Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Royu (2)


__ADS_3

Pemandangan mengerikan diperlihatkan langsung di depan mata Adrine. Pembantaian dan penyiksaan habis-habisan yang hanya dilakukan oleh satu orang saja.


Tak habis pikir, dari sekian banyak ahli di tingkat Kesempurnaan mereka sama sekali tidak ada apa-apanya di hadapan Royu seorang yang juga berada di tingkat Kesempurnaan.


"Siapa kau sebenarnya? Bagaimana bisa kau membunuh hingga seperti ini?" tanya Adrine dengan tatapan mata yang melihat ke setiap tanah yang bercampurkan darah.


Terlihat di bawah Klei yang berada di tahap Kehancuran terkapar hingga tak sadarkan diri.


"Apa tadi kupingmu tuli, ya? Aku berasal dari Pasir Darah Hitam," jawab Royu dengan wajah yang terlihat begitu ramah.


Kini di hadapan Royu, Adrine tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sudah tahu bahwa tak mungkin bisa mengalahkannya, itu karena perbedaan kekuatan yang amat besar. Apalagi ia tak memiliki kemampuan untuk kabur.


Adrine tahu dengan kultivasinya sekarang ini, kecepatannya akan sia-sia di hadapan Royu yang berada di puncak tingkat Kesempurnaan. Tapi di dalam hatinya, Adrine berkata kalau dia harus melawan. Sosok seperti Royu ini tak boleh dibiarkan hidup, itu karena akan ada banyak korban pembantaian yang mungkin akan jauh lebih kejam.


'Dia dan organisasinya itu harus dilenyapkan! Apa-apaan itu, bagaimana bisa membunuh orang tanpa alasan mendapat bayaran?' batinnya.


Adrine terus termenung di atas sana dengan tatapan kosong yang terus memandang ke bawah. Ia sama sekali tak bergerak dan hanya berdiri saja di atas pedang terbangnya.


"Apa kau mau diam saja di sana?! Buat apa kau kemari?" Royu tampak mulai kesal karena Adrine tak memberinya hiburan sama sekali.


Hanya terdiam dan berdiri termenung membuat situasinya menjadi tak seru, menurutnya.


"Ah sudahlah, membunuh bocah sepertimu ... " Royu mulai menarik pedangnya dari dalam sarung pedangnya. Matanya menutup dan wajahnya tidak berubah sama sekali.


WUUUSH!!


Pria itu menghilang sekejap mata. Gerakannya begitu cepat dan menyatu dengan angin, mata biasa tak bisa melihat gerakannya langsung.


Refleks Adrine menoleh ke belakang dan dengan segera menjauh ke tanah.


SREET!!


Tak disangka Royu benar-benar ada di belakang tempat Adrine berdiri. Dan serangannya juga mengenai bahu kanan targetnya.


"Refleks yang bagus, tapi kau tak cukup cepat untuk menghindari seranganku berikutnya," ucapnya dengan nada ramah.


SYUUU!!


Royu benar-benar menghilang dari pandangan, seolah-olah tubuhnya benar-benar menjadi angin.


Angin di sekitar Adrine mulai bergerak dengan gerakan aneh, seakan angin itu membatasi pergerakan Adrine dan pembatas itu seperti angin puyuh yang mengelilinginya serta membentuk sebuah kubah angin.


CRAAASHT!!


"Argh!"


Adrine terkena serangan langsung yang sangat cepat dari belakang dan mengenai lengan kirinya. Ia tak bisa melihat serangannya karena serangan yang dilancarkan Royu juga berupa angin yang tak terlihat. Serangannya pun juga bergerak dengan cepat dan jauh lebih cepat dari gerakan mata.


CRAAASHT!! CRAAASHT!! CRAAASHT!!


Adrine mendapat serangan beruntun yang sangat sulit dihindari. Posisinya benar-benar tak diuntungkan dan tubuhnya juga telah terluka berat. Goresan pedang senantiasa melukainya dan membuat seluruh tubuhnya berdarah-darah.


Akan tetapi dengan tekadnya yang begitu kuat, mata jiwa Adrine terbuka dan kedua matanya bercahaya hitam dan putih. Sepasang sayap membentang di punggungnya dan suhu tubuhnya menjadi begitu panas serta Pedang Api Hitam Ashura muncul di tangan kanannya.


WUUUSH!!

__ADS_1


Sekali lagi angin setajam pedang menerjang tubuhnya. Namun terdapat sebuah api biru melenyapkan serangan tersebut seolah menelan angin tersebut.


'Hmm ... Bocah ini ... ' pikir Royu terheran-heran akan serangannya yang tiba-tiba saja lenyap ketika mengenai sasarannya.


SLAAAASH!!


Adrine mengayunkan senjatanya secepat kilat secara vertikal dan membelah kubah angin yang menutupinya. Angin yang mengelilinginya itu lenyap seketika, pada saat yang sama Royu dibuat terkejut oleh serangan itu. Tak disangka seorang bocah di tingkat Keabadian yang dianggapnya remeh bisa membuat teknik sihirnya lenyap dalam satu serangan.


