
BRZZZT!! BLAAAR!! BLAAAR!!
Petir menyambar di mana-mana, awan semakin gelap gulita di atas sana, situasi terlihat memburuk walaupun Darkness Lightning Demon telah ditahan oleh senior Yota hingga tak bisa bergerak dan bangun dari tanah.
Terdapat tubuh yang terbaring di atas tanah lagi selain Darkness Lightning Demon, dia adalah Adrine yang kesadarannya sekarang terhisap oleh pilar yang menjadi sebuah suar. Terdapat pula 7 pedang yang melayang dan mengitari suar cahaya.
Para murid junior lain telah datang dan memeriksanya apakah Adrine dan senior Yota telah berhasil membereskan Darkness Lightning Demon. Mereka langsung bertanya-tanya apakah Darkness Lightning Demon benar-benar sudah mati ataukah belum, namun senior Yota menjawab jika hewan iblis itu belum mati, hanya ditahan olehnya dengan tak bisa bangun dari tanah.
Para murid yang lain menanyakan tentang kondisi Adrine yang juga terbaring di atas tanah, ada beberapa yang senang dengan pingsannya Adrine. Senior Yota memberikan keterangan jika ia sendiri juga tak mengetahui mengapa Adrine bisa sampai pingsan. Senior Yota juga memberitahu bahwa Darkness Lightning Demon sama sekali tidak menyerang Adrine, justru mengincar dirinya yang berada di belakang Adrine. Hal itu kembali membuat persoalan baru yang membingungkan.
Seorang murid melihat ketujuh pedang yang ada di dekat pilar dan dia juga mampu menganalisa kekuatan yang ada pada ketujuh pedang tersebut. Dia langsung berusaha mengambilnya agar tak ada yang berebut dengannya, namun ia juga bingung karena senior Yota tidak mengambilnya, dia menduga yang pasti senior Yota juga mengetahui tingkatan dari ketujuh pedang tersebut.
Lelaki muda itu pun tak berpikir panjang lagi dan berusaha untuk mengambil ketujuh pedang tersebut.
"TUNGGU! CEPAT KEMBALI!!!"
Tiba-tiba saja senior Yota melarang junior tersebut untuk mengambil pedang tersebut. Akan tetapi junior tersebut tidak mendengarkan perintah dari senior Yota.
BUAGH!!
Wajah junior tersebut terpukul oleh tangan senior Yota yang secara tiba-tiba sudah berada di depannya.
"Ke ... Kenapa senior? A ... aku hanya ingin ... Mengambil ... "
"Kau kira aku itu tak tahu? Aku sendiri kalau bisa juga sudah mengambilnya jauh sebelum kau dan yang lain berdatangan, tapi ada sesuatu yang menahanku dan membuatku tidak bisa mengambilnya."
Junior tersebut bangun dengan perasaan yang bingung, ia tak tahu dan sebenarnya tak ingin tahu apa alasan senior Yota menahannya untuk mengambil artifak artifak tersebut. Ia beranggapan jika senior Yota ingin memonopoli ketujuh artifak tersebut tanpa membaginya, walaupun junior ini juga ingin memonopolinya pula.
"Sepertinya kau itu tak percaya ... Lihat ini jika kau masih belum percaya!"
Lalu senior Yota memperlihatkan permukaan tangan kanannya yang berubah menjadi berwarna ungu, bahkan ujung jari tengah dan telunjuk nya berubah menjadi kristal ungu.
"Jariku ini sudah berubah menjadi kristal karena berusaha mengambilnya ... Dan ini ... Sudah mati rasa, jika ini kau, pasti kau akan menjerit kesakitan ... Karena memang sangat menyakitkan saat tanganmu berubah menjadi ungu, apalagi sampai menjadi kristal seperti ini."
Beberapa murid yang lain menjadi takut dan tak berani mendekat, namun ada beberapa yang menghiraukan dan tidak percaya akan peringatan dari senior Yota, apalagi yang ada di depannya itu.
"Sepertinya artifak ini bukan di tingkat yang sembarangan, pasti lebih tinggi dari tingkat Sejati, atau bahkan sampai di tingkat Murni."
Mereka semua pun terkejut dan terdiam sejenak, melihat artifak tingkat Murni di depan mata dan juga efeknya yang sangat menyeramkan ketika akan disentuh apalagi diambil.
Kebanyakan mata tertuju oleh 7 pedang Semesta Laut Dalam, namun beberapa dari mereka juga memandang ke arah Adrine dan Darkness Lightning Demon, mereka yang menatap hewan iblis itu sebenarnya khawatir akan pemberontakan yang dilakukan oleh hewan iblis tersebut.
