
Adrine yang saat ini sedang bosan. Ia ingin menemui Heyto, tapi tidak tahu dimana tempatnya.
Adrine juga sudah menghubungi Heyto untuk mengirimkan letak koordinat tempatnya. Tapi saat ini Heyto tidak bisa dihubungi oleh Adrine, jadi untuk sementara Adrine memutuskan untuk kearena tantangan.
Adrine kesana hanya ingin melihat seseorang yang sedang bertarung. Tetapi disaat Adrine sampai disana, ia hanya mendapati orang-orang yang kultivasinya masih pada tahap Kematian level-1 yang saling bertarung.
Adrine menjadi semakin bosan dan memutuskan untuk kembali saja. Kembalinya Adrine kerumah, ia pun ingin mulai berlatih kembali. Adrine langsung pergi menuju ketempat latihan dan mendapati David yang sedang berlatih.
"Hai Adrine, darimana kau tadi?"
David yang juga berada ditempat latihan langsung menyapa Adrine.
"Aku tadi berkeliling untuk mencari hiburan, karena aku sedang bosan saja. Tapi sayang aku tidak menemukannya, lebih baik aku pulang saja."
Setelah mendengar penjelasan dari Adrine, David tersenyum mengerti.
Adrine juga sedang bosan berlatih, tapi karena tidak ada hal yang cukup menyenangkan, maka Adrine memutuskan untuk berlatih saja.
"Kau ingin berlatih? Aku keluar dulu, nanti aku akan kembali secepatnya. Oh ya, aku akan menyuruh Etern kemari untuk menemanimu berlatih."
"Baiklah."
Dan disaat itu, Adrine juga merasa kurang peduli David ingin kemana. Adrine juga tidak masalah dengan David yang ingin memanggil Etern untuk menemaninya berlatih.
Lalu David pun pergi dan memanggil Etern. Dan juga saat itu Etern langsung datang dan menemui Adrine.
"Ada apa?"
Etern pun datang dan penasaran kenapa Adrine memanggilnya.
"Tidak ada apa-apa, hanya memintamu untuk menemaniku berlatih saja, apa kau mau?"
Adrine hanya mengikuti saran dari David saja. Sebenarnya ia lebih memilih untuk berlatih sendiri saja.
"Hmm... Baiklah, berlatih apa? Kultivasi? Berlatih teknik?"
Adrine pun juga sempat memikirkan mau berlatih apa, dan sekarang ia malah ditanya untuk berlatih apa bersama Etern.
"Bagaimana kalau berlatih teknik? Oh ya, apa kau bisa berpedang? Kalau bisa, bagaimana kalau kita berlatih itu?"
__ADS_1
Adrine juga sempat berpikir kalau kemampuan berpedangnya masih cukup buruk. Adrine ingin melatih kemampuan berpedangnya, tapi ia tak tahu apakah Etern juga bisa berpedang atau tidak.
"Bisa dibilang juga kalau kemampuan berpedangku itu cukup buruk juga. Bagaimana? Apa kita tetap berlatih?"
Setelah dijelaskan oleh Etern bagaimana kemampuan berpedangnya, Adrine merasa kalau lebih baik untuk berkultivasi. Adrine sendiri juga berpikir kalau bisa jadi kemampuan berpedang Etern lebih buruk darinya.
"Yah, lebih baik kita berkultivasi saja, kau juga tak bisa berpedang. Apa kau akan ikut aku berkultivasi?"
Tak perlu ditawari oleh Adrine 2 kali pun Etern sudah duduk disampingnya untuk berkultivasi. Etern sendiri juga ingin kekuatannya meningkat.
"Untuk apa aku menolak? Jika saja aku bisa lebih kuat, itu akan membantumu dimasa depan nantinya."
Adrine pun tersenyum mendengar ucapan Etern. Ia juga merasa kalau dirinya punya rekan yang kuat, maka juga akan berguna dimasa depan.
"Tapi, bukankah lebih baik kalau Arpha dan David juga ikut bersama untuk berlatih? Itu juga akan membuat mereka kuat, bukankah begitu?"
Dan belum sampai Etern menjawab pertanyaan dari Adrine, seseorang muncul disana dan ia adalah Arpha.
"Wah, ternyata kalian juga mengajakku, kenapa tidak dari tadi? Oh ya, dimana David?"
Adrine menggelengkan kepalanya ketika ditanyai oleh Arpha.
Walaupun Arpha menyarankan untuk meninggalkan David dulu, tapi Adrine tidak tega kalau harus meninggalkannya.
"Betul juga yang dikatakan Arpha, nanti David juga menyusul kok."
Walaupun Etern telah meyakinkan seperti itu, tapi Adrine masih merasa tak tega kalau harus meninggalkan temannya, walaupun itu cuma satu, David.
"Baiklah, kalau begitu kita latihan dulu. Biar David nanti menyusul."
Adrine pun memutuskan untuk meninggal David dulu. Mereka pun langsung mulai berlatih seketika itu dan energi mereka melonjak karena berlatih bersama.