"Lumayan juga kau, bocah!" serunya.


Royu sekarang menyadari ada yang aneh dengan Adrine. Tiba-tiba saja muncul sepasang sayap dan juga matanya yang bercahaya itu telah disadari oleh Royu.


"Hmm ... kurasa itu hanya efek dari mata bawaannya," ujarnya yang hanya sekedar iseng menebak. Namun hatinya yang sebenarnya membatin, 'Kedua sayapnya itu ... mirip sekali dengan Tubuh Permata Sayap Guntur Angin, tapi jika dilihat lebih teliti lagi, sayap itu mirip seperti milik hewan spirit jenis burung, jelas ada yang aneh padanya.'


Karena tak ingin terus bengong memikirkan apa uang terjadi pada lawannya, Royu memutuskan untuk langsung menyerangnya tanpa pikir panjang lagi.


TIIING!!


Dengan mudah Adrine menangkis serangan langsung dari Royu yang sangat cepat.


"Sisi putih atau yang biasa disebut 'Yang' adalah kebenaran dari dunia ini, ... " Tiba-tiba saja Adrine memberi sebuah penjelasan yang seharusnya sekarang ini adalah waktu yang kurang tepat untuk melakukannya.


Royu semakin waspada dengan apa yang akan dilakukan oleh Adrine. Ia melanjutkan serangannya secara beruntun yang ditambah dengan atribut angin. Serangan dan gerakannya pun semakin lama menjadi semakin cepat, seolah dari angin telah berubah menjadi badai.


"Dan mata putihku ini ... dapat memperlihatkan apa yang tak bisa kulihat seperti pergerakan mu itu!" ucapnya seraya mendongak memperlihatkan dengan jelas bagaimana mata putihnya yang bersinar terang.


Royu tersenyum lebar, "Memberitahu kelebihan diri sendiri adalah kesalahan yang besar," ucapnya.


ZRAAASH!!


CRAAASHT!!


Serangan telak mengenainya. Tersayat dari pinggul hingga ke bahunya, Adrine mengerang kesakitan dan jatuh tersungkur di hadapan Royu.


"Membunuhmu itu lebih mudah ketimbang menginjal semut, kau juga telah memberitahu kelebihanmu sendiri yang berarti kau juga memberitahu kelemahanmu," ujar Royu.


Adrine terus membatin mengapa dirinya bisa begitu ceroboh.


Royu mendekatinya dengan niat membunuh yang sangat pekat. Wajahnya masih begitu ramah dan berjalan seolah tanpa ada masalah.


CRAAASHT!!


"AAAAARGHHHHH!!!


Royu mematahkan kaki kiri Adrine hanya dengan tebasan ringan dari pedangnya. Pendarahan hebat terjadi pada Adrine dan pada saat itu pula ia sudah tak sempat untuk memberikan serangan balik.


WUUSH!!


Adrine mengerahkan kesemua pasukan bayangannya begitupun dengan pasukan cahayanya, Aurora. Menggunakan kemampuan regenerasi Blood Demon, Adrine menutup sedikit demi sedikit luka di kakinya, sementara pasukan bayangannya yang lain sedang dibantai habis-habisan oleh Royu.


Merasa tak ada lagi harapan, Adrine menggabungkan Bolt Demon, Purgatory Demon, dan Bone Demon. Ia memaksakan seluruh kemampuannya agar dapat mengalahkan seniornya Loki itu.


Terciptalah pasukan bayangan yang baru, Hell Plasma Demon. Pada saat yang tertekan itu pula, Adrine mendapatkan satu kekuatan tak terduga yang di mana ketika Tongkat Energi Selestial memberinya energi yang begitu banyak. Tongkat tersebut memang memiliki kemampuan yang akan aktif secara otomatis ketika energi pemiliknya habis atau sedang berada dalam keadaan kritis, seperti halnya Adrine sekarang yang sedang menderita.


"Domain of Yin-Yang Sanctuary!"

__ADS_1


Terbentang sebuah lingkarang hitam dan putih yang sangat besar. Memberikan efek penguatan penuh terhadap Adrine dan seluruh pasukannya.


Dirasa mendapatkan penguatan yang besar, Adrine melepaskan Blood Demon dan menyatukannya bersama yang lain.


"Ancient Hell Demon!"


Royu merasa mendapat sedikit hiburan dari lawan mainnya. Lingkaran sihir besar yang ada di bawah kakinya itu membuat langkahnya terbaca sekaligus melambatkan segala sihir jarak jauh dan segala sihir penguatan akan dilemahkan hingga setengahnya.


Mereka yang berada di dalam lingkaran sihir raksasa itu tak akan bisa keluar dari domain tersebut, dan Royu juga sudah menyadarinya. Tapi efek lain yang lebih mendalam masih belum disadarinya kecuali pelemahan pada sihir penguatan.


"Hmm, sepertinya kau itu bukan bocah biasa, ya?" ujarnya. Pikirnya bahwa mungkin saja Adrine mempunyai kemampuan tersembunyi pada mata jiwanya. "Eh?"