Sementara itu, di dalam alam bawah sadar Adrine belum juga menemukan satupun teknik tingkat Misteri setelah mencarinya lebih dari 2 jam setengah, padahal sekarang ini sisa waktunya sudah sangat menipis.
'Memang benar kalau aku sedang mencari jarum di tumpukan jerami, memang sangat menyulitkan, apalagi aku tak tahu apakah aku akan benar-benar mengultivasi teknik tingkat Misteri.' Pikir Adrine.
Kemudian Adrine membuka mata jiwanya yang sekarang sudah berada di dahinya, atau lebih tepatnya adalah tempat mata jiwa tengahnya sebelumnya. Dengan mata itu, kemampuan melihat aliran energi yang sebelumnya dimiliki oleh mata jiwa kirinya telah jauh ditingkatkan, ia bisa melihat dengan spesifik setiap aliran energi yang ada di sekitarnya. Walaupun semua energi yang terpancar memanglah besar, namun Adrine tetap bisa membedakan gap antara teknik tingkat Semesta dan tingkat Misteri.
'Aku baru tahu kalau Shin kecil itu dulunya adalah seorang mantan Celestialine, apa dia benar sekuat itu dulunya?' Pikir Adrine.
Sebelumnya, seseorang misterius pernah mengatakan tentang Shin kecil, dan orang itu mengatakan bahwa Shin kecil adalah seorang mantan Celestialine. Ia termasuk dari salah satu Celestialine paling kuat sebelum menjadi seorang setengah dewa atau pencapaian kultivasinya naik ke Bintang kedua. Apalagi Adrine baru tahu kalau nama asli dari Shin kecil adalah Shin Rhei.
'Eh?' Pikir Adrine.
Kemudian Adrine mengubah arah pencariannya ke arah kirinya. Tak tahu mengapa Adrine seperti terdorong untuk mengubah arahnya ke sana.
'Apa ini cuman perasaan saja ya, kalau energi di sana lebih keruh tapi cukup kuat dibandingkan yang lainnya? ... Ah, cek aja dulu lah.' Pikir Adrine.
Dan Adrine pun segera mempercepat gerak terbangnya karena waktunya yang sudah sangat menipis.
Beberapa saat kemudian, Adrine melihat energi yang sangat keruh dan begitu pekat, namun sangat kuat. Ia dapat melihatnya karena menggunakan mata jiwanya itu.
"Sepertinya aku menemukan apa yang aku inginkan, tapi cukup mengerikan juga energinya."
Lalu Adrine mendekatinya dan ia merasakan sesuatu bergejolak di dalam tubuhnya, seolah seluruh organnya sedang diaduk-aduk dan seakan semuanya akan keluar dari tubuh Adrine. Karena sangat mual, Adrine mengeluarkan isi perutnya dan ia hanya melihat cairan hitam melayang-layang dan mengeluarkan asap hitam di area hampa gravitasi.
__ADS_1
Lagi-lagi pusing dan sakit kepala yang begitu menyengat kembali menyerang Adrine, namun ia tetap teguh agar dirinya bisa meraih teknik yang ada di dalam kabut energi berwarna hitam pekat tersebut.
Adrine terus berusaha untuk mendekat dengan menahan isi perutnya agar tidak keluar, karena semakin banyak isi pertu yang keluar, maka akan semakin kuat tekanan yang menekan perutnya itu. Waktu yang tersisa sekarang hanya tinggal 10 menit saja, dan Adrine tidak menyerah untuk bisa mendapatkam teknik yang ada di depannya.
"Tunggu dulu ... "
Adrine teringat akan sesuatu yang pernah dikatakan oleh seseorang misterius di dalam alam bawah sadar.
"Ya ... Tremendous Absorption ... Bagaimana cara menggunakannya?"
Kemudian mata jiwa Adrine mulai memamcarkan cahaya hitam dengan kerlipan debu kosmis dan menyerap energi mengerikan yang ada di sekitarnya. Padahal Adrine hanya berusaha menyerap energi yang ada di sekitarnya dengan cara biasa, namu pemusatannya berada di mata tengahnya.
"Ternyata ini berhasil ... Bagus sekali, dan itu ... "
Adrine sudah bisa melihat gulungan berwarna hitam pekat di depannya, ia pun mengambilnya dan membukanya.
BWOOOSH!!