Tak lama kemudian, David pun pulang dan membawa beberapa daging dari hewan buas. Ia mendapatkannya dari tempat jual beli daging hewan.
'Mereka meninggalkanku dan berlatih duluan, apa aku yang kelamaan?' Pikir David.
Dan seketika itu David pun langsung duduk bersila dan ikut berkultivasi bersama. Energi disekitar mereka melonjak lagi karena ditambah David yang ikut serta.
Akan tetapi, terjadi sesuatu terhadap kultivasi mereka. Teman-teman Adrine merasa darah mereka seperti sedang mendidih, namun energi kultivasi mereka menjadi lebih murni. Aura mereka terpancar seketika itu juga.
__ADS_1
Walaupun kultivasi mereka terlihat sangatlah lancar dan murni, namun mereka merasakan kesakitan karena darah mereka yang serasa mendidih. Mereka berkultivasi sambil menahan sakitnya yang mereka alami.
Namun Adrine tidak merasakan apa-apa sama sekali dan gejolak energinya semakin lama semakin kuat pula. Tetapi Adrine merasa hampir kehilangan kesadarannya.
Dan benar, kesadaran Adrine telah hilang, namun bukan hilang, hanya saja terpindahkan. Kesadarannya berpindah kedalam jiwanya dan ia merasa kalau jiwanya tersebut sedang berenang didalam lautan energi tubuhnya. Dan jiwanya itu berwujud seperti tubuh Adrine, hanya saja tubuhnya memakai zirah lengkapnya dan transparan, seperti berwujud roh.
Jiwanya saat ini berada didalam alam bawah sadarnya dan dalam alam dimensi tubuh Adrine itu sendiri.
'Oh, jadi ini lautan spiritual, aku baru tahu.' Pikir Adrine.
Lalu Adrine merasakan sesuatu didalam lautan spiritualnya. Energinya yang seperti lautan itu seakan-akan seperti meluap, namun semakin bertambah banyak. Ia memutuskan untuk menyelam lebih dalam lagi untuk melihat apa yang terjadi.
Dan disuatu titik yang dimana Adrine sudah menyelam hingga cukup dalam dan cahaya disekitar menjadi agak remang, Adrine melihat lebih banyak lagi gelembung uap. Namun, semakin dalam Adrine menyelam, ia akan merasakan kalau energinya semakin semakin pekat pula.
Hingga Adrine menemukan sebuah setitik cahaya yang cukup terang, namun tidak menerangi sekitarnya. Dan banyaknya uap gelembung yang dilihat Adrine tadi keluar dari titik cahaya tersebut.
Titik cahaya tersebut dinamakan sebagai Titik Meridian.
'Apakah itu yang dinamakan Titik Meridian?'
Titik Meridian adalah sumber dari energi kultivasi seseorang dan menjadi inti dari lautan spiritual yang tersimpan didalam tubuh seseorang.
Disaat Adrine mendekatinya, ia merasakan panas dan gejolaknya tidak menentu. Walaupun Adrine tak menemukan dasar dari lautan energinya, ia merasa kalau dengan menemukan titik meridiannya saja sudah lebih dari cukup.
Adrine penasaran dengan bagaimana wujud sesungguhnya dari Titik Meridian. Ia berusaha untuk mendekatinya, lalu menyentuhnya. Dan disaat Adrine sudah berada sangat dekat dengan Titik Meridiannya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana wujud dari Titik Meridian.
Wujudnya hanya seperti bola energi yang sangat padat dan memancarkan jaring-jaring energi dan menghasilkan uap gelembung energi.
Namun, ketika Adrine mencoba untuk menyentuhnya, ia seperti terkena serangan balik dari titik meridiannya sendiri. Adrine berusaha untuk menyentuhnya sekuat tenaga, namun Adrine terus terkena serangan balik.
Tapi Adrine juga melihat sesuatu yang lain. Sesuatu itu seperti yang membuat gejolak yang muncul dari Titik Meridiannya menjadi tak menentu dan seperti berbentuk seperti setetes darah. Dan wujudnya tidak terlihat karena gelap.
Namun setetes darah itu seperti memancarkan aura yang lain. Dan aura tersebut seperti yang mempengaruhi ketidak teraturan gejolak energi tadi.
Dan disaat Adrine mendekatinya, setetes darah itu bereaksi dan memancarkan warna yang jauh lebih cerah. Namun setetes darah itu seperti mendekati Titik Meridian Adrine. Dan gejolaknya juga semakin luar biasa, bahkan memberikan tekanan yang juga tak menentu dan kacau.
'Aaarghh... Tekanan ini kenapa hampir sama seperti disaat aku berada di Altar Sembilan Warna Api Spiritual.' Pikir Adrine.
Tapi tekanan dan gejolaknya jauh lebih kacau dan tak beraturan. Kekuatannya bahkan melampaui apa yang terjadi pada Adrine sebelumnya.
__ADS_1
Bersambung!!