jika saja aku bergabung aku mungkin akan mendapat banyak perlindungan dan informasi dari mereka, akan lebih baik jika aku bisa bergabung dengan organisasi mereka,' batinnya.
Royu tampak sedikit tak terima, ia mengerutkan dahinya lalu berkata, "Apa maksudmu? Dia adalah musuh kita dan kau ingin memasukkannya ke dalam Pasir Darah Hitam, itu tak masuk akal!" serunya.
Kemudian pria kuat di sampingnya itu berkata, "Bukankah sudah biasa ... Di dalam Pasir Darah Hitam saling bermusuhan? Lagipula kau dan dia ... Mungkin saja tidak satu divisi ketika dia bergabung."
"Cih!"
Royu masih sedikit tak terima jika Adrine benar-benar masuk ke dalam organisasinya. Dan menurutnya, keberadaan seperti seorang Adrine ini memang akan menjadi perebutan oleh para ketua divisi nantinya.
"Hei bocah! Kau membuat seorang pilar dari divisi pertama ... Menjadi seperti roti yang terinjak-injak ... Kalau kau menolak, kau adalah musuh dan akan kubunuh sekarang juga ... Kalau kau ikut dengan kami dan masuk ke dalam divisiku ... Akan kuberi jaminan untuk keselamatanmu ... Di masa mendatang," tawar sosok berbaju emas itu.
Tak lagi pikir panjang, Adrine langsung memberikan keputusan, "Aku akan bergabung dengan kalian!"
Terukir senyuman lebar dari pria berbaju emas itu.
"Baguslah!"
Kemudian Adrine dan Liona pergi mengikuti sosok berbaju emas itu. Di perjalanan Adrine menyampaikan pesan kepada Andre melalui pesan online bahwa untuk ke depannya, Adrine akan pergi sendiri dan tak akan bersama Andre dan yang lainnya lagi. Dan janji untuk pergi bersama dengan Fhiora dan Yana akan digantikan oleh Loki maupun yang lainnya.
Pada saat yang sama, sosok berbaju emas itu memperkenalkan siapa namanya. Ia bernama Fheafel San, ketua divisi keempat di organisasi Pasir Darah Hitam yang bernama, Golden Diamond and Heart.
Untuk divisi yang ditempati oleh Royu kini bernama Purple Blood Moon.
Tujuan Adrine bersama dengan ketua divisi Golden Diamond and Heart sekarang adalah untuk ke tempat pengujian. Menurut pria itu, perjalanannya mungkin akan memakan waktu dua Minggu untuk sampai.
Alasan untuk ke tempat pengujian adalah untuk sebuah penilaian. Mereka yang direkrut masuk harus dinilai oleh para ketua divisi, semua ketua divisi boleh menginginkan calon anggota barunya tersebut. Tergantung pada anggotanya itu untuk memilih divisi mana yang akan ia masuki.
"Hei, bocah!" seru ketua Fheafel.
Adrine menoleh padanya.
"Aku tahu identitas tentangmu," ujarnya.
Adrine agak kurang mengerti maksud perkataan barusan, 'Identitas yang mana? Murid dari perguruan Yin-Yang Fierry Zeronia kah?' batinnya.
"Kau itu ... Seorang pewaris bukan?"
Ketika pertanyaan tersebut terlontar, seketika Adrine terhenti dengan wajah yang kaku. Mulutnya terdiam, tak disangka ada orang yang tahu menahu tentang indentitasnya. Matanya melotot tajam ke arah orang yang barusan menebak identitasnya.
Kedua pria di depannya terhenti ketika itu juga, begitupun dengan Liona. Pikiran Adrine kini terheran-heran kenapa bisa ada orang yang tahu tentang siapa dirinya, kecuali ...
"Apa kau seorang pemburu?" tanyanya dengan niat pembunuh yang sangat kuat dan dipenuhi rasa curiga.
__ADS_1
Bersambung!!