Ketika gulungan tersebut dibuka, muncul aura berwarna hitam yang menyesakkan dada. Adrine sendiri juga merasakannya, namun ia berusaha menyerapnya dengan Tremendous Absorption.
"Huuuh ... Untung saja."
Adrine pun menghela nafas lega dan mulai membaca tulisan berwarna merah yang tertulis di gulungannya.
Adrine pun membaca nama tekniknya yang tertulis di pada bagian luar gulungannya.
"Teknik Sayap Iblis Hitam?"
'Tulisan ini ... Ditulis dengan darah?' Pikir Adrine.
Terdapat bau amis pada tulisan merah tersebut yang menandakan jika tulisan tersebut memang ditulis dengan menggunakan tinta berupa darah.
Lalu Adrine menyerap gulungannya dengan mata jiwanya dan muncul tata cara dari teknik yang ada pada gulungannya.
"Oh ... Jadi teknik ini membutuhkan jiwa iblis, sepertinya aku masih menyimpannya."
Terdapat alam yang di depannya ada sebuah bola hitam pekat yang sangat besar dengan lingkaran akresi berupa cahaya putih yang sepertinya terhisap oleh bola hitam besar tersebut. Bola hitam tersebut adalah lubang hitam yang ada di luar angkasa.
"Inikah dunia Tremendous Absorption? Mengerikan juga dalamnya."
Kemudian pandangan Adrine teralih kepada sesosok yang sedang berdiri di dekat kumpulan kabut yang seperti ada di sekitar teknik Sayap Iblis Hitam tadi.
Pada saat itu, Adrine memegangnya dan ia kembali pada alam bawah sadar yang ada di dalam pilar.
"APA?! IBLISNYA HARUS DISERAP? AAAARRGHHHHH!!! KENAPA PEMAHAMANNYA BARU DATANG SEKARANG?!!!"
Setelah itu, Adrine menyerap kembali jiwa iblisnya, ia menekan energi yang ada pada jiwa iblisnya agar dapat dimanipulasi dan dibentuk menjadi Sayap Iblis Hitam.
Untuk percobaan pertamanya, Adrine gagal membentuk sayapnya, namun itulah yang namanya percobaan, pasti ada yang namanya kegagalan. Adrine juga merasa kalau itu memang benar.
"•Kau sudah selesai? Bagus ... Oh iya, kita akan berpisah dan akan bertemu dengan bemar ketika waktunya tiba. Pelantikan akan aku cantumkan waktunya di dalam matamu.•"
Kemudian muncul angka kecil yang bertuliskan 106568 di pandangan matanya, tepatnya berada di bagian kanan atas mata kanan.
'Apa ini ... Hari? Atau jam?' Pikir Adrine.
"•Itu adalah jam, sekitar 12 tahun waktu bumi jika jam-nya diubah menjadi tahun. Kalau begitu sampai jumpa lagi.•"
Kemudian suasananya menjadi hening.
"Kau sudah pergi?"
Baru saja Adrine mengatakan kata pergi, matanya telah terbuka kembali di fisik aslinya. Ia melihat tangan senior Yota yang berubah menjadi ungu dan ada yang sudah menjadi kristal.
Kemudian senior Yota yang melihat Adrine bangun, ia pun mendekatinya dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
"Ah, kau sudah bangun Adrine? Apa kau baik-baik saja?"
Adrine pun membangunkan dirinya dengan dibantu senior Yota, tubuhnya tidak lemas malahan terasa seperti begitu kuat. Adrine pun menanyakan kondisi tangan senior Yota yang berubah menjadi ungu dan senior Yota menjelaskannya secara lengkap. Adrine pun memahami penjelasan senior Yota dan menyangkutkan dengan ketujuh pedang yang sempat disebutkan oleh seseorang misterius.
Adrine pun mulai tahu jika artifak yang sangat kuat juga memiliki resiko untuk bisa benar-benar dikendalikan dan dimanfaatkan keseluruhan kekuatannya, apalagi ketujuh pedang Semesta Laut Dalam adalah artifak tingkat Murni peringkat 7.
Kemudian seorang murid yang tadinya telah dicegah oleh senior Yota, kini dia kembali beraksi untuk mengambil ketujuh pedangnya.
"BERHENTI!!"
Murid tersebut sudah terlanjur menyentuh ketujuh pedang Semesta Laut Dalam dan tangannya mulai bereaksi dan berubah menjadi kristal ungu.
"AAAARRGHHHHH!!!"
Murid sembrono itu pun menerima imbasnya karena tidak mendengarkan perkataan seniornya.