Royu terkejut melihat Adrine dapat berdiri dengan tegak dengan kedua kakinya yang jelas-jelas sudah diputuskan menggunakan pedang. Dan juga terlihat jelas potongan kakinya yang tergeletak di atas tanah dengan darah yang menggenang di sekitarnya.


Adrine berdiri dengan kaki putih yang diselingi garis-garis hitam yang terus bergerak seperti minyak di dalam air.


Royu juga telah menyadari bahwa domain yang diciptakan oleh Adrine itu menyerap semua energi sekaligus energi milik orang yang ada di dalam perangkapnya yang kemudian diberikan kepada penggunanya. Itu karena ia merasa bahwa energi miliknya yang mendadak menjadi bocor dan sangat deras dalam sedikit pengeluaran.


Kini Royu tak lagi menganggap enteng pertarungannya melawan Adrine. Ada banyak hal yang harus dipertaruhkan jika melawannya terlalu lama dan tak segera mengakhirinya.


"Aku tak menyangka kau punya begitu banyak kejutan, tapi kurasa sekarang waktunya untuk mengakhiri pertarungan ini," ujar Royu yang senyumannya perlahan memudar.


Sementara itu, Adrine berpikir keras tentang sesuatu. Ini bisa membuatnya membalikkan situasi yang memojokkannya sekarang ini.


'Kekuatan itu, aku butuh sekali! Ketahanan luar biasa! Hanya sekali saja! Bagaimana caranya aku bisa menggunakan kekuatan itu?!' batinnya. Adrine tengah memikirkan bagaimana ia bisa mendapatkan kekuatan besar ketika sedang dikepung oleh banyak pemburu pada beberapa waktu silam.


Kekuatan yang memberinya kemampuan yang meledak-ledak, pertahanan yang luar biasa, penguatan sihir dan fisik yang luar biasa, serta memberikan tekanan luar biasa dari dalam tubuh kepada orang lain. Hanya saja tak berselang lama setelah Adrine menggunakan kekuatan itu, kondisi jiwanya merosot hingga ke titik terlemah. Bahkan hingga sekarang kondisi jiwanya masih belum kembali pulih sepenuhnya akibat menggunakan kekuatan tersebut.


ZRAAASH!!


Royu mulai bergerak ketika Adrine sedang berpikir, dengan lihainya ia melewati pasukan bayangan Adrine tanpa hambatan. Tetapi gerakannya telah terbaca oleh Adrine dan ditahan oleh pasukan cahayanya melalui respon spiritual.


Royu terpukul mundur hingga pada akhirnya pasukan bayangan Adrine menyerangnya dengan sangat cepat dari arah belakang.


Aurora sama sekali tidak bergerak untuk melindungi Adrine. Ia juga menciptakan pelindung yang mirip seperti pintu gerbang raksasa dengan empat sisi. Royu juga semakin sulit untuk dapat menyentuh Adrine. Maka dari itu ia harus menyingkap pelindung yang dimiliki lawannya agar bisa menangkap lawannya.


'Merepotkan sekali makhluk ini!' gumamnya dalam hati.


Ancient Hell Demon menciptakan penghalang besar yang terbentuk dari tulang panas yang melindungi tuannya. Sehingga Adrine memiliki satu pelindung tambahan dan keamanannya meningkat.


Pertarungannya benar-benar sengit dan menciptakan kerusakan dengan dampak yang sangat luar biasa. Adrine sendiri bahkan hampir tak dapat berdiri tegak karena setiap kali pasukannya menyerang ataupun Royu yang menyerang pasti menciptakan getaran hebat di tanah dan fluktuasi energi yang sangat dahsyat.


Adrine masih terus berpikir keras bagaimana kekuatan itu bisa muncul. Lalu sistem di otaknya merespon bahwa kemungkinan besar kekuatan tersebut berasal dari Jiwa Seratus Angka. Kemunculan kekuatan besar itu mungkin berasal dari tekanan emosi yang benar-benar tak tertahankan.


Pada saat Adrine menggunakannya adalah karena emosinya yang di mana adalah kebencian mendalamnya terhadap master Heyto.


Lalu di waktu yang bersamaan, para penduduk di kota Springer merasakan dampak yang besar dari pertarungan pasukan bayangan Adrine dan Royu. Badai salju menyerang kota itu karena angin yang dahsyat berhembus dari arah pertarungan dan ditambah dengan energi yang terpancar dari Distorsi Portal tingkat Membara kelas A yang membuat badai saljunya dipenuhi oleh energi sihir. Serta energi sihirnya begitu pekat hingga menyesakkan dada orang yang kultivasinya rendah.


Seorang wanita keluar dari pintu gerbang Menara Beku Kuno, wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Liona yang sepenuhnya telah berada di tingkat Kesempurnaan tahap Penciptaan.


Wanita itu menyadari bahwa ada pertempuran dan juga merasakan adanya keberadaan Adrine di dalan pertempuran tersebut. Setelah menembus, kelima inderanya semakin peka terhadap energi sihir yang terpancar disekitarnya.


Liona segera bergerak dan menyusul ke arah pertempuran berada.


"Bertahanlah, Adrine!" ujarnya.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2