BLAAAR!!
Tiba-tiba Adrine ada di depan murid tersebut dan memukul wajahnya dengan sangat keras hingga terpental begitu jauh. Terdengar dari suaranya kalau serangan barusan memiliki kekuatan ledakan yang sangat kuat.
'A ... Aku memang memukulnya sekuat tenaga, tapi ... Apa benar aku sekuat ini?' Pikir Adrine.
Orang yang dipukulnya barusan membuat efek yang begitu besar, tubuhnya yang terpental akibat serangan Adrine barusan membuat angin yang sangat kencang dan tanah berterbangan. Banyak pepohonan yang runtuh akibat residu dari serangan Adrine dan setelah murid itu menyentuh tanah, terdapat guncangan yang terasakan oleh para murid dan senior Yota, begitupun dengan Adrine.
'A ... Aku ... Aku sekarang sampai di tahap Keberlanjutan level-4? Benar ... Tapi bukan kelas awal ataupun menengah, tapi aku sudah sampai di kelas ... Puncak?' Pikir Adrine.
Adrine tak percaya dengan apa yang ia rasakan pada tubuhnya yang barusan meningkat sangat pesat. Ia melihat kedua tangannya yang ia kepalkan itu dengan perasaan yang acak-acakan.
"•Haha ... Inilah hadiah lain dari seorang penerus, kau benar-benar merasakannya, bukan? Sudah saatnya kau bersiap masuk ke tahap Keberlanjutan level-5.•"
Suara itu kembali muncul di telinga Adrine.
'I ... Ini ...' Pikir Adrine.
"•Kunci pertama dari penutup kultivasi saja belum kau buka tapi sudah secepat ini, bagaimana kalau ketiganya sudah terbuka? Oh iya, ada 3 kunci yang ada di dalam darah penerus.•"
Adrine kembali dibingungkan lagi oleh perkataan yang tak ia ketahui.
'Apa yang kau maksud?' Pikir Adrine yang tengah bertelepati dengan seseorang misterius itu.
"•Terdapat 3 kunci penutup kultivasi di dalam darah penerus, setiap kuncinya menutup atau melambatkan kecepatan kultivasi hingga setengah kali kecepatan. Itu adalah kunci pertama, kunci kedua dan ketiga adalah penyokong kultivasi yang ditingkatkan sampai 2 hingga 3 kali kecepatan asli. Jika kau benar-benar membutuhkannya ketiga-tiganya sekarang ini, maka aku pastikan kalau dalam 1 tahun ini kau sudah mencapai tahap Nirvana Alam Pertama.•"
Adrine cukup terkejut dengan penjelasannya, kemudian ia masuk ke dalam alam bawah sadarnya karena ingin membuktikan kebenarannya di dalam sana. Namun ia dikejutkan bahwa terdapat 2 Fragmen Bela Diri telah terbentuk, total 3 fragmen yang telah terbentuk sekarang ini.
'I ... Ini ... Apa ini juga termasuk?' Pikir Adrine.
Adrine segera menyadarkan diri dan menanyakannya kepada orang misterius.
"•Tidak, itu bukan ulahku. Lagipula 2 Fragmen Bela Diri yang telah terbentuk itu adalah takdirmu, aku tidak tahu tentang itu sama sekali, tidak ada campur tangannya dengan diriku jika menyangkut tentang Fragmen Bela Diri.•"
Adrine sendiri bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, terlalu rumit untuk bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Lalu para murid yang lain segera bergegas untuk membantu murid yang barusan terkena pukulan keras dari Adrine.
'Yah ... Kuharap kau tidak ikut campur dengan kultivasiku, aku tak mau diganggu maupun diganggu jika sedang berkultivasi.' Ucap Adrine dalam telepatinya.
"•Sombong juga kau, yah ... Aku juga tak bisa menyebutnya sombong sih ... Tapi sifatmu itu memang benar-benar bagus, aku suka itu.•"
Adrine terdiam sambil tersenyum.
"Sudahlah, sekarang tujuanku adalah 7 pedang Semesta Laut Dalam."
Adrine pun menoleh ke arah 7 pedang Semesta Laut Dalam yang ada tepat di belakangnya. Pedang tersebut berputar dan melayang di depannya dan memang benar-benar disiapkan olehnya. Adrine pun menyentuhnya dan senior Yota yang melihatnya pun serasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"A ... Apa yang kau lakukan, Adrine? HENTIKAN!!"
__ADS_1
Bersambung